BosQ Pemikat Hati

BosQ Pemikat Hati
S2 : Rumah Sakit


__ADS_3

Dua laki-laki sedang menunggu di bangku panjang rumah sakit, mereka terus memperhatikan pintu rumah sakit terbuka. Sudah hampir setengah jam pintu itu tidak ada tanda-tanda di dalam sana, kekhawatiran yang dia rasakan semakin menjadi-jadi dia takut kalau istrinya kenapa-napa.


Tangan laki-laki itu menyentuh punggung Aric yang dari tadi begitu khawatir dengan keadaan Vanesha, dia melihat wajah Aric yang begitu cemas saat kejadian itu terlihat jelas kalau wanita itu terluka. Tidak hanya Vanesha saja yang berada di rumah sakit melainkan Mawar yang berada di ruangan yang sama tapi berbeda kamar.


"Kakak yang tenang ya, aku yakin kak Vanesha baik-baik saja. Aku minta maaf gara-gara aku semuanya jadi seperti ini," lirih Bara. Aric menatap Bara sambil menggeleng kalau itu tidak semuanya terjadi atas kesalahan Bara, dianya saja yang tidak percaya sama perkataan istrinya.


Lampu ruangan operasi berhenti bertanda operasi yang dijalani Vanesha selesai, dokter yang menangani Vanesha akhirnya keluar yang masih memakai pakaian operasi.


Dua laki-laki itu menghampiri dokter tersebut. "Gimana keadaan istri saya dok? Apa istri sama anak saya baik-baik saja?" dokter itu hanya memperhatikan mereka berdua, dia tidak tega mengatakan yang sejujurnya kalau Vanesha ke guguran akibat benturan yang dialami wanita itu.


Aric mengetahui kabar buruk dari dokter itu langsung lemas, dia tidak berdaya saat istri dan anaknya tidak baik-baik saja. Sekarang dia kehilangan buah hatinya dan juga istrinya yang kritis di dalam sana, Bara yang melihat itu tidak tega atas musibah yang dialami Aric.


Aric masuk keruang IGD dia melihat Vanesha yang sedang berbaring lemah, dia menggenggam tangan istrinya saat Vanesha masih menutup matanya. Tidak sengaja dia menangis saat melihat kondisi Vanesha, seharusnya dia yang menggantikan Vanesha bukan istrinya yang berada di tempat ini.


Aric duduk yang masih menggenggam tangan Vanesha dan sesekali mencium punggung tangan yang terdapat berbagai selang, dia masih mengamati Vanesha supaya wanita itu terbangun. Operasi berjalan lancar tinggal menunggu Vanesha siuman tapi sampai sekarang wanita itu masih setia menutup matanya.


"Sayang aku mohon buka mata kamu, aku kangen sama kamu. Aku mohon jangan tinggalin aku," ucap Aric terbata-bata sesekali dia mencium punggung tangan Vanesha. Selang beberapa menit akhirnya Vanesha membuka mata saat seorang laki-laki masih setia menunggu dirinya, Vanesha mencoba menggerakkan tangannya untuk menyentuh rambut suaminya.


Aric yang merasakan ada sentuhan dari seseorang langsung menatap orang tersebut, dia tersenyum saat istrinya sudah bangun dan dia tidak lupa mengecup kening Vanesha berulang kali.


Vanesha beralih menatap perutnya yang sudah rata, dia menatap suaminya saat Aric terdiam kalau dirinya tahu kalau Vanesha akan menanyakan anaknya. "Dimana anak kita apa dia baik-baik saja?" Aric tidak menjawab malah dirinya mengelus rambut Vanesha, wanita itu terus memberikan pertanyaan yang sama tentang anaknya dan lagi-lagi dia tidak bisa memberitahunya


"Yang kamu kenapa diam saja, dimana anak aku? Dia selamatkan? Dia tidak kenapa-napa kan?" Aric masih diam saat tangannya terus di goyangkan oleh Vanesha, Aric mendekap tubuh Vanesha supaya istrinya tenang untuk menerima kenyataannya.

__ADS_1


"Sayang jawab aku, kenapa kamu diam saja... anak kita baik-baik saja kan?" Vanesha terus memperhatikan Aric saat suaminya menatapnya.


"Anak kita tidak bisa di selamatkan dia keguguran," ujar Aric. Vanesha menggeleng tidak mungkin dia kehilangan anaknya, Aric terus menenangkan istrinya saat Vanesha terus menangis.


"Tidak mungkin! Anak aku baik-baik saja, aku gak mungkin kehilangan dia." tutur Vanesha yang terus menangis saat dirinya tahu kalau anaknya tidak bisa di selamatkan, Aric merasakan hal yang dirasakan Vanesha tapi dia tidak mungkin menunjukan kesedihan di depan istrinya.


Aric melepaskan pelukan Vanesha dan menatap wajah istrinya yang sudah bengkak akibat menangis. "Kamu sekarang istirahat ya, kamu jangan sedih lagi. Masih ada aku yang selalu ada untuk kamu," Vanesha terus diam tanpa menjawab perkataan Aric, dia teringat sama Mawar apa adiknya baik-baik saja.


Vanesha menahan Aric saat langkah suaminya ingin pergi. "Kenapa sayang, kamu mau sesuatu." ucap Aric lembut.


"Gimana keadaan Mawar, apa dia baik-baik saja?"


"Dia akan baik-baik saja, sekarang kamu istirahat aja. Aku mau lihat kondisi Mawar nanti aku kembali lagi," Vanesha melepaskan tangannya, sebelum pergi Aric mencium kening Vanesha dan keluar untuk memeriksa keadaan Mawar.


"Keadaan Mawar tidak seperti keadaan kak Vanesha, sekarang dia sedang bertaruh nyawa di dalam sana. Aku harap kalau dia baik-baik saja," lirih Bara yang tidak tega melihat keadaan Mawar, Aric tidak bisa berbuat apa-apa kita semua hanya bisa berdoa untuk kesembuhan Mawar.


***


Aric berusaha menenangkan Vanesha, dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menghibur istrinya tapi Vanesha malah melamun di depan jendela. Entah kenapa dia merasa hancur saat melihat istrinya tidak seperti dulu lagi, tidak hanya Vanesha saja yang merasakan kehilangan ia juga merasakan kehilangan buah hatinya.


Dia sudah berusaha menyelamatkan dua wanita yang ia jaga tapi kehendak berkata lain, dia harus berusaha membujuk istrinya untuk tidak bersedih lagi.


Aric melangkah menuju Vanesha yang masih melamun dekat jendela dia memeluk pinggang Vanesha, dirinya tidak lupa mengecup semua wajah Vanesha.

__ADS_1


"Kamu lagi mikirin apa sayang, kamu tidak bosen seperti ini terus." ucap Aric lembut supaya dia tidak menyakiti perasaan istrinya.


Vanesha diam dan menyuruh balik badan untuk menatap Aric, suaminya tersenyum sambil mencium kening Vanesha.


"Aku tahu kamu sedih bukan kamu aja yang merasakan kesedihan kehilangan anak kita aku juga, aku tidak mau kamu berlarut kesedihan seperti ini. Aku tidak mau kesehatan kamu terganggu," Vanesha memalingkan wajahnya kearah jendela, dia tidak mau membahas ini dia ingin memiliki anak seperti orang-orang.


Aric mengambil dagu istrinya supaya Vanesha menatap kearahnya. "Sayang jangan sedih terus ya, kalau kamu sedih aku ikutan sedih. Memangnya kamu mau aku sedih melihat kondisi kamu seperti ini,"


"Apa aku bisa punya anak lagi?" Aric menyuruh Vanesha untuk bersandar di dada bidangnya sambil mengelus rambut panjang istrinya. "Aku yakin kamu bisa hamil lagi, sekarang kamu makan ya jangan sedih lagi." Vanesha mengangguk pelan dan menyuruh istrinya buat duduk.


"Gimana lu sudah menemukan pelakunya?" Bara terkejut saat melihat Aric keluar dari kamar Vanesha, cowok itu menggeleng dia sudah berusaha mencari orang itu tapi belum ada tanda-tanda mendapatkan pelaku itu.


"Gue kehilangan jejak si pelaku dan orang itu malah menyembunyikan identitas pelaku, apa kita harus mempercepat pencarian lebih dalam lagi supaya bisa menemukannya secara cepat." kata Bara membuat Aric berpikir. Tiba-tiba saja dia tersenyum sinis membuat Bara ngeri saat melihat senyuman Aric.


Aric meminta seseorang untuk mencari orang yang menabrak istrinya dan juga adiknya, saat itu mobil sudah pergi saat dirinya ingin mengejar pelaku. Pelaku itu sangat pintar, cerdik susah untuk mendapatkan pelaku itu secara cepat. Dia sengaja menunda pencariannya supaya dia bisa mengetahui rencana jahat dari pelaku itu.


Dokter yang merawat Vanesha sudah di perbolehkan untuk pulang tinggal menunggu Mawar, dari kemarin wanita itu belum sadarkan diri membuat Bara semakin khawatir. Malah dia sudah berpikir buruk dengan keadaan Mawar, dia terus tersenyum saat melihat wanita cantik yang masih setia menutupi matanya.


Wanita itu menurutnya sangat cantik, entah kenapa setiap ada Mawar dia tidak ingin melirik wanita manapun. Dirinya hanya mencintai Mawar walaupun wanita ini belum menjadi istrinya.


"Mawar apa kamu tidak ingin membuka mata, kamu tidak mau melihat aku lagi. Aku tidak mau kamu seperti ini kamu tidak kangen sama aku," ucap Bara yang masih menggenggam tangan Mawar dan mencium punggung tangan kekasihnya, dia terus memperhatikan Mawar membuat dirinya merindukan wanita ini.


"Sayang aku mohon bangun jangan menutup mata terus, aku kangen sama kamu. Kangen seperti dulu lagi, seharusnya aku menjaga kamu dan melindungi kamu malah aku lalai untuk melindungi kamu. Maaf," kata Bara yang terus menerus meminta maaf atas kejadian Mawar, dia memang pria bodoh yang membiarkan kekasihnya masuk ke rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2