BosQ Pemikat Hati

BosQ Pemikat Hati
S2 : Ruangan Gelap


__ADS_3

Mobil yang di tumpangi mereka bertiga sampai di tempat tujuan, Vanesha yang melihat tempat itu langsung menatap Bara.


“Apa kamu yakin kalau mereka ada di sini,” Bara menatap Vanesha dan menjawab dengan anggukan.


Sebelum masuk Aric menggenggam tangan Vanesha, membuat Vanesha senang saat dia berada di dekat Aric. Mereka berdua menyusul Bara masuk, saat mereka masuk ke dalam ruangan hanya terdapat beberapa lampu yang tidak terlalu terang, membuat kesan aura menakutkan di seluruh tubuh pasangan suami istri. Vanesha hanya menatap Aric saat suaminya menatapnya balik, dia hanya heran kenapa Bara membawa mereka ke tempat seperti ini. Apa cowok ini menipu dirinya?


Sampai di tempat tujuan dia melihat penjaga yang cukup ketat dan juga Wawan yang masih berada di sana, di dalam ruangan Vanesha melihat dua wanita yang sedang diikat dengan mata tertutup. Salah satu wanita itu seperti dia kenal, apa dia yang melakukan kejahatan ini.


“Boleh saya masuk,” ucap Vanesha membuat ketiga lelaki menatap dirinya.


Sebelum masuk Aric menahan Vanesha, dia sedikit khawatir dengan keadaan Vanesha. “Tidak papa. Kamu tidak perlu khawatir aku akan baik-baik saja di dalam,”


Penjaga ruangan itu langsung membuka pintu dan Vanesha masuk untuk mendekati dua wanita tersebut, sedangkan dua wanita yang berada di dalam hanya mendengar suara langkah kaki seseorang.


“Apa kamu tidak puas menghukum kami,” ucap Erika yang hanya membuat Vanesha diam.


“Kenapa kamu diam saja, kenapa kamu tidak berani bicara. Apa kamu bisu sampai-sampai saya terus berbusa,” Erika terus menerus mengoceh tanpa memberikan waktu untuk dia bicara.


Sebenarnya Vanesha penasaran dengan wanita yang ada di sebelahnya, dia pun mendekati wanita itu dan Vanesha langsung membuka penutup mata yang di kenakan wanita itu. Vanesha shock saat mengetahui bahwa wanita itu adalah Jesica ibu kandung Mawar.


“Kamu,” Jesica hanya tersenyum saat dia mengetahui bahwa yang datang adalah Vanesha.


“Kenapa? Kamu kaget kalau saya yang melakukan ini semua,”


“Jadi kamu yang melakukan ini dan kamu juga yang membuat Mawar tidak sadarkan diri, apa kamu tidak pernah menyerah melakukan kejahatan seperti ini. Seharusnya kamu sebagai ibu tidak mengorbankan anak sendiri kamu tidak memiliki hati sedikit pun saat anak kamu berada di rumah sakit, ibu macam apa kamu melakukan ini demi keinginan yang belum kamu capai.” hardik Vanesha yang sudah tidak bisa mengontrol emosi.


“Ini semua gara-gara kamu, kamu yang membuat saya marah. Kalau kamu menuruti keinginan saya, saya tidak mungkin melakukan ini...” Jesica membuang wajahnya ke tempat lain dan menatap Vanesha kembali. “Sayakan sudah bilang sama kamu, kalau saya akan membalas perbuatan kamu. Tapi karena saya tidak bisa melakukan ke kamu lebih baik saya menghancurkan Mawar untuk balas dendam saya sama kamu,”

__ADS_1


Vanesha bersandar ke tembok sambil melipat tangan. “Saya tidak pernah percaya bahwa kamu masih ada dendam dengan perbuatan saya, kalau kamu ingin harta yang saya miliki gampang kamu bisa minta secara baik-baik sama saya dari pada kamu mengorbankan anak kamu sendiri!”


Vanesha tidak mengetahui bahwa Jesica sedang berusaha melepaskan ikatannya, saat itu juga Wawan yang melihat itu semua langsung memberi tahu bosnya kalau wanita hamil itu dalam bahaya. Aric yang mendengar itu langsung bergegas menemui Vanesha, benar yang di katakan Wawan bahwa Jesica sedang mengarahkan pisau tepat di wajah Vanesha.


Saat Aric ingin membantu Vanesha sudah di tahan oleh Bara. “Kamu tenang dulu, istri kamu tidak akan terjadi apa-apa. Karena saya sudah memberikan jebakan untuk dua wanita itu,”


Saat benda tajam itu ingin menyentuh kulit Vanesha sudah di kejutkan oleh suara singa yang ingin menyantap mereka, baru suaranya saja yang terdengar dua wanita itu langsung ketakutan dan Bara menyuruh anak buahnya untuk membuka pintu sebelah untuk menyelamatkan Vanesha. Sedangkan pintu yang tembus dengan kandang singa langsung di buka, dengan cepat Vanesha pergi dari hadapan Jesica dan menutup pintu tersebut.


Aric yang melihat Vanesha selamat langsung menghampiri Vanesha. “Apa kamu baik-baik saja, ada yang terluka tidak!”


“Aku tidak papa,” jawab Vanesha yang melihat suaminya begitu mengkhawatirkan dirinya.


“Kenapa singa itu masih menatap Jesica dan tidak memangsa mereka berdua,” ucap Vanesha heran saat satu singa jantan hanya tertidur di sekitar dua wanita tersebut.


“Belum waktunya singa itu menyantap mereka, kalau sudah ada waktunya saya akan membiarkan singa itu menyantap mereka berdua!” lontar Bara yang masih menatap dua wanita tersebut.


***


“Aku 'kan sudah bilang sama kamu, kalau aku tidak papa. Jadi tidak perlu ke rumah sakit,” urai Vanesha dengan lembut.


Vanesha mendekati Aric sambil bersandar di pundak suaminya, sedangkan Aric hanya membiarkan Vanesha manja kepada dirinya.


“Menurut kamu apa kisah percintaan mereka berdua akan bahagia atau akan menyakitkan,” Vanesha hanya menebak-nebak saat mengingat bagaimana kedua orang itu sedang sama-sama berjuang.


“Kalau memang mereka berdua di takdir 'kan untuk bersama pasti akan di satukan, tapi kalau mereka berdua tidak bisa bersama pasti akan di pisahkan dan di gantikan dengan orang lain.” jawab Aric saat Vanesha menatap dirinya.


Saat mengantarkan kakak iparnya dia pun menuju rumah sakit, di sana dia masih sama seperti dulu. Wanita itu masih betah dengan mimpinya, apa Mawar tidak merindukan dirinya. Atau dia akan meninggalkan dirinya lagi, dengan cepat Bara membuang pikiran jauh-jauh saat pikiran negatifnya terlintas.

__ADS_1


“Saya yakin kalau kamu pasti sembuh, saya akan menunggu kamu di sini. Sampai kapanpun saya tidak akan meninggalkan kamu lagi,” batin Bara yang sudah bertekad untuk menjaga Mawar.


Seperti biasa Bara hanya menjaga Mawar 24 jam, tapi nyatanya wanita ini tidak membuka mata. Apa Mawar betah berada di sini, kenapa dia masih belum membuka mata saat dirinya sangat merindukan wanita ini.


“Mau sampai kapan kamu tetap seperti ini, apa kamu tidak mau melihat dunia. Apa kamu tidak mau hidup bersamaku,” ucap Bara yang masih menggenggam tangan Mawar.


Saat Bara sedang menjaga Mawar tiba-tiba saja sebuah pintu terbuka, dia melihat Wawan masuk ke ruangan ICU.


“Maaf pak kalau saya menganggu waktu bapak, saya ingin memberikan kabar bahwa ibu bapak tadi menelpon saya. Supaya bapak menelpon balik, sepertinya ada yang ingin di bicarakan oleh ibu pak!” kata Wawan membuat Bara diam sambil memikirkan, buat apa ibunya menelpon dirinya.


“Kalau gitu kamu boleh keluar,” ucap Bara membuat Wawan mengangguk.


“Saya pergi dulu nanti saya akan kembali lagi,” ujar Bara seakan-akan dia bicara dengan Mawar.


Dia pun keluar dari ruangan ICU dan dia langsung menghubungi orang tuanya, saat itu juga ibunya meminta dirinya untuk pulang ke rumah. Yang dia pikirkan hal apa yang ingin di bicarakan dua orang itu, dengan cepat Bara menemui orang tuanya.


Sampai di sana dia pun keluar dari mobil menuju orang tuanya, di ruang tamu dia melihat orang tuanya sedang santai sambil menikmati secangkir minuman. Saat itu juga Bara duduk di hadapan mereka.


“Kalian berdua menyuruh saya datang kemari untuk apa,” ucap Bara yang tidak suka dengan basa-basi.


“Mama ingin kamu bertemu dengan anak rekan bisnis mama,” ucap Manda yang meletakan cangkir di atas meja.


Bara menghela nafas. “Saya dari dulu sudah mengatakan kalau saya tidak ingin di jodohkan, apalagi melakukan kencan buta yang kalian lakukan. Saya bisa mencari pasangan saya sendiri tanpa harus kalian repot-repot mengurus percintaan saya,”


“Bara. Maksud mama kamu baik, mama kamu ingin kamu menikah supaya kamu ada temannya!” sahut Ridwan yang masih menatap putranya.


“Pah... Mah! Apa kalian tidak capek mengurus perjodohan konyol ini, kalian tidak usah repot-repot mengurus percintaan ku. Kalau sudah ada pasangannya pasti aku akan menikah,”

__ADS_1


“Tapi Bara...” Bara beranjak dari sofa dan langsung pergi begitu saja tanpa memperdulikan teriakan sang ibu.


“Papa juga yang membuat anak kita seperti itu, coba papa tidak memanjakan Bara mungkin dia tidak seperti ini.” lontar Manda yang langsung pergi ke kamar, sedangkan Ridwan hanya menggeleng saat istrinya selalu menyalahkan dirinya.


__ADS_2