BosQ Pemikat Hati

BosQ Pemikat Hati
S2 : Teror Tersadis


__ADS_3

"Gimana sama tugas yang saya berikan," ucap Manda dari balik telepon dan menunggu jawaban dari seseorang.


"Aman bos, saya pastikan bahwa wanita itu akan ketakutan." jawaban orang itu sangat memuaskan untuk Manda. Dia mengakhiri teleponnya dan tersenyum sinis saat rencananya berhasil.


Vanesha yang terus memperhatikan Mawar langsung menghentikan sarapannya. "Iya kakak tau kalau kamu sedang bahagia, orang lain tidak akan menghancurkan hubungan kalian." sindir Vanesha membuat Mawar menatap kakaknya, lagi-lagi dia tersenyum saat dirinya ketahuan.


"kaya kamu tidak merasakannya saja, bagus dong kalau Mawar bahagia. Karena dia suka iri sama kamu yang sudah punya suami seganteng aku," sahut Aric membuat Vanesha berubah datar, apa-apaan coba suaminya malah kepedean gitu.


"Dih, siapa juga yang bilang kamu ganteng. Lagian kamu kenapa ikut nimbrung aku lagi bicara sama Mawar bukan sama kamu," kata Vanesha yang melanjutkan sarapannya kembali, sedangkan Mawar hanya tertawa melihat pertengkaran konyol yang setiap hari di lakukan kakak dan kakak iparnya.


Saat mereka bertiga asik dengan sarapannya tiba-tiba saja bel pintu berbunyi, dan mereka hanya menatap satu sama lain. Ketika Vanesha ingin membuka pintu Mawar sudah menahannya karena dia tidak mau kalau kakaknya kelelahan.


"Biar aku saja yang membukanya," ujar Mawar membuat Vanesha duduk kembali. Mawar melangkah menuju pintu, dia sama sekali tidak melihat orang. Apa orang itu sengaja mengerjainya?


Mawar mengerutkan dahi saat dia mendapatkan kotak, lagi dan lagi dirinya di teror. Apa hidupnya seperti wanita yang punya hutang, atau punya musuh di balik selimut.


Dia membuka kotak tersebut dan ternyata isinya sebuah boneka yang sudah hancur, tidak hanya boneka saja melainkan ada sebuah darah dan juga kertas yang di tulis memakai tinta warna merah.


Siapa yang berani melakukan ini, apa orang itu dari masa lalunya.


Mata Mawar mencari keberadaan pengirim kotak tersebut tapi dia sama sekali tidak melihat siapapun, tanpa dia membawa masuk dia menuju tong sampah yang berada di depan rumah dan dia pun membuang kotak itu.


"Siapa yang datang?" tanya Vanesha yang melihat Mawar datang, Mawar hanya menampakkan senyuman dia tidak mau membuat kakak dan kakak iparnya khawatir.


"Bukan siapa-siapa kak," jawab Mawar melanjutkan sarapannya.


Mister X


Saya sudah memberikan kotak misterius yang ibu minta tapi kotak itu di buang begitu saja, dan target yang ibu mau ternyata tidak merasakan takut sedikitpun.


Perempuan itu mengumpat dengan kata 'sial', rencana yang dia buat tidak berpengaruh dengan wanita bodoh seperti Mawar. Wanita itu terus membuat kekesalan yang dia miliki.


Kenapa wanita itu tidak berpengaruh dengan rencana gue, sialnya dia gagal membuat Mawar ketakutan seperti wanita pada umumnya.


Mawar yang merasakan kesegaran di dalam tubuhnya, dia pun menuju ke ruang tamu. Vanesha yang melihat adiknya datang langsung memberikan senyuman, Mawar duduk saat dia sudah memberikan senyuman yang diberikan kakaknya.


"Mau abang anterin kamu," tawar Aric yang baru saja datang mengecup kening Vanesha.

__ADS_1


"Tidak usah kak, aku bisa berangkat sendiri. Takutnya ngerepotin kakak, apalagi kakak mau rapat penting." tolak Mawar membuat Aric mengangguk. Mereka bertiga melanjutkan sarapan setelah sudah berbincang-bincang.


Lagi dan lagi tulisan itu menghantui dirinya, saat dia ingin ke toilet karyawan dia melihat sebuah tulisan dengan kata 'Kamu jangan macam-macam dengan saya, saya minta kamu jauhi Bara saya tidak ingin kamu berhubungan dengannya'. Tulisan itu berwarna merah, entah merah itu berasal dari mana tapi dia yakin kalau ini sudah kelewatan batas.


Mawar mengambil handphone di saku jasnya, dia ingin menghubungi seseorang untuk mencari tau penyebab yang meneror dirinya.


"Saya ingin kamu cari tau tentang teror yang saya terima, saya tidak mau kamu melakukan kesalahan." ucap Mawar untuk seseorang yang di sebrang sana.


Orang yang di sebrang sana hanya mengangguk, dia akan melakukan tugas yang di perintahkan bosnya.


***


Hampir tiga hari dia di teror terus menerus, dari boneka dan tulisan berwarna merah. Kirain dia hanya di film hantu saja melainkan di dunia nyata, lucu aja kalau dirinya di teror seperti ini.


"Tumben kamu di rumah biasanya bertemu dengan Bara," ucap Vanesha yang secara tiba-tiba berada di sampingnya.


"Bara sibuk kak, aku tidak mau mengganggu pekerjaannya." jawab Mawar membuat Vanesha mengangguk, pikirannya dan raganya tidak sesuai dengan yang dia inginkan.


Dia hanya penasaran siapa yang meneror dirinya, dia tidak tau berapa banyak teror itu menghantuinya. Apa dia harus memberitahu kakaknya tentang ini.


Vanesha yang menatap Mawar dengan tatapan yang mencurigakan, dia terus menatap Mawar saat adiknya menatap kearahnya.


"Kakak kenapa menatapku seperti itu," kata Mawar yang heran dengan tingkah lalu kakaknya.


"Tidak papa," Vanesha melanjutkan cemilan yang hampir habis. Mulut dan matanya jauh berbeda, matanya terus menatap Mawar sedangkan mulutnya terus mengunyah.


Kenapa aku curiga sama Mawar, apa dia sedang dalam masalah. Tapi kenapa dia tidak memberitahunya.


Alaska yang sedang bertemu dengan seseorang langsung menemui orang tersebut, di sana dia hanya melihat dua orang dan salah satunya wanita. Wanita itu terus menatap Alaska dengan tatapan yang tidak bisa di mengerti.


"Sorry gue telat, ada apa lu menghubungi gue." kata Alaska yang langsung duduk di hadapan mereka.


Laki-laki itu memberikan sesuatu membuat dirinya mengangkat alis sebelahnya. "Itu bukti yang lu minta, gue tau sebenarnya lu curiga dengan orang tua Bara. Lu juga ingin tau siapa yang menyebabkan kakak kandung Keysa meninggal." tangan laki-laki itu memberikan bukti kepada Alaska, sedangkan Alaska hanya menatap bukti tersebut.


"Apa lu yakin sama semuanya, bukannya gue nggak percaya sama lu. Takutnya lu malah melakukan kesalahan," Bara menyeruput kopi yang sempat ia pesan, dan beralih menatap mereka berdua.


"Lu tenang aja gue tidak akan melakukan kesalahan lagi," orang itu menatap wanita yang di sebelahnya. "Oh iya kenalin dia Rani, orang kepercayaan gue." laki-laki itu menyuruh Rani untuk memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Rani,"


"Alaska," setelah mereka saling berjabat tangan Alaska izin kepada mereka untuk kembali, dia ingin bertemu seseorang yang sudah ia rindukan.


Alaska tidak lupa mencium tangan Eliot selaku ayah dari Keysa, pria paruh baya itu hanya tersenyum saat kekasih putrinya datang.


"Kamu ingin bertemu dengan Keysa," tebak Eliot dan Alaska hanya mengangguk, dia memang datang kemari untuk memberikan kabar untuk kekasihnya.


"Iya om,"


"Keysa ada di balkon, kamu ke sana saja." Alaska yang sudah mendapatkan izin dari Eliot dia pun menuju balkon, dia hanya tersenyum saat Keysa hanya tertidur.


Ternyata pacar aku cantik juga kalau sedang tidur.


Alaska menghampiri Keysa saat kepala wanita itu hampir terjatuh, dia membenarkan posisi wanita itu dengan menampakan senyuman saat Keysa tertidur lelap.


"Aku beruntung memiliki kamu, aku akan tetap ada untuk kamu." ucap Alaska membuat Keysa bergerak, dia yang merasakan suara seseorang langsung membuka matanya.


Dia menatap Alaska saat lelaki itu tersenyum kearahnya. "Sejak kapan kamu kemari? Kenapa kamu tidak bilang kalau mau datang!" Keysa mengubah posisinya menatap Alaska.


"Maaf ya aku ganggu kamu tidur,"


"Tidak papa, gimana sama bukti yang kamu cari. Apa kamu sudah menemukannya?" tanya Keysa penasaran dan Alaska mengangguk, dia memberikan flashdisk kepada Keysa.


Keysa yang mengerti maksud Alaska langsung mengambil laptop yang berada di ruang kerjanya, dia memasukan flashdisk ke lubang laptop. Mereka berdua menatap seseorang yang sedang berbincang, salah satu orang itu seperti orang ia kenal. Semakin dia mempertajam penglihatannya semakin dia mengerti siapa orang yang di balik semuanya.


"Jadi yang merencanakan ide jahat ini adalah tante Manda, kenapa tante Manda melakukan ini. Aku tidak mengerti kenapa tante Manda bisa membunuh kakak kandung aku," kata Keysa yang terus menatap Vidio tersebut, Alaska yang mengetahui bahwa Keysa kesal dia dengan cepat menenangkan kekasihnya.


"Kamu tenang dulu ya jangan kebawa emosi, kalau kamu emosi nanti rencana yang sudah kita buat hancur." Keysa menghentikan Vidio itu dan menatap Alaska.


"Tapi kenapa Alaska, kenapa tante Manda melakukan ini semua." ujar Keysa yang sudah tidak kuat menahan air matanya, Alaska yang melihat itu langsung menghapus air matanya.


"Kamu tenang dulu ya aku akan cari tau semuanya, kalau kamu bisa sabar dan tenang aku yakin pasti bukti itu akan muncul dengan sendirinya." tutur Alaska dengan lembut, Alaska membawa Keysa ke dalam pelukannya.


"Masih mau kamu tonton," Keysa menggeleng, dia sudah tidak kuat melihat Vidio itu. Alaska hanya mengelus rambut Keysa saat tubuh wanita itu terus bergetar.


Aku tidak akan membiarkan kamu menangis, aku tidak mau kamu kenapa-napa. Masih ada aku yang selalu ada untuk kamu Keysa.

__ADS_1


__ADS_2