BUKAN MENIKAHI CEO TAPI MENIKAH DENGAN SEORANG PELAYAN

BUKAN MENIKAHI CEO TAPI MENIKAH DENGAN SEORANG PELAYAN
KIMSO DAN FIRA


__ADS_3

2 bulan kemudian


Hari ini tepat hari pernikahan Kimso dan Fira yang di adakan di hotel bintang lima dan di hadiri oleh beberapa pengusaha atau rekan kerja Arian dan juga Ryung.


Keluarga Sia dan Sang juga ikut hadir, jangan lupa dengan dua kakek yang sudah akur.


Arian dan Ana memasuki hotel dengan Revan dan Revin di gendongan mereka.


Arian dan Ana datang terlambat karna adanya sedikit hambatan membawa kedua putra mereka.


Arian dan Ana mendekati Kimso dan Fira yang tengah menyambut para tamu setelah tadi selesai mengucap sumpah.


"Selamat ya, akhirnya kamu tidak jomblo lagi," ucap Arian saat sudah berada di hadapan Kimso dan Fira dengan Revan di gendongannya.


"Terima kasih, kak. Halo Revin," ucap Kimso sambil tersenyum pada Revan.


Arian menatap malas pada Kimso karna salah menyebutkan nama putranya.


"Ini Revan, bukan Revin," ucap Arian datar membuat Kimso tersenyum kikuk.


Fira terkikik mendapati Kimso yang sudah menyandang status sebagai suaminya sama sekali tidak bisa membedakan Revan dan Revin.


"Hehe, aku tidak tau," ucap Kimso sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


Arian dan Ana pergi meninggalkan Kimso dan Fira yang masih menyambut tamu undangan.


Kini Rafael dan Sarah yang berdiri di hadapan kedua mempelai itu dengan Reon di gendongan Rafael.


"Selamat ya, Kimso." ucap Rafael pada Kimso yang hanya tersenyum.


"Oh iya, kalau mau bikin, jangan langsung 2 entar susahnya kayak si Arian, anaknya nakal banget." ucap Rafael membuat Kimso dan Fira terdiam.


Tidak jauh dari mereka, seorang pria menatap sinis pada Rafael, siapa lagi jika bukan Arian.


Arian menatap kesal pada sahabatnya itu yang berani sekali berkata seperti itu. Seandainya saja tempat ini sepi mungkin Arian akan memanaskan kepala Rafael dengan tangannya.


"Wah, kak Sarah hamil lagi ya?" tanya Fira pada wanita di depannya yang terlihat sedikit gemuk.

__ADS_1


"Iya, lagi jalan 3 bulan lebih," ucap Sarah tersenyum pada Fira.


"Selamat ya, jadi ngga sabar deh pengen punya momongan," ucap Fira dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya.


"Makanya minta Kimso buat bikin cepat, jangannya hanya kertas dan kertas saja di kepalanya," ucap Rafael dan tiba-tiba ada seseorang yang menarik telinganya hingga membuatnya menjerit.


"Aduh, telinga gue, lepasin Ran sakit woy," ucap Rafael pada orang yang menarik telinga dengan kerasa yang tidak lain adalah Arian.


"Jangan di dengerin," ucap Arian kemudian menarik telinga Rafael membuat Rafael mengikuti jalannya setelah Reon pindah ke gendongan Sarah yang menatap keduanya dengan tatapan bingung.


"Lo itu sudah mau punya anak 2 woy, masih aja kayak anak kecil," ucap Arian ketika melepaskan tangannya yang menarik telinga Rafael.


Rafael hanya cengegesan pendengar perkataan Arian. Dari kejauhan, Ana dan Houyang beserta Daenji yang kini sudah mengendong Revan menatap kedua orang itu dengan pandangan yang sulit di artikan.


Sebelum Arian mendekati Rafael dan menarik telinganya, Arian tengah berbincang dengan kedua kakeknya yanh sudah lama tidak melihat Revan dan Revin.


Tapi tiba-tiba dia mendengar Rafael yang berkata ngawur membuatnya menitipkan Revan pada Daenji dan berjalan mendekati Rafael untuk memberikannya pelajaran.


Kini Arian telah kembali ke hadapan kedua kakeknya yang masing-masing mengendong cucu mereka.


"Ana mana, kakek?" tanya Arian pada kedua kakeknya yang tengah mengendong kedua putranya.


"Kami ingin melepas rindu dengan cucu kami ini, jadi kau bisa bersenang-senang," ucap Daenji dengan Revan di gendongannya yang sesekali menarik kumisnya dan tertawa.


Arian mengangguk kemudian meninggalkan kedua kakeknya bersama dengan putra-putranya dan mendekati sang istri.


"Hehe, kau nakal juga ya, sama seperti ayahmu saat masih kecil, mungkin kau akan sangat mirip dengannya, sifat mau pun wajah," ucap Daenji pada Revan.


Entah Revan mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Daenji membuatnya tertawa dan kemudian kembali menarik kumis Daenji yang mulai putih.


"Hehe aku rasa juga begitu, mungkin yang satu ini akan mirip dengan Ana, tapi cuma sifatnya dan wajahnya tentu saja mirip dengan Ayahnya," ucap Houyang yang di angguki oleh Daenji.


"Kalian tidak boleh seperti ayah kalian yang selalu memasang wajah dingin pada kakek kalian ini, kalian hanya boleh memasang wajah dingin pada orang luar saja, mengerti!" ucap Houyang pada Revin yang menatapnya sambil sesekali mengerjapkan matanya dengan imut.


Revin tertawa kemudian menarik rambut Houyang membuat Houyang tertawa dan kemudian berbicara.


"Haha, jangan di tarik, Nanti rambut kakekmu ini rontok," ucap Houyang di sela-sela tawanya yang semakin membuat Revin tertawa dan semakin menarik rambut Houyang.

__ADS_1


Kedua orang tua itu tertawa lepas begitu pun dengan kedua cucu kecilnya.


Pukul 4 sore.


Arian dan Ana sudah berada di apartemen mereka.


Ana membaringkan Revin di tempat tidur bayi di kamar mereka sedang Arian membaringkan Revan di tempat tidur bayi di samping tempat tidur bayi Revin.


Arian menatap Ana yang sedikit meregangkan badannya.


"Capek ya?" ucap Arian yang kini sudah memeluk perut istrinya dari belakang.


Ana mengangguk dan kemudian menyentuh tangan Arian yang melingkar di perutnya.


"Aku jadi tidak sabar menunggu mereka beranjak dewasa" ucap Ana membuat Arian tersenyum dan kemudian menaruh kepalanya di pundak istrinya itu.


"Kita pasti akan melihat mereka tumbuh, Aku mencintaimu," ucap Arian tiba-tiba kemudian mengecup leher Ana sekilas.


Ana tersenyum kemudian membalikkan badannya dan mengalungkan tangannya di leher suaminya.


"Aku juga mencintaimu," ucap Ana kemudian sedikit berjinjit dan mencium pipi Arian sekilas dan masuk ke dalam kamar mandi.


Arian terdiam sejenak kemudian tersenyum kecil dan menatap kedua putranya yang tertidur pulas.


"Daddy akan menjaga kalian berdua dan tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi, jika hal itu terjadi, daddy akan membuat orang itu menyesal," ucap Arian seolah-olah kedua putranya itu mendengarnya.


Arian menghembuskan nafasnya kemudian berjalan ke arah tempat tidur dan merebahkan badannya yang begitu lelah.


Arian mengatur nafasnya mencoba untuk rileks, Arian membuka matanya saat mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, Arian kemudian mendudukkan dirinya dan menatap Ana yang keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk.


Arian menelan salivanya dengan susah payah melihat tubuh istrinya yang hanya terbalut handuk.


"Kamu lagi goda aku ya, sayang," ucap Arian yang mulai berdiri dari duduknya dan kemudian mendekati Ana sambil melepaskan dasi di lehernya.


Saat Arian ingin memeluk Ana, tiba-tiba Ana menghindar dan mengelengkan kepalanya membuat Arian menatap istrinya itu dengan bingung.


"Tunggu Revan sama Revin 1 tahun lebih, baru nambah," ucap Ana meninggalkan Arian menuju lemari baju.

__ADS_1


"Pergi mandi gih, bau tau," ucap Ana membuat Arian menghembuskan nafasnya kemudian berjalan memasuki kamar mandi.


' gagal lagi, gagal lagi,' ucap Arian dalam hati ketika masuk ke dalam kamar mandi.


__ADS_2