
BRAK
Suara pintu yang di buka dengan keras,Arian melihat orang itu yang tidak lain adalah Rafael.Kenapa Rafael selalu datang saat dia sedang ingin istirahat,Sungguh menyebalkan.Seandainya saja Arian dapat meminta sesuatu,Arian ingin sekali Rafael di masukan ke dalam peti mati meski itu hanya sehari agar dia bisa tenang.
Rafael berjalan dan kini sudah berada di hadapan Arian setelah tadi sudah menutup pintu.
"Tidak lama lagi pintu ruanganku akan ambruk jika kau terus membuka seperti orang yang telat masuk kelas,El."ucap Arian sambil memejamkan matanya.
"Baru juga gitu,lo sih masih untung dari pada Carlson,Gue udah bikin pintu ruangannya ambruk 2 kali sampai2 kepala gue jadi korbannya"ucap Rafael sedikit curhat saat dirinya selalu membuka pintu ruangan Carlson dengan keras hingga ambruk dan Carlson akan memukul kepalanya saat itu juga.
Rafael jadi ingat setelah dia merusak pintu Ruangan Carlson,Dia di larang datang ke kantor Carlson meski keadaan apapun karna hobi Rafael yang suka membuka pintu dengan keras mengakibatkan Carlson harus menganti pintu ruangannya sebanyak 2 kali.
"Gue kemari bukan buat bahas itu,bagaimana sudah kau dapatkan informasinya,siapa lelaki lancang yang sudah berani ingin mengambil Wanitaku...?"tanya Rafael pada Arian.
Arian menatap datar pada Rafael dan kemudian menghela nafasnya membuat Rafael tiba2 mendapat firasat buruk.
"Maaf...,Rafael.Aku tidak bisa membantumu soal itu,Aku sudah mengeceknya dan informasinya sudah di kunci dengan rapat bahkan Kimso saja tidak mampu"ucap Arian berbohong.
Rafael yang mendengar hal itu membulatkan matanya tidak percaya.
"Jangan bercanda,Ran.Aku tidak suka kalau kau bercanda seperti ini."ucal Rafael tapi wajah Arian sama sekali tidak berubah tetap saja datar membuat Rafael seketika oleng dan kemudian berjalan ke sofa dan memijit kepalanya yang sedikit pusing.
"Kalau Kimso tidak bisa bukankah kau bisa meretasnya bahkan kau lebih hebat dari Kimso kan"ucap Rafael dengan wajah memelasnya.
"Aku tidak bisa,Aku sibuk"ucap Arian membuat Rafael membulatkan matanya.
"Apa yang membuatmu sibuk,Ran."ucap Rafael masih tidak mau menyerah untuk membujuk sahabatnya itu.
"aku benar2 sibuk,Rafael.kau tau selesai di sini,aku harus pergi lagi ke perusahaan papa gue"ucap Arian jujur karna memang dirinya benar2 sibuk.
"Terus gimana dong...?,Lo tau ngga mami udah desak gue buat nikah,Katanya biar bisa gendong cucu lebih cepat kayak mama Lo,Dia maksa gue buat hadir di perjodohan besok sama perempuan pilihannya dan gue harus dateng,Lo tau dia ngancem gue pake apa....?"Tanya Rafael dan Arian mengelengkan kepalanya tanda tidak tau.
Flashback On.
Rafael tengah memainkan ponselnya di ruangan Arian setelah tadi Arian sempat pamit padanya untuk ke perusahaan papanya.
__ADS_1
Saat Rafael tengah asik memainkan game online di ponselnya,Tiba2 ada panggilan dari papinya membuat dia mengerutu kesal karna sebentar lagi dia akan menang,tapi malah papinya terus menelfonnya membuat dia mau tidak mau mengangkatnya.
"Halo,Pi.Ada apa...?"tanya Rafael malas.
"Rafael,kamu harus pulang sekarang juga."ucap Irkan pada Putranya.
"Apa sih,Pi.kalau cuma buat kencan buta mah,ogah pulang"ucap Rafael malas.
"Bukan soal kencan buat,El.ini soal mami kamu,"ucap Irkan seperti sedang khawatir.
"Mami kenapa..?"tanya Rafael.
"mami kamu ngga mau makan,El.papi udah paksa tapi tetap aja mami kamu kekeh,Kamu cepetan pulang di sini bujuk mami kamu jangan sampai maagnya kambuh,bisa gawat kita"ucap Irkan membuat Rafael mematikan panggilannya dan segera meninggalkan ruangan Arian.
Sesampainya di parkiran,Rafael masuk ke dalam mobilnya tampa melihat Kimso yang menatapnya dari jauh.Rafael melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga tidak butuh waktu lama,Dia pun tiba di mansiln keluarganya.
Rafael segera turun dari mobil dan bergegas memasuki rumah papinya itu dan membuka pintu dengan keras (Kebiasaan buruk Rafael membuka pintu dengan keras).
Rafael berlari ke ruang tamu dan mendapati sang Ayah yang sedang mondar mandir sedaro tadi sambil mengigit ibu jarinya.
"Papi,mami mana...?"tanya Rafael saat sudah berada di dekat papinya.
"Itu mami kamu,ngambek ngga mau makan,bujuk gih.papi udah bujuk dari tadi tapi mami kamu abaikan papi."ucap Irkan sambil menunjuk Navira yang sedang duduk di bangku taman di belakang mansion keluarga Sang.
Rafael kemudian mendekat pada Maminya,sedang Irkan melihat dari jauh karna tidak ingin menganggu obrolan antara putranya dan juga istrinya.
"Kenapa mami ngga mau makan...?"tanya Rafael saat sudah duduk di samping Navira.
"Mami ngga mau makan kalau Kamu ngga kabulin 1 permintaan mami"ucap Navira dan Rafael bisa menebak apa yang di inginkan oleh Maminya itu.
"Rafael ngga bisa,Mi.Mami bisa minta yang lain tapi itu Rafael ngga bisa,Rafael mau nikah sama perempuan yang Rafael cinta,Mi.bukan sama perempuan yang mami jodohin"ucap Rafael mengeluarkan semua yang ada di dalam hatinya.
"Tapi kapan,El.kalau mami udah meninggal atau mami udah terbaring di tempat tidur.Mami ngga bisa harapin kamu buat nemuin perempuan yang kamu suka karna mami tau sifat kamu itu seperti apa,ngga jauh beda sama papi kamu waktu masih muda"ucap Navira membuat Rafael memalingkan wajahnya dan melihat papinya dari ke jauhan yang wajahnya sudah asem akibat perkataan maminya.
"Kamu ngga jauh beda sama papi kamu itu,Ngga bakalan puas kalau cuma 1 perempuan,pasti ada aja di setiap lorong pacar kamu dan juga di setiap gedung pasti ada,bahkan anak mentri aja kamu imbat juga"ucap Navira membuat Rafael membulatkan matanya.
__ADS_1
"Kok mami tau sih"ucap Rafael membenarkan perkataan maminya yang memang benar adanya tapi itu sebelum Rafael mengenal Sarah.
"Ya tau lah,kan papi kamu juga gitu dulu,pacar di setiap lorong bahkan anak presiden pun papi kamu pacarin juga"ucap Navira membuat Rafael membulatkan matanya tidak percaya kalau papinya ternyata masih di bawahnya.
"Mi udah dong,jangan bahas masa lalu lagi"ucap Irkan yang kini sudah berdiri di samping sang istri.
Irkan tidak mau jika Rafael mengetahui sesuatu saat dia masih muda dahulu.
"Kamu tau,tadi Naina telfon mami,dia bilang kalau Ana istrinya Arian udah hamil dan lagi Sunny menelfon kalau Carlson tidak lama lagi akan menikah tinggal beberapa hari lagi dan kamu kapan,El"ucap Navira mengungkit Naina dan juga Sunny yaitu Ibu dari Carlson menelfonya tadi pagi.
"Mama udah siapin besok lusa kita bakalan ketemu sama calon istri kamu bersama dengan orang tuanya di Restoran yang udah mami tentuin"ucap Navira tegas.
"Tapi mami...."ucap Rafael yang terpotong karna Navira kembali berbicara.
"Kalau kamu ngga mau,mami ngga bakalan makan biarin mami mati sekalian"ucap Navira sambil menyilang tangannya di dada.
Rafael dan Irkan yang mendengar hal itu terkejut.Rafael mengepalkan tangannya.
"Iya2 Rafael dateng,sekarang mami makan dulu Rafael mau pergi dulu ada urusan penting"ucap Rafael seketika membuat Navira tersenyum..
"Oke,jangan lupa besok lusa"ucap Navira dan Rafael pun segera keluar dan berjalan menuju mobilnya bersiap untuk pergi lagi.
'Gue harus gimana,kalau gue datang ke pertamuan itu,Itu berarti aku harus melupakan Sarah,ngga itu ngga boleh terjadi bagaimana pun aku harus menikah dengan Sarah karna cuma dia perempuan yang aku cinta'ucap Rafael dalam hati kemudian melajukan mobilnya untuk kembali ke apartemennya dan besok harus bertemu dengan Arian.
Flashback Off.
-
-
-
-
HAPPY READING ALL
__ADS_1
SEMOGA SUKA
JANGAN LUPA LIKE