
Rafael terkejut mendengar perkataan Sarah yang lagi2 mengatakan hal2 aneh.
Rafael menoleh ke arah Arian dan melihat Arian yang menatapnya dengan tatapan aneh yang tidak bisa di artikan oleh Rafael.
"Lo kenapa liat gue kayak gitu"ucap Rafael yang mulai risih dengan Arian yang terus menerus menatapnya dengan tatapan aneh.
Arian mengelengkan kepalanya tanda tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan,sungguh di luar dugaannya.
Kedua pria itu kembali melihat ke arah Sarah dan Ana yang kembali berbicara.
"Iya tau,Na.untung aja aku ancam dia,kalau sampai dia mau lakuin itu lagi di kamar mandi,aku ngga bakal kasih jatah"ucap Sarah membuat Ana membelalakkan matanya.
Rafael yang mendengar hal itu lagi2 terkejut dan menoleh ke arah Arian yang tengah mengigit bibir bawahnya berusaha untuk tidak mengeluarkan suara tawanya.
Dan perkataan Ana selanjutnya membuat Arian tidak bisa menahan tawanya,bahkan Revan yang di gendongnya pun seperti terkikik geli.
"Kejam amat,Sa.sampai ngga kasih jatah,emang kak Rafael bisa tahan ya,ngga di kasih jatah sehari"ucap Ana polos membuat Arian tertawa terbahak - bahak.
"Buahhahahhahaha..."tawa Arian beserta kikikan geli dari Revan.
"Sia**n Lo,ehhh...dia juga ketawain gue,etdah....,anak sama bapak,sama aja"ucap Rafael yang membuat Arian semakin tertawa.
"Kalian kenapa sih,berisik aja di belakang,ngangu orang cerita tau"ucap Sarah membuat Arian menghentikan tawanya.
"Aku rasa ngga tahan deh,"ucap Sarah yang membuat Arian merinding karna menahan tawanya.
"Kamp**t"ucap Rafael membuat Arian tertawa tampa suara.
"Udah,sayang.ngga usah cerita lagi,entar Arian bakalan ketawain aku setiap hari"ucap Rafael mencoba menghentikan istrinya yang otaknya lagi2 mulia gesrek.
Rafael tidak tau,kenapa istrinya itu mendadak menjadi polos plus gesrek setiap kali bertemu dengan Ana.
"Ish,apaan sih"ucap Sarah membuat Rafael pasrah.
Saat Sarah ingin melanjutkan ceritanya dengan Ana,tiba2 pintu terbuka menampilkan 2 pria parubaya yang tidak lain adalah Houyang dan Daenji.
__ADS_1
Daenji dan Houyang memasuki ruangan inap Ana dengan paperbag yang ada di tangan mereka.
"Selamat pagi,Nana"ucap Houyang ketika sudah berdiri di samping brangkar Ana dengan Daenji yang berdiri di sampingnya.
Houyang dan Daenji menaruh paperbag yang mereka pengang di atas meja di samping brangkar Ana.
"Sarah,bagaimana kabarmu,bayi dalam kandunganmu baik2 saja kan..??"tanya Houyang pada Sarah.
"Baik2 saja,Tuan besar Li."ucap Sarah dengan tersenyum manis pada Houyang.
"Tidak perlu formal begitu,Sarah.panggil saja kakek Li seperti Rafael"ucap Houyang dan Sarah pun mengangguk mengerti.
"Oh lihat,cucu kecilku 1 ini,Nana biar kakek gendong Revin"ucap Houyang membuat Ana dan Sarah sedikit terkejut.
"Kakek Li bisa kenal ini Revin dengan cepat,hebat."ucap Sarah kagum karna Houyang bisa mengenali Revin dengan cepat dengan sekali lihat saja.
"Bisa dong,Kan kami yang memberikan nama"ucap Houyang dan Sarah pun memgangguk.
Daenji berjalan mendekati Arian yang duduk di sofa bersama dengan Rafael.
"Arian,Biar kakek yang gendong Revan,kamu pulang mandi,orang tuamu beserta mertuamu sedang dalam perjalanan ke sini,kau bisa pulang untuk membersihkan diri,setelah itu kembali lagi ke sini"ucap Daenji mengambil Revan dan gendongan Arian dan kemudian menimang cucunya itu.
"Aku pulang dulu ya,"ucap Arian kemudian mengecup puncuk kepala Ana.
Ana mengangguk mengerti dan Arian pun keluar dari ruangan itu untuk pulang mandi.
Setelah kepergian Arian,kini tinggal Ana,Sarah dan Rafael beserta kedua kakek yang sedang asyik mengendong cucu mereka.
"Wah,seandainya Ryung juga bisa membuat 2 seperti ini,mungkin waktu itu kita tidak akan berebutan hanya untuk mengendong Arian"ucap Houyang mengingat masa lalu,dimana dia dan Daenji bertengkar hanya untuk mengendong Cucu semata wayang mereka yaitu Arian.
"Kau benar,Untung saja Arian bisa buat langsung 2"ucap Daenji yang di angguki oleh Houyang.
Rafael yang mendengar hal itu,jadi berfikir bagaimana ya saat Arian masih bayi dan di perebutkan oleh 2 orang tua itu hanya untuk di gendong.
"Oh iya,Sarah.apa kau sudah melakukan usg untuk melihat apa anak kalian laki2 atau perempuan....?"tanya Houyang sambil mengendong Revin.
__ADS_1
"Kami tidak ingin melakukan itu kakek Li,biar itu menjadi kejutan bagi kami nanti saat dia lahir ke dunia"ucap Sarah dengan tersenyum manis.
Rafael yang mendengar perkataan istrinya,ikut tersenyum.
Houyang mengangguk mengerti.
"Aku berharap,dia perempuan"ucap Daenji tiba2.
"Memangnya kenapa kalau laki2 kakek Su...??"tanya Sarah yang mulai kepo.
"Kalau laki2,bisa2 sifatnya sama dengan Rafael,Aku tau sifat Rafael itu seperti apa,"ucap Daenji membuat Rafael merasakan firasat buruk.
'Perasaanku tidak enak'ucap Rafael dalam hati yang mulai menelan salivanya dengan susah payah.
"kalau playboynya aku sudah tau,atau masih ada yang tidak aku tau,Apa kakek Su bisa memberi tahuku"ucap Sarah yang mulai penasaran.
"Kau tidak tau,sifat playboy suamimu itu,lebih parah dari yang kau tau"ucap Daenji membuat Rafael menelan salivanya dengan susah payah.
'Mati gue,kalau sampai kakek Daenji menceritakan semuanya,bisa2 gue tidur di kamar tamu lagi'ucap Rafael dalam hati takut jika Daenji menceritakan kenakalannya waktu di negara S.
"Sarah mau tau dong kakek Su"ucap Sarah membuat Daenji melirik Rafael yang mulai berkeringat padahal AC di ruangan itu menyala.
"Rafael itu waktu di negara S,dia punya pacar di mana2,Dia selalu tebar pesona membuat semua wanita berbaris padanya,bahkan hari itu dia tidak pulang dan bermalam di rumah pacarnya yang tidak tau siapa namanya"ucap Daenji panjang lebar membuat Rafael membelalakkan matanya.
'Bagaimana kakek Daenji bisa tau,kalau hari itu aku ngga pulang dan nginap di rumahnya Selli,karna ngga bisa pulang gara2 udah larut banget'ucap Rafael dalam hati dan tatapan matanya menatap istrinya yang tersenyum padanya,dengan senyum yang bisa di artikan oleh Rafael adalah senyuman sebelum kemalangan untuknya.
"Kakek Daenji,apa aku bisa mengendong Revan..??"ucap Rafael berusaha mengalihkan pembicaraan yang akan membuka aibnya lebih dalam.
Daenji terdiam kemudian menatap Rafael yang sudah berdiri di hadapannya dengan senyum di wajahnya.
"Baiklah,sekalian kau belajar untuk menjadi ayah yang baik,"ucap Daenji kemudian menyerahkan Revan yang di gendongnya pada Rafael.
"Makasih Kakek Daenji"ucap Rafael kemudian menimang Revan yang berada di gendongannya.
Setelah itu,Sarah kembali berbincang - bincang dengan Ana sedang Daenji berbicara pada Revin yang berada di gendongan Houyang seolah - olah Revin mengerti apa yang dia ucapkan.
__ADS_1
Sedang Rafael juga berusaha untuk mengajak Revan berbicara tapi sama sekali tidak mendapat respon kecuali kedipan mata dari bayi kecil itu.
Tiba2 pintu terbuka memperlihatkan 2 pasang suami istri yang masuk dengan senyum di wajah mereka.