BUKAN MENIKAHI CEO TAPI MENIKAH DENGAN SEORANG PELAYAN

BUKAN MENIKAHI CEO TAPI MENIKAH DENGAN SEORANG PELAYAN
MIRIP


__ADS_3

Ana menatap Arian dengan tatapan yang bisa di artikan oleh Arian adalah tatapan terkejut.


"Kakak ngga tau ini Revan atau Revin..?"ucap Ana masih menatap Arian dengan tatapan terkejut.


"Bukan ngga tau,sayang.bingung aja."ucap Arian sambil cengegesan.


"Sama aja"ucap Ana sambil mengelengkan kepalanya.


"Kakak gendong sebelah kiri apa kanan...?"ucap Ana bertanya pada Arian sebelah kiri atau kanan tempat putranya menangis tadi.


"Kiri,yang kanan tidur pulas banget"ucap Arian pada Ana.


"Berarti ini Revin,kalau yang tidur sebelah kanan Revan,"ucap Ana menjelaskan pada suaminya itu.


"Abis mirip banget sayang"ucap Arian sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Yang ada semua mirip kamu"ucap Ana membuat Arian mencium pipi Istrinya itu gemas.


"Kan aku Daddynya,"ucap Arian membuat Ana hanya bisa mengangguk.


Revin pun tertidur setelah selesai menyusu dengan Ibunya membuat Arian mencubit pipi putranya itu gemas,Ana memukul tangan suaminya itu yang tidak henti2nya mencubit pipi putranya.


Arian hanya tersenyum kikuk mendapat tatapan tajam dari sang istri.


Arian pun mengendong Revin kembali ke tempat tidur bayi,kini Arian sudah menidurkan Revin di samping Revan,Saat Arian ingin berbalik tiba2 Revan menangis keras membuat Arian menghentikan langkahnya dan kemudian kembali berbalik dan mengendong Revan membawanya kepada sang istri.


Arian memberikan Revan pada Ana untuk di beri asi,karna mungkin Revan lapar seperti Revin tadi.


Ana pun memberi Revan Asi mengabaikan Arian yang wajahnya sudah berubah sedikit masam.


Cukup lama Arian menunggu,Akhirnya Revan pun tertidur dan Arian pun kembali mengendong putra sulungnya itu ke tempat tidur bayi.


Arian perlahan - lahan menidurkan Revan di samping Revin kemudian berbalik kembali ke samping sang istri.


Saat Arian ingin memeluk Ana,tiba2 pintu kamar Ana terbuka membuat Arian mengepalkan tangannya kemudian menatap ke arah pintu di mana sudah ada orang tua dan mertuanya yang masuk ke dalam dan menghampiri mereka berdua.


"Arian ini makan siang buat kamu dan ini bubur ayam buat Ana"ucap Naina sambil memberi Arian tupperware yang berada di dalam kantong plastik.

__ADS_1


Arian kemudian mengambil kantong plastik itu dengan lesuh.Liyana yang melihat hal itu menjadi bingung.


"Kamu kenapa,Arian.."tanya Liyana pada menantunya itu.


"Ngga apa2 kok,Bu"ucap Arian mencoba merilekskan raut wajanya.


"Makan gih,abis itu pulang ke rumah dan mandi,baru balik lagi ke sini buat jagain Ana sama anak kalian"ucap Naina yang di angguki oleh Liyana.


Arian pun berjalan ke sofa dengan lemas dan kemudian memakan makan siangnya,sedang Ana sudah di suapi oleh sang mertua dan mamanya.


Arian memakan makanannya dengan malas membuat Papa dan Ayah mertuanya menatap penuh tanda tanya.


"Kamu baik2 saja kan,Arian..?"tanya Ryung pada putranya itu.


"Harusnya kalian datangnya lebih lama,kenapa harus datang tadi sih"ucap Arian mengeluarkan unek2nya membuat ayah dan ayah mertuanya menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


Saat Arian selesai dengan makan siangnya,dia pun pamit untuk pulang membersihkan diri baru kemudian kembali untuk menjaga istri dan anaknya.


"Kamu sudah berjuang sayang"ucap Liyana pada putrinya sambil membelai kepala putrinya itu.


"makasih,Bu."ucap Ana memengang tangan ibunya yang membelai pipinya.


"Bu,Ma,Ana mau bilang sesuatu,Boleh..?"ucap Ana tiba2 membuat kedua wanita itu saling menatap 1 sama lain.


"Mau apa sayang,bilang aja.."ucap Naina membuat Ana tersenyum dan menarik nafas panjang sebelum berbicara.


"Ana mau merawat Revan sama Revin berdua dengan kak Arian"ucap Ana gugup takut Ibu dan Mama mertuanya tidak setuju.


"Bukankah itu memang udah kewajiban kamu sama Arian ya,buat apa minta izin dulu sama mama dan Ibu kamu"ucap Naina yang di angguki oleh Liyana..


Ana menjadi bingung,bagaimana dia harus menjelaskan pada Ibu dan Mama mertuanya kalau yang di maksud merawat sendiri adalah tinggal di rumah yang terpisah dari orang tua.


"Itu,Ana sama kak Arian mau tinggal di apartemen berdua,ngga perlu pake babysister gitu Ma,Bu."ucap Ana yang sukses membuat kedua wanita itu berteriak membuat Ryung dan Young yang duduk di sofa tidak jauh dari mereka menjadi kaget.


"APAA.!!!!"ucap Naina dan Liyana bersamaan.


"Ngga boleh!!"ucap Naina membuat Ana tersentak.

__ADS_1


"Itu benar,kamu ngga boleh tinggal di apartemen,Apalagi ngga pake babysister lagi,Ibu ngga setuju"ucap Liyana membuat Ana menatap ibunya dengan tatapan memelas.


"Itu benar,kamu dan Arian ngga boleh tinggal di apartemen apalagi harus urus 2 anak sekaligus"ucap Naina membenarkan ucapan Liyana.


"Tapi Ma,Ibu.Ana mau coba rawat mereka sendiri biar Ana jadi ibu yang baik buat mereka dan bisa ngerti mereka"ucap Ana mencoba membujuk kedua wanita di hadapannya itu.


"Ngga,Na.apa kamu fikir kalau kalian berdua bisa urus mereka,"ucap Liyana membuat Ana bingung harus berkata apa2 lagi.


Ana pun terdiam karna tidak bisa lagi berkata apa2 di hadapan kedua wanita itu,karna pasti akan di tolak,dia hanya bisa menunggu sampai Arian kembali.


Pukul 2 siang.


Arian kembali ke rumah sakit setelah tadi pulang untuk mandi karna dia tidak membawa baju ganti dan juga karna harus mengurus sesuatu.


Arian memasuki kamar Inap Ana dan mendapati semua orang yang lagi sibuk mendiamkan 2 bayi yang menangis sekaligus.


Arian melihat mamanya memberikan Ana 1 bayi untuk di beri Asi dan 1 nya lagi masih menagis keras di gendongan ibu mertuanya.


Kini yang sedang menyusu pada Ana sudah berhenti menagis,berbeda yang berada di gendongan sang ibu mertua yang menangis semakin keras.


Arian kemudian berjalan mendekati sang istri dan menaruh paperbag yang di bawanya di atas meja di samping brangkar sang istri.


Saat Arian ingin berbalik ke sofa untuk duduk,tiba2 sang ibu mertua mendekatinya dan memintanya untuk mengendong putranya yang tidak dia tau apakah itu Revan atau Revin.


"Arian,coba kamu gendong,mungkin bakalan diam"ucap Liyana memberikan bayi yang di gendongnya pada Arian.


Arian pun mendong putranya dan kemudian menimang - nimang seperti yang di katakan Liyana.


"Udah dong sayang,jangan nangis lagi,Revin kan anak kuat"ucap Arian seolah putranya itu bisa mengerti perkataannya.


"Dia bukan Revin,Arian.dia Revan"ucap Liyana membuat Arian membeku seketika,sedang Naina dan Liyana mengelengkan kepalanya,bisa2nya Arian tidak bisa membedakan putranya sendiri.


Ryung dan Young yang mendengar hal itu,berusaha untuk menahan tawa mereka karna Arian yang tidak mengetahui kamau yang dia gendong adalah Revan bukan Revin.


Wajah Arian memerah,bukan karna marah melainkan malu,karna tidak bisa membedakan putranya sendiri.


"Udah diam sayang,Daddy di sini,"ucap Arian sambil menyentuh wajah putranya yang berada di gendongannya.

__ADS_1


Arian terdiam saat melihat putranya memengang telunjuknya dengan Erat seolah olah,tidak ingin melepaskan telunjuk sang ayah.


__ADS_2