
2 Bulan kemudian
Di ruang tamu di kediaman Ryung,Ana dan Sarah beserta Rafael sedang berbicara sambil sesekali bersenda gurau bersama.
"Oh iya,Na.Aku dengar katanya kamu bakal lahiran tidak lama lagi ya..??,"tanya Sarah pada Ana sambil mengelus perutnya yang buncit karna usia kandungannya yang sudah masuk 6 bulan lebih.
"Iya,kata dokter sih,ngga lama lagi tinggal hitung hari katanya"ucap Ana sambil mengingat perkataan dokter padanya beberapa hari yang lalu.
"berarti Arian tidak lama lagi jadi bapak2 dong"ucap Rafael sambil tertawa.
"ngga nyadar..."ucap Sarah yang hanya di balas senyuman oleh Rafael.
"Tapi kan masih 2 bulan lebih lagi,Sayang"ucap Rafael,Sarah yang mendengar hal itu,hanya mengelengkan kepalanya dengan perkataan suaminya itu.
Tiba2 Ana merasa sakit perut membuat dia meremas bantal sofa yang di pengangnya dengan kuat.
Sarah dan Rafael yang melihat hal itu,merasa aneh dan kemudian Sarah pun bertanya.
"Kamu kenapa,Na....??"tanya Sarah yang mulai khawatir karna sahabatnya itu terlihat begitu kesakitan.
"Perut aku sakit banget,Sa.mules...."ucap Ana membuat Rafael dan Sarah memandang 1 sama lain.
Rafael dan Sarah berdiri dari duduknya dna kemudian mendenkati Ana yang mulai berkeringat.
"Sayang,cepetan angkat Ana,dia mau lahiran ini"ucap Sarah yang mulai panik.
Rafael pun mengangkat Ana ala bridel style.
"kamu telfon bibi aku akan membawa Ana ke rumah sakit,sekalian telfon Arian"ucap Rafael dan Sarah pun mengangguk dan mengambil ponselnya untuk menelfon Naina yang tadi keluar untuk mengantarkan bekal makan siang pada suaminya.
Rafael berjalan dengan cepat ke mobilnya yang terparkir di depan rumah.Ana mulai kesakitan bahkan sudah mulai mencengram lengan Rafael dengan kuat.
"Buka pintu mobil,cepattt"teriak Rafael pada para penjaga yang berada di sana.
para penjaga itu segera membuka pintu mobil Rafael dan Rafael pun masuk ke kursi belakang dan menaruh Ana di sana kemudian segera masuk ke dalam mobil untuk segera berangkat.
Rafael melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi,Rafael kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang,lalu menyambungkannya dengan bluetooth headphone dan kemudian menaruhnya di telinganya agar memudahkan Rafael berbicara.
"Angkat...angkat..."ucap Rafael berulang - ulang berharap orang itu segera mengangkat telfonnya.
Sementara itu,Arian sedang berada di pinggiran kota di salah 1 restoran di sana untuk pertemuannya dengan salah 1 rekan bisnisnya.
Awalnya Arian tidak ingin pergi,tapi mengingat hal ini sudah di rencanakan jauh hari membuat Arian tidak bisa menolak.
Arian tidak pergi sendiri,Arian datang dengan Carlson yang juga datang untuk bertemu rekan bisnisnya.
__ADS_1
Saat ini Arian sedang melihat presentasi sekertaris dari rekan kerjanya hingga tiba2 ponsel Arian berdering membuat Arian meraih ponselnya yanh ada di atas meja.
Semua orang terdiam dan melihat Arian yang mulai mengangkat telfon yang tidak lain dari Rafael.
"Ha...."ucap Arian yang terpotong karna Rafael sudah berbicara tampa henti di seberang telfon.
"Halo,Arian.kau harus pulang sekarang,kakak ipar mau lahiran ini,aku sedang dalam perjalan ke rumah sakit keluargamu,segera lah pulang,kakak ipar terlihat kesakitan."ucap Rafael tampa henti.
Arian mematikan panggilan sepihak dan segera bangkit dari duduknya dan kemudian berlari ke luar restoran membuat Carlson ikut berlari mengikutinya setelah tadi meminta pada rekan bisnisnya untuk bertemu lain kali.
"Arian...,ada apa...?"tanya Carlson saat Arian bersiap untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Ana mau lahiran,"ucap Arian singkat kemudian masuk ke dalam mobil dan segera menancap gas kembali ke kota.
Carlson terdiam sesaat kemudian tersadar dan masuk ke dalam mobilnya untuk kembali ke kota dan mengikuti Arian dari belakang.
sementara itu,Rafael sudah tiba di rumah sakit keluarga Li dan segera mengendong Ana ala bridel style dan masuk ke dalam rumah sakit sambil berteriak.
"DOKTERRRR,DOKTERRRRR"teriak Rafael mengema di dalam rumah sakit membuat para pasien di rumah sakit itu terkejut.
2 orang perawat mendorong brangkar mendekati Rafael,Rafael menurunkan Ana di atas brangkar.saat Rafael selesai menurunkan Ana di atas brangkar,tiba2 Ana menarik rambut Rafael,Membuat Rafael berteriak.
"Aduuuuh,kakak iparrrrrr,rambutku jangan di tarik."teriak Rafael saat Ana menarik rambutnya.
"Aduuuuh,kakak ipar,Rambut aku rontokkkk"ucap Rafael yang merasa kalau rambutnya sudah benar2 rontok.
Ana melepaskan rambut Rafael yang dia tarik,Para perawat itu pun segera mendorong berangkar Ana ke ruang bersalin.
Tidak lama setelah itu,Naina,Ryung dan Sarah datang dan menghampiri Rafael yang duduk di kursi tunggu di luar ruang bersalin.
"Ana gimana,Rafael..?""ucap Naina saat tiba di hadapan Rafael dengan raut wajah yang begitu khawatir.
"Dia ada di dalam ruangan bersalin,Bibi."ucap Rafael membuat Naina sedikit bernafas lega.
"Rambut kamu kenapa...?"tanya Sarah pada suaminya itu yang rambutnya dalam keadaan acak - acakan seperti baru saja di tarik oleh ibu2 yang sedang marah.
"Di tarik sama Ana tadi"ucap Rafael yang hanya di angguki oleh Sarah.
"Apa suaminya ada...?"tanya Seorang dokter wanita pada mereka.
Saat Naina ingin menjawab,tiba2 terdengar suara seseorang yang sedikit berteriak.
"Saya suaminya"ucap Arian yang baru saja tiba di sana.
"Sebaiknya tuan menemani istri tuan,ikuti saya"ucap Dokter itu kemudian masuk ke dalam ruangan dan di ikuti oleh Arian.
__ADS_1
semua orang menunggu di luar kecuali Arian yang masuk ke dalam untuk menemani sang istri.
20 menit berlalu tapi mereka belum juga mendengar suara tangisan bayi.
"Bagaimana keadaan,Nana..."tanya Houyang yang baru saja tiba bersama dengan Daenji.
"Belum terdengar suara bayi dari tadi...."ucap Naina pada kedua pria paru baya itu hingga tiba2...
Terdengar suara tangisan bayi untuk pertama kalinya.Semua orang tersenyum bahagia dan selang 5 menit kemudian terdengar lagi suara bayi menangis.
"Akhirnya...."ucap Naina sambil memeluk Ryung dengan tangis bahagia yang menyertai senyumannya.
5 menit kemudian,Dokter yang membantu persalinan Ana keluar dengan senyum di wajahnya.
"Bagaimana keadaannya..?"ucap Naina khawatir terjadi sesuatu pada menantunya.
"Mereka baik2 saja kan..?"tanya Liyana yang memang sudah datang sedari tadi bersama suaminya.
Keluarga Sang dan Sia pun ada di sana,Fania pun juga sudah ada di sana.
"Ibu dan Anak baik2 saja,mereka sehat.selamat kepada tuan dan nyonya Li,2 bayi laki2 sehat,kalau begitu saya permisi"ucap dokter itu kemudian pergi.
Tidak lama setelah itu,Ana di pindahkan ke kamar rawat VVIP dengan Arian yang mendorong brangkarnya,sementara itu,kedua putranya sudah di pindahkan ke ruangan yang sama dengan Ana.
Semua orang masuk ke dalam kamar rawat Ana untuk melihat 2 malaikat kecil yang baru saja lahir ke dunia.
"Lihat mereka imut sekali"ucap Sarah dan Fania yang begitu gemas menatap 2 malaikat kecil itu.
"Selamay untukmu,Ryung"ucap Chilson Pada Ryung.
"Selamat Ya,"ucap Irkan sambil menepuk pundak Ryung.
Semua orang bahagia terutama Arian yang duduk di samping brangkar Ana dan kemudian mengecup kening istrinya itu membuat Ana tersenyum.
"Terima kasih"ucap Arian setelah mengecup kening istrinya.
Ana tersenyum mendengar perkataan suaminya itu.
"Apa kalian sudah menyiapkan nama yang bagus untuk mereka"ucap Naina pada Ana dan Arian.
Saat Arian ingin menjawab,tiba2 Houyang dan Daenji bersuara.
"Nama mereka....."ucap Arian yang terpotong karna Houyang dan Daenji sudah berbicara.
"REVAN DAN REVIN"ucap Houyang dan Daenji bersamaan.
__ADS_1