BUKAN MENIKAHI CEO TAPI MENIKAH DENGAN SEORANG PELAYAN

BUKAN MENIKAHI CEO TAPI MENIKAH DENGAN SEORANG PELAYAN
KEBAHAGIAN KELUARGA


__ADS_3

Revin berjalan mendekati Arian dan Revan yang duduk di kursi.


"Daddy," ucap Revin merentangkan tangannya meminta untuk sang ayah juga membawanya ke pangkuannya.


Arian tersenyum kecil kemudian mendudukkan Revin di pangkuannya di samping Revan.


"Daddy, tadi daddy hebat sekali, seperti superhiro yang Revin nonton dengan kakak," celoteh Revin membuat Arian lagi-lagi tersenyum kecil.


"Daddy, apa daddy bisa memgajarkannya juga pada kami?" tanya Revin kecil yang di angguki oleh saudara kembarnya.


Arian terdiam sejenak kemudian tersenyum kecil lalu mencubit gemas kedua pipi putranya.


"Baiklah, daddy akan memgajarkannya pada kalian, jika kalian bisa bangun pagi," ucap Arian membuat Revan dan Revin saling menatap satu sama lain.


"Kami bisa bangun pagi, Daddy," ucap mereka bersamaan dengan semangat yang membara.


"Kalau begitu, sekarang kalian harus tidur agar bangun lebih awal," ucap Arian dan kedua putranya mengangguk.


"Kalau begitu, Ayo!" ucap Revin semangat.


Arian berdiri dari duduknya dengan mengendong kedua putranya lalu keluar dari ruang kerjanya.


Arian membuka pintu kamar Revin dengan susah payah dan kemudian menurunkan Revin di tempat tidur.


"Selamat malam," ucap Arian memgecup kening putranya.


Revin tersenyum dan kemudian menutup matanya dan tertidur. Arian keluar dari kamar Revin dengan Revan di gendongannya.


Arian kemudian berjalan ke kamar Revan lalu menurunkan putranya itu.


"Daddy," ucap Revan saat Arian menarik selimut untuk menutupi tubuh mungilnya.


"Ada apa?" tanya Arian lembut pada putranya itu.


"Saat aku besar nanti, aku yang akan menjaga Revin dan Reana, aku akan menjadi kuat agar bisa menjaga mereka berdua, aku janji pada Daddy," ucap Revan menatap sang Ayah.


Arian terdiam mendengar perkataan putra sulungnya itu, Arian tersenyum kecil kemudian duduk di tepi tempat tidur lalu mengusap kepala putranya.


"Hingga saat itu tiba, Daddy yang akan menjaga kalian semua," ucap Arian pada Revan.


Revan tersenyum lalu menyodorkan jari kelingkingnya dan Arian pun mangaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking putranya.


"Daddy janji," ucap Arian lalu kemudian mengecup kening putranya.


"Selamat malam," ucap Arian pada putranya itu.


"Selamat malam, Daddy," ucap Revan lalu memejamkan matanya dan tertidur.

__ADS_1


Arian keluar dari kamar Revan kemudian menutup pintu perlahan.


"Daddy janji akan menjaga kalian dan tidak akan membiarkan hal seperti hari ini terulang lagi," ucap Arian kemudian berjalan menuju pintu kamarnya dan kemudian masuk dan melihat Ana yang sedang tertidur bersama putri kecil mereka yang tadi merengek untuk tidur bersama Ana dan Arian.


Arian naik ke tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya kemudian memeluk putri kecilnya lalu memejamkan matanya dan tertidur.


Pukul 5.30 pagi.


Arian membuka matanya kala mendengar suara ngedoran pintu kamarnya beserta teriakan putra keduanya yang tidak berhenti.


Arian turun dari tempat tidur lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya.


"SELAMAT PAGI, DADDY," ucap Revan dan Revin bersamaan saat Arian membuka pintu.


"Pagi, sayang," ucap Arian dengan suara khas bangun tidur.


"Ada apa?" tanya Ana saat keluar dari kamar mandi setelah membasuh wajahnya.


"Eh, sayang ada apa?" tanya Ana pada kedua putranya, saat Revan dan Revin berjalan masuk ke dalam kamar dan langsung naik ke tempat tidur.


"Kami ada janji dengan Daddy, mommy," ucap Revan, sedang Revin asyik menoel pipi chuby Reana yang masih tertidur, membuat Reana mengeliat karna merasa terngangu.


Revan memukul tangan Revin saat mencoba mencubit hidung Reana membuat Revin segera menarik tangannya dan kemudian menunduk karna sang kakak sudah memberikannya tatapan tajam.


Arian terkejut mendengar ucapan Revan, Arian segera berlari ke arah kamar mandi untuk membasuh wajahnya kemudian keluar dan segera mencari celana training untuk ia kenakan.


"Ayo," ucap Revan dan Revin kemudian turun dari tempat tidur dan mengikuti Arian keluar dari kamar.


Ana yang melihat hal itu hanya terdiam lalu menghembuskan nafasnya.


Arian, Revan dan Revin kini sedang berlari keliling halaman rumah mereka yang cukup luas.


Revan dan Revin mencoba mengatur nafasnya yang sedikit tidak beraturan akibat berlari satu putaran dengan sang ayah.


"Kalian baik-baik saja?" tanya Arian pada kedua putranya.


"Apa anak daddy sudah lelah, bagaimana bisa jadi kuat jika mudah lelah," ucap Arian membuat Revan dan Revin saling menatap satu sama lain.


"Ayo lari lagi, Daddy!" ucap mereka berdua yang sudah kembali bersemangat.


Mereka pun kembali berlari mengelilingi halaman rumah sebanyak 2 kali.


Merasa sudah cukup, Arian, Revan dan Revin pun masuk ke dalam rumah.


Revan dan Revin menjatuhkan tubuh mereka di atas sofa panjang dengan nafas yang tidak beraturan.


Arian yang melihat hal itu tersenyum dan mengelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Capek ya, lari paginya." ucap Ana dengan membawa nampan berisi 2 gelas susu dan 1 gelas air putih.


Ana menaruh nampan di atas meja, Revan dan Revin pun segera menyambar susunya dan menenguknya hingga tandas membuat Ana tersenyum kecil.


Arian memgecup puncuk kepala Ana lalu mengambil gelas yang berisi air putih dan kemudian meminumnya.


"Ya udah, kalian pergi mandi gih, abis itu turun buat sarapan," ucap Ana pada ketiga pria di rumah itu.


"Yey, mandi bareng daddy," ucap Revan dan Revin bersamaan dengan tersenyum gembira bak memenangkan lotre.


Pukul 7 pagi.


Saat ini Arian dan Ana beserta anak-anak mereka sedang sarapan di meja makan, setelah tadi Arian sempat memandikan kedua putranya.


Hari ini Revan dan Revin tidak masuk sekolah karna Arian meminta izin untuk beberapa hari ke depan Revan dan Revin tidak akan masuk sekolah.


"Oh iya, beberapa hari lagi adalah hari ulang tahun kalian 'kan," ucap Arian pada kedua putranya.


"Apa yang kalian inginkan?" ucap Arian lagi bertanya pada kedua putranya.


Revan dan Revin saling menatap dan kemudian menatap sang Ayah dengan senyum di wajah mereka.


Revan dan Revin pun mengatakan keinginan mereka pada Arian, Arian tersenyum mendengar keinginan kedua putranya.


* * * *


Ulang tahun Revan dan Revin pun tiba dan hanya di hadiri oleh keluarga saja, tentu saja keluarga Sia dan Sang juga ada di sana.


Revan dan Revin bermain dengan Carlos dan Reon tidak lupa dengan Dion, Sedang Reana bermain dengan Vivian dan para orang tua sedang berbincang di ruang tamu tidak lupa dengan kedua kakek gaul itu.


Saat yang di tunggu-tunggu pun tiba yaitu meniup lilin sekaligus memotong kue.


Semua orang berkumpul di halaman rumah yang sudah di sulap begitu indah dengan dekorasi ulang tahun.


Semua orang menyanyikan lagu ulang tahun untuk Revan dan Revin lalu mereka pun meniup lilin setelah dan tersenyum pada semua orang yang berada di sana.


Arian tersenyum kemudian menatap sang istri yang juga menatapnya dengan senyum di wajahnya.


'Aku berharap agar semua kebahagian akan selalu bersama dengan kami semua, agar putra-putra dan putri-putri kami selalu bahagia' ucap Ana, Fania dan Sarah dalam hati berdoa agar kebahagian selalu bersama mereka.


'Kami berharap agar putra-putra kami akan selalu aman dan bisa di andalkan saat sudah dewasa nanti, berikan mereka kebahagian yang tiada batas dan kami berjanji akan menjaga mereka agar tetap aman dan juga untuk menjadi pemimpin di masa depan yang akan mengemparkan dunia,' ucap Arian, Carlson dan Rafael dalam hati berharap agar putra-putra mereka menjadi penguasa yang bijaksana dan tidak mengikuti jejak mereka yang seorang mafia dan punya sisi kelam.


***Kebahagian itu di mana-mana


Asalkan kita mau melihatnya.


Tamat***.

__ADS_1


__ADS_2