
Revan tertidur sambil memengang telunjuk sang Ayah yang seperti enggan untuk dia lepaskan.Para orang tua yang melihat hal itu terdiam,bagaimana tidak terdiam,mereka sudah mencoba sedari tadi untuk menghentikan tangis Revan tapi tidak bisa.
Arian tersenyum melihat Revan memengang telunjuknya bahkan saat sudah tertidur sekali pun.Arian mendekatkan wajahnya ke wajah Revan membuat hidung mereka bertemu.
Saat Arian menjauhkan wajanya dari wajah putranya itu,Revan tersenyum dalam tidurnya membuat Arian tersenyum lebar,Sepertinya putranya yang satu ini akan memiliki sifat yang sama dengannya jika sudah besar nanti.
Bukan berarti Revin tidak memiliki sifat Arian,tapi bisa saja anaknya yang 1 itu sedikit berbeda dengannya.
Arian menurunkan Revan ke tempat tidur bayi secara perlahan agar tidak menganggu tidur putranya itu.
"Aku rasa Revan akan sangat dekat denganmu Arian"ucap Naina dengan tersenyum manis pada putranya.
Arian pun tersenyum membalas senyum ibunya membuat Naina terdiam dan tampa sadar bulir bening jatuh melewati pipinya.
"Kamu kenapa,Naina"ucap Liyana yang terkejut melihat Naina menangis.
Mendengar hal itu,semua orang mengalihkan pandangan mereka kepada Naina.
"Aku baik2 saja,sebaiknya kita juga pulang untuk membersihkan diri baru kemudian kembali lagi ke sini"ucap Naina mendekati Ryung dan kemudian keluar.
"Kalau begitu,papa pulang dulu ya,Arian,Ana.Aku pulang duluan,Young,Liyana"ucap Ryung kemudian keluar dari kamar itu dan menyusul sang istri.
"Kami juga pulang ya,Ana,Arian.kami akan datang lagi nanti"ucap Young pamit pada menantu dan Anaknya.
"Baik,Ayah,Ibu.hati2 di jalan"ucap Ana dan Young pun mengangguk dan kemudian mereka keluar dari ruangan itu meninggalkan Ana dan Arian.
*******
Sementara itu,Naina terus menangis dari rumah sakit hingga kini di dalam mobil di tengah perjalan pulang.
"Sudahlah sayang,Tidak baik jika kau menangis terus seperti ini"ucap Ryung untuk yang kesekian kalinya.
"Arian tersenyum padaku,Dia tidak pernah tersenyum padaku setelah kejadian itu."ucap Naina di sela2 tangisnya.
__ADS_1
Ryung menghembuskan nafasnya,mengerti dengan apa yang di rasakan oleh istinya.perasaan terharu ketika seseorang yang selalu dingin pada mereka mendadak menjadi hangat,setelah kejadian itu,Arian tidak pernah sekali pun tersenyum pada kedua orang tuanya atau membalas senyum orang tuanya dengan tulus seperti tadi.
"jangan menangis lagi,sayang.nanti matamu menjadi sembab dan pasti Arian akan bertanya,"ucap Ryung membuat Naina segera menghapus air mata yang terus mengalir seperti air terjun di pipinya.
Naina pun terdiam meski masih sesunggukan akibat menangis terlalu lama,Ryung menghembuskan nafas lega karna sang istri sudah menghentikan tangisannya.
******
Sementara itu,Arian sedang mengupas apel untuk istrinya karna Ana tiba2 meminta untuk di kupaskan apel oleh sang suami.
"Kak,Mama sam Ibu ngga setuju kalau kita tinggal di apartemen"ucap Ana sambil memakan apel yang sudah di potong2 oleh Arian.
"Nanti aku yang bicara sama mama,aku yakin kita bisa urus mereka berdua tampa babysister"ucap Arian tidak menghentikan tanganya yang tengah mengupas apel.
"Kalau mereka ngga setuju,ngga usah di paksa ya"ucap Ana membuat Arian menghentikan gerakan tanganya yang sedang mengupal apel dan kemudian menatap Ana yang juga menatapnya.
"Aku sudah berjanji padamu,maka aku akan memenuhinya,aku yakin mereka akan setuju"ucap Arian sambil tersenyum dengan Ana.
Pukul 4 sore.
Arian tengah sibuk dengan laptopnya di kamar Inap Ana.sedang Ana sudah tertidur pulas sejak tadi begitu pun dengan 2 malaikat kecil mereka.
Tiba2 pintu kamar Ana terbuka membuat Arian yang fokus pada laptopnya kini mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang datang tampa mengetuk pintu.
"Apa aku menganggu..?"ucap orang yang masuk ke dalam kamar inap Ana yang tidak lain adalah Carlson dan Fania.
"Dia sedang tidur"ucap Arian singkat kemudian kembali fokus pada laptopnya karna sedang mengerjakan pekerjaan kantor yang tadi tertunda.
Carlson mengangguk mengerti dan kemudian duduk di sofa panjang di samping Arian yang duduk di sofa tunggal.Fania berjalan mendekati si kembar dan melihat 2 bayi lucu yang membuatnya tersenyum.
"Maaf ya,tadi kami pulang duluan,karna belum makan siang,"ucap Carlson yang hanya di balas deheman oleh Arian.
"Aku tidak percaya,kalau orang sedingin es sepertimu bisa berubah menjadi hangat hanya karna seseorang,sungguh tidak bisa di percaya"ucap Fania membuat Arian menghentikan tangannya yang asyik mengetik.
__ADS_1
"Memangnya aku di matamu seperti apa"ucap Arian pada Fania yang masih setia melihat Revan dan Revin yang tertidur pulas.
"Kulkas yang selalu dingin,atau bisa ku bilang seperti kutub utara"ucap Fania tampa melihat Arian.
"Perkataan istrimu pedas sekali"ucap Arain membuat Carlson menahan tawanya.
"memangmya suamimu tidak seperti aku apa!!"ucap Arian membuat Carlson menatapnya tajam.
"Maksud kamu apa..??,suamiku itu orangnya hangat tau"ucap Fania yang kini sudah berada di hadapan Arian.
"Tanya saja sendiri padanya"ucap Arian kini kembali fokus pada laptopnya.
"Kau....."ucap Fania yang terhenti karna tiba2 pintu terbuka membuat Arian,Carlson dan Fania mengalihkan pandangannya ke arah pintu.
"Apa kami menganggu"ucap Rafael saat masuk ke dalam dan menutup pintu.
"Ana tidur ya"ucap Sarah saat melihat Ana yang tertidur di atas brangkar.
"Padahal aku ingin berbicara padanya"ucap Sarah lagi kemudian berjalan mendekati sofa dan kemudian duduk di sofa panjang berhadapan dengan sofa yang di duduki oleh Carlson.
Fania yang merasa lelah kemudian memutuskan duduk melupakan apa yang tadi ingin dia ucapkan pada Arian,sedang Rafael mendekati tempat tidur bayi dan melihat Revan dan Revin yang tertidur pulas.
"Kok mereka mirip kamu ya,Ran.ngga ada yang mirip sama kakak ipar"ucap Rafael melihat dengan teliti wajah 2 bayi mungil yang sama sekali tidak bisa dia bedakan yang mana Revan dan yang mana Revin.
"Kan aku bapaknya,Lo ngga suka kalau mereka mirup gue"ucap Arian yang merasa tersindir dengan perkataan Rafael yang seolah - olah tidak suka jika Revan dan Revin mirip denganya.
"Ngga sih,cuman ya,takut aja entar sifatnya sama lagi kayak lo"ucap Rafael membuat Arian serasa ingin melemparkan buah apel yang ada di hadapannya pada Rafael.
Seandainya saja Ana tidak tidur,mungkin buah apel itu sudah melayang ke kepala Rafael.
"Aku doakan anakmu agar sifatnya mirip denganku"ucap Arian membuat Rafael refleks berteriak membuat Ana terbangun dan Salah 1 dari bayi itu menangis.
"KAMP**T Lo"teriak Rafael membuat Ana terbangun dari tidurnya dan salah 1 bayi itu menangis.
__ADS_1