
Arian dan Rafael menertawakan Carlson saat Dia selesai bercerita,sungguh nasib yang malang harus bercerita pada kedua orang yang hanya menertawakannya.
"Hahahahhah"tawa Arian dan Rafael pecah saat Carlson selesai bercerita.
"Gimana rambut lo,ngga botakkan gara2 di tarik sama ibu2 itu,"ucap Rafael seolah - olah menyindir nasib sial yang di derita oleh Carlson.
"Sia**n lo,"ucap Carlson semakin membuat Rafael tertawa.
"Arian,apa kau punya waktu luang besok...?"tanya Carlson pada Arian.
Arian yang tadi tertawa menghentikan tawanya dan menatap Carlson yang juga menatapnya.
Carlson merasa terusik dengan Rafael yang tidak henti2 nya tertawa terkikik membuat Carlson serasa ingin mengubur sahabatnya itu.
"Bisa kah kau berhenti tertawa,Rafael.aku sedang ingin berbicara dengan Arian dan ini penting.!!!"ucap Carlson membuat Rafael segera mengatupkan mulutnya.
Saat Arian ingin menjawab pertanyaan Carlson tiba2,ponselnya berdering dan tertera nama ayahnya di sana.Arian pun mengangkat telfon dari papanya.
"Halo"ucap Arian saat sudah mengangkat telfonnya.
"Kamu di mana...?,bisa datang ke kantor Papa,Ada yang mau papa omongin sama kamu."ucap Ryung membuat Arian serasa mendapat firasat buruk.
"Aku tidak bisa,Pa.Aku sibuk...?"ucap Arian jujur karna memang masih banyak berkas yang menumpuk di hadapannya.
"Ayolah,Arian.Papa ngga bakalan minta yang lain sama kamu,Papa cuma mau kamu datang ke kantor papa,memangnya apa yang membuat kamu sibuk...?"tanya Ryung membuat Arian mengumpat dalam hati.
'Berkas2 sia**n yang tiada habisnya'umpat Arian dalam hati pada berkas2 yang ada di hadapannya.
"Tapi aku benar2 sibuk,Pa.Besok lusa saja saat aku luang"ucap Arian membuat Ayahnya serasa ingin marah tapi tidak bisa.
"Tapi papa maunya sekarang,hanya sebentar saja,saat makan siang kau harus datang titik ngga pake koma"ucap Ryung mematikan panggilannya sepihak tampa peduli kalau Arian akan marah nanti.
Arian yang mendengar hal itu sedikit kesal kemudian di tambah lagi dengan papanya yang mematikan panggilan sepihak tampa mendengar penolakannya membuat Arian benar2 marah sekarang bahkan melemparkan ponselnya ke lantai hingga hancur membuat kedua sahabatnya itu berjingkat karna kaget.
Carlson dan Rafael saling menatap 1 sama lain,kemudian fokus pada Arian yang memijit keningnya yang sedikit pusing.
"Kau kenapa..?"tanya Carlson sedikit khawatir dengan sahabatnya itu.
"Tidak apa2,aku hanya mendapat firasat buruk"ucap Arian masih memijit keningnya.
Carlson dan Rafael lagi2 saling menatap.
"Firasat buruk bagaimana...?"kini Rafael yang bertanya.
__ADS_1
"Aku akan mendapatkan pekerjaan yang menumpuk"ucap Arian berhasil membuat kedua sahabatnya membulatkan mata mereka.
Tidak biasanya sahabatnya itu mengeluh dengan pekerjaan,bahkan jika dia harus bekutak dengan berkas2 sampai malam pun Arian tidak pernah mengeluh,Tapi sekarang Carlson dan Rafael baru saja mendengar Arian mengeluh dengan berkas2.yang benar saja.
Apakah ini karna Arian sudah menikah...?,Apakah Carlson dan Rafael juga akan seperti Arian saat ini kalau mereka sudah menikah nanti,sungguh perubahan yang mengerikan membuat kedua orang itu bergidik ngeri.
Arian melihat kedua sahabatnya itu yang menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan,bahkan Arian saja yang bisa membaca pikiran orang lain hanya dengan menatap mata mereka kini tidak bisa membaca pikiran kedua sahabatnya itu karna tatapan mereka yang menurut Arian aneh.
"Ada apa dengan kalian...?"tanya Arian pada kedua sahabatnya itu.
"Tidak apa2,kau pergilah ke kantor paman saat makan siang biar di sini Rafael yang menyelesaikannya"ucap Carlson membuat Rafael mengangguk kemudian tersadar kalau dirinyalah yang di tunjuk untuk mengantikan Arian saat pergi ke perusahaan Ryung.
"Eeeehhh,kok gue...?"ucap Rafael menunjuk dirinya sendiri.
"Kan Lo ngga sibuk,El.Sedang gue juga banyak pekerjaan terlebih lagi pernikahan gue yang bakalan di adakan 1 minggu sebelum resepsi pernikahan Arian."ucap Carlson membuat Arian bertanya - tanya.
"Dari mana kau tau kalau resepsi pernikahan gue 2 minggu lagi atau lebih tepatnya 13 hari lagi"ucap Arian bertanya pada Carlson.
"Gue tau lah,Kan Kekek Houyang telfon bokap gue tadi malam,terus bokap gue yang kasi tau gue,gimana sih lo"ucap Carlson membuat Arian mengangguk mengerti.
"Baiklah,Rafael ke sini dan bantu aku menyelesaikan hal ini lebih dulu,"ucap Arian sambil menunjuk berkas yang menumpuk di hadapannya.
Rafael pun bejalan untuk mengambil separuh berkas itu dan menaruhnya di atas meja di sofa tempat dia duduk tadi dan juga untuk membuat Carlson ikut membantunya.
Saat Rafael sudah mengambil setumpuk berkas dan berniat untuk berbalik dan duduk kembali di sofa tadi,Carlson ternyata sudah berada di ambang pintu bersiap untuk keluar.
Rafael yang melihat hal itu,Berteriak mengumpat sahabatnya itu.
"TEMAN KAMP**T"Teriak Rafael saat Carlson keluar dari ruangan Arian.
Carlson yang melihat hal itu hanya tertawa kemudian segera berlari,sedang Arian terkejut bahkan menutup telinganya dengan tangannya karna teriakan Rafael yang begitu keras.
"Sebaiknya kau segera mengerjakannya agar kau bisa segera pulang,"ucap Arian kini fokus kembali pada berkas yang ada di tangannya.
Rafael berjalan lesuh ke sofa tempat dia duduk tadi sambil membawa setumpuk berkas di tangannya dan merintih dalam hati.
'Apes banget dah hidup gue,gue aja udah di sibukin ama berkas2 di kantor,eh malah harus sibuk juga di sini.lebih baik gini deh dari pada pergi kencan buta sama wanita pilihan mama'Rintih Rafael dalam hati.
Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat dan Arian sudah selesai dengan berkas2 nya dengan bantuan dari Rafael.
jam sudah menunjukkan waktu makan siang,Arian pun bersiap untuk pergi ke perusahaan ayahnya sedang Rafael malah tidur - tiduran di sofa panjang di ruangan Arian karna sudah selesai dengan pekerjaannya.
Arian pun bersiap untuk pergi dan mengambil Jasnya kemudian melihat Rafael yang hanya memainkan ponselnya sambil tidur.
__ADS_1
"Kau tidak ingin pulang,El...?"tanya Arian membuat Rafael yang tadinya fokus pada ponselnya kini menatap Arian.
"Ngga,gue di sini aja.Malas pulang,entar mami nelfon lagi buat pergi kencan buta,ogah"ucap Rafael membuat Arian mengangguk mengerti.
"Kalau gitu gue berangkat,"ucap Arian kemudian pergi setelah melihat Rafael mengangkat tangannya tanda mengerti.
Arian berjalan ke parkiran kemudian masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mobil sportnya itu.Arian menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga membuat dia tiba lebih cepat di perusahaan ayahnya,12 menit perjalanan Arian tiba di perusahaan Ayahnya yang memiliki lebih dari 60 lantai.
Arian memarkirkan mobilnya kemudian turun dengan memakai kaca mata hitam membuat penampilannya semakin menawan.Arian masuki lobi kantor ayahnya itu dan menjadi pusat perhatian para pegawai wanita yang tidak bisa melepaskan pandangannya dari wajah tampan Arian yang seperti pangeran,bukan bahkan lebih tampan dari seorang pangeran.
Arian terus berjalan tidak menghiraukan pandangan pegawai wanita di sana hingga dia tiba di lift dan kemudian memencet tombol lift dan tiba2 seorang pegawai wanita menghentikannya.
"Ada yang bisa saya bantu,Tuan."ucap Wanita itu ramah.
Arian melihat pegawai wanita itu kemudian melepaskan kacamata hitamnya memperlihatkan mata birunya yang begitu menghayutkan.
"Tidak,terima kasih"ucap Arian dingin kemudian masuk ke dalam lift dan menekan tombol lift dan kemudian lift itu pun tertutup.
"Astaga siapa pria tampan itu"
"Apakah dia adalah pangeran yang datang untukku"
Begitulah perkataan pegawai wanita itu saat Arian sudah masuk ke dalam lift,sedang pegawai wanita yang tadi berbicara dengan Arian tiba2 jatuh pingsan karna terlalu senang bisa melihat wajah tampan Arian dengan sangat dekat.
Pintu lift terbuka,Arian sudah tiba di lantai tempat ruangan ayahnya berada.Arian berjalan ke ruangan ayahnya yang terlihat sepi kemudian di melewati tempat sekertaris ayahnya yang sama sekali tidak ada orang.Arian pun membuka pintu ruangan Ayahnya dan ternyata tidak ada orang sama sekali di dalam.
Arian memutar badannya dan segera berjalan menuju ke suatu tempat yang dia yakin kalau ayahnya ada di situ,Arian paling tidak suka saat seseorang memanggilnya dan ketika dia datang orang itu malah tidak ada.
Sementara itu,Ryung tengah berada di ruang rapat,meski ini sudah jam makan siang,tapi Rapatnya belum juga selesai.saat semua orang tengah berbicara mengenai pembangunan gedung baru untuk cabang perusahaan di kota M,Tiba2 seseorang membuka pintu dengan keras membuat semua orang menatap pelaku yang sudah lancang menganggu rapat penting perusahaan.
BRAK
-
-
-
-
-
HAPPY READING ALL
__ADS_1
SEMOGA SUKA
JANGAN LUPA LIKE