
Houyang membulatkan matanya saat melihat siapa yang berani teriak di dalam rumah dan orang itu tidak lain adalah besannya yaitu Daenji Su ayah dari Naina.
"Sejak kapan kau ada di sini..?"tanya Houyang saat Daenji berada di depan meja makan
berdiri sambil menatap semua orang di sana.
"Sejak aku mendengar seseorang mengatakan sesuatu yang seperti menyindirku"ucap Daenji menatap Tajam pada Houyang.
Tiba2 atmosfir di ruang makan itu berubah menjadi seperti aura persaingan.Daenji duduk di salah 1 kursi yang berhadapan dengan Houyang.Daenji menatap Arian hingga pandangannya bertemu dengan mata biru Arian.
"Kenapa kau tidak memberi tahukan hal ini padaku,Arian"ucap Daenji terus menatap Arian.
"Aku saja tidak memberitahukan mereka,Kenapa aku harus memberi tahukan hal ini pada kakek lebih dulu..?"tanya Arian meski sebenarnya dia sudah tau apa sebabnya kakeknya ingin di beri tahu lebih dulu.
"Tentu saja harus,Karna aku tidak mau jadi yang kedua setelah dia"ucap Daenji sambil menunjuk Houyang yang tersenyum penuh kemenangan.
Arian benar2 tidak tau bagaimana caranya untuk mengatasi kedua kakeknya yang selalu ingin bersaing ketika mereka bertemu.
"Aku rasa itu wajar kalau aku yang pertama,Kau kan jauh,Daenji"ucap Houyang semakin membuat Daenji kesal.
"Ayah sudahlah"ucap Ryung membujuk sang Ayah yang terus memprovokasi mertuanya itu.
"Ayah juga sudahlah"ucap Naina membujuk ayahnya yang sudah mengepalkan tangannya karna kesal.
"Kenapa kau harus memiliki Ayah yang menyebalkan,Ryung."ucap Daenji menyindir Houyang.
"Kenapa kau juga harus memiliki ayah yang begitu menyebalkan,Menantu"ucap Houyang menyindir Daenji.
Lagi2 mereka saling menatap seolah olah ada petir perselisihan dari mata mereka.Ana yang melihat hal itu hanya mampu menonton,sedang Arian sudah kesal setengah mati bahkan Sendok yang di pengangnya menjadi bengkok.
"Sayang mungkin kita harus kembali ke kamar karna di sini tidak akan pernah selesai"Ucap Arian dengan tersenyum menatap Ana.
"Arian,Aku baru sampai dan kamu sudah mau membawa istrimu pergi,Apakah kau tidak ingin memperkenalkannya pada kakekmu ini.."ucap Daenji tidak terima karna Arian belum memperkenalkannya pada Ana.
"Nana naiklah tidak baik jika kau tidur terlalu malam dan juga biarkan dia Kakek yang urus"Ucap Houyang sambil menunjuk Daenji.
Naina dan Ryung memukul jidat mereka karna tau pasti ini akan panjang dan benar saja pertengkaran pun di mulai.
"Houyang kau itu benar2 ingin mencari masalah denganku kah"ucap Daenji tidak terima.
"Apa kau fikir aku takut padamu hanya karna kau seorang jendral militer,"ucap Houyang yang kini sudah mengebrak meja makan.
Ana semakin terkejut, Sedang Arian jangan di tanya lagi dia sudah mengeluarkan hawa membunuh dari tubuhnya dan ucapan Arian membuat kedua orang tua itu menatapnya.
"Diam"ucap Arian penuh penekanan sambil tersenyum dan dengan Aura membunuh yang sudah keluar dari tubuhnya.
Houyang dan Daenji yang melihat hal itu bungkam seketika dan segera duduk kembali di kursi mereka dengan tenang.
"Kakek Daenji besok saja kakek berbaur dan berbicara dengan Ana,Dan juga besok jangan membuat istriku pusing dengan pertengkaran kalian,Jika tidak....."ucap Arian sambil tersenyum.
Meski Arian tersenyum,kedua orang tua itu tau maksud dari senyuman cucu mereka itu.Mereka pun menelan salivanya dengan susah payah.
"Sayang,kau sudah selesai makan..?"ucap Arian dan Ana pun mengangguk.
Arian berdiri dari duduknya dan berpamitan dengan Papa,mama dan 2 kakek menyebalkannya itu.
__ADS_1
"Papa,Mama dan juga Kakek2.Aku dan Istriku pamit dulu kami sudah mengantuk"ucap Arian kemudian pergi ke kamarnya bersama Ana meninggalkan mereka berempat di meja makan.
Arian bahkan baru sampai di tangga,Tapi keributan kembali terjadi di meja makan,Arian mengabaikan hal itu dan terus mengandeng tangan istrinya untuk pergibke kamarnya.
Sesampainya di kamar,Arian menutup pintu sedang Ana sudah duduk di tempat tidur.
Ana terkikik geli membuat suaminya menatapnya penuh tanda tanya.
"Kamu kenapa,sayang..?"tanya Arian membuat Ana menatapnya.
"Kakek lucu sekali ya,...hihi"ucap Ana membuat Arian hanya tersenyum kecil.
"Mereka memang begitu,Setiap kali mereka bertemu pasti akan terus bertengkar seperti tikus dan kucing.Aku tidak tau bagaimana tikus dan kucing bisa menjadi besan padahal mereka sering bertengkar,"ucap Arian sedikit bingung dengan kedua kakeknya itu.
"Mungkin karna takdir."ucap Ana membuat Arian menidurkan kepalanya lagi di paha istrinya itu.
"Mungkin,Aku harap besok mereka bisa akur,sehingga tidak membuat istriku ini jadi nyaman"ucap Arian mengenggam tangan Ana kemudian menaruhnya di pipinya.
"Besok aku akan pergi kerja,Apa kamu tidak masalah tinggal bersama kedua kakek menyebalkan itu dan Mama..?"Tanya Arian sedikit khawatir.
"Tidak masalah,oh iya.aku ingin tau apa H&G Group itu milik kak Arian...?"ucap Ana masih penasaran karna Arian belum memberinya penjelasan yang jelas.
"Tentu saja itu milik suamimu ini,Apa istriku ini berfikir kalau itu milik Kimso...?"ucap Arian menaik turunkan alisnya membuat Ana malu karna sadar mengira kalau Arian adalah pelayan.
Arian melihat wajah Ana yang bersemu merah membuat dia tersenyum.
"Baiklah tidak usah di fikirkan,kita tidur oke.sudah malam tidak baik kalau ibu hamil tidur terlalu larut."ucap Arian bangkit dari paha istrinya.
Ana mengangguk kemudian segera tidur dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.Arian hanya tersenyum melihat hal itu.Jika saja ada orang dari anggota militer yang melihat Arian mungkin mereka akan terkejut bukan main.
Pukul 06.30 pagi.
"Nyonya muda,apa yang anda lakukan...?"ucap Seorang pelayan yang bernama Sina.
"Oh aku ingin membuat kopi untuk kak Arian."ucap Ana bersiap untuk mengambil gula yang berada di rak atas di dapur itu.
"Astaga nyonya muda jangan, biar saya saja.Nanti tuan muda marah kalau tau nyonya muda ada di sini,"ucap Sina sedikit takut.
"Tidak apa2 kali ini saja ya,ku mohon."ucap Ana berharap agar Sina tidak melarangnya.
"Baiklah nyonya muda,tapi biarkan saya yang ambil gula itu,"ucap Sina pasrah kemudian mengambil tempat gula itu.
"Terima kasih"ucap Ana saat Sina memberikannya toples gula.
Arian masih menutup matanya dan kemudian Arian mengerakkan tangannya memeriksa keberadaan Ana yang ternyata sudah tidak ada di tempatnya.
Arian segera membuka matanya dan melihat sekeliling kemudian bangun dari tempat tidur bergegas ke kamar mandi untuk mencari Ana tapi Ana tidak ada di kamat mandi.
Arian keluar dari kamarnya tampa peduli dengan penampilannya yang acak acakan karna bangun tidur bahkan dia belum membasuh wajahnya.
Arian bergegas menuruni anak tangga dan mendapati Ana yang sedang menaruh kopi di atas meja makan.Arian berlari dan memeluk Ana dari belakang membuat Ana tersentak karna tiba2 di peluk.
"Kamu itu,apakah mau membuat suamimu ini khawatir terus"ucap Arian tidak melepaskan pelukannya membuat Ana malu karna semua pelayan melihat mereka.
"Udah ih,kita di liatin sama semua itu.."ucap Ana mencoba melepaskan pelukannya dari Arian karna dia benar2 sudah malu.
__ADS_1
"Ngga mau,siapa suruh bangun ngga bangunin aku,Terus pergi ke dapur buat bikin kopi padahal udah aku bilangin jangan buat kopi lagi saat masih hamil muda gini,"ucap Arian menasehati istrinya.
"Iya2 ini yang terakhir,Oke.Sekarang lepasin dulu,kak Arian kan harus mandi dan juga pergi ke kantor kan,"Ucap Ana mencoba membujuk suaminya itu yang begitu manja.
"Janji ngga bakal ulangin lagi..?"ucap Arian dan Ana segera mengangguk.
Arian pun melepaskan pelukannya dan berniat untuk pergi mandi,saat Arian berbalik untuk naik ke kamarnya,tiba2 Arian memutar langkahnya dan kembali ke hadapan Ana kemudian mengecup kening Ana.
"morning Kiss"ucap Arian kemudian berlari ke kamarnya.
15 menit kemudian,Arian turun dengan Jas yang di lampirkan di lengannya dan dasi yang di pengang di tangannya.
Arian berjalan mendekati Ana yang sudah berada di meja makan bersama dengan Papa,Mama dan kedua kakeknya.
Arian memberikan dasinya kepada Ana,Ana pun memakaikan dasi ke leher Arian dan hal itu tidak lepas dari pandangan Semua orang yang berada di sana.
Arian menyambar kopinya dan kemudian mengecup kening Ana lalu berpamitan untuk pergi kerja.
"Aku pergi dulu"ucap Arian berniat untuk pergi.
"ngga sarapan dulu..?"tanya Ana.
"ngga sayang,nanti aja di sana udah telat,"ucap Arian kemudian berlari ke arah pintu.
Saat Arian keluar mobilnya sudah terparkir di sana,Mobil sport berwarna merah yang menjadi hadiah ulang tahunnya yang ke 17 di belikan oleh Ryung.
Meski Arian tidak ada di Negara A saat dia berulang tahun,Ryung selalu membelikan hadiah untuknya.
Arian masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.
Karna jarak antara Rumah Ryung dengan H&G Gruop lumayan jauh,perlu waktu 20 menit bagi Arian untuk sampai dengan kecepatan tinggi.
Saat sampai di H&G Gruop,Arian sudah di sambut oleh Kimso.Arian masuk ke dalam ruangannya di ikuti oleh Kimso yang mengekor di belakangnya.
Arian membuka jasnya dan melampirkanya di kursi kebesaraannya lalu duduk.
"Kimso,Cari informasi tentang Sarah Fang dan keluarganya terutama tentang perjodohannya"ucap Arian yang kini fokus pada berkas2 yang sudah di siapkan oleh Kimso sebelum kedatangannya.
"Baik,Kak"ucap Kimso kemudian keluar dari ruangan Arian.
Selang beberapa saat tiba2 ada seseorang yang membuka pintu ruangan Arian dengan keras dan Berteriak.
"ARIAAAAAN"
-
-
-
-
HAPPY READING ALL
__ADS_1
SEMOGA SUKA
JANGAN LUPA LIKE