
Arian terkejut mendengar hal itu sedang Revan terlihat seperti tertawa membuat wanita yang menatapnya menjadi gemas.
"Terima kasih,untuk pujiannya,tapi anak ini bukan adik saya,Dia anak saya"ucap Arian dengan wajah datarnya.
Wanita itu menatap Arian dengan tatapan terkejut,kemudian kembali menatap Revan yang bibirnya seperti sedang tertawa.
Wanita itu tersenyum canggung dan kemudian pergi dari hadapan Arian,Arian hanya menghembuskan nafasnya,dan kemudian melirik putranya yang mengerjapkan matanya seperti bingung karna sang ayah tiba2 menatapnya.
"Apa Daddy terlihat begitu muda...?"tanya Arian pada putra sulungnya itu.
Arian menghembuskan nafasnya mendapat Revan hanya mengerjapkan matanya bingung.
Arian tersenyum melihat putra sulungnya,Kemudian kembali mendorong troli Revan menuju kasir.
Arian tiba di depan kasir,dan itu tidak luput dari pandangan para wanita yang mulai berbisik.
"Lihat ternyata pria itu adalah ayah dari bayi itu yah"
"Aduh,Hot Daddy,ganteng banget"
Begitulah bisik2 para wanita yang menatap Arian dengan tatapan penuh minat.
"Aku beli semua stok buah dan sayuran di sini dan segera antar ke apartemen di sebelah"ucap Arian membuat pegawai supermarket itu mematung.
"Tadi anda bilang apa...??"ucap pegawai supermarket itu mencoba memastikan.
"Aku tidak suka mengulang perkataanku"ucap Arian kemudian meletakkan kartu kredit berwarna Gold.
Semua orang di sana terkejut bukan main,melihat kartu kredit tampa limit yang di letakkan oleh Arian di atas meja kasir.
pegawai supermarket itu mematung kemudian melihat Arian bergantian dengan kartu kredit berwarna Gold itu.
Arian masih dengan wajah datarnya dengan terus menatap pegawai supermarket itu,Yang menatapnya dengan tatapan terkejut.
"Apa kau sudah selesai dengan keterkejutanmu"ucap Arian menyadarkan pegawai supermarket itu dan segera mengambil kertu kredit itu dan mengeseknya sesuai dengan harga semua sayuran dan buah - buahan.
Arian mengambil kartu kreditnya kembali dan memasukkannya ke dalam saku celananya dan kemudian mendorong troli Revan keluar dari supermarket itu,meninggalkan semua orang yang masih dengan keterkejutannya.
Di sisi lain,Sarah dan Ana sedang menunggu kepulangan Arian dari supermarket.
__ADS_1
Tiba2 pintu terbuka dan Arian pun masuk dengan mendorong troli Revan dengan wajah datarnya.
Ana dan Sarah yang melihat hal itu,saling menatap 1 sama lain dan kemudian menatap Arian yang kini sudah mengendong Revan dan berjalan ke sofa kemudian duduk di sofa tunggal di hadapan Ana dan Sarah.
"Kak Arian kenapa...??"tanya Ana yang mulai penasaran pada Suaminya yang wajahnya mendadak masam padahal tadi saat pergi masih baik2 saja.
Arian menghembuskan nafasnya dan kemudian menatap Revan,yang hanya terdiam sambil memainkan jari ayahnya.
"Aku terlihat seperti Daddynya Revan atau terlihat seperti kakaknya Revan..??"tanya Arian tiba2 membuat Sarah dan Ana membelalakkan matanya.
"Tentu saja Daddyny Revan,masa kakaknya Revan,kan tidak mungkin"ucap Sarah yang di angguki oleh Ana.
"Tapi ada orang yang bilang aku adalah kakaknya Revan"ucap Arian dengan wajah datarnya,sedang Revan sedikit terkikik saat Arian berkata seperti itu.
Lagi2 Ana dan Sarah terkejut dengan perkataan Arian dan sedetik kemudian.
"Hahahahaha..."Sarah tertawa sedang Ana mengigit bibir bawahnya berusaha untuk menahan tawanya.
"Kan gue udah bilang,kalau orang lain yang liat kamu bawa2 Revan atau Revin keluar rumah sendiri,orang bakalan bilang kalau Revan atau Revin adik kamj,bukan anak kamu"ucap Sarah dan kemudian kembali tertawa membuat Arian hanya menatapnya datar.
"Abisnya kakak muda banget,keliatan kayak umur 20 tahun"ucap Ana sedikit tertawa kecil.
"Ngga usah panggil sayang kali,masih ada gue.Rafael belom pulang,entar kalau dia udah pulang dan aku udah balik ke apartemen aku di lantai 3,terserah kamu mau ngapain"ucap Sarah menatap Arian dengan wajah datarnya.
Arian hanya mengelengkan kepalanya mendengar perkataan Sarah.
Tiba2 Arian merasa tangannya seperti sedang di hisap,Arian pun menunduk dan mendapati Revan yang tengah menhisap jari telunjuknya.
"Sayang ngga usah di hisap,jari Daddy."ucap Arian menarik tangannya pelan.
"Isap jari kamu aja"ucap Arian dan kemudian membuat Revan menghisap jarinya sendiri.
"Sepertinya Revan lapar,Aku buatin susu dulu ya,"ucap Ana kemudian beranjak dari duduknya setelah Arian mengangguk.
Setelah Ana pergi le dapur untuk membuatkan Revan susu,Sarah menatap Revan yang sedang asyik menghisap ibu jarinya membuat Sarah gemas.
"Ihhh,gemas banget.aku bawa pulang aja deh"ucap Sarah membuat Arian menatap heran pada istri sahabatnya itu.
"Ngga usah bawa anak gue,kan kamu udah may lahiran"ucap Arian membuat Sarah memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Entar gue culik,terus gue bawa diam2 ke apartemen gue"ucap Sarah membuat Arian membelalakkan matanya.
Tidak lama kemudian,Ana keluar dari dapur dan kemudian mendekati Arian lalu memberikan botol susu pada Arian.
Arian mengambil botol susu yang di berikan oleh Ana dan segera menarik pelan tangan putranya dan mengantikannya dengan put**g dot.
Saat Ana ingin duduk,tiba2 terdengar suara tangis Revin dari dalam kamar,membuatnya berjalan ke arah kamar.
Tidak lama kemudian,Ana keluar dari kamar dan menghampiri Sarah dan Arian dengan Revin di gendongannya.
"Sarah,gendong Revin dulu,Aku mau buatin susu,soalnya Asi aku ngga mau keluar,gara2 tadi nyusuin mereka berdua."ucap Ana memberikan Revin di gendongannya pada Sarah.
Sarah pun mengendong Revin dan Ana bergegas ke dapur untuk membuatkan Revin susu.
Revin masih menangis dengan keras di gendongan Sarah dan tiba2,Revan ikut menangis membuat Sarah dan Arian saling menatap 1 sama lain.
"Udah sayang,jangan nangis..."ucap Arian sambil menenangkan Revan yang tiba2 menangis.
Ana keluar dari dapur dan segera mengambil Revin di gendongan Sarah dan memberikannya susu yang sudah dia buat di botol susu.
Revin mulai terdiam dari tangisnya dan Revan pun ikut terdiam dan kembali mengemut put**g dotnya dan meminum susunya kembali.
Arian dan Ana bernafas lega,sedang Sarah masih terdiam melihat tingkah laku Revan dan Revin yang ternyata sangat berbahaya jika salah satunya menangis.
'Untung Rafael cuma bikin satu,coba kalau langsung 2,bisa bahaya'ucap Sarah dalam hati dengan mengelus perut buncitnya.
Ana kemudian duduk di samping Sarah dan menatap buah hatinya lekat,Sedang Arian mulai menyimpan botol susu yang sudah di habiskan oleh Revan di atas meja.
Tiba2 pintu terbuka,membuat Ana,Arian dan Sarah menoleh dan mendapati Rafael yang masuk dan duduk di sofa tunggal di depan Arian dengan Nafas yang tidak beraturan.
"Kamu kenapa,Yang...??"tanya Sarah pada suaminya itu.
Saat Rafael ingin berbicara,tiba2 terdengar suara bel apartemen Arian membuat mereka saling menatap.
"Rafael buka pintu gih"ucap Arian membuat Rafael membelalakkan matanya dan kemudian menunjuk dirinya sendiri.
"Gue...???"tanya Rafael dengan menunjuk dirinya sendiri.
"Siapa lagi,masa Bini lo"ucap Arian membuat Rafael paasah dan kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati pintu.
__ADS_1
Rafael membuka pintu dan terkejut dengan apa yang dia lihat.