BUKAN MENIKAHI CEO TAPI MENIKAH DENGAN SEORANG PELAYAN

BUKAN MENIKAHI CEO TAPI MENIKAH DENGAN SEORANG PELAYAN
HAMIL 2


__ADS_3

2 tahun kemudian.


Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, kini Revan, Revin, Carlos dan Reon sudah berusia 2 tahun lebih.


Sarah pun sudah melahirkan dan kini usia putra keduanya sudah 1 tahun lebih selisi satu tahun lebih dengan Reon.


Kimso dan Fira pun sudah memiliki anak yang berusia 7 bulan dan kini Kimso dan Fira menetap di Negara S.


Fania kini sedang hamil dan usia kandungnya baru berusia 3 bulan selisi 1 bulan dengan Ana yang kehamilannya baru berusia 2 bulan.


Saat ini Ana sedang duduk santay di sofa dengan sesekali memakan buah yang sudah di potong-potong oleh Arian.


Arian mendekati Ana yang sedang duduk di sofa, Arian terkejut ketika Ana berdiri dari duduknya dan menjauh darinya.


"Kamu udah mandikan?" tanya Ana tiba-tiba membuat Arian menautkan alisnya tanda tidak mengerti.


"Udah kok sayang," ucap Arian berjalan mendekati Ana yang malah semakin memundurkan dirinya.


"Kamu bau tau, mandi lagi sana," ucap Ana membuat Arian menghembuskan nafasnya.


Ini sudah 3 hari Ana menjauh dari Arian karna dirinya yang tiba-tiba mual bila Arian mendekatinya.


"Iya," ucap Arian berjalan lesuh ke arah kamar.


"Nanti kalau udah mandi, kita ke rumah Ibu dan ayah ya," ucap Ana membuat Arian menghentikan langkahnya dan menoleh pada Ana yang tersenyum.


"Iya, aku juga udah rindu sama Revan dan Revin," ucap Arian membuat senyum Ana semakin lebar.


Sudah 2 hari Revan dan Revin tinggal di rumah orang tua Ana, karna Ana yang sedikit kerepotan untuk mengurus kedua putranya yang semakin aktif dan juga rewel.


Ana sebenarnya tidak ingin jika harus merepotkan kedua orang tuanya, tapi mereka memaksa untuk membuat Revan dan Revin menginap karna mereka akan pergi ke luar kota untuk waktu yang lama.


Beberapa menit kemudian.


Arian keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah dan juga dengan tampang datarnya. Ini sudah ke 3 kali dia mandi padahal masih pagi, Arian menghembuskan nafasnya, entah mengapa kehamilan Ana yang ini seakan membuatnya tidak bisa mendekat meski hanya 1 detik.


Arian memakai baju dan celananya kemudian keluar dari kamar dan melihat Ana yang masih asyik dengan memakan buah-buahan.


"Sayang, ayuk!" ucap Arian dan Ana pun kemudian berdiri dari duduknya dan segera keluar.


Arian dan Ana kini masuk ke dalam lift, Arian memencet tombol lift ke lantai dasar sedang Ana sudah berada di pojokan dengan hidung yang dia tutupi dengan tangannya.


Lagi-lagi Arian menghembuskan nafasnya, tiba-tiba lift terhenti di lantai 3 dan saat pintu lift terbuka, Rafael dan Sarah pun masuk bersama dengan Reon di gendongan Rafael dan Putra kedua mereka yang bernama Dion Sang di gendongan Sarah.


"Eh, Ana, mau kemana?" tanya Sarah pada sahabatnya itu ketika sudah berdiri di samping Ana sedang suaminya berdiri di samping Arian.

__ADS_1


"Mau jemput Revan sama Revin, karna besok ayah sama ibu mau berangkat," ucap Ana masih dengan tangan yang menutupi hidungnya.


Sarah yang mendengar hal itu hanya ber oh ria sedang Rafael mengigit bibir bawahnya berusaha untuk menahan tawanya ketika melihat Ana yang berdiri terlalu jauh dari Arian.


Sedang Arian yang melihat hal itu hanya menatap malas pada Rafael kemudian pandangannya beralih pada Reon yang terus menerus menatapnya.


Arian tersenyum melihat anak berusia 2 tahun itu menatapnya, Arian tersenyum membuat Reon seketika tersenyum lebar.


Arian mengangkat tangan kanannya ke hadapan Reon untuk melakukan Tos dan anak berusia 2 tahun itu tersenyum kemudian melakukan tos dengan Arian membuat Rafael menatap heran pada mereka Reon dan Arian.


"Jangan terlalu dekat woy, entar anak gue ketularan sifat lo lagi," ucap Rafael menatap Arian dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Aamiin," ucap Arian seketika membuat Rafael terkejut.


"Kamp**t," ucap Rafael yang seketika mendapat pukulan di mulutnya oleh Arian.


Arian menatap datar Rafael kemudian pandangannya beralih pada Reon.


"Jangan jadi seperti papimu, oke," ucap Arian membuat Rafael lagi-lagi terkejut.


Anak itu mengangguk mengerti membuat Rafael serasa seperti ayah yang terabaikan.


Akhirnya pintu lift terbuka dan mereka pun berjalan ke masing-masing mobil mereka setelah saling melambaikan tangan.


"Sayang, kok duduk di situ sih, duduk di sini dong," ucap Arian pada istrinya ketika sudah masuk ke dalam mobil dimana Ana duduk di kursi belakang bukan di samping kemudi.


"Sayang, kamu udah siapin nama buat anak kita yang ini, aku takut entar 2 kakek itu lagi yang kasih nama," ucap Arian dengan melirik sekilas Ana dan kemudian fokus kembali pada jalan.


"Udah, kalau laki-laki gimana kalau Reynan, terus kalau perempuan Reana, gimana?" tanya Ana sambil mengelus perutnya.


"Bagus," ucap Arian membuat senyum di wajah Ana mengembang.


15 menit kemudian.


Ana dan Arian tiba di kediaman keluarga Kim dan segera berjalan masuk dan mendapati kedua putranya yang asyik bermain di ruang tamu.


Revan dan Revin menoleh ke arah pintu masuk dan mendapati Ayah dan ibunya berdiri di saan dengan menatap mereka berdua.


"Daddy ...," ucap mereka berdua bersamaan dan segera berlari ke arah Arian yang sudah menjongkokkan badannya dengan merentangkan tanggannya.


"lindu Daddy (Rindu Daddy)," ucap Revin mencium pipi Arian.


"Daddy juga sangat merindukan kalian," ucap Arian mencium kedua pipi putranya membuat keduanya tersenyum.


Arian kemudian mengendong kedua putranya dan berjalan ke sofa.

__ADS_1


Revan dan Revin yang melihat sang ibu sedikit menjauh dari sang ayah membuat keduanya saling menatap satu sama lain.


"Daddy, Mommy kenapa?" tanya Revan dengan suara imutnya.


Arian mendudukkan dirinya di sofa panjang sedang Ana mendudukkan dirinya di sofa yang sedikit berjauhan dengan sofa yang di duduki oleh Arian beserta kedua putranya.


"Mommy kalian lagi ngidam sayang," ucap Arian saat kedua putranya duduk di sampung kiri dan kanannya.


Revan dan Revin lagi-lagi saling menatap dan kemudian menatap Arian yang juga menatap mereka.


"Nyidam itu apa, Daddy?" ucap Revan dan Revin polos.


Arian terkejut dan kemudian mencoba menjelaskannya pada kedua putranya.


"Ngidam sayang, bukan nyidam," ucap Arian lagi-lagi Revan dan Revin saling menatap satu sama lain.


"Ngidam itu artinya ...," ucap Arian menjeda ucapannya.


Revan dan Revin menatap sang ayah menunggu kelanjutan dari ucapan ayahnya.


"Kalian akan punya adik lagi," ucap Arian dengan senyum di wajahnya sementara Ana yang mendengar hal itu berusaha untuk menahan tawanya.


"Adiknya mana daddy?" tanya Revan polos sambil melihat sekeliling mencoba mencari adik yang di katakan oleh sang ayah.


"Itu ..., masih dalam proses," ucap Arian yang mulai mengaruk tengkuknya yanh tidak gatal.


Saat Revan ingin kembali berbicara tiba-tiba terdengar suara dari neneknya yaitu Liyana.


"Eh, kalian udah dateng," ucap Liyana kemudian duduk di samping Ana.


"Iya, Bu. Ayah mana?" tanya Ana pada ibunya.


"Ayah lagi ada di kantor buat selesaiin urusan karna besok udah harus berangkat," ucap Liyana yang di angguki oleh Arian dan Ana.


"Yq udah, Bu. kami pamit pulang dulu ya," ucap Ana membuat Liyana menautkan alisnya.


"Udah mau pulang!?" ucap Liyana menatap anak dan menantunya.


"Iya, Bu. cuma dateng buat bawa Revan sama Revin pulang ke apartemen aja," ucap Arian dengan senyum di wajahnya.


Liyana menghembuskan nafasnya kemudian mengangguk.


"Ya sudah, kami pulang dulu, Bu," ucap Ana kemudian berdiri dari duduknya.


Liyana mengangguk kemudian mengantar menantu, dan anaknya keluar dan kemudian melambaikan tangannya pada cucunya yang berada di gendongan Arian.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan," ucap Liyana pada Arian dan Ana.


Revan dan Revin melambaikan tangannya pada sang nenek dan kemudian mereka pun pergi dari kediaman keluarga Kim.


__ADS_2