
Rafael terkejut dengan apa yang di lihatnya dimana 5 pegaway supermarket tengah menenteng kantongan plastik yang begitu besar di kedua tangan mereka.
"Ada apa ini..??,"tanya Rafael pada 5 pegaway supermarket itu.
"Tadi ada seseorang yang membeli semua persedian sayuran dan buah - buahan dan meminta kami mengantarnya ke apartemen ini,"ucap salah satu pegaway itu.
Arian mendengar samar perkataan pegaway supermarket itu,Arian pun berdiri dari duduknya dengan mengendong Revan dan menghampiri Rafael yang masih mematung di tempatnya.
"Oh kalian sudah datang,"ucap Arian dan pegaway itu pun mengangguk.
"Taruh saja di situ,terima kasih,"ucap Arian dan para pegaway itu pun menaruh kantongan plastik yang mereka bawa di depan pintu dan kemudian pamit untuk kembali ke supermarket.
"Lo abis beli supermarket ya,"ucap Rafael tidak percaya dengan apa yang di lihatnya dan perkataan yang keluar dari mulut Arian membuatnya terkejut bukan main.
"Rafael bawa semua kantongan plastik itu masuk ke dapur,terima kasih,"ucap Arian dan kemudian kembali ke sofa meninggalkan Rafael yang mematung di tempatnya.
"Enak aja lo,bawa sendiri lah,"ucap Rafael tidak terima dan mendapat tatapan tajam dari Arian membuat Rafael menghembuskan nafasnya kasar dan kemudian mengambil semua kantongan plastik itu dan membawanya ke dapur.
Rafael kembali dari dapur dengan wajah yang di tekuk masam menatap ke Arian yang masih asyik mengendong Revan yang sudah tertidur pulas.
'dasar Arian sia**n',umpat Rafael dalam hati sambil menatap Arian.
Pukul 4 Sore.
Waktu berjalan dengan cepat,Sarah dan Rafael pun pamit untuk kembali ke apartemen mereka di lantai 3.
Kini Revan dan Revin tengah tidur di kamar dan Ana masuk ke dalam dapur untuk menatap semua buah dan sayuran yang di beli oleh suaminya,sementara Arian masih sibuk berkutak dengan laptopnya di kamar sambil menjaga kedua putranya.
Beberapa saat kemudian,Arian selesai dengan pekerjaannya dan segera berdiri dan mendekati tempat tidur bayi dan menatap kedua putranya dengan senyum di bibirnya dan kemudian keluar dari kamar menuju dapur.
Ana begitu asyik dengan kegiataannya di depan kulkas hingga tidak menyadari keberadaan Arian yang sudah berada di belakangnya.
Tiba2 Arian memeluka Ana membuat Ana tersentak.
"kak Arian bikin Ana kaget tau,"ucap Ana mengelengkan kepalanya.
Arian memeluk Ana erat dan kemudian menaruh kepalanya di bahu istrinya.
"Sayang,gimana kalau kita buat adek untuk Revan sama Revin."ucap Arian membuat Ana menghentikan tangannya yang sedang mengaduk kopi yang dia buat untuk Arian.
"Emang kak Arian bisa urus mereka,dua aja udah kerepotan,tunggu mereka besar dulu,"ucap Ana yang tidak mengerti kemana jalan fikiran suaminya itu.
Arian tersenyum kemudian mengecup singkat leher jenjang istrinya itu.Arian akui,setelah Ana melahirakan kedua buah hati mereka,istrinya itu semakin menarik saja,membuat Arian kadang harus menelan salivanya dengan susah payah.
Arian mengangguk mengerti mendengar perkataan istrinya itu dan kemudian berbicara membuat Ana terdiam sejenak.
"Terus kita bikinnya kapan dong?"tanya Arian dengan melepaskan pelukannya pada Ana.
"Kalau mereka berdua udah bisa mandi sendiri,"ucap Ana kemudian pergi dari dapur.
Arian pun mengekori Ana keluar dari dapur menuju ruang tamu,di mana Ana sudah duduk manis dengan kopi yang sudah dia letakkan di atas meja.
Ana duduk di sofa panjang dan Arian pun menghampirinya istrinya itu kemudian membaringkan kepalanya di paha Ana dan kemudian tersenyum kala Ana melihatnya.
"Sayang,I Love You,"ucap Ana sambil membaringkan kepalanya di paha Ana dan tersenyum saat Ana menunduk menatapnya.
Ana tersenyum mendengar perkataan suaminya itu.
__ADS_1
"I Love You Too,"ucap Ana tersenyum pada Arian sambil mengusap pipi suaminya lembut.
******
Beberapa hari telah berlalu,Kini Arian sudah kembali bekerja di kantor ayahnya meninggalkan Ana beserta kedua putranya di apartemen mereka.
Arian menghembuskan nafasnya melihat tumpukan kertas di hadapannya.
Fira masuk setelah mengetuk pintu dan mendapat ijin dari Arian.Fira mendekati Arian dengan setumpuk berkas di tangannya.
"Ini pak,semua berkas yang harus di isi"ucap Fira dengan menaruh setumpuk berkas di hadapan Arian.
"kalau begitu,saya permisi dulu pak"ucap Fira kemudian keluar dari ruangan Arian.
'Sepertinya aku akan lembur lagi'ucap Arian dalam hati kemudian mengehembuskan nafasnya kasar.
*****
Sementara itu,Ana beserta Revan dan Revin tengan berada di apartemen Fania bersama dengan Sarah.
Fania sedang menyusui putranya dengan duduk di sofa bersama dengan Revan dan Revin yang tertidur di karpet bulu yang sudah di siapkan oleh Carlson tadi.
Ana dan Sarah sedang bermain bersama dengan Revan dan Revin sedang Fania duduk di sofa dengan Carlos yang sedang menyusu padanya.
Carlson keluar dari dapur dengan membawa nampan yang berisi Teh yang baru dia buat.
Carlson menaruh nampan yang di bawanya di meja di depan Fania kemudian duduk di samping istrinya yang masih asyik menyusui Carlos.
"Makasih kak Carlson"ucap Ana dan Sarah bersamaan.
Fania terkikik geli melihat ekspresi Carlson yang menurutnya lucu.
"Sarah,Rafael kok ninggalin kamu sih,kan kamu lagi hamil tua,kapan pun bisa lahiran,kok dia tega ninggalin kamu sendiri!"ucap Carlson membuat Sarah yang tengah asyik bermain dengan Revin kini menoleh padanya.
Sarah tersenyum mendengar perkataan Carlson dan kemudian berbicara.
"Aku tidak sendiri kok,kan ada Ana,ada kak Carlson juga dan juga kak Fa...."ucap Sarah yang terhenti karna tiba2 perutnya terasa sakit.
Ana menatap sahabatnya itu dengan tatapan khawatir.
"Kamu kenapa,Sa..?"tanya Ana pada sahabatnya itu yang kini mengigit bibir bawahnya menahan sakit di perutnya.
"Perut....Aku...sakit,Na"ucap Sarah membuat Ana menatap Carlson dan Fania yang juga menatapnya.
Carlson segera berdiri dari duduknya dan mendekati Sarah.
Carlson berniat untuk mengendong Sarah tapi tiba2,Sarah menarik rambut Carlson membuat Carlson mengigit bibir bawanya menahan jeritannya agar tidak lolos dari bibirnya.
Carlson berusaha untuk melepaskan tangan Sarah yang menarik rambutnya,ketika terlepas,Carlson segera mengangkat tubuh Sarah dan segera membuka pintu dan membawa Sarah menuju parkiran.
Ana segera mengetik nomor Rafael yang segera menghubunginya.
"Halo kak Rafael,segera pulang kak,Sarah mau lahiran,kak Carlson sudah membawa Sarah ke rumah sakit,cepat ke sana kak Rafael,"ucap Ana dengan satu kali tarikan nafas.
Di sisi lain,Rafael segera berlari keluar ruangannya dan segera menekan tombol lift.
Sesampainya di lantai bawah,Rafael segera berlari melewati karyawan yang menatapnya heran.
__ADS_1
Rafael membuka pintu mobilnya dan segera menancap gas ke rumah sakit yang terdekat dengan Apartemen karna sudah pasti Carlson membawa istrinya ke sana.
*****
Di sisi lain,Carlson yang sedang mengemudi merasa tidak tenang melihat Sarah yang begitu kesakitan di kursi belakang mobilnya.
Sesampainya di rumah sakit,Carlson segera memarkirkan mobilnya dan bergegas turun dan membuka pintu kursi belakang mobilnya untuk segera mengendong Sarah.
Carlson mempercepat langkahnya hingga akhirnya di masuk ke dalam lobi rumah sakit dan segera berteriak.
"SEGERA BAWA BRANGKARNYA,CEPAT"teriak Carlson pada para perawat di sana.
Carlson kini mulai sedikit tenang saat Sarah sudah di bawa ke ruang bersalin oleh para perawat.
"Carlson.."teriak seseorang membuat Carlson menoleh ke belakang di mana sudah ada Rafael yang berlari mendekatinya.
Rafael mengentikan larinya saat sudah berada di dekat Carlson,Carlson segera menunjuk ruang bersalin membuat Rafael segera berlari lagi ke ruang bersalin dan masuk membuat para perawat di sana menatapnya dengan tatapan heran.
Rafael segera berlari ke arah Sarah dan segera mengenggam tangan istrinya.
"Tenang sayang aku disini,"ucap Rafael mengenggam tangan Sarah.
Sarah menetap Rafael yang juga menatapnya dengan tatapan yang begiti khawatir,Sarah mengengam tangan Rafael kuat saat dia kembali merasakan sakit.
"Bapak coba beri semangat pada Istrinya dan ibu,dengar aba2 dari saya,tarik nafas dalam kemudian hembuskan,"ucap Dokter wanita itu pada Sarah dan Sarah pun menarik nafasnya mengikuti intruksi Dokter.
Sedang di luar ruangan bersalin,Carlson berdiri dengan nafas yang mulai beraturan.
Carlson memengang rambutnya yang berantakan akibat ulah Sarah tadi.
"Rambut gue rontok dah,eh.."ucap Carlson memengang rambutnya dan tiba2 pandangannya jatuh pada lengannya di mana ada Cairan putih padahal tadi tidak ada.
"Apaan nih?"tanya Carlson pada dirinya sendiri dan kemudian menyentuh lengannya yang terkena cairan putih.
"Lengket,"ucap Carlson lagi hingga tiba2 dia mengingat perkataan istrinya yang mengatakan jika seorang wanita ingin melahirkan maka ketuban mereka akan pecah di mana air ketuban itu berwarna putih dan juga lengket.
Carlson membelalakkan matanya dan kemudian berteriak membuat para perawat menatapnya heran.
"KAMP**T"teriak Carlson dan segera berlari ke arah kamar mandi untuk segera membersihkan lengannya yang terkena air ketuban.
Tidak lama kemudian,Carlson kembali dari toilet dengan lengannya yang sudah bersih dan juga dengan wajah kesalnya.
Saat Carlson tiba di depan ruangan bersalin,tiba2 terdengar suara bayi menangis dan seketika membuatnya tersenyum senang.
"Akhirnya si playboy jadi bapak juga,"ucap Carlson melupakan kekesalannya dan tersenyum untuk sahabatnya yang sudah resmi menjadi seorang ayah.
Rafael tersenyum dengan setetes air mata yang mengalir di pipinya,air mata bahagia karna anaknya telah lahir kedunia.
"Selamat pak,Bu.Bayinya laki2,"ucap Dokter itu pada Sarah dan juga Rafael.
Rafael menatap Sarah yang juga menatapnya dengan wajah lelahnya yang sudah berjuang keras demi kelahiran buah hati mereka.
"Akhirnya,Reon telah lahir,Terima kasih,"ucap Rafael mengecup kening Sarah.
Akhirnya putra Rafael lahir ke dunia,Reon Sang nama yang sudah di siapkan oleh Rafael dan Sarah jauh hari.
Kebahagian orang tua adalah ketika sang buah hati telah lahir kedunia,buah hati yang akan mereka jaga dan lindungi dengan segenap jiwa dan raga mereka.
__ADS_1