
Beberapa hari kemudian.
Revan dan Revin kini berada di dalam mobil menuju ke Taman kanak-kanak tempat mereka berdua belajar.
"Daddy, Daddy akan menjemput kami nanti saat pulangkan?" tanya Revin pada Arian yang duduk di tengah antara dirinya dan kakaknya.
"Tentu saja, Daddy akan menjemput kalian nanti," ucap Arian mengelus rambut putranya itu sambil tersenyum.
Mobil berhenti di depan gerbang taman kanak-kanak, Arian pun turun di ikuti oleh kedua putranya.
Arian berjongkok agar sejajar dengan kedua putranya.
"Ingat untuk mendengar apa yang di katakan oleh guru kalian, jangan nakal," ucap Arian yang di angguki oleh kedua putranya.
Revan dan Revin mencium pipi Daddynya bersamaan kemudian berlari kecil dan melambaikkan tangannya pada Arian.
Arian tersenyum melihat hal itu, Arian kemudian masuk ke dalam mobil dan menghembuskan nafasnya perlahan.
"Tuan, Kita akan kemana?" tanya sopir yang sedari tadi diam.
"Ke H&G Group dulu, setelah itu baru ke perusahaan Li," ucap Arian dan mobil pun melaju ke H&G Group.
* * * *
Saat ini guru tengah mengajarkan anak-anak mengambar dan kedua saudara kembar itu menyimak dengan baik.
"Kakak, kakak mau gambar Daddy atau Mommy?" tanya Revin pada Revan yang hanya diam tidak berniat untuk mengeluarkan suara.
Revan melirik sekilas ke arah Revin dan kemudian mengangkat kedua jarinya dan kembali fokus pada guru yang tengah menerangkan.
Revin mengerucutkan bibirnya tanda kesal dengan sang kakak yang sangat-sangat irit bicara.
20 menit kemudian.
"Wah, gambar kalian berdua bagus sekali," ucap guru wanita itu pada Revan dan Revin.
"Terima kasih, Bu guru cantik," ucap Revin dengan tersenyum pada guru wanita itu.
__ADS_1
"Terima kasih, kau memang sangat pandai berbicara manis ya," ucap guru wanita itu yang wajahnya sedikit merah karna perkataan Revin.
Revan yang melihat hal itu hanya menatap datar pada adiknya dan kemudian mengelengkan kepalanya tidak percaya, dari mana adiknya itu belajar kata-kata seperti itu.
Pukul 9 pagi.
Revan dan Revin sudah berjalan keluar untuk menunggu sang Ayah, Ini pertama kalinya mereka pulang lebih cepat dari biasanya.
"Kakak, bagaimana jika kita beli es cream dulu di seberang jalan, Daddy baru akan ke mari saat jam 10 nanti," ucap Revin dengan menunjuk toko es cream di seberang jalan.
Revan tampak berfikir sejenak kemudian mengiyakan ucapan adiknya.
Tampak dari kejauhan seseorang berjas hitam sedang mengawasi mereka, siapa lagi jika bukan bawahan Arian.
Revan dan Revin sudah menyebrang jalan dengan di bantu oleh gurunya.
Tiba-tiba sebuah mobil menghalangi pandangan bawahan Arian membuat sang bawahan mengerang kesal kemudian menyebrang jalan untuk memastikan bahwa kedua tuan mudanya sudah membeli es cream atau tidak.
Ketika sampai di seberang jalan tidak jauh dari toko es cream, bawahan Arian yang bernama Virgan mencari keberadaan Revam dan Revin tapi tidak ada hingga mobil yang menghalagi pandangannya melaju melewatinya.
Virgan melihat guru yang tadi mengantar Revan dan Revin ke seberang jalan tengah syok mencoba mengejar mobil yang baru saja melewati Virgan.
"Revan dan Revin di culik dan di masukkan ke mobil itu," ucap guru wanita itu yang mulai mengeluarkan air mata sambil menunjuk mobil yang tadi.
Virgan terkejut kemudian segera berbalik dan mengejar mobil itu, tapi mobil itu sudah terlalu jauh, membuat Virgan hanya mampu melihat nomor plat mobil itu.
Virgan segera menghubungi Arian untuk segera memberi tahukan hal yang menimpa Revan dan Revin.
* * * *
Sementara itu, Arian tengah berada di ruang rapat di perusahaan Li. entah mengapa tiba-tiba Arian merasa was-was.
Tiba-tiba ponsel Arian berdering membuat semua yang hadir di ruang rapat itu menatap Arian.
Arian mengangkat telfon yang tidak lain dari Virgan.
"Halo, ada apa?" tanya Arian saat sudah mengangkat telfonnya.
__ADS_1
"Bos, Tuan muda Revan dan Revin di culik," ucap Virgan dengan nafasa yang memburu akibat panik dengan mata yang fokus pada jalan berusaha untuk mengejar mobil yang membawa Revan dan Revin.
Arian segera berdiri dari duduknya dan keluar dari ruang rapat tanpa sepata kata membuat semua orang di sana bingung sekaligus takut, karna Arian tadi sempat mengeluarkan hawa membunuh dari tubuhnya.
Arian segera berlari ke lift dan segera memencet tombol lift untuk segera ke lantai dasar.
Sesampainya di lantai dasar, Arian segera berlari ke parkiran dengan tangan memengang ponsel mengetik nomor seseorang.
Arian segera memasuki mobil dan menancap gas meninggalkan sopir yang menatapnya bingung.
Arian memasang earphone bluetooth di telinganya.
"Halo segera cek gps di jam tangan Revan dan Revin," ucap Arian saat seseorang di seberang telfon mengangkat telfonnya.
* * * *
Carlson kini sedang berada di kediaman Arian tentu saja bersama dengan Fania dan putri kecilnya yang bernama Vivian Sia.
Vivian dan Reana tengah bermain di ruang tamu dengan Fania dan Carlson yang memperhatikan mereka di sofa, sementara Ana ke dapur untuk membuatkan Teh dan kopi untuk mereka.
Tiba-tiba ponsel Carlson berdering dan di lihatnya orang yang menelfon adalah Arian membuat Carlson segera mengangkatnya.
Belum sempat Carlson mengatakan halo, Arian sudah berbicara membuat Carlson menautkan alisnya.
"Hah, ada apa? apa terjadi sesuatu dengan mereka?" tanya Carlson pada Arian di seberang telfon membuat Fania menatapnya.
"Revan dan Revin di culik! Cepatlah cek lokasi GPS jam tangan milik Revan dan Revin dan kirim lokasinya padaku," ucap Arian kemudian mematikan pangggilan sepihak dan kambali menekan nomor di ponselnya.
Carlson terkejut kemudian mencoba mengecek lokasi Revan dan Revin.
"Ada apa?" tanya Fania yang penasaran karna tiba-tiba raut wajah suaminya itu berubah.
"Revan dan Revin di culik, aku harus segera mengecek lokasi mereka dan mengirimkannya pada Arian," ucap Carlson membuat Fania membelalakkan matanya dan tiba-tiba terdengar suara pecahan gelas di belakang mereka, membuat Carlson dan Fania menoleh dan mendapati Ana dengan tubuh yang perlahan-lahan gemetar dan kemudian pingsan membuat Fania dan Carlson segera menghampirinya setelah selesai mengirimkan lokasi Revan dan Revin pada Arian.
* * * *
"Segera kumpulkan 50 orang untuk ke bagian hutan di bagian timur kota, kepung tempat itu jangan biarkan siapa pun lolos!" ucap Arian pada bawahannya di seberang telfon ketika melihat lokasi Revan dan Revin yang di kirim oleh Carlson.
__ADS_1
"BAIK, BOS!" ucap Desta dan Arian pun mematikan panggilan dan menambah kecepatan untuk segera sampai di tempat kedua putranya.