BUKAN MENIKAHI CEO TAPI MENIKAH DENGAN SEORANG PELAYAN

BUKAN MENIKAHI CEO TAPI MENIKAH DENGAN SEORANG PELAYAN
NGGA ADA AKHLAK


__ADS_3

Di ruang tamu di rumah Arian.


Revan dan Revin tengah bermain diruang tamu dengan Reana yang menatap mereka dengan memiringkan kepalanya.


"Kakak ... main," ucap Reana membuat kedua kakaknya itu menoleh padanya.


"Iya, Rere. mau main juga," ucap Revan membuat Revin mengernyit heran.


"Kak, ngapain ajak Rere main, nanti dia malah nganguin," ucap Revin setengah berbisik di telinga sang kakak.


Revan nampak berfikir, apa yang dikatakan oleh sang adik ada benarnya.


Reana mulai berjalan mendekat pada kedua kakaknya itu untuk bermain bersama. Tiba-tiba terdengar suara bel pintu, Revan dan Revin pun saling menatap satu sama lain.


Reana terdiam kemudian menoleh kearah pintu dan menatap kedua kakaknya yang mulai berdiri dari duduknya untuk membuka pintu.


Revan membuka pintu dan terlihat seorang wanita yang sedang mengendong putrinya yang tidak lain adalah Fania dan Vivian.


Vivian tersenyum pada Revin yang menatapnya kesal.


"Mommy kalian mana?" tanya Fania pada Revan.


"Mommy ada di dapur, Bibi Fania," ucap Revan membuat Fania tersenyum kemudian menurunkan Vivian dari gendongannya.


"Main sama Reana ya, sayang. jangan nakal," ucap Fania dan Vivian pun mengangguk mengerti.


Fania pun berjalan ke dapur untuk bertemu dengan Ana meninggalkan Vivian bersama dengan Revan, Revin dan Reana..


Vivian berjalan kearah Revin yang menatapnya kesal, Revin sangat tidak suka dengan Vivian yang begitu nakal menurutnya.


Flashback on.


Hari ini Revan dan Revin tengah bermain bersama dengan Reana di ruang tamu hingga Vivian bersama dengan kedua orang tuanya datang ke rumah mereka.


Awalnya baik-baik saja, Revin dengan senang hati tersenyum dan bermain dengan Vivian dan Reana hingga tiba-tiba Vivian tidak segaja tersandung dan mobil mainan milik Revin yang ia pengang terlempar hingga rusak dan tidak bisa di mainkan lagi.


Bukan hanya sekali hal itu terjadi, Itu selalu terjadi setiap Vivian datang ke rumah Arian, pasti ada saja mainan Revin yang ia buat rusak.


Hal itu membuat Revin kesal pada Vivian, bahkan Revin selalu ketiban sial setiap kali gadis kecil itu ada.


Pernah sekali Revin tercebur ke kolam karna Vivian tidak sengaja menyenggolnya, untung saja saat itu semua orang ada di sana, jadi Revin bisa selamat.


Flashback off.


Sejak saat itu, Revin membenci gadis kecil itu hingga sekarang dan selalu kesal jika gadis itu mendekatinya.

__ADS_1


Vivian dan Reana bermain bersama tapi Revin tetap menatap tajam gadis kecil itu, dia benar-benar kesal dengan Vivian.


Pukul 4 sore.


Fania dan Vivian pun pulang ke rumah mereka pun pulang ke rumah mereka setelah tadi Fania sempat berbincang ringan dengan Ana.


* * *


Pukul 9 pagi.


Pagi ini Arian memutuskan untuk tidak pergi bekerja dan mengurus ketiga anaknya sementara sang istri membuat makan siang.


Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu, Arian pun beranjak dari duduknya kemudian membuka pintu.


Rafael dan Sarah tersenyum saat pintu terbuka dan memperlihatkan Arian yang hanya berwajah datar.


Arian mempersilahkan Rafael dan Sarah masuk tidak lupa dengan Reon di gendongan Rafael dan Dion di gendongan Sarah.


"Halo anak-anak," sapa Rafael pada ketiga anak sahabatnya itu.


Revan dan Revin tersenyum pada Rafael begitu pun dengan Reana yang tersenyum melihat Sarah berjalan kearahnya.


Arian kembali duduk di sofa, sedang Sarah masuk ke dapur berniat untuk membantu sahabatnya itu.


"Halo paman," sapa Revin dan naik ke sofa yang di duduki oleh Rafael.


Revan, Reon dan Dion bermain bersama sedang Reana berada di pangkuan sang ayah dan Revin berada di dekat Rafael.


"Paman bisa ajarkan aku bagaimana caranya menjadi playboy," ucap Revin polos membuat Arian tersedak air liurnya sendiri.


"Uhuk ... uhuk," batuk Arian kemudian menatap putranya yang juga menatapnya.


Reana menatap sang ayah dengan tatapan tanda tanya, sedang Rafael terdiam mendengar ucapan Revin padanya.


Rafael menatap Arian yang menatapnya horor, membuat Rafael menelan salivanya dengan susah payah.


"Revin menjadi seorang playboy itu harus kuat iman dan batin," ucap Rafael membuat Arian membelalakkan matanya.


"El, Diam!" ucap Arian menakan perkataannya.


"Kamu harus punya banyak mantan, dan mantan paman berhenti di angka 200, dan akhirnya insaf," ucap Rafael tidak peduli dengan Arian yang menatapnya tajam.


'Hehe, tidak apa-apa jika aku mengajarkannya menjadi playboy,' ucap Rafael dengan tersenyum iblis di dalam hatinya.


'Sia**n, teman ngga ada akhlak,' ucap Arian dalam hati kesal dengan Rafael.

__ADS_1


Revin terdiam mendengar ucapan Rafael padanya kemudian mengedipkan matanya polos.


"Kamu harus memiliki peraturan seperti, tidak boleh menyatakan cinta terlebih dahulu, terus menerima siapa pun yang menyatakan perasaannya padamu, lalu tidak boleh lebih dari pengangan tangan, karna bibir kamu harus tetap suci tidak boleh mencium pipi seorang wanita yang tidak kau cintai sepenuh hati, dan yang terakhir jika menyukai seorang wanita, jangan melepaskannya, mengerti!" ucap Rafael menjelaskan panjang kali lebar.


Revin terdiam mendengar hal itu begitu pun dengan Dion yang ikut menyimak perkataan sang ayah.


Arian membelalakkan matanya berniat untuk menghajar Rafael tapi sayang, anak-anak ada disana.


"Sarah! Rafael mengajarkan yang tidak-tidak pada anak-anak," ucap Arian sedikit berteriak membuat Rafael mengumpat kesal.


Revan, Revin, Reon dan Dion menatap heran pada Arian begitu pun dengan Reana yang berada di pangkuan Arian.


"Sia**n, dasar tukang ngadu," ucap Rafael yang mendapat tatapan tajam dari Arian.


Sarah dan Ana segera berlari ke ruang tamu setelah mendengar suara teriakan Arian di ikuti oleh Ana.


"Ada apa?" tanya Sarah ketika sudah tiba di ruang tamu.


"Ti ...," ucap Rafael yang terhenti karna Arian yang sudah berbicara.


"Suamimu itu mengajarkam yang tidak-tidak pada anak-anak, bahkan Dion ikut mendengarkan," ucap Arian membuat Rafael menoleh pada Dion yang menatapnya dengan sesekali mengedipkan matanya.


Ana dan Sarah mengernyit bingung.


"Memang apa yang diajarkan pada anak-anak?" tanya Sarah mencoba memperjelas apa yang di katakan oleh suaminya tadi saat dia berada di dapur.


"Masa dia mengajarkan putraku cara menjadi palyboy, bahkan Dion mungkin sudah mencerna perkataannya tadi," ucap Arian membuat Rafael membelalakkan matanya.


Sarah terkejut mendengar ucapan Arian, Sarah menatap suaminya dengan tatapan tajam.


Rafael menelan salivanya dengan susah payah sedang Arian tersenyum kecil.


'Teman sia**n,' umpat Rafael dalam hati mengumpat pada Arian.


Pukul 2 siang.


Sarah dan Rafael pulang setelah makan siang bersama di rumah Arian, dalam perjalan pulang Sarah hanya terdiam sedang Rafael terus menghembuskan nafasnya.


Sarah segera turun dari mobil dengan mengendong Dion.


"Yang sabar, papa," ucap Reon tiba-tiba kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.


"Nanti malam, tidur di kamar tamu, titik." ucap Sarah kemudian naik ke kamarnya dan menutup pintu dengan keras setelah mengantar Dion ke kamarnya.


"Arian Sia**n" ucap Rafael mengaruk kepalanya.

__ADS_1


END


__ADS_2