
Saat ini Carlson dan Fania berada di kamar Ana dan Arian. Fania melihat Ana yang belum sadar dari pingsan akibat mendengar tentang kedua putranya yang di culik.
"Tante, Mommy baik-baik saja 'kan?" tanya Reana sambil menatap Fania dengan memengang celana Fania.
Fania menunduk dan kemudian memeluk putri kecil Ana.
"Mommy kamu baik-baik saja," ucap Fania mengelus pipi chuby Reana.
Perlahan-lahan Ana membuka matanya dan tiba-tiba menangis membuat Fania segera menghampirinya sedang Carlson mengendong Vivian dan berdiri tidak jauh dari tempat tidur.
"Revan, Revin ...," ucap Ana dan Fania segera memeluknya erat mencoba menenangkan Ana yang begitu syok.
"Mereka berdua baik-baik saja, tenanglah," ucap Fania menenangkan Ana.
"Perasaanku tidak enak, kak. Revan, Revin putraku," isak Ana di pelukan Fania.
Fania mengelus punggung Ana terus berusaha untuk menenangkan Ana.
Carlson yang melihat hal itu hanya menatap sendu dan berharap agar Arian bisa cepat menyelamatkan Revan dan Revin.
* * *
Di sisi lain, Arian sudah tiba di hutan di tempat kedua putranya di tahan oleh penculik entah siapa yang menyuruh mereka.
Arian keluar dari mobil dan di sambut oleh beberapa bawahannya sedang yang lain sudah mengepung tinggal menunggu arahan dari Arian.
Arian berjalan keluar mobil dan sudah ada Virgan yang menunduk tidak mampu menatap wajah sang Bos karna merasa bersalah tidak bisa menjaga Revan dan Revin dengan baik.
"Maaf, Tuan. saya tidak ...," ucap Virgan yang terhenti karna Arian memengang pundaknya.
"Jangan merasa bersalah, sekarang waktunya untuk menghabisi para bandit sia**n itu," ucap Arian yang nafasnya mulai tidak beraturan.
Arian memberi kode dan para bawahannya pun mulai menyerang dan tidak lupa, Arian ikut membantai orang-orang yang sudah berani menculik putra-putranya.
* * *
Sementara itu di dalam bangunan tua di tengah hutan, 2 anak laki-laki sedang menatap tajam pada pria yang berdiri di hadapannya dengan tatapan marah.
"Bos, lihat anak itu, lancang sekali menatap kita seperti itu," ucap bawahan pria itu yang tidak suka di tatap tajam oleh anak laki-laki itu.
"Kalian tunggu saja, Daddy kami pasti akan segera datang untuk menjemput kami," ucap Revin sedikit berteriak membuat bawahan pria itu kesal.
"Dasar anak nakal," ucap bawahan pria itu kemudian mendekat pada Revin dan kemudian melayangkan tangannya.
Revin membelakakkan matanya saat melihat Kakaknya melindunginya dan mendapatkan pukulan di wajahnya hingga membuat pipi kanan Revan lebam bahkan sudut bibirnya sedikit robek.
__ADS_1
"Kakak ..," ucap Revin sedikit gemetar kemudian memengang tangan sang kakak.
Revan mengepalkan tangannya dan kemudian menatap pria itu, pria itu tersentak ketika melihat iris mata Revan yang merah bukan biru membuatnya sedikit gemetar.
"Apa yang kau lakukan, kita tidak boleh kasar pada mereka, itu yang di katakan oleh bos, karna hanya dia yang boleh memukul anak-anak ini," ucap seorang pria yang bisa di pastikan adalah ketua dari para penculik itu.
"Ada apa di luar? berisik sekali!" ucap ketua penculik itu kemudian berjalan untuk melihat apa yang terjadi di luar.
Ketua penculik itu terkejut, ketika mendapati pintu yang di tendang begitu keras menyebabkan pintu itu hancur dan terlihat seorang pria berdiri dengan mengepalkan tangannya dan tidak lupa dengan iris mata yang merah karna amarah.
Arian menatap 2 pria di dalam bangunan tua itu dengan marah hingga tatapannya jatuh pada kedua putranya yang sedikit gemetar, Arian terkejut ketika melihat lebam di pipi putranya membuat dia mengertakkan giginya dan semakin mengepalkan tangannya.
"Breng**k," geram Arian kemudian memukul ketua penculik itu hingga terbentur ke dinding.
Sedang bawahannya yang tadi menampar Revan dan Revin sedikit gemetar.
"Sia**n," ucap pria itu kemudian maju untuk memukul Arian.
"Apa kau yang sudah memukul putraku!" ucap Arian saat menangkap tangan pria itu yang ingin memukulnya.
dan sedetik kemudian terdengar suara teriakan dari pria itu saat Arian mematahkan tangannya membuat Revan dan Revin saling mengenggam tangan mereka dengan tubuh yang gemetar.
Tidak hanya sampai di situ, Arian terus memukul wajah pria itu hingga pria itu tewas dan Arian baru menghentikan tangannya yang terus memukul.
Arian mencoba mengatur nafasnya kemudian menatap kedua putranya yang gemetar.
"Ini Daddy sayang, jangan takut," ucap Arian dengan senyum di wajahnya dan iris matanya yang sudah kembali normal.
Revan dan Revin saling menatap satu sama lain dan kemudian menatap Arian.
Mereka bedua berhanbur ke pelukan sang ayah.
"Daddy," ucap mereka berdua dan memeluk Arian erat dan Arian pun juga memeluk kedua putranya erat.
"Maafkan Daddy, maafkan Daddy," ucap Arian merasa bersalah pada kedua putranya.
"Daddy tidak perlu minta maaf," ucap Revan kemudian tersenyum pada sang ayah.
Arian mengangguk kemudian mengendong kedua putranya dan keluar dari bangunan tua itu.
Semua bawahan Arian membungkukkan badannya saat Arian keluar dari bangunan tua itu.
Revan dan Revin terdiam melihat kumpulan orang yang membungkukkan badannya pada Daddy mereka.
"Bos, aku sudah mencari tau siapa dalang semua ini dan orang itu adalah pemilik perusahaan Property di kota B," ucap Desta pada Arian saat sudah tiba di depan mobil.
__ADS_1
"Jangan biarkan lolos, selesaikan malam ini juga, aku ingin mereka semua menerima hal yang sesuai, kau tau apa yang aku maksud 'kan," ucap Arian kemudian masuk ke dalam mobil setelah bawahannya membuka pintu mobil.
"Baik, Bos," ucap Desta kemudian memberi isyarat pada anggota Dragon night untuk membersihkan semua mayat di tempat itu.
Arian kini sedang dalam perjalanan pulang ke kediamannya dengan Virgan sebagai sopirnya dan kedua putranya yang duduk di samping kiri dan kanan.
Revan dan Revin tertidur dengan posisi bersandar pada sang ayah membuat Arian tersenyum kecil.
"Maaf, Tuan. saya pantas mati," ucap Virgan membuat Arian menatap datar pada orang yang tengah menyetir di hadapannya.
"Tidak perlu, jangan sampai hal ini terulang lagi," ucap Arian yang hanya bisa di angguki oleh Virgan.
20 menit kemudian.
Arian kini telah tiba di depan kediamannya Revan dan Revin pun sudah bangun dari tidurnya.
Arian kemudian keluar dan mengendong kedua putranya untuk masuk ke dalam rumah sementara Virgan segera meninggalkan kediaman Arian setelah tadi mendapat isyarat dari Arian.
Arian membuka pintu dan terlihat Ana, Fania dan Carlson menatap mereka dengan tatapan berkaca-kaca.
Ana berlari menghampiri Arian dengan Revan dan Revin di gendongannya.
"Syukurlah kalian baik-baik saja," ucap Ana pada kedua putranya dengan air mata yang terus mengalir tampa ia minta.
Carlson dan Fania ikut senang karna Revan dan Revin baik-baik saja.
20 menit kemudian, Carlson dan Fania pamit untuk pulang dengan Vivian yang berada di gendongan sang ayah.
Vivian menatap Revin dan kemudian tersenyum, Revin yang di tatap seperti itu hanya menatap datar tidak berniat untuk tersenyum balik.
Pukul 9 malam.
Ana sudah tertidur di kamarnya dengan Reana di pelukannya, sedang Arian masih berada di ruang kerjanya sesekali mengusap wajahnya kasar mengingat kejadian tadi.
Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka membuat Arian menoleh dan mendapati Revan yang berjalan masuk mendekatinya.
Arian tersenyum saat Revan berada di sampingnya, Arian pun mengangkat tubuh mungil putranya itu kemudian mendudukkan Revan di pangkuannya.
"Daddy baik-baik saja?" tanya Revan kecil pada Arian.
Arian hanya tersenyum dan mengangguk kemudian menatap pipi lebam Revan yang tadi sudah di obati oleh Ana.
"Maaf, Daddy minta maaf," ucap Arian merasa bersalah pada putranya itu.
"Tidak apa-apa, Daddy. Tadi daddy sangat hebat, Revan juga ingin seperti itu," ucap Revan dengan senyum di wajahnya.
__ADS_1
Tiba-tiba pintu terbuka membuat Revan dan Arian menoleh dan terkejut melihat siapa yang masuk dan berjalan mendekati mereka berdua.