
Arian terdiam lalu menatap Kimso yang menundukkan kepalanya,seperti orang yang sudah salah dalam mengucapkan kata2.
"Tadi kau bilang apa,Kimso..?"ucap Arian mencoba memastikan apa yang dia dengar tadi.
"Ti..ti...tidak ada tuan,kalau begitu saya akan pergi untuk membuatkan anda Kopi"ucap Kimso berniat pergi tapi di hentikan oleh Arian.
"Kau belum menjawab pertanyaanku Kimso"ucap Arian membuat Kimso mematung seketika.
"Coba kau sebut sekali lagi,agar aku mendengarnya dengan jelas"ucap Arian sudah berada di hadapan Kimso.
"Maaf...,ka...ka....kakak"ucap Kimso membuat Arian terdiam,namun sesaat kemudian dia Tersenyum membuat Kimso mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk.
Arian memeluk Kimso,membuat Kimso membulatkan matanya karna terkejut bahkan sampai mematung di buatnya.
"Terus seperti itu Kimso,Aku akan sangat senang karna akhirnya adikku sudah memanggilku dengan panggilan kakak"ucap Arian membuat Kimso tersenyum kemudian membalas pelukan Arian.
Lama berpelukan akhirnya Arian melepaskan pelukannya lalu tersenyum dan.
PLAK
"aduuh"rintih Kimso saat Arian memukul kepalanya setelah melepaskan pelukannya.
Kimso meringis saat Arian memukuk kepala dan menatap Arian seolah bertanya.
"Harusnya kau memanggilku kakak dari dulu bodoh,Ya tidak apalah jika baru sekarang,tetap teruskan seperti itu,adik"ucap Arian kemudian kembali ke kursinya dan melanjutkan pekerjaannya.
"Kalau begitu saya..."ucap Kimso yang terhenti karna Arian menatapnya tajam.
"Maaf kak,aku akan pergi membuatkan kakak kopi,kalau begitu aku pergi dulu"ucap Kimso bergegas pergi ke luar untuk membuatkan Arian kopi karna kopi Arian yang sebelumnya sudah Habis.
Setelah kepergian Kimso,Arian kembali fokus pada berkas2nya.
Selang beberapa saat,Kimso datang dengan secangkir kopi di tangannya dan menuju ke meja Arian untuk menaruh kopi.
"Tu...ah,kakak ini kopinya"ucap Kimso meletakkan kopi di atas meja.
"Terima kasih,Kimso"ucap Arian tidak melepaskan pandangannya dari berkas2 yang di bacanya.
"Kak,apa aku boleh bertanya..?"ucap Kimso sedikit ragu.
"Apa..?"ucap Arian sambil menandatangani berkas.
"Kapan kita akan menghancurkan perusahaan Mo,pernikahan Melinda Mo tinggal 2 hari lagi,dan saya juga ingin memberi tahukan kalau Anda mendapat undangan dari Tuan Mo sebagai Ceo H&G Group,apakah anda akan datang..?"ucap Kimso membuat Arian menghentikan kegiatannya.
Arian tersenyum penuh maksud membuat Kimso merinding,Arian menatap Kimso membuat Kimso menelan salivanya dengan susah payah.
"Jadi sisa 2 hari ya"ucap Arian membuat Kimso lagi2 menelan salivanya dengan susah payah.
"Iya,"ucap Kimso memberanikan diri.
"Kimso,besok kau pergilah ke Mall"ucap Arian membuat Kimso memiringkan kepalanya tanda tidak mengerti.
__ADS_1
"untuk Apa...?"ucap Kimso membuat Arian serasa ingin melemparkannya dengan berkas yang dia pengang.
"Untuk menjaga Ana,"ucap Arian singkat dan jelas.
"Jika terjadi sesuatu besok,segera telfon aku,mengerti"ucap Arian sambil menatap Kimso tajam.
Kimso menganguk dengan cepat dari pada nanti di marahi.
"Kalau begitu,sa.....ehem,Aku akan keluar agar kakak bisa lebih tenang untuk memeriksa berkas2nya.
Arian tersenyum kemudian mengangguk dan
Kimso pun keluar dari ruangan Arian.
*****
Pukul 11.30
Tidak terasa jam makan siang pun tiba,tapi Arian masih berkutak dengan berkas2 yang seperti tidak pernah mau habis meski dia berusaha untuk menyelesaikannya dengan cepat.
Arian adalah tipikal orang yang sangat ketat pada pekerjaannya,Arian selalu mengerjakan pekerjaannya tepat waktu bahkan selalu mengutamakan pekerjaannya di banding dengan hal lainnya.
Arian selalu mengerjakan pekerjaannya dengan sangat teliti,Karna Arian yang sering keluar kota,membuat pekerjaannya menumpuk tapi itu tidak membuat dia lesuh atau merasa lelah,sebanyak apapun berkas yang harus dia tanda tangani sama sekali tidak membuat dia resah.
Arian selalu mengerjakannya dengan santai,Tapi setelah menikah dengan Ana membuat dia jadi seperti sekarang yaitu melihat berkas2 yang menumpuk saja sudah membuat dia lemas,benar2 tidak sama seperti dulu.
Tok..tok..tok
"Masuk"ucap Arian.
Pintu terbuka menampakkan Kimso yang berdiri dengan secangkir kopi di tangannya.
Ini sudah kopi yang ke 10 yang di buat oleh Kimso,Sedari tadi Arian terus meminta Kimso untuk membuatkannya kopi saat Kopi yang di bawa sebelumnya habis,hingga hal itu terus berlanjut sampai jam makan siang.
"Ini kopi yang ke 10,kak Arian."ucap Kimso yang sepertinya sudah lelah karna harus di telfon terus oleh Arian untuk membuat kopi.
Memang itu sudah menjadi kewajibannya,tapi kan ini di kantor dan tentu saja Arian punya sekertaris untuk membuatkan kopi sedang Kimso adalah Asisten pribadinya,dia sudah di minta untuk mengurus masalah perusahaan Mo saja belum sepenuhnya selesai dan dia terus di ngangu oleh telfon dari Arian yang terus memintanya untuk membuatkannya kopi.
Kimso tidak masalah jika itu hanya 5 kali,tapi ini sudah 10 kali dia pulang balik dari ruangannya ke dapur untuk membuatkan Arian kopi dan itu hanya selisih 20 menit lebih.
'pantatku bahkan belum panas duduk di kursiku,tapi sudah di telfon lagi oleh kak Arian untuk membuatkan kopi,bagaimana pekerjaanku bisa selesai kalau begini'rintih Kimso dalam hati.
"Apa Tuan tidak bisa meminta Maria untuk membuatkan anda kopi,kenapa harus saya"ucap Kimso yang mulai berbicara formal.
Arian menatap Kimso berniat untuk memarahinya karna tidak memanggilnya kakak,tapi terhenti saat dia melihat raut wajah Kimso yang lelah akibat ulahnya.
"kopi buatannya tidak enak"ucap Arian singkat dan jelas membuat Kimso membulatkan matanya.
"Tapi tuan,dia kan sekertaris Anda"ucap Kimso sudah seperti ingin meledak.
"Dan kau asistenku"ucap Arian masih fokus pada berkasnya.
__ADS_1
Ucapan Arian membuat Kimso seperti membanyangkan kalau dia sudah memporak porandakan ruangannya karna terlalu emosi.
"baiklah Tuan,terserah anda saja"ucap Kimso pasrah.
"Apa anda tidak keluar untuk makan siang,tuan"ucap Kimso.
"Aku tidak lapar"ucap Arian enteng.
"Tapi tuan,anda bisa saja sakit nanti kalau telat makan"ucap Kimso khawatir.
Arian menghentikan gerakannya dan fokus pada Kimso yang melihatnya dengan penuh kekhawatiran yang terpancar di matanya.
"Apa kau lupa,Kimso.Aku bahkan sudah pernah tidak makan 2 hari 2 malam saat menjalankan tugas militer,jadi kau tidak perlu khawatir,aku akan baik2 saja"ucap Arian menyakinkan Kimso dan kembali fokus pada berkas di hadapannya yang tinggal beberapa.
"Tapi tu....."ucap Kimso yang terpotong karna Arian sudah berbicara.
"Pekerjaanku tidak lama lagi selesai,jadi aku bisa makan di rumah saat aku pulang nanti jadi kau tidak perlu khawatir,oke."ucap Arian membuat Kimso mengangguk mengerti.
"Baiklah,kalau begitu saya keluar dulu,saya berharap ini kopi terakhir yang saya antar sebelum anda pulang"ucap Kimso yang berharap tidak di telfon lagi oleh Arian untuk membuat kopi yang ke 11.
"Aku rasa masih 1 cangkir lagi,Kimso"ucap Arian yang membuat Kimso seperti tertimpa batu yang begitu besar.
Kimso pun keluar dengan keadaan yang begitu lemas membuat Arian tertawa karna berhasil mengerjainya.
Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat,akhirnya pekerjaan Arian selesai tepat pukul 13.30.Arian tersenyum dan bergegas berdiri dari kursinya bersiap untuk pulang dan bertemu dengan istrinya yang sudah sangat dia rindukan.
Arian berjalan keluar sambil memakai jasnya.
Saay berjalan menuju pintu keluar,Arian bertemu dengan Kimso yang berniat untuk keruangannya.
"Tuan sudah mau pulang..?"ucap Kimso saat Arian sudah berada di hadapannya.
"iya,Semua berkasnya sudah ku periksa dan ku tanda tangani,sisanya ku serahkan padamu"ucap Arian dan di angguki oleh Kimso.
"baik tuan"ucap Kimso sambil menganggukkan kepalanya.
*****
Sementara itu,Ana yang tinggal sendiri di apartemen merasa sangat bosan,karna film yang tadinya dia tonton sudah habis membuat dia benar2 bosan.
Akhirnya terlintas di fikirannya untuk membuat rujak,entak mengapa Ana jadi ingin sekali memakan rujak buah.Ana pun bangun dan bersiap untuk ke dapur,untuk membuat Rujak buah yang dia ingin makan.
Saat Ana berjalan ke dapur,tiba2 terdengar suara pintu yang terbuka.
KLEK
-
-
-
__ADS_1
HAPPY READING
JANGAN LUPA LIKE