BUKAN MENIKAHI CEO TAPI MENIKAH DENGAN SEORANG PELAYAN

BUKAN MENIKAHI CEO TAPI MENIKAH DENGAN SEORANG PELAYAN
PELIT


__ADS_3

Tok...tok....tok


Kimso mengetuk pintu ruangan Arian untuk memberikan Arian berkas2 yang harus di tanda tangani.


Tok...tok...tok


2 kali Kimso mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban dari dalam,akhirnya Kimso memutuskan untuk masuk.


KRIET


Betapa terkejutnya Kimso saat membuka pintu dan melihat pemandangan yang sangat langkah,di mana sang Bos dan sahabatnya sedang beradu tatap hingga keluarlah kata2 kasar dari mulut Rafael yang membuat Kimso semakin mematung.


"Woy Ran,lepasin napah,lo kan udah janji mau pinjamin gue ini terus kenapa malah ngga lo lepasin sih,pelit amat dah jadi orang"ucap Rafael yang sudah tidak tahan dengan Arian yang tidak ingin melepas pedang di tangannya itu.


"Lepasin lah Ran,lo itu ngga ikhlas apa mau pinjamin gue,dasar pelit dasar pelit"ucap Rafael lagi yang hanya membuat Arian semakin mempererat pengangannya pada pedang itu.


"Ehem...,tuan ini berkas2 yang harus di tanda tangani"ucap Kimso membuat kedua pria itu menatapnya.


Kimso berjalan menuju meja Arian dan kemudian meletakkan setumpuk berkas yang membuat Arian lemas seketika.


'Bagaimana aku bisa pulang cepat,kalau ternyata berkas2 yang harus aku urus sebanyak ini'Rintih Arian dalam hati.


Rafael yang melihat hal itu,kemudian memanfaatkannya untuk merebut pedang yang berada di tangan Arian.


SET


Dengan cepat Rafael merebut pedang itu dan akhirnya sudah berada di tangannya,sedang Arian menatapnya kesal.


"Hehe,terima kasih Ran,Gue bakalan balikin saat gue udah selesai kalau gitu,gue balik dulu dadah"ucap Rafael segera berlari keluar sebelum Arian melayangkan cangkir kopi panas padanya.


Setelah Rafael pergi,tinggal Arian dan juga Kimso di ruangan itu.Lama hening akhirnya Kimso mencoba memberanikan diri untuk berbicara.


"Tuan apa anda terluka..?"ucap Kimso khawatir.


Arian melihat mata Kimso yang penuh kekhawatiran,Arian tau meski Kimso merasa sungkan untuk memanggilnya kakak,tapi tetap saja rasa takut akan kehilangan satu2nya keluarganya tetap terlihat di matanya.


Arian berjalan mendekati Kimso dan berdiri tepat di hadapan Kimso,lalu kemudian berkata.


"Aku baik2 saja,kau tidak perlu khawatir"ucap Arian sambil mengacak rambut Kimso yang sudah tertata Rapi menjadi berantakan.

__ADS_1


"Kimso bisakah kau memanggilku kakak ketika kita sedang tidak bekerja,aku tidak suka jika kau memanggilku dengan sebutan tuan saat kita hanya berdua begini,bahkan tidak apa2 jika kau memanggilku kakak saat berada di hadapan keluarga besar"ucap Arian panjang lebar membuat Kimso mematung.


"Tapi tuan bukannya sudah sewajarnya saya memanggil anda seperti ini"ucap Kimso membuat Arian mengkerutkan alisnya tanda kesal dengan perkataan Kimso barusan.


"Baiklah,terserah kau saja dah"ucap Arian kemudian duduk di kursi ke besarannya dan segera memeriksa satu persatu berkas menumpuk di hadapannya.


"jika masih ada berkas2 lain,sebaiknya kau bawa segera kemari,aku akan menyelesaikan semuanya hari ini agar aku bisa pulang lebih cepat,Ana tinggal sendiri di rumah aku takut dia kenapa napa"ucap Arian tidak mengalihkan pandangannya dari berkas yang ada di tangannya.


"Baik Tuan"ucap Kimso sambil membungkukkan badannya kemudian berbalik dan membuka pintu,kemudian keluar.


Saat kimso menutup pintu dia berhenti sejenak kemudian sedikit tersenyum dan berkata.


"Baik kakak"ucap Kimso sambil tersenyum dengan tingkah lakunya yang tidak berani memanggil Arian dengan sebutan kakak di depan tapi berani di belakang.


Arian melihat ponselnya menunggu Ana menelfonnya,bosan menunggu akhirnya Arian mengambil ponselnya dan menelfon Ana.


Drrrrtt...Drrrrrt...drrrrrt


"Halo,kak Arian ada apa...?"ucap Ana di seberang telfon seolah sudah lupa akan janjinya pada sang suami untuk selalu mengabarinya setiap saat.


"kenapa ngga nelfon sayang,kan tadi kamu udah janji buat selalu ngabarin suamimu ini,aku khawatir loh sayang"ucap Arian sambil tersenyum kecil karna merasa bahagia setelah mendengar suara merdu istrinya.


Arian tersenyum mendengar celotehan istrinya yang menurutnya sangat lucu.


"apakah istriku ini sudah lupa pada suaminya ini karna menonton film yang menarik,sampai2 melupakan janjinya untuk mengabariku setiap saat sayang"ucap Arian sedikit memanyunkan bibirnya seolah olah Ana berada di hadapannya.


Ana tertawa mendengar ocehan suaminya itu, yang sepertinya sedikit ngambek karna dirinya tidak mengabarinya setiap saat.


"Maaf suamiku tersayang"ucap Ana membuat Arian membulatkan matanya karna mendengar Ana memanggilnya lagi dengan sebutan suami tersayang.


"Tadi kau bilang apa sayang"ucap Arian mencoba memastikan.


"Iya suamiku tersayang,kau tidak salah dengar kok"ucap Ana membuat Arian tersenyum lebar.


"Apa pekerjaanmu sudah selesai suamiku,sampai kau ada waktu luang untuk menelfon istrimu ini"Ucap Ana membuat Arian tersadar dengan tumpukan berkas yang masih banyak di hadapannya.


'astaga,aku hampir lupa dengan berkas2 sial*n ini'gerutu Arian dalam hati seperti ingin membakar seluruh berkas2 yang menumpuk di hadapannya.


"i..i..itu..."ucap Arian yang terpotong karna Ana sudah menebak tepat sasaran.

__ADS_1


"Pasti belum selesaikan,kak Arian selesaikan dulu pekerjaannya baru nanti Telfon Ana,oke"ucap Ana menasihati suaminya itu.


Arian lemas ketika mendengar hal itu,Dia pun menghembuskan nafasnya karna terpaksa harus mengakhiri telfonya dengan sang istri tercinta.


"Baiklah sayang,aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu,kemudian aku akan menelfonmu lagi dan juga ingat untuk menelfonku saat kau memerlukan sesuatu,oke sayang"ucap Arian sedikit lemas karna harus mengakhiri telfonnya dengan sang istri.


"Baiklah,semangat suamiku tersayang"ucap Ana membuat Arian kembali tersenyum.


"Baiklah sayang,aku kerja dulu ya"ucap Arian lalu mematikan ponselnya yang menyimpannya di tempatnya sebelumnya.


Selang beberapa saat,Kimso mengetuk pintu.


Tok..tok..tok


"Masuk"ucap Arian.


Kimso membuka pintu dan terlihat setumpuk berkas yang dia bawa di tangannya,Arian yang melihat hal itu,Menjatuhkan kepalanya di atas meja merasa lemas seketika saat melihat ternyata masih banyak berkas yang harus dia selesaikan.


"Anda baik2 saja,tuan"ucap Kimso membuat Arian mengangkat sedikit kepalanya hingga tatapannya bertemu dengan tatapan Kimso.


"Aku baik2 saja Kimso,kepalaku hanya pusing melihat kenapa bisa begitu banyak berkas yang menumpuk,padahal aku hanya libur beberapa hari,tapi berkasnya sudah menumpuk begitu banyak"ucap Arian lemas karna niatnya tadi ingin menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat agar bisa segera pulang ke apartemen dan bersantai bersama Ana,kini hancur karna sepertinya pekerjaannya akan lama baru selesai.


"Bukankah anda meminta saya untuk memberikan semua berkas untuk anda tanda tangani,ini semua adalah berkas dari beberapa perusahaan anda yang lain tuan"ucap Kimso sedikit menjelaskan.


"Kimso,buatkan aku kopi"ucap Arian sambil menengakkan badannya dan kembali fokus pada berkas.


"Baik kak"ucap Kimso keceplosan.


EEHHH


-


-


-


HAPPY READING SEMUA


JANGAN LUPA LIKE

__ADS_1


__ADS_2