
Arian terkejut,namun sedetik kemudian senyum di wajahnya pun terlihat menandakan dia yang begitu bahagia.
Fania yang mendengar hal itu,Berbicara membuat Arian yang ingin masuk jadi menghentikan langkahnya.
"Apa maksudnya tadi,siapa yang bisa menjelaskan ini padaku..?"ucap Fania membuat Arian menolehkan kepalanya.
Arian menatap Carlson,Fania mengikuti arah pandang Arian yang sedang memandang kekasihnya lalu kemudian masuk ke dalam ruangan tempat Ana di rawat.
"Carlson,Aku rasa kau berhutang penjelasan padaku"ucap Fania membuat Carlson tersenyum kemudian menariknya pergi menjauh dari sana.
Sarah yang melihat hal itu,begitu heran lalu kemudian memandang Rafael yang sedari tadi berdiri di sampingnya.
Rafael menatap Sarah yang juga menatapnya,Rafael pun tersenyum.
"Wanita itu adalah Fania,Dia adalah pacar Carlson sekaligus calon tunangannya."ucap Rafael membuat Sarah mengangguk mengerti.
"Mungkin akan lebih baik jika kita membiarkan mereka berduan dulu,emmm....bagaimana kalau kita makan dulu,baru nanti kita menemui Ana dengan Arian,kali ini aku yang teraktir,oke"ucap Rafael sambil tersenyum.
Sarah yang melihat hal itu mengangguk setuju,lalu kemudian berjalan beriringan untuk keluar dari rumah sakit untuk makan siang yang sempat tertunda.
Arian yang sudah masuk ke dalam ruangan tidak mendapati Ana di tempat tidur,dia pun mencari Ana di kamar mandi dan mendapati Ana yang sedang muntah.
Arian mendekati Ana kemudian memijat tengkuknya memberi sedikit rasa nyaman pada Ana.
Ana yang merasakan ada seseorang yang menyentuh tengkuknya,menoleh ke belakang dan mendapati Arian yang tersenyum padanya,Ana pun memeluk Arian.
"Aku mau pulang,di sini tidak enak bau obat2an membuatku mual,aku ingin pulang kak Arian."ucap Ana manja sambil memeluk Arian.
Arian yang melihat Ana merengek padanya hanya tersenyum kemudian,mencium puncuk kepala Ana dan membelai punggung Ana.
Ana merasakan pelukan Arian dan semakin mengeratkan pelukannya pada Arian,Ana mulai menciumi Aroma Arian yang menurutnya sangat menenangkan baginya.
Arian yang melihat Ana mengendus endus bau tubuhnya hanya dapat tersenyum kecil.
"Apa kau sudah merasa baikan sayang,sebaiknya kita keluar jika kau sudah merasa baikan."ucap Arian lembut membuat Ana mendongakkan kepalanya.
"Gendong"ucap Ana manja.
Awalnya Arian terkejut,tapi kemudian dia mengendong Ana dengan posisi berpelukan dengan kaki Ana yang melingkar di pinggang Arian dan tangannya melingkar di leher Arian sambil sesekali mencium leher Arian membuat Arian harus menelan Salivanya dengan susah payah.
"Sudah sayang,jika kau terus melakukan itu,aku akan benar2 menerkammu di sini"ucap Arian yang mulai tidak tahan dengan Ana yang mulai mengigit leher Arian bahkan mulai menjilatinya membuat Arian benar2 tidak tahan.
__ADS_1
Meski sudah mendengar Arian menegurnya untuk tidak melakukannya,Ana tetap Saja melakukannya membuat Arian benar2 sudah tidak tahan.
Sesampainya di tempat tidur,Arian langsung menindih Ana dan mulai menciumi bibir Ana yang di balas pula oleh Ana.
Tangan Arian tidak tinggal diam,Arian mulai menyentuh payuda*a Ana dan mulai meremasnya membuat Ana mendesah.
Arian yang mendengar suara desahan yang keluar dari bibir Ana merasa sangat terangsang.Arian memutar posisi yang tadinya menindih Ana,Kini Ana lah yang berada di atasnya sambil sesekali mengigit leher Arian.
Arian mulai menarik tengkuk Ana sehingga mereka kembali berciuman.keasyikan mereka terganggu saat pintu ruangan Ana terbuka.
Rafael dan Sarah yang sudah selesai makan siang,memutuskan untuk kembali ke ruangan Ana.Tapi betapa terkejutnya mereka Saat membuka pintu dan mendapati hal yang tidak seharusnya mereka lihat.
Cklek
Pintu terbuka,memperlihatkan Ana dan Arian yang sedang berciuman begitu mesra.Arian menghentikan kegiatannya saat dia melihat Rafael dan Sarah yang mematung di depan pintu,Tapi tidak dengan Ana,Dia terus menjilat leher Arian tampa memperdulikan Arian yang menghentikan gerakannya.
"MAAF KAMI TIDAK SENGAJA"ucap Sarah dan Rafael bersamaan dan langsung menutup pintu dengan keras.
BRAK
Setelah pintu tertutup,Rafael dan Sarah berusaha mengatur nafasnya yang tidak beraturan akibat melihat sepasang suami istri yang sedang berciuman.Wajah Rafael dan Sarah memerah,entah mengapa mereka harus melihat hal yang tidak seharusnya mereka lihat.
"Apa yang kalian lakukan di sini,kenapa tidak masuk"ucap Carlson yang ingin membuka pintu tapi segera di tahan oleh Rafael.
Rafael mengelengkan kepalanya pada Carlson,Membuat Carlson bingung.
"Jangan masuk,Entar kamu liat hal yang tidak baik"ucap Rafael masih dengan memengang tangan Carlson.
Carlson memperhatikan wajah Rafael yang tidak seperti biasanya dan juga Wajah Sarah yang juga sama seperti Rafael,membuat Carlson bertanya tanya.
"Kenapa...??,Aku hanya ingin memperkenalkan Ana pada Fania,dan lagi kenapa Wajah kalian berdua merah begitu,"ucap Carlson membuat Rafael menariknya dan membisikkan sesuatu yang baru saja dia lihat.
"APA"teriak Carlson saat Rafael selesai menceritakan apa yang dia lihat dengan Sarah tadi.
Fania yang mendengar suara teriakan Carlson,menatapnya dengan tajam.Carlson yang di tatap tajam oleh Fania hanya bisa cengegesan.
"Sayang,bagaimana jika kita kembali lagi nanti,sepertinya Ana tidak bisa di ngangu sekarang"ucap Carlson membuat Fania mengernyitkan alisnya heran.
"Tapikan...."ucap Fania yang terpotong oleh Carlson.
"Tidak apa2 sayang,kita bisa menjenguk Ana nanti dan Arian pasti akan memperkenalkannya padamu nanti saat urusan mereka di dalam sudah selesai dan lagi sebaiknya kita ajak 2 orang jomblo ini jalan2 di rumah sakit ini,bagaimana"ucap Carlson membujuk Fania.
__ADS_1
Rafael dan Sarah yang mendengar mereka di katai Jomblo oleh Carlson,angkat bicara.
"Siapa yang jomblo"ucap Rafael dan Sarah bersamaan membuat Carlson menatap mereka Heran.
'Sejak kapan mereka jadi akur'ucap Carlson dalam Hati.
"Kalian lah,siapa lagi masa aku Sama Fania kan ngga mungkin,"ucap Carlson.
"Kami tidak Jomblo,kami udah jadian"ucap Rafael yang di angguki oleh Sarah membuat Carlson membelalakkan matanya tidak percaya.
"Hah....,kapan...?"tanya Carlson.
"Tadi"ucap Rafael lagi.
Fania yang tidak ingin ikut campur dengan perbincangan 2 laki2 itu,memilih untuk membuka pintu ruangan Ana,Rafael dan Sarah yang melihat hal itu berteriak.
"JANGAAAAAN"teriak Rafael dan Sarah bersamaan membuat Carlson menutup telinganya.
Fania yang membuka pintu hanya menatap datar pada pandangan yang di lihatnya,Rafael yang melihat Fania tidak terkejut Atau berteriak saat membuka pintu,Dia pun memberanikan diri untuk ikut melihat ke dalam yang ternyata Arian sedang mengupas Apel untuk Ana tidak seperti yang mereka lihat tadi.
Sarah dan Rafael menghela nafas lega,lalu masuk bersama dengan Carlson dan Fania.
"oh kalian sudah datang...?"ucap Arian Santai seperti tidak terjadi apa2.
Rafael terus menatap Arian sampai pandangan mereka bertemu,membuat wajah Rafael kembali memerah karna mengingat hal yang dia lihat tadi,Rafael jadi berfikir,bisa2nya temannya itu melakukan itu di rumah sakit,benar2 tidak bisa di percaya.
Fania menatap Ana dari atas dan memandang wajah Ana lama membuat Ana menunduk malu.Fania menatap Arian tidak percaya.
Carlson yang menyadari hanya ada keheningan mulai berbicara.
"Ran apa kau tau..."ucap Carlson mulai memecah keheningan.
"Apa"ucap Arian yang tidak menghentikan tangannya yang mengupas Apel dengan pisau yang tersedia di ruangan itu.
Ana terus memakan apel yang di kupaskan oleh Arian bahkan sesekali memengang tangan Arian karna dia benar2 sudah tidak tahan untuk berhunbungan dengan suaminya itu.
Ana menghentikan kegiatannya yang lagi asyik2nya makan apel saat Carlson kembali berbicara.
"Rafael dan Sarah sudah Pacaran."ucap Carlson membuat Arian menghentikan kegiatannya sedang Ana membeku mendengar hal itu dan sedetik kemudian.
APAA
__ADS_1