BUKAN MENIKAHI CEO TAPI MENIKAH DENGAN SEORANG PELAYAN

BUKAN MENIKAHI CEO TAPI MENIKAH DENGAN SEORANG PELAYAN
RAFAEL DAN SARAH 2


__ADS_3

Semua orang yang berada di ruangan itu mengarahkan pandangan mereka ke pintu dan melihat 2 pasang suami istri masuk dengan senyum di wajah mereka.


"Selamat pagi,Ana.kamu udah mandi sayang"ucap Naina saat sudah berada di samping brangkar Ana dengan Sarah yang duduk di kursi di samping,di sebelah kiri brangkar Ana.


"Belum,Ma."ucap Ana dengan senyum di wajahnya.


"Ya udah,sini mama antar kamu ke kamar mandi."ucap Naina tersenyum pada menantunya itu.


"Ibu udah bawa baju nganti buat kamu"ucap Liyana menaruh paperbag yang dia bawa di atas meja di samping brangkar Ana di mana juga sudah ada 2 paperbag di sana.


"Ini apa,Na"ucap Liyana membuat Ana yang ingin turun dari brangkarnya menghentikan gerakannya dan menoleh pada Liyana yang menunjuk 2 paperbag di samping paperbag yang di bawanya.


"Itu di bawa sama,Kakek Daenji dan Kakek Houyang,"ucap Ana kemudian turun dari brangkarnya dan berjalan ke arah kamar mandi dengan di temani oleh sang mertua.


Liyana menoleh pada kedua orang tua yang sedang asyik bercengkrama dengan cucunya dan Rafael yang masih asyik mengendong Revan beserta Ryung dan Young yang duduk di sofa sambil berbincang.


Karna penasaran Liyana pun memeriksa isi paperbag itu yang ternyata adalah pakaian bayi beserta mainan bayi,Liyana melihat kedua orang tua itu yang begitu antusias dengan cucu mereka.


Tiba2 Revan menangis di gendongan Rafael membuat Rafael terkejut dan kemudian menatap semua orang yang juga menatapnya.


"Dia kenapa...??"tanya Daenji pada Rafael yang mengelengkan kepalanya tanda tidak tau kenapa tiba2 Revan menangis.


Liyana menaruh paperbag itu kembali ke tempatnya dan berjalan mendekati Rafael yang bingung bagaimana caranya menghentikan tangis Revan yang semakin keras.


"Sini biar aku gendong,mungkin dia lapar,Sarah bisa buatkan susu di botol dot itu"ucap Liyana pada Sarah yang masih duduk di kursi di samping brangkar Ana.


Sarah pun berdiri dan segera membuat susu di botol dot.Rafael mendekati istrinya dan kemudian membantu istrinya itu untuk membuat susu.


Rafael mengambil teko air panas dengan hati2 dan kemudian menuangkannya perlahan kemudian menutup dan mengocoknya dan setelah itu mencampurnya dengan air dingin.


Semua itu tidak lepas dari pandangan Sarah yang menatap suaminya dengan intens.Sarah tersenyum kecil melihat hal itu,Rafael melihat Sarah yang tersenyum kecil dan Dia pun bertanya karna rasa penasarannya.


"Kamu kenapa,Yang.ada sesuatu ya di muka suamimu ini,sampai kau tersenyum kecil seperti itu"ucap Rafael sambil mengocok botol susu di tangannya.


"Tidak ada apa2,"ucap Sarah mengalihkan pandangannya ke arah lain.

__ADS_1


"Masa sih..."ucap Rafael menaik turunkan alisnya membuat wajah Sarah memerah.


"Ehem,Rafael kalau sudah selesai,cepat bawa ke sini,Revan sudah lapar"ucap Liyana membuat Rafael tersadar kalau Revan tengah menangis keras.


Rafael berlari kecil dan segera memberikan botol susu di tangannya pada Liyana.Revan pun terdiam dan meminum susu itu dengan lahap,membuat semua orang yang melihatnya menjadi paham kenapa dia menangis keras tadi.


Naina keluar dari kamar mandi dan segera mengambil paperbag yang berisi pakaian Ana dan kembali masuk ke dalam kamar mandi.


Revan tertidur dan Liyana pun menidurkannya di tempat tidur bayi di ikuti oleh Revin yang juga tertidur di gendongan sang kakek buyut.


Houyang menurunkan Revin perlahan ke tempat tidur bayi di samping Revan.


"Kami pamit dulu,kami masih ada urusan,Ayo Daenji"ucap Houyang dan Daenji pun mengangguk dan kemudian keluar dari ruangan itu meninggalkan semua orang yang terdiam karna belum terbiasa dengan ke akuran mereka berdua.


Tidak lama kemudian,Naina dan Ana keluar dari kamar mandi,Ana mulai berjalan ke tempat tidur bayi dan melihat kedua putranya yang sedang tertidur begitu pulas.


"Aku tadi dengar suara tangisan Revan,dia ngga apa2 kan"ucap Ana yang khawatir pada putranya itu.


"Tadi dia lapar,Na."ucap Liyana pada putrinya itu.


Ana mendudukkan dirinya di sofa di ikuti oleh Naina,Liyana,Sarah dan juga Rafael.Liyana duduk di samping sang suami,begitu pun dengan Naina yang duduk di samping Ryung.


Rafael duduk di sofa tunggal sedang Sarah duduk di samping Ana di sofa panjang yang memuat 2 orang.


Tiba2 pintu terbuka memperlihatkan Arian yang masuk dengan memakai kemeja berwarna putih dan celana kain berwarna hitam.


"Apa yang kau lakukan di sofa,bukankah kau seharusnya tiduran di sana,untuk beristirahat"ucap Arian pada istrinya itu.


"Aku bosan jika harua tiduran terus,jadi aku ingin duduk di sofa saja"ucap Ana sedikit menunduk.


Arian menghembuskan nafasnya dan kemudian berbicara.


"Baiklah,Aku sudah mengurus administrasinya tadi,dan kamu sudah bisa keluar nanti sore dengan bayi kita juga"ucap Arian membuat Ana berbinar senang.


Tiba2 Rafael dan Sarah berdiri dari duduknya dan berpamitan untuk pulang.

__ADS_1


"Kalau begitu,kami pamit pulang dulu paman,Bibi"ucap Rafael kemudian tersenyum pada Naina,Ryung,Young dan Liyana.


"Aku pulang dulu,Na."ucap Sarah pada sahabatnya itu dan kemudian berjalan ke luar bersama Rafael setelah tadi tersenyum pada semua orang yang berada di sana.


Di parkiran rumah sakit.


Setelah sampai di mobil miliknya,Rafael segera membukakan pintu untuk sang istri,Sarah pun naik dan di ikuti oleh Rafael yang masuk setelah tadi menutup pintu mobil setelah sang istri masuk.


Rafael menyalakan mobilnya dan kemudian melajukannya dengan kecepatan sedang menuju ke apartemen milik mereka berdua.


Di tengah perjalanan,Tiba2 Rafael berbicara membuat Sarah yang sedari tadi melihat ke luar jendela kini melihatnya.


"Sayang,ngga usah dengerin yang kakek Daenji bilang tadi,aku udah ngga ada hubungan sama semua mantan aku,beneran sumpah"ucap Rafael melihat Sarah sekilas kemudian kembali fokus ke depan.


"Hmm,udah aku lupain."ucap Sarah membuat Rafael tersenyum kemudian mengulurkan salah 1 tangannya dan meraih tangan Sarah dan kemudian mencium punggung tangan istrinya.


"Makasih,sayang.udah percaya sama aku,aku janji hanya akan setia sama kamu dan ngga akan berpaling meski banyak yang bening2"ucap Rafael sedikit mengoda istrinya itu.


"Kalau mau yang lebih bening2 juga ngga apa2 kok,pergi aja.tapi ingat,sebelum kamu sentuh tuh cewek,aku udah buat kamu ngga bisa jalan"ucap Sarah membuat Rafael tertawa.


"Aku juga ngga nafsu sama mereka kok,aku cuma cinta sama kamu,dan selamanya cuma kamu"ucap Rafael membuat wajah Sarah yang cemberut menjadi tersenyum kecil.


"Oh iya sayang,entar kalau misalnya yang ini udah lahir,kita buat lagi ya"ucap Rafael yang sukses membuat Sarah menatapnya tajam.


"Sembarangan,emang buatnya enak apa"ucap Sarah membuat Rafael terdiam kemudian melihat Sarah sekilas dan kembali fokus pada jalanan.


"Tapi kan,sayang.2 lebih baik,dari pada cuma 1"ucap Rafael mencoba membujuk istrinya itu.


Sarah nampak berfikir mendengar perkataan suaminya itu,dan kemudian menghembuskan nafasnya dan berbicara.


"Ya udah,tapi tunggu sampai yang ini berusia 2 tahun,dan lagi,ngga boleh di kamar mandi"ucap Sarah menekan kata kamar mandi,Rafael yang memdengar hal itu hanya cengegesan.


"Iya2,janji ngga akan aneh"ucap Rafael membuat Sarah tersenyum.


Perjalan ke apartemen mereka pun di penuhi dengan canda tawa dari keduanya yang juga menantikan kehadiran buah hati mereka agar bisa seperti Arian dan Ana.

__ADS_1


__ADS_2