BUKAN MENIKAHI CEO TAPI MENIKAH DENGAN SEORANG PELAYAN

BUKAN MENIKAHI CEO TAPI MENIKAH DENGAN SEORANG PELAYAN
BERGEGAS


__ADS_3

Pukul 09.00 pagi.


Arian dan Ana kini berada di apartemen mereka setelah tadi di antar oleh Ryung dan Naina yang membantu mereka untuk membereskan apartemen.


Arian kini berada di ruang tamu dengan Revan dan Revin yang berada di atas tikar bulu yang sudah di sediakan olehnya di sana untuk tempat tidur Revan dan Revin ketika Ana sedang memasak dan dia sedang bekerja.


Arian duduk di samping kedua putranya itu dengan laptop di pangkuannya,tiba2 pintu apartemennya terbuka dan menampakkan Fania beserta Sarah yang masuk tanpa mengetuk pintu dan kemudian berjalan mendekati kedua bayi itu yang belum juga tertidur.


"Halo,R dan R,kok belum tidur sih"ucap Fania yang sudah duduk di samping Revan dan Revin,sementara Sarah masuk ke dapur untuk menemui sahabatnya yang memasak makanan.


"R dan R,Apaan tuh"ucap Arian membuat Fania menatapnya malas.


"Itu singkatan tau dari nama anak lo,Revan & Revin"ucap Fania malas menjelaskan.


"Tidak perlu di singkat,Nama anak gue lebih bagus kalau ngga di singkat kayak gitu"ucap Arian dengan wajah datarnya.


Ana dan Sarah pun keluar dari dapur dengan sepiring camilan di masing2 tangan mereka kemudian menghampiri Fania dan Arian yang terdiam karna tidak ingin berdebat masalah panggilan untuk Revan dan Revin.


"Kak Fania kenapa...?"tanya Ana pada Fania saat sudah duduk di lantai di samping sang suami dan Sarah yang duduk yang duduk di samping Fania setelah tadi menaruh camilan yang mereka bawa di atas meja di depan sofa di belakang mereka.


"Ngga apa2 kok,Na.cuma suami kamu tuh,nyebelin banget"ucap Fania membuat Arian yang sudah fokus pada laptopnya kembali menatap Fania datar.


Arian hanya memutar bola matanya malas menanggapi perkataan Fania.


Fania kemudian berdiri dan berjalan ke sofa kemudian duduk dan mengambil sepiring camilan yang di bawa Ana dan Sarah ke pangkuannya.


Fania memakan camilan itu yang berupa kue kering dengan lahap,hingga tiba2 Fania merasakan sakit di perutnya,sakit yang membuat piring yang di pangkunya terjatuh dan pecah membuat Arian,Ana dan Sarah menoleh dan mendapati Fania yang meringis sambil memengang perutnya.


Ana berdiri menghampiri Fania,Sementara Arian segera menutup laptopnya.


"Kak Fania kenapa...??,apa ada yang sakit....?"tanya Ana khawatir.

__ADS_1


"Pe....rut..ak...u sakit,Na...."rintih Fania sambil menyentuh perutnya.


Ana terkejut mendengar hal itu dan kemudian meneriaki Arian yang sudah berada di belakangnya sehingga membuat Arian reflesk menutup telinganya.


"KAK ARIAN,KAK FANIA MAU LAHIRAN"teriak Ana membuat Arian menutup telinganya.


Arian segera menggendong Fania ala bridel style dan segera berjalan menuju pintu keluar apartemen.


"Telfon Carlson dan paman,Aku akan membawa Fania ke rumah sakit terdekat di sini"ucap Arian dan kemudian keluar dan berjalan ke lift dan segera memencet tombol lifh dengan susah payah.


Sementara Itu,Ana segera mengambil ponselnya dan menghubungi Chilson Sia,Sedang Sarah berusaha untuk menenangkan si kembar yang menangis begitu keras.


"Halo paman,Fania mau melahirkan dia di bawa oleh Kak Arian di rumah sakit terdekat dengan apartemen,segeralah ke sana"ucap Ana tampa basa basi saat Chilson sudah mengangkat telfonnya.


Chilson mematikan panggilan setelah mendengar perkataan Ana,sementara Ana kembali mengetik nomor Yaitu nomor Carlson.


Ana segera menghubungi Carlson saat Chilson mematikan panggilannya,Sementara Sarah semakin pusing dengan si kembar yang tidak juga terdiam dari tangis mereka malah semakin keras.


"Tunggu dulu sayang,paman Calrson kalian belum mengangkat telfonnya"ucap Ana kemudian duduk di samping Sarah yang mulai pusing.


Carlson terkejut ketika mengangkat telfonnya dan bahkan belum mengatakan halo,tapi Ana sudah berbicara panjang lebar.


"Ha....."ucap Carlson terpotong karna Ana sudah berbicara panjang kali lebar.


"Kak Carlson,Kak Fania mau lahiran,cepat pulang,kak Arian sudah membawa Kak Fania ke rumah sakit terdekat dengan apartemen."ucap Ana dengan sekali tarikan nafas membuat Sarah yang berada di sampingnya terkejut.


Carlson terkejut mendengar hal itu dan kemudian mematikan panggilan sepihak dan segera berlari keluar dari restoran munuju parkiran dan kemudian memasuki mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.


Ana meletakkan ponselnya di lantai dan kemudian mengendong Revan dan memberikannya Asi,sementara Revin di gendong oleh Sarah dan meminum susu yang memang sudah di buat oleh Ana saat tadi membuat Camilan di dapur.


"Kak Fania akan baik2 saja kan,"ucap Sarah yang juga khawatir.

__ADS_1


"Pasti bail2 saja"ucap Ana dan Sarah pun mengangguk.


Di sisi lain,Arian sudah sampai di parkiran apartemen dengan mengendong Fania,Arian mendekati mobilnya dan segera membuka pintu kursi belakang dengan susah payah dan menidurkan Fania.


Arian menutup pintu dan kemudian segera memasuki mobilnya dan menyalakam mesinnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.


Di tengah perjalan Fania terus merintih kesakitan membuat Arian sedikit tidak tega mendengarnya,Arian jadi berfikir,apakah Ana juga seperti ini saat ingin melahirakan kedua putra mereka.


"Arian...Sakit banget ini..."rintih Fania yang sudah tidak tahan dengan sakit yang dia rasakan.


"Tahan dikit lagi,kita udah mau sampe"ucap Arian yang membuat Fania emosi.


"Tahan..tahan,ini sakit banget tau,lo mana tau sakitnya,aduhh.coba lo jadi gue,biar rasain juga sakitnya gimana"ucap Fania yang mulai emos.


Arian yang mendengar hal itu,mengernyitkan alisnya.


'Nih orang masih bisa marah juga,padahal lagi sakit kayak gitu'ucap Arian dalam hati sedikit terkesan pada Fania yang masih bisa mengomelinya.


"Makanya Minta sama Carlson,kalau buat itu langsung 2 jangan 1,biar kalau mau lahiran cuma rasain sakir sekali"ucap Arian santay dengan tatapan yang masih lurus ke depan.


"Kenapa...lo ngga ngajarin dia bikin langsung 2"ucap Fania masih dengan emosi.


"Entar gue ajarin dia"ucap Arian yang mungkin sudah tidak di pedulikan oleh Fania.


Arian pun tiba di rumah sakit dan segera turun dari mobilnya kemudian membuka pintu kursi belakang dan mengendong Fania ala bridel style.


Saat Arian mengendong Fania,Arian terkejut ketika melihat kursi belakang mobilnya sedikit basah,tanpa peduli apa yang membuat kursi belakang mobilnya basah,Arian segera mengendong Fania masuk ke dalam rumah sakit dan berteriak.


"CEPAT BAWA BRANGKARNYA DAN PANGGIL DOKTER"teriak Arian dan dengan para perawat pun segera mendorong brangkar ke arahnya.


Arian menurunkan Fania di atas brangkar dan Para perawat itu segera mendorong brangkar memasuki ruangan bersalin.

__ADS_1


Arian melihat lengannya yang terkena cairan putih lengket entah apa itu,Arian tida tau.


"Apaan Nih...??"tanya Arian pada dirinya sendiri dengan melihat lengan tangan kanannya.


__ADS_2