
Di Sisi lain,Ana sedang duduk di taman di pekarangan mansion keluarga Li dengan Houyang,Daenji dan juga Naina.
Awalnya tenang2 saja,Hingga Houyang berbicara membuat Daenji ikut bicara,Membuat kedua wanita itu pusing.
"Nana,Apa kah kau dan Arian sudah menentukan nama untuk anak kalian...?"ucap Houyang membuat Ana hanya bisa menggeleng kan kepalanya karna memang belum memutuskan nama apa yang bagus untuk anak mereka nanti.
Bagaimana mau memutuskan kandungannya saja baru mau 2 bulan jenis kelaminnya saja belum di ketahui,bagaimana mereka bisa langsung memikirkan nama yang tepat.
"Bagaimana kalau laki2 namanya Revan."ucap Houyang membuat Daenji ikut berbicara.
"Tidak2,nama yang bagus itu kalau laki2 adalah Revin"ucap Daenji tidak mau kalah.
"Tidak,nama yang bagus itu adalah Revan."ucap Houyang yang kini berdiri sambil menatap Daenji tajam.
"Tidak yang bagus itu Revin"ucap Daenji lagi kini sudah berdiri dan membalas tatapan tajam Houyang.
Kini atmosfir di taman itu berubah menjadi perselisihan membuat Naina dan Ana tidak bisa lagi berkata - kata.
"Ayah,Ayah mertua...."ucap Naina tersenyum sambil memengang ponselnya dan memperlihatkan nama yang tertera di sana membuat Kedua orang tua itu duduk tapi masih bertatapan dengan tajam.
Naina mengangkat ponselnya dan di sana tertera Nama Arian,itulah mengapa kedua
orang tua itu tiba2 menjadi diam dan duduk meski mereka masih memandang penuh perselisihan.
"Apakah kita bisa memakan kuenya sekarang....?"ucap Ana sambil menunjuk kue yang sudah di sediakan di atas meja di depannya.
Sudah sedari tadi Ana ingin sekali memakan kue di hadapannya itu,Tapi melihat kedua orang tua itu berdebat membuat dia mengurungkan niatnya.
Houyang,Daenji dan Naina yang mendengar hal itu menatap Ana yang tersenyum gugup karna tiba2 di tatap padahalkan dia cuma bertanya,Apa pertanyaannya itu salah atau bagaimana..?.
Mereka bertiga seketika tertawa mendengar hal itu.
"Kau itu sayang,tentu saja kau boleh memakannya,kenapa harus malu2 begitu.."ucap Naina sambil mengelus kepala Ana karna Naina duduk berdampingan dengan Ana sedang Houyang dan Daenji duduk berhadapan.
"Nana,semua kue yang ada di meja ini di siapkan untukmu,tentu saja kau boleh memakannya.."ucap Houyang tersenyum pada Ana.
Lalu Daenji berbicara membuat mereka lagi2 bertengkar.
"Mungkin Ana takut padamu,karna itu dia ragu untuk memakan kuenya tampa bertanya dulu,Kan wajahmu itu mengerikan untuk di pandang,Aku tidak tau kenapa mendiang Safina mau padamu"ucap Daenji menyindir Houyang.
Houyang yang mendengar hal itu tidak terima.
"Bukan kah kau yang membuatnya tidak nyaman,kau kan selalu menampilkan wajah garangmu itu meski kau tidak berada di pangkalan militer dan Lagi apa hubungannya ini dengan mendiang istriku Safina,Apa kau masih belum mengaku kalau Safina lebih memilih aku di bandingkan dirimu."ucap Houyang tidak terima atas sindiran dari Daenji.
"Apa yang kau katakan Houyang,Jelas2 sebelum kau datang ke sekolah dulu Safina sangat mencintaiku tapi setelah kau datang kau membuat dia jatuh hati padamu sehingga meninggalkan aku"ucap Daenji mengungkit masa lalu.
"Dia tidak pernah menyukaimu,Dia hanya menganggapmu sebagai kakak"ucap Houyang menjelaskan.
Ana mengambil sepotong kue lalu memakannya sambil melihat pertengkaran kedua kakek dari suaminya itu.Naina memukul jidatnya pusing dengan tingkah kedua pria tua di depannya ini.
"Ayah dan Ayah mertua,apakah kalian tidak ingin membuat menantuku tenang,apa kalian ingin membuatnya pusing"ucap Naina dengan tersenyum kesal membuat Kedua orang tua itu terdiam kemudian duduk dan membuang muka mereka seperti Anak kecil yang sedang bertengkar.
Ana yang melihat hal itu sedikit heran,pasalnya yang dia tau Naina adalah orang yang begitu lemah lembut dan selalu tersenyum tetapi ternyata,dia juga bisa marah dan kesal rupanya.
Naina menghembuskan nafasnya,lelah akibat pertengkaran mertua dan ayahnya yang benar2 seperti tikus dan kucing,entah siapa yang tikus dan siapa yang kucing.
Akhirnya Ana makan kue yang berada di hadapannya dengan lahap,sedanh kedua orang tua itu hanya membuang muka tidak ingin saling menatap satu sama lain,Naina tidak peduli dengan mereka yang dia pedulikan sekarang hanya menantunya.
*****
Di sisi lain,Arian yang mendengar cerita Rafael menutup mulutnya dengan tangannya agar tawanya tidak terdengar oleh Rafael.
Rafael yang melihat hal itu,Paham jika Arian pasti sedang menertawai dirinya.
"Jangan menutup mulutmu jika kau ingin menertawakanku,"ucap Rafael membuat Arian tertawa lepas.
"Hahahaha,Bibi benar2 melakukan itu..?"tanya Arian di sela2 tawanya.
"Itu semua karna kamu tau.."ucap Rafael kesal.
__ADS_1
"Rafael Apa kau benar2........Impoten"ucap Arian membuat Rafael membulatkan matanya.
"Kamb**g LO"umpat Rafael semakin membuat Arian tertawa..
"Bisa2 Lo bilang kayak gitu,Gue pria normal ngga mungkin lah gue impoten,amit2 dah"ucap Rafael sedikit ngeri pada perkataannya sendiri.
"Sungguh nasib yang malang"ucap Arian membuat Rafael memutar bola matanya malas.
"Iya nasib gue emang malang,Gara2 kalian berdua"ucap Rafael membuat Arian hanya tertawa menanggapi perkataan sahabatnya itu.
Tiba2 pintu terbuka memperlihatkan seorang pria tampan yang rambutnya dalam keadaan acak2 kan,Arian dan Rafael saling bertatapan seolah olah saling bertanya,Apa yang terjadi padanya....?.
Carlson duduk di samping Rafael dengan kondisi yang begitu berantakan.
"Lo kenapa,kenapa Rambut lo yang rapi jadi kayak rambut Arian"ucap Rafael membuat Arian menatapnya tajam.
Apa hubungannya dengan rambut Arian yang memang acak2 kan seperti seorang Artis boy band dengan kondisi Carlson yang berantakan.begitu mungkin pikiran Arian.
"Gue tadi ke apartemen Fania buat bicara soal pernikahan karna ban mobilnya bocor dia minta gue anterin ke rumah sakit pas gue sampai di sana dan bicara masalah pernikahan,Eh gue malah ketibang sial"ucap Carlson membuat kedua sahabatnya itu menatapnya.
Carlson tau jika sudah di tatap seperti itu oleh 2 orang ini,pasti mereka minta penjelasan.Carlson pun menceritakan kemalangan yang menimpanya saat mengantar Fania ke rumah sakit.
Flashbach On.
Carlson sedang dalam perjalanan untuk ke apartemen milik Fania.Sesampainya di sana Fania sedang bersiap siap untuk berangkat ke rumah sakit dengan baju yang sudah Rapi.
Betapa sialnya saat ban mobilnya ternyata bocor membuat Fania mengerutu.
"Kamu kenapa sayang"ucap Carlson saat sudah berada di hadapan Fania setelah memarkir mobilnya.
"Sayang,untunglah kamu dateng,Anter aku ke rumah sakit ya,Ada hal mendadak yang harus aku lakuin di rumah sakit,Ayo!!!"ucap Fania kemudian menarik Tangan Carlson dan berjalan menuju mobil Carlson.
tampa basa basi,Fania segera masuk ke tempat duduk di samping kemudi.
"Cepetan,sayang.Entar telat"ucap Fania membuat Carlson segera masuk ke dalam mobil dan menyalakannya lalu menancap gas menuju ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit,Carlson mematikan mobilnya setelah memarkirkannya di tempat parkir.
Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam rumah sakit.Di tengah perjalan yang hening tiba2 Carlson berbicara membuat Fania menatapnya.
"Sayang aku mau bicara sama kamu"ucap Carlson sambil berjalan.
"Apa...?"ucap Fania berhenti membuat Carlson juga ikut berhenti karna Ruangan Fania sudah dekat.
"Aku udah bicara sama mama dan papa,Kamu tidak keberatankan buat cuti 3 atau 2 hari buat fiting baju pernikahan sama acara resepsinya"ucap Carlson membuat Fania sedikit terdiam kemudian tersenyum.
"Buat apa aku keberatan,Kapan kita fiting bajunya,oh iya hampir lupa kita belum bicara sama Ayah sama bunda soal ini"ucap Fania membuat Carlson tersenyum.
"Kamu ngga usah khawatir soal itu,Mama sama papa mau ke rumah ayah sama bunda kamu nanti,jadi bagaimana kapan kamu bakalan libur buat fiting baju dan juga pernikahan kita..?"tanya Carlson pada Fania.
"2 hari lagi gimana...?"ucap Fania dan Carlson pun mengangguk senang.
Di tengah2 peebincangan mereka,Tiba2 seorang perawat berlari ke arah mereka dan berhenti di hadapan Fania.
"Dok...hosh....dokter."ucap Perawat itu yang berusaha untuk mengatur nafasnya sambil berbicara.
"Tenang,ada apa...?"tanya Fania pada perawat itu.
"Dokter Fania,Ada seorang ibu yang ingin melahirkan dan dokter yang lain sedang sibuk sedang dokter kandungan sedang melakukan operasi ceisar,kami hanya bisa meminta bantuan anda...?"ucap Perawat itu membuat Fania membulatkan matanya.
"Apa..!!!,memangnya sudah mau keluar..??"tanya Fania dan perawat itu pun mengangguk.
Fania berlari dan reflesk menarik tangan Carlson yang masih mengengam tangannya.
Sesampainya di sana sudah terdengar suara seorang wanita dari dalam ruang bersalin.
"Sayang lepasin tangan aku dong"ucap Carlson membuat Fania menyadari kalau sedari tadi dia menarik Carlson hingga sampai di sini.
Fania melepaskannya kemudian bertanya pada perawat itu.
__ADS_1
"Suaminya mana..?"tanya Fania pada perawat itu.
"Suaminya baru dalam perjalanan dokter,tadi yang antar ibu ini cuma tetangganya dan dia sudah pulang Dokter"ucap Perawat itu membuat Fania lagi2 membulatkan matanya.
"Baiklah kalau begitu kamu yang temanin saya buat pengangin dia"ucap Fania membuat perawat itu menunduk.
"Maaf Dokter saya tidak bisa,tangan saya saja masih memar akibat di pengang tadi"ucap Perawat itu sambil memperlihatkan pergelangan tangannya yang membiru.
Fania membulatkan matanya kemudian pandanganya jatuh pada Carlson yang masih berdiri di sana.tampa bertanya terlebih dahulu,Fania menarik Carlson masuk ke ruangan bersalin.
"Sayang kenapa di tarik,Astaga.!!!!"ucap Carlson terkejut ketika melihat para perawat yang sedikit menjauh dan juga seorang wanita yang terlihat kesakitan.
"Bantu aku pengangin ibu itu dan beri dia kekuatan untuk tetap kuat,Cepetan!!!!"Ucap Fania yang sudah memakai sarung tangan dan masker dan kemudian jas kedokterannya.
"Kenapa harus aku sayang"ucap Carlson tidak ingin terlibat.
"Cepetan,Biar bisa jadi suami yang baik dan tidak ninggalin istrinya kalau lagi hamil tua,sekaligus belajar jadi bapak,cepetan!!!"ucap Fania membuat Carlson pasrah.
Carlson berdiri di samping tempat ibu itu berbaring dan tiba2 tangannya di genggam dengan begitu kuat membuat Carlson terkejut sekaligus meringis.
"Tenang bu,Atur nafas.Tarik kemudian hembuskan,terus sepeti itu Bu"ucap Fania memulai persalinannya.
"Sakit dokter"ucap Ibu itu semakin mencengram tangan Carlson membuat Carlson menundukkan kepalanya kemudian berbisik.
"Tahan Bu,demi buah hati ibu yang ngga lama lagi hadir ke dunia"bisik Carlson di telinga Ibu itu.
Tiba2 Rambut Carlson di tarik dengam keras oleh wanita itu untuk menyalurkan rasa sakitnya membuat Carlson berteriak.
"Aduuuuh,Rambut gue rontok ini"teriak Carlson.
Fania yang mendengar hal itu hanya menghiraukannya.selang beberapa saat,Akhirnya persalinan pun selesai dan Mulai terdengar suara bayi di ruangan itu.Wanita itu baru berhenti menarik Rambut Carlson,membuat Rambut Carlson mungkin sudah rontok.
"Selamat Bu,anak ibu perempuan"ucap Fania kemudian memberikan bayi yang di gendongnya kepada ibunya saat sudah membersihkannya.
"Terima kasih,Dokter"ucap Wanita itu sedikit lelah.
Tidak lama kemudian,Seorang pria masuk ke dalam ruangan itu dengan senyum di wajahnya dia adalah Suami dari wanita itu.
"Terima kasih dokter"ucap Pria itu dan kemudian mendekati istrinya.
Selang beberapa saat,Fania pun keluar dan mendapati Carlson yang menunggunya dengan rambut yang acak2 kan akibat ulah ibu tadi.
"Kamu kenapa,cemberut gitu..?"tanya Fania sambil berjalan kemudian di ikuti oleh Carlson.
"Kalau aku tau nanti rambutku bakalan di jambak di tarik kayak tadi,aku ngga bakalan bisikin dia kayak tadi"ucap Carlson membuat Fania tertawa lepas.
"Hahaha,baru juga segitu"ucap Fania di sela2 tawanya.
"jangan gitu dong,Sayang.Ya udah deh,Aku pergi dulu masih mau pergi ketemu sama Arian"ucap Carlson dan Fania pun mengangguk.
Carlson bergegas ke parkiran dan memasuki mobilnya.
'Fania aja ngga pernah narik rambut aku kayak Tadi,sakit juga.rambut gue mungkin udah rontok nih'ucap Carlson dalam hati kemudian menanyalakan mobilnya dan segera ke H&G Group untuk menemui Arian.
Flashback Off.
-
-
-
-
-
HAPPY READING ALL
SEMOGA KALIAN SUKA AMA EPISODE KALI INI DI MANA CARLSON JUGA MENDAPAT KEMALANGAN BUKAN CUMA RAFAEL DAN ARIAN.
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE