BUKAN MENIKAHI CEO TAPI MENIKAH DENGAN SEORANG PELAYAN

BUKAN MENIKAHI CEO TAPI MENIKAH DENGAN SEORANG PELAYAN
KAKAK ADIK


__ADS_3

Ana dan Sarah masih berada di ruang tamu di apartemen Ana bersama dengan Revan dan Revin yang sudah tertidur di tempat tidur bayi di dalam kamar.


Sudah lebih 1 jam mereka menunggu kedatangan Arian dari rumah sakit,tapi Arian belum juga kembali.


Sarah dan Ana ingin pergi ke rumah sakit,tapi mengingat Revan dan Revin membuat mereka membatalkan niatnya,Ana sudah menelfon Ryung dan Naina,mengabari mereka tentang Fania yang di bawa ke rumah sakit oleh Arian,Ana tidak hanya mengabari Ryung dan Naina,Ana juga mengabari,Irkan,Navira dan juga Rafael.


Tidak lama kemudian,tiba2 pintu apartemen terbuka membuat kedua wanita itu menoleh dan mendapati Arian yang berdiri di ambang pintu dengan keadaan rambut yang acak -acakan dan baju yang tidak lagi rapi.


Ana dan Sarah terdiam melihat hal itu,Arian pun berjalan ke arah sofa dan duduk berhadapan dengan Ana dan Sarah.


Arian menghembuskan nafas lelah,membuat kedua wanita itu menatapnya heran.


"Kak Arian baik2 saja..??"tanya Ana pada suaminya itu.


Arian menatap Ana yang juga menatapnya dengan tatapan khawatir.


"Aku baik2 saja,Kau tidak perlu khawatir"ucap Arian dengan senyum di wajahnya.


"Tangan kamu kenapa...??"tanya Sarah yang melihat lengan Arian yang merah seperti habis di cakar oleh kucing liar.


Arian yang mendengar hal itu,berusaha untuk menahan kekesalannya.


"Habis di cakar sama kucing liar yang lagi mau lahiran"ucap Arian membuat Sarah dan Ana terkejut dan kemudian saling menatap 1 sama lain seolah bertanya.


'Bukannya dia cuma antar kak Fania ke rumah sakit ya,kok bisa ada kucing bunting yang cakar dia,ketemu di mana coba'ucap Ana dan Sarah dalam hati bersamaan kemudian kembali menatap Arian yang berniat berdiri dari duduknya.


"Gimana keadaan kak Fania...??"tanya Sarah membuat Arian yang sudah berdiri dan berniat untuk pergi,menjadi menatapnya.


"Dia baik2 saja,"ucap Arian kembali duduk di sofa.


"Kalau bayinya....??"tanya Ana pada Arian yang di angguki oleh Sarah.


"Fania dan anaknya baik2 saja,dan dia melahirkan anak laki2,aku pulang ke sini saat papa dan mama,beserta dengan paman dan bibi Sang,dan juga suamimu datang"ucap Arian panjang lebar dan menatap Sarah saat menyebut kata suamimu.


Ana dan Sarah bernafas lega mendengar hal itu,Ana pun kemudian berdiri dari duduknya,membuat Arian dan Sarah menatapnya heran.


"Mau kemana...??"tanya Arian pada Ana yang berjalan ke arah dapur.

__ADS_1


"Mau ambil kotak p3k,buat obatin tangan kakak"ucap Ana dan Arian pun mengangguk mengerti.


Kini tinggallah,Arian dan Sarah yang hanya terdiam,hingga tiba2 Arian berbicara membuat Sarah menatap suami sahabatnya itu dengan tatapan heran.


"Sudah berapa bulan...??"tanya Arian membuat Sarah sedikit terkejut.


"Kata dokter,tinggal hitung hari aja."ucap Sarah yang di angguki oleh Arian.


'Mungkin sebaiknya beberapa hari ini,Aku harus menyibukkan diri di kantor dah,dari pada kena sial lagi'ucap Arian dalam hati yang tidak ingin ketiban sial lagi oleh istri sahabatnya,cukup Fania saja yang mencakarnya bak kucing liar yang mau lahiran.


Tidak lama kemudian,Ana datang dari dapur dengan kotak p3k di tangannya dan segera duduk di samping suaminya.


"Sini tangannya,Biar Ana obatin"ucap Ana dan kemudian meraih tangan suaminya dan mengobatinya mengoleskan obat.


Setelah selesai,Ana kembali membawa kotak p3k ke dapur,sementara Arian berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah kamar meninggalkan Sarah yang hanya terdiam kemudian mengambil ponselnya di atas meja dan mengetik pesan untuk suaminya.


"Sa,ini buah - buahan"ucap Ana saat sudah berada di Sarah dan menaruh piring berisi buah - buahan di meja di depan Sarah,dan ikut duduk di samping sahabatnya itu.


"Makasih,Na"ucap Sarah tersenyum kemudian mengambil sepotong buah apel dan memakannya.


"Masuk kamar,Kalau Arian keluar terus bawa Revan atau Revin,bisa gue pastiin,semua cewek bakal kira Arian lagi gendong adeknya"ucap Sarah dengan mata yang fokus pada pesan balasan dari suaminya.


Ana yang mendengar hal itu,hanya tertawa kecil.Ada benarnya juga dengan apa yang Sarah katakan,Karna Arian yang masih terbilang mudah di umurnya yang mau memasuki 25 tahun dan sudah memiliki anak berusia 2 bulan,wanita mana pun yang melihat hal itu,pasti tidak akan percaya,jika Revan dan Revin adalah anak Arian,mereka pasti akan berfikir,kalau Revan dan Revin adalah adiknya Arian.


"Yang ada mah,Hot Daddy,Sa."ucap Ana masih dengan tawa kecil di bibirnya.


"Iya,Hot Daddy ngeselin"ucap Sarah membuat Ana tertawa lepas.


"Coba deh,entar lo minta sama Arian,buat bawa Revan atau Revin belanja di Supermarket di depan itu,pasti orang yang belanja di situ bakal mikir kayak gitu"ucap Sarah yang membuat Ana sedikit terdiam.


"Boleh di coba tuh"ucap Ana yang di angguki oleh Sarah.


Sementara itu,Arian yang masuk ke dalam kamar,segera mendekati kedua putranya yang sedang tertidur di tempat tidur bayi.


Arian menatap kedua putranya itu dan kemudian tersenyum.


"Udah pada tidur aja,ngga nungguin Daddy kah"ucap Arian kemudian mencubit hidung salah 1 putranya yang tidak lain adalah Revan.

__ADS_1


Arian menatap Revan yang membuka matanya yang terpejam akibat ulahnya yang sengaja mencubit gemas hidung putranya itu.


Arian tersenyum dan kemudian mengendong Revan yang tersenyum menatapnya.


"Oh anak Daddy,rindu dengan daddy kah,"ucap Arian pada Revan yang sudah berada di gendongannya.


Arian kemudian berjalan ke luar kamar dengan Revan di gendongannya dan mendapati Sarah dan Ana yang sedikit bersenda gurau di sofa di ruang tamu.


Ana terkejut saat melihat Arian yang berjalan mendekatinya dengan Revan di gendongannya.


"Revan bangun...??"tanya Ana pada suaminya saat sudah duduk di sofa di hadapannya dan Sarah.


"Iya,hehe.."ucap Arian dengan sedikit tersenyum kikuk karna takut ketahuan bahwa Revan bangun akibat ulahnya.


"Oh iya,kak,Bisa minta tolong beliin sayur dan buah - buahan di supermarket di depan apartemen ngga..??"ucap Ana membuat Arian menatanya dengan jari tangannya yang di pengang oleh tangan kecil putranya.


"Ya udah,tapi Revan boleh ikut kan..??"tanya Arian berniat membawa putra sulungnya yang masih asik bermain dengan jarinya.


"Iya boleh kok,buat dia jalan2 di tempat baru"ucap Ana membuat Arian tersenyum dan kemudian berdiri dari duduknya dan mengambil Troli bayi untuk menidurkan Revan.


"Aku pergi dulu."ucap Arian kemudian membuka pintu dan mendorong troli bayi dengan riang gembira.


Setelah kepergian Arian,Ana dan Sarah saling menatap 1 sama lain dan kemudian tersenyum penuh arti.


"Kita liat apa pendapat orang tentang dia"ucap Sarah di iringi dengan tawa cekikikan yang membuat Ana hanya mengelengkan kepalanya dan tersenyum kecil.


Di sisi lain,Arian kini berada di depan supermarket di seberang jalan dengan mendorong troli bayi Revan.


Arian memasuki supermarket itu dan semua orang menatapnya dengan tatapan heran takjub dan terkesima.


Arian mendorong troli bayi Revan hingga tiba di tempat buah - buahan,Arian pun memilih buah untuk di belinya dan itu tidak luput dari pandangan para wanita yang juga berbelanja di sana.


Tiba2, Seorang wanita mendekati Arian dan melihat Revan di troli bayi yang masih terjaga dengan sesekali tertawa.


Arian yang melihat hal itu hanya diam sambil menatap gadis itu yanh sedikit takjub melihat Revan yang tidak Rewel,hingga perkataan dari mulut wanita itu membuat Arian mematung.


"Wah,kakak memiliki adik yang lucu ya"ucap Wanita itu dengan menatap Arian.

__ADS_1


__ADS_2