
Kimso menutup pintu dengan cepat setelah tadi tidak sengaja melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat.Kimso berdiri di depan pintu terus menerus menghembuskan nafasnya.
Sedang Rafael dan Sarah yang berada di dalam segera merapikan penampilan mereka dan kemudian Rafael berjalan ke arah pintu dan membukanya.
Ceklek
Rafael membuka pintu dan mendapati Kimso yang sedang berdiri sambil terus menghembuskan nafasnya sedang Sarah masuk ke dapur untuk membuat kopi untuk Kimso.
"Masuk dulu,Kimso."ucap Rafael pada Kimso.
Kimso masuk ke dalam apartemen dengan lesuh,Kimso duduk dengan sesekali mengacak - acak rambutnya karna frustasi.
Rafael kemudian menutup pintu dan berbalik mendapati Kimso dengan wajah yang bisa di bilang lesuh dan ini pertama kalinya Rafael melihat Kimso seperti sekarang.
Rafael berjalan mendekati sofa dan kemudian duduk di sofa yang berhadapan dengan Kimso.
"Kamu kenapa...??"tanya Rafael yang seperti tidak tega melihat Kimso.
"kak Rafael,Tolong!!"ucap Kimso yang berhasil membuat Rafael membulatkan matanya.
"Kamu kenapa,kesambet"ucap Rafael yang malah membuat Kimso semakin mengacak - acak rambutnya.
"Lah,kesambet bener dah nih anak,"ucap Rafael yang bergidik ngeri.
"aku tidak kesambet,kak Rafael"ucap Kimso yang kini menatap Rafael.
"Aku hanya mendapat masalah"ucap Kimso lagi membuat Rafael membulatkan matanya.
"Tumben kau dapat masalah,dan lagi kau kan bisa menberi tau Arian kalau kau punya masalah,kenapa malah datang padaku"ucap Rafael semakin membuat Kimso lesuh.
"Justru masalahnya itu ada hubungannya sama kak Arian,"ucap Kimso membuat Rafael mengernyitkan alisnya.
"memangnya apa masalahnya,bisa kau ceritakan."ucap Rafael dan Kimso pun menceritakan kejadian naas yang menimpanya.
Selesai bercerita,bukannya prihatin Rafael malah tertawa keras membuat Sarah yang baru datang dari dapur sedikit terkejut.
"Buhahahahah,malangnya nasibmu"ucap Rafael di sela2 tawanya.
"Kamu kenapa ketawain Kimso,ngga baik tau"ucap Sarah sambil menaruh nampan yang berisi kopi di atas meja.
"Abisnya lucu sih,Yang"ucap Rafael saat tawanya sudah berhenti.
"Masa dia di larang kerja ama Arian kalau belum dapat calon istri,abis itu kalau pergi kerja bakalan di kurung,kan Lucu,Yang"ucap Rafael yang ingin kembali tertawa.
"Oh iya Kimso,aku peringatkan,sebaiknya kamu mencari sendiri dari pada harus kencan buta yang di buat oleh bibi Naina"ucap Rafael yang membuat suasana di sana menjadi serius.
Kimso dan Sarah yang mendengar hal itu saling menatap 1 sama lain.mereka kembali menatap Rafael yang masih menatap Kimso serius.
"Kau harus tau kalau bibi Naina itu lebih kejam dari mami gue"ucap Rafael membuat Kimso menelan salivanya dengan susah payah.
__ADS_1
"Masa sih,kak Rafael"ucap Sarah yang juga ingin Kimso ucapkan.
Rafael mengelengkan kepalanya,kemudian meceritakan hal yang di lihatnya saat mereka berumur 20 tahun.
flashback On.
Di sebuah Kamp pelatihan militer di negara S,seorang pria tengah menyandarkan kepalanya di kursi dengan memjamkan matanya.
tiba2 seseorang masuk ke dalam ruangannya tampa mengetuk dan segera membangunkan pria itu.
"Woy Ran,bangun.Nih bibi mau bicara"ucap seseorang yang tidak lain adalah Rafael.
"Ada apa lagi....?"ucap pria itu malas,siapa lagi kalau bukan Arian.
"Ngga tau,nih"ucap Raafel sambil menyodorkan ponselnya.
Arian membuka matanya dan kemudian mengambil ponsel Rafael dan menaruhnya di telinganya dan kemudian berbicara.
"Ada apa,Ma..?"tanya Arian malas meski sebenarnya dia sudah tau apa yang ingin di bicarakan oleh ibunya.
"Arian,mama ada di rumah kakek kamu,pulang sekarang juga mama mau bicara sesuatu dengan kamu"ucap Naina di seberang telfon.
"Ma,jika hanya untuk urusan itu kurasa tidak perlu"ucap Arian mengusap wajahnya kasar.
Rafael yang melihat hal itu mulai mengerti kenapa belakangan ini Arian memilih menonaktifkan ponselnya dan ternyata alasannya adalah karna ibunya.
"Aku...."belum selesai Arian berbicara,Naina sudah memotongnya.
"Mama sudah bilang tidak ada penolakan titik"ucap Naina mematikan panggilannya membuat Arian melemparkan ponsel yang dia pengang.
"Njiir,Ponsel gue itu"teriak Rafael saat ponselnya di lemparkan oleh Arian hingga layarnya menjadi pecah bahkan bisa di bilang sudah tidak bisa di gunakan.
"Beli yang baru sana,"ucap Arian kesal.
"Lo yang rusak malah ngga ganti"ucap Rafael yang tidak terima ponselnya di lemparkan dan malah dia yang harus membeli dengan uangnya.
"Ini ambil"ucap Arian memberikan kartu kredit dan kemudian berdiri dan pergi meninggalkan Rafael yang hanya bisa mematung.
'Kena sial lagi kayaknya dia'ucap Rafael dalam hati sambil melihat Arian dan mengambil kartu kredit yang di simpan Arian.
Beberapa saat kemudian Rafael tiba di mall di negara S bersama dengan Carlson.
"Kenapa kau harus mengajak aku ke sini sih,Rafael"ucap Carlson yang begitu malas untuk pergi ke tempat ramai.
"ikut aja gih,memangnya kamu ngga penasaran Arian kemana"ucap Rafael mencoba mencari Arian di salam mall tersebut.
"Memangnya dia mau kemana..?"tanya Carlson yang sedikit pun tidak tertarik.
Tiba2 Rafael terhenti dan segera menarik tangan Carlson untuk duduk di kursi.
__ADS_1
Carlson yang di tarik seperti itu,terkejut dan kemudian menatap Rafael yang hanya menatap ke arah lain.
"Apaan sih lo,tarik2 aja"ucap Carlson tapi Rafael malah menaruh jari telunjuknya di bibinya isyarat untuk Carlson diam.
Rafael kemudian menunjuk ke meja yang tidak jauh dari tempat mereka duduk,dimana sudab ada seorang wanita dan pria yang tidak lain adalah Arian.
"Bukankah itu Arian dan wanita itu kan,Anak presiden"ucap Carlson saat sudah mengamati dengan teliti siapa yang bersama Arian.
"Kasian banget tuh cewek,di diemin ama Arian dah,"ucap Rafael saat melihat hanya kesunyian yang ada di sana antara Arian dan juga putri presiden itu.
"Kalau mau,kenapa bukan lo aja.jadiin dia pacar lo yang ke seratus"ucap Carlson tidak melepaskan pandangannya dari Arian dan wanita itu.
"Ogah,palingan juga cantik luarnya doang"ucap Rafael cuek.
Lama mereka menatap 2 orang itu tapi tetap saja hanya kesunyian,kadang perempuan itu yang terus mengoceh membuat Arian kesal.
"Nih cewek mau mati ya"ucap Rafael melihat Wanita itu yang seperti mengoda Arian.
"be*o,kulkas di ajak bicara"ucap Rafael lagi dengan julukan Arian.
Tidak lama itu,Arian berdiri dan meninggalkan wanita itu yang terlihat kesal.
"Kasian amat dah"ucap Rafael dengan sedikit tertawa kecil.
Sejak hari itu,seminggu berturut - turut Arian terus pergi kencan buta dengan 2 wanita perhari dan itu membuat Arian mengambil tugas ke tempat lain untuk menghindari kencan buta yang di buat oleh ibunya.
Naina yang memang memutuskan untuk datang ke negara S selama 2 minggu,untuk mengatur kencan buta untuk Arian tapi seminggu setelahnya Arian malah menagmbil tugas di tempat yang lumayan jauh.
Flashback Off
-
-
-
-
-
-
HAPPY READYNG ALL
SEMOGA SUKA
MAAF KALAU EPISODE KALI INI NGEBOSENIN YA SOALNYA AKU LAGI NGGA ENAK BADAN
JANGAN LUPA LIKE
__ADS_1