
Sarah berlari ke arah Ana dan memeluknya, "Aku senang kau baik-baik saja," ucap Sarah setelah melepaskan pelukannya pada Ana dan kembali berkata, "Pria itu tidak melakukan hal yang macam-macam kepadamu 'kan?"
Seketika Ana terdiam, mengerjap beberapa kali lalu tersenyum canggung di bibirnya. Ia yang sempat ingin mengatakan kejadian pagi ini mengurungkan niatnya mendengar ucapan itu.
"Tidak ada kok. Kamu tidak perlu khawatir soal itu, Arian adalah pria yang baik," ucap Ana sambil tersenyum.
"Arian?" tanya Sarah sedikit memiringkan kepalanya.
"Itu adalah namanya. Dia bilang aku bisa memanggilnya Kakak, karena kurasa dia lebih tua 5 tahun dariku." ucap Ana.
Sarah ber-oh riah tanpa suara mendengar hal itu, "kalau begitu, aku ingin bekerja dulu. Nanti kita lanjut ceritanya saat aku selesai bekerja," lanjut Ana dan pergi untuk mengganti pakaiannya.
"Baiklah. Tapi jangan lupa untuk menceritakannya nanti. "ucap Sarah yang di balas dengan acungan jempol oleh Ana.
Ana mengarahkan jempolnya pada Sarah mendengar hal itu, kemudian berlalu hingga menghilang di balik pintu.
Tak terasa jam sudah menunjukkan waktu makan siang. Saat ini kondisi Cafe sedang kosong,setelah tadi di sibukkan dengan begitu banyak pelanggan. Kini Ana dan Sarah duduk di kursi salah satu meja dengan posisi berhadapan.
Ana mulai menceritakan tentang Arian yang memperlakukannya dengan baik. Bahkan lebih baik dari mantannya yang super menyebalkan menurut Sarah.
Tiba-tiba, pintu kafe terbuka. Memperlihatkan dua orang pria tampan yang kini berjalan memasuki kafe, membuat karyawan wanita memusatkan pandangan pada dua pria itu.
"Kak Arian," ucap Ana tidak percaya melihat kehadiran Arian di depannya.
Sarah yang posisinya membelakangi pintu masuk tidak menyadari Arian yang kini sudah berada di belakang.
Arian tersenyum manis. Ia tidak datang sendiri, tapi bersama dengan Rafael yang berada di sampingnya.
Sarah membalikkan tubuhnya, mengerutkan kening menatap dua pria itu kemudian membelalakkan mata tak percaya, begitu pun dengan Rafael membelalakkan mata saat tatapannya bertemu dengan wanita yang tengah duduk di hadapan Ana.
"OTAK MESUM!"
"DADA RATA!"
Sarah membelalakkan matanya saat Rafael memanggilnya 'dada rata'. Seketika iaberdiri dan kini berhadapan dengan Rafael, sedang Arian menyingkir dan berdiri di samping Ana.
Rafael dan Sarah saling bertatapan lama dengan begitu sengit, hingga sedetik kemudian adu mulut terjadi di antara mereka membuat semua karyawan yang ada di sana terkejut.
"Dasar otak mesum! Ngapain kamu di sini?" bentak Sarah tak suka.
"Hey, dada rata! Mau aku di mana itu bukan urusan kamu. Aku yang harusnya bertanya, apa yang dilakukan oleh orang yang sama sekali tidak penting seperti kamu di sini?!" balas Rafael tak kalah sengit, membuat Arian membelalakkan matanya terkejut.
Pasalnya Rafael tidak pernah berkata kasar pada seorang wanita, dia yang notabennya seorang playboy jelas akan selalu berbicara manis pada setiap wanita yang menurutnya cantik.
"Lah? Mau-mau aku, dong. Ini kafe-ku, jadi terserah aku." Ucap Sarah yang juga membuat Ana membelalakkan mata tidak percaya.
Sarah memang sering kasar, tapi itu pun pada orang yang membuat masalah dengannya. Sedang ini... mereka bahkan baru pertama kali bertemu tapi sudah langsung bertengkar.
Melihat pertengkaran di antara kedua orang itu yang mulai semakin panas, Ana pun angkat bicara.
__ADS_1
"Kamu kenal dia, Sa?" tanya Ana yang langsung mengalihkan pandang dua orang itu hingga fokus padanya.
"Ya kenal, dia pria yang harusnya di bawa ke dokter agar otak dicuci biar bersih dari hal-hal mesum." ucap Sarah sewot yang membuat Arian tercengang.
Ini pertama kalinya ada wanita yang sama sekali tidak tertarik pada Rafael. Biasanya sekali Rafael tebar pesona pada para kaum hawa, sedetik kemudian mereka akan berbaris untuknya. Meski Rafael adalah seorang playboy, dia tidak pernah menyentuh wanita lebih dari pegangan tangan.
Karena jika lebih dari tangan, Rafael akan mendapatkan pukulan oleh kedua pria yang sudah dia anggap seperti saudara itu.
"Enak aja. Kamu itu yang perlu di bawa ke dokter. Agar tuh dada besar dikit, biar bisa di liat sama orang. Punya dada kok rata amat,"sungut Rafael membuat Sarah ingin sekali mencincangnya jika saja tidak di halangi oleh Ana.
"Kamu..." Sarah mengepalkan tangannya, bersiap memukul wajah sok tampan pria di hadapannya.
"Udah, Sa. Udah," ucap Ana yang sekarang berada di samping Sarah sambil mengelus punggung sahabatnya itu.
"Tenang, oke." ucap Ana lagi, mencoba menenangkan sahabatnya yang masih terlihat begitu marah.
Sarah menarik napas, lalu menghembuskannya. Mencoba untuk tenang.
Sedang Arian hanya memperhatikan Rafael dari belakang Istrinya.
Rafael yang melihat Arian yang terus memperhatikannya mulai gugup sendiri. Bagaimana tidak, jika sampai Arian marah pasti akan keluar kata-kata 'Kau harus pergi ke keluar Negara, dan jangan kembali hingga aku memintamu kembali'.
Jika kata-kata seperti itu telah keluar dari bibir Arian, maka Rafael tak mampu untuk membantahnya.
"Sebaiknya kita duduk dulu kemudian kamu cerita, kenapa kamu bisa marah sama pria ini? Sepertinya dia bukan pria jahat." ucap Ana polos yang langsung membuat Rafael berbinar senang dan memegang tangan Ana di depan Arian dan Sarah.
Seketika tatapan membunuh tertuju pada Rafael, membuat pria dengan iris mata kekuningan itu merinding hingga tatapannya tertuju pada Arian yang seolah ingin memakannya hidup-hidup.
Kening Ana mengerut melihat ekspresi ketakutan pada pria di hadapannya, ia menoleh ke belakang menatap Arian.
Raut wajah Arian berubah seketika saat Ana menoleh padanya. Tersenyum manis yang dibalas senyum pula oleh istrinya, membuat Rafael membelalakkan mata melihat perubahan ekspresi Arian yang begitu cepat. Rafael menggeleng tak percaya.
'Aku tidak percaya ini?! Aku baru saja melihat Arian merubah raut wajahnya dalam sepekan saat wanita ini menoleh padanya dan tersenyum tulus. Apakah dunia sudah mau kiamat sampai membuat pria dingin ini begitu lembut pada Wanita?' Rafael bertanya dalam hati masih dengan menggelengkan kepalanya.
Akhirnya mereka berempat duduk dengan posisi Rafael di samping Arian dan Sarah duduk di samping Ana berhadapan dengan Rafael.
"Baiklah. Siapa dulu yang mau bercerita?Bagaimana bisa kalian saling membenci satu sama lain." tanya Ana memulai percakapan setelah hening sesaat.
Sarah mengangkat tangannya kemudian berkata, "Kamu ingat dua bulan yang lalu saat kita pergi ke mall untuk pilih hadiah ulang tahun buat Papaku?"
Ana menganggukkan kepala, mengingat saat mereka membeli hadiah untuk Ayah Sarah dua bulan lalu.
"Kamu ingat saat aku izin pergi ke toilet untuk membersihkan bajuku?" lagi-lagi Ana menganggukkan kepalanya.
Dua bulan yang lalu.
Sarah dan Ana sedang berjalan di dalam Mall. Sarah meminta Ana untuk menemaninya memilihkan hadiah untuk Sang ayah yang tidak lama lagi akan berulang tahun.
Satu jam mereka berkeliling hingga akhirnya Sarah menemukan hadiah yang cocok untuk Ayahnya. Mereka berniat untuk pulang, tapi tiba-tiba Sarah meminta ijin pada Ana untuk ke toilet, berniat membersihkan bajunya yang tidak sengaja terkena minuman yang mereka beli.
__ADS_1
Sesampainya Sarah di toilet, ia Segera membersihkan bajunya. Saat Sarah ingin keluar pengait bra yang ia gunakan terlepas, dia mengangkat bajunya memperlihatkan bra berwarna hitam yang ia kenakan.
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka di tengah-tengah kegiatan Sarah.
Pintu terbuka lebar menampakkan Seorang pria yang mematung di ambang pintu. Keduanya saling menatap lama mereka hingga pandangan pria itu turun. Sara yang menyadari arah pandang pria itu sontak berteriak dan menurunkan bajunya.
"PRIA MESUM!" teriak Sarah yang membuat pria itu tersadar dan langsung meminta maaf kemudian menutup pintu berlalu pergi.
Sementara Sarah sudah mengeluarkan kata-kata kasar yang mungkin sudah tidak didengar lagi oleh pria itu.
***
Setelah Menceritakan hal itu, Sarah kembali menatap Rafael tajam.Tidak terima ditatap seperti itu Rafael angkat bicara.
"Aku saat itu benar-benar tidak sengaja. Saat itu sama sekali tidak ada tanda yang mengatakan kalau itu toilet wanita, aku juga sudah meminta maaf. Lagi pula tidak ada yang bisa dilihat," ucap Rafael, membuat Sarah membelalakkan mata.
"Minta maaf apanya?! Kamu langsung lari juga." Sarah sewot.
"Gimana tidak lari, jika suaramu seakan membuat gendang telingaku pecah. Dan lagi, aku tidak ingin dikira melecehkanmu, bisa bahaya jika dilihat orang-orang nanti." jelas Rafael santai.
Tubuh Sarah gemetar, ingin sekali rasanya ia menjahit mulut Rafael agar tidak berbicara.
Seketika Arian terdiam mendengar hal itu, mencoba mengingat kejadian dua bulan yang lalu. Disaat mereka memutuskan untuk pergi ke mall dengan alasan ingin jalan-jalan. Di tengah-tengah kesibukan mereka menyantap makanan dalam restoran, Rafael meminta izin untuk pergi ke toilet karena sudah tak tahan ingin buang air kecil.
Belum ada 20 menit sejak kepergiannya, Rafael kembali dengan keadaan berkeringat dan wajah yang memerah. Dan saat ditanya, ia hanya menjawab tidak sengaja melihat wanita di dalam kamar mandi karena mengira jika kamar mandi itu untuk pria.
Dan saat di tanya melihat wanita itu lagi apa, Rafael tak menjawab dan meminta untuk segera pulang.
Kini Arian tahu jika Rafael tak mau memberitahukannya karena ternyata kejadiannya seperti itu. Arian tersenyum kecil.
Kening Rafael mengerut melihat senyum di bibir Sahabatnya, "kenapa kau tersenyum seperti itu? Apanya yang lucu?" tanya Rafael yang membuat Arian semakin menahan tawanya.
Seketika Sarah tersadar jika Rafael datang bersama Arian tadi, "kamu kenal sama orang mesum ini?" tanya Sarah pada Arian.
Arian menggelengkan kepala, membuat Rafael terbelalak.
"Sialan! Bisa-bisanya kau mengatakan tak mengenal diriku?!" ucap Rafael menaikan suaranya satu oktaf.
Arian terkekeh pelan, menyeka air mata di sudut matanya.
"Memang kamu siapanya? Sok Kenal Sok Dekat aja," ucap Sarah sewot.
"Aku itu sudah seperti Saudaranya, mengerti!" ucap Rafael penuh penekanan.
"Saudara?" Sarah menatap Arian kemudian kembali menatap Rafael, "tidak mirip." lanjutnya.
"Memang bukan saudara kandung, kami itu bersahabat tapi sudah seperti saudara, bodoh banget jadi orang." ucap Rafael kesal.
Sarah menghela napas lega, "untung saja bukan saudara kandung. Aku tidak mau sahabatku ini punya adik ipar yang mesum seperti dirimu!" ujar Sarah menunjuk ke arah Ana membuat Rafael terkejut.
__ADS_1
"Kakak ipar?!"