BUKAN MENIKAHI CEO TAPI MENIKAH DENGAN SEORANG PELAYAN

BUKAN MENIKAHI CEO TAPI MENIKAH DENGAN SEORANG PELAYAN
AKUR


__ADS_3

"Nama itulah yang bagus untuk mereka"ucap Houyang yang di angguki oleh Daenji.


"Tapi...."ucap Ryung yang terpotong karna mertuanya sudah berbicara.


"Tidak ada tapi2,kami berhak memberi nama pada cucu kami,jadi kalian tidak perlu ikut campur"ucap Daenji membuat Ryung terdiam seketika.


"Sebaiknya kau tidak perlu ikut campur,Ryung.Young saja tidak keberatan kalau kami yang memberi nama,dan Arian juga pasti belum menyiapkan nama"ucap Houyang melihat Young yang terdiam dengan senyum di wajahnya.


"Itu nama yang bagus"ucap Ana dengan senyum di wajahnya.


Houyang dan Daenji tersenyum saat Ana mengatakan hal itu.


"tidak apa2 kan,Nana.kalau kami yang memberi nama"ucap Houyang dan Ana pun mengangguk.


Arian yang melihat hal itu,hanya menghembuskan nafasnya.jika istrinya suka dengan nama yang di berikan oleh ke 2 kakek tua itu maka,ya sudah.


Tiba2 Daenji mengendong salah 1 dari bayi Ana.


"Yang mana lahir duluan...??,ini atau yang itu...?"tanya Daenji pada Ana dan Arian.


"Yang kakek gendong yang lahir duluan"ucap Arian yang di angguki oleh Ana.


Rafael kemudian mendekati Daenji yang sedang mengendong anak pertama Arian.Rafael menatap anak yang berada di gendongan Daenji dan yang tertidur di tempat tidur bayi secara bergantian.


"Gimana bedahinnya...??"tanya Rafael yang bingung karna wajah kedua bayi itu yang sangat mirip dari segi mana pun dia melihat.


"Yang ini Revan,dan yang itu Revin"ucap Daenji pada Rafael yang di angguki oleh Houyang.


"yang di katakan oleh Daenji benar,jadi kau harus mengingatnya dengan baik"ucap Houyang menyetujui perkataan Daenji.


Semua orang yang melihat hal itu menjadi terdiam.


'Tumben nurut'ucap Ryung dan Naina dalam hati saling menatap 1 sama lain.


'apakah kiamat sudah dekat,sehingga kedua orang ini jadi akur'ucap Carlson dan Rafael dalam hati yang terkejut dengan keakuran 2 kedua orang yang selalu bertengkar ketika bertemu.


"Jadi yang mana yang akan memakai marga Su dan yang mana yang akan memakai marga Li"ucap Houyang pada Daenji yang masih asyik mengendong Revan.


Daenji tampak berfikir,sebelum kemudian berbicara membuat Naina dan Ryung mematung di tempat.


"Bagaimana kalau semuanya memakai marga Li saja,jika mereka ke negara S baru memakai marga Su,"ucap Daenji memberi saran.

__ADS_1


Houyang mengangguk setuju membuat Naina dan Ryung terkejut.


"Ayah baik2 saja"ucap Naina dan Ryung bersamaan pada Daenji dan Houyang.


"Tentu saja,kami baik2 saja."ucap Houyang yang di angguki oleh Daenji.


"Baiklah,aku umumkan sekarang,nama dari 2 cucu kami adalah,Revan Li dan Revin Li."ucap Houyang membuat semua orang di ruangan itu hanya bisa mengangguk.


Daenji meletakkan Revan kembali di samping saudaranya dan kemudian berbicara membuat Ryung serasa ingin segera keluar dari ruangan itu.


"Wah,Arian.kau hebat,sekali buat langsung 2,kenapa ayahmu cuma bisa buat kamu saja,apa karna Ayahmu kurang..........."ucap Daenji mengantung perkataannya.


Ryung yang mendengar hal itu serasa ingin keluar dari ruangan itu,bisa2nya sang mertua membahas hal seperti itu di saat seperti ini.Tiba2 Arian berbicara membuat Ryung menutup wajahnya dengan tangannya.


"Mungkin karna papa cuma bisa bikin 1 aja"ucap Arian membuat Ryung menutup wajahnya dengan tangan kemudian pamit ke toilet.


"Aku mau ke toilet dulu"ucap Ryung kemudian keluar dari ruangan itu.


Setelah kepergian Ryung,Daenji tertawa lepas di ikuti oleh Houyang karna berhasil menjahili menantunya.


"Hahahahaha"tawa Daenji dan Houyang,Seluruh orang di ruangan itu hanya bisa menatap datar pada kedua orang tua yang tertawa karna berhasil menjahili Ryung.


Daenji dan Houyang pun ikut pamit untuk pulang dan mengurus semua barang yang di perlukan untuk cicit mereka berdua.


Kini tinggal Naina,Liyana,Young dan Ryung beserta Arian yang masih setia duduk di samping brangkar Ana.


Seorang dokter yang tadi membantu persalinan Ana masuk ke dalam kamar inap Ana dan mendekati Ana.


"Bagaimana perasaan anda,Apa sudah merasa lebih baik..?"tanya dokter itu pada Ana.


Ana mengangguk dan dokter itu pun tersenyum.


"Anda harus istirahat dulu selama 2 hari di rumah sakit sebelum pulang ke rumah"ucap Dokter itu dan Ana pun mengangguk mengerti.


"kalau begitu saya pamit dulu,ketika si kembar bangun segera beri asi ya."ucap dokter itu dan kemudian keluar dari kamar Inap Ana setelah menyapa Naina,Liyana,Young dan Ryung yang duduk di sofa di dalam ruangan itu.


"Ana,Arian kami keluar dulu ya,mau makan siang.sekaligus beli makanan untuk kalian"ucap Naina pada Ana dan Arian.


Mereka pun keluar meninggalkan Arian dan Ana di sana.Setelah kepergian orang tua dan mertuanya itu,Arian kemudian memeluk Ana tiba2,membuat Ana terkejut.


"Kak Arian buat aku kaget tau"ucap Ana pada Arian yang tiba2 mendekatkan wajahnya untuk mencium wajahnya dan....

__ADS_1


Tiba2 salah 1 dari bayi mereka menangis membuat Arian yang sudah hampir mencium Ana membatalkan niatnya dan segera mendekati tempat tidur bayi.


Arian melihat salah 1 putranya sedang menangis dan 1 nya lagi tertidur pulas.


"Kau kenapa,Son."ucap Arian kemudian mengendong anaknya yang menangis seperti cara Daenji mengendong tadi.


"Sudah sayang,jangan menangis lagi."ucap Arian tapi putranya itu tetap saja menangis bahkan semakin keras.


"Mungkin dia ingin makan"ucap Ana membuat Arian menatapnya.


"Arian kemudian berjalan mendekat pada Ana sambil mengendong anaknya itu yang menangis semakin keras.


"Aku tidak tau,kalau kakak pintar gendong bayi"ucap Ana saat bayinya sudah ada si gendongannya.


Arian tidak menjawab,Arian malah melihat Ana yang sedang menyusui bayi mereka dengan intens.


Ana yang menyadari kalau sang suami terus menatapnya hanya bisa mengelengkan kepalanya.


"Kok di tatap kayak gitu sih,kenapa...??"tanya Ana pada Arian yang terus menerus menatapnya.


"Tidak ada,Apa itu tidak sakit"ucap Arian pada Ana.


"Apa..??"ucap Ana.


"Maksudku,apa itu tidak sakit saat dia melakukan itu,"ucap Arian sambil menunjuk putranya yang asyik menyusui.


Ana tertawa saat mendengar perkataan suaminya.


"Hahaha,ngga sakit kok kak,"ucap Ana sambil mengelengkan kepalanya.


"apa dia akan kenyang jika meminum asi,saat aku melakukannya sama sekali tidak ada yang keluar tuh"ucap Arian yang berhasil membuat wajah Ana memerah.


Wajah Ana memerah mendengar perkataan Arian yang dengan mudahnya mengatakan hal seperti itu.Ana mencubit lengan kekar suaminya itu dengan tangannya yang bebas.


"Awww,kok di cubit sih sayang"ucap Arian saat Ana mencubit lengannya.


Ana memalingkan wajahnya tidak berniat untuk menjawab pertanyaan suaminya itu.


Arian kembali berbicara membuat Ana membeku seketika.


"Yang ini siapa...??"ucap Arian

__ADS_1


__ADS_2