
Saat Arian ingin pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tangannya yang terkena cairan lengkat entah apa itu,Tiba2 Arian mendengar suara seseorang meneriakinya membuatnya menoleh dan mendapati Chilson dan Sunny yang berlari mendekatinya.
"ARIAN..."teriak Chilson sambil berlari mendekati Arian.
"Fania,Dia ada di mana...??"ucap Chilson saat sudah berada di dekat Arian.
"Fania sudah berada di ruangan bersalin"ucap Arian saat sudah berhadapan dengan Chilson dan Sunny.
Chilson dan Sunny menghembuskan nafas lega mendengar menantunya sudah berada di ruang bersalin.
"Terima kasih,Arian."ucap Chilson berterima kasih pada Arian.
"Tidak perlu berterima kasih,Paman.Ini sudah kewajibanku untuk menjaga Fania kalau Carlson tidak ada"ucap Arian membuat Chilson dan Sunny mengangguk mengerti.
Sunny memperhatikan Arian hingga tatapannya berhenti pada lengan kanan Arian.
"Lengan kanan kamu kok ada air ketuban gitu,Arian."ucap Sunny membuat Arian menatap lengannya kanannya.
"Tadi Bibi bilang ini apa...??"tanya Arian memastikan apa yang di ucapkan oleh Sunny barusan dengan menunjuk lengan kanannya.
"Itu yang di tanganmu itu,cairan putih lengket itu namanya Air ketuban,Arian."ucap Sunny membuat Arian membelalakkan matanya.
Saat Arian mendengar perkataan Sunny,Arian segera berlari ke kamar mandi di rumah sakit itu dengan terus memaki Carlson di dalam hati.
'Carlson sia**n,pada saat Ana melahirkan saja aku sama sekali tidak menyentuh hal seperti ini dan sekarang,istri lo yang lahiran gue yang kena ginian.'maki Arian dalam hati yang di tujukan pada Carlson.
Arian pun mencuci lengannya dengan hingga cairan putih lengket itu hilang,Saat selesai,Arian pun segera keluar dari kamar mandi dengan terus mengumpat Carlson dalam hati.
Arian kembali tempat Chilson dan Sunny.Dari jauh,Arian sudah melihat Chilson yang tidak henti2nya mondar mandir di depan ruangan bersalin,sedang Sunny duduk di kursi dengan raut wajah yang begitu khawatir.
"Paman,Bibi..,ada apa...??"tanya Arian saat sudah berada di hadapan Chilson dan Sunny.
"Dokter yang masuk ke dalam ruangan bersalin,belum juga keluar dan kami juga belum mendengar suara tangisan bayi,kami hanya mendengar suara rintihan Fania yang merasakan sakit"ucap Sunny pada Arian.
Sunny begitu khawatir pada keadaan menantunya,Sunny takut jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan menimpa menantunya.
"Bibi tidak perlu khawatir,Fania pasti baik2 saja"ucap Arian menenangkan Sunny.
Tiba2 Dokter keluar dari ruangan bersalin,melihat hal itu,Chilson dan Sunny mendekato dokter itu.
"Dokter,bagaimana keadaan Fania...??"tanya Sunny pada Dokter wanita itu.
"Keadaan Ibu Fania,baik2 saja.apakah ada di antara kalian yang bisa menemaninya di dalam untuk memberikannya semangat dan juga kekuatan untuk berjuang melahirkan buah hatinya."ucap Dokter itu membuat Sunny dan Chilson saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
Chilson dan Sunny saling menatap dan kemudian menatap Arian yang duduk di kursi yang juga menatap mereka.
Arian yang di tatap seperti itu oleh kedua orang itu,mendadak menelan salivanya dengan susah payah.
'Tiba2 perasaanku jadi tidak enak'ucap Arian dalam hati dengan menelan salivanya dengan susah payah saat Chilson dan Sunny menatapnya.
"Arian..."ucap Chilson dan Sunny bersamaan.
Arian menghembuskan nafasnya dan kemudian menelan salivanya dengan susah payah dan berdiri dari duduknya.
Arian dan dokter itu pun kembali masuk ke ruangan bersalin.
15 menit kemudian,terdengar suara bayi menangis dari dalam ruangan bersalin membuat Chilson dan Sunny tersenyum bahagia.
Chilson dan Sunny berpelukan dan tersenyum bahagia,karna cucu mereka telah lahir ke dunia.
Tidak lama kemudian,Arian keluar dari ruangan bersalin di ikuti oleh Fania yang di berada di atas brangkar yang di dorong oleh para perawat.
Arian duduk di atas kursi dengan penampilan yang begiti acak - acakan.
Chilson dan Sunny sudah pergi ke ruangan Fania beserta dengan cucu mereka yang sudah di pindahkan ke ruangan yang sama dengan ibunya.
Arian duduk di kursi tunggu di depan ruangan bersalin dengan nafas yang tidak beraturan,Arian memejamkan matanya sejenak dan kemudian menyandarkan badan pada sandaran kursi.
"Arian...hosh...,dimana...Fania...??"ucap orang itu yang tidak lain adalah Carlson.
Arian membuka matanya dan mendapati Carlson yang berdiri dengan nafas yang tidak beraturan akibat berlari.
"Dia sudah di pindahkan ke ruangan rawat bersama dengan Anak kalian,"ucap Arian menatap Carlson dengan tatapan yang sulit di artikan oleh Carlson.
Carlson bernafas lega,saat mendengar bahwa Fania dan anaknya baik2 saja,dia kemudian menatap Arian yang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dia artikan.
"Terima kasih,kenapa kau menatapku seperti itu..?"ucap Carlson kemudian duduk di samping Arian,untuk beristirahat sejenak.
"Sia**n kau,"umpat Arian membuat Carlson menatapnya.
"Lo kenapa..?"tanya Carlson pada Arian dengan manatap Arian hingga tatapannya jatuh pada kedua lengan Arian yang memerah seperti habis di cakar oleh kucing.
"Tanganmu kenapa....??"tanya Carlson penasaran dan tiba2 Arian memukul kepalanya,membuat Carlson meringis.
Plak
1 Pukulan mendarat di kepala Carlson membuat Carlson meringis dan menatap Arian heran.
__ADS_1
"Kenapa kau memukulku...?"tanya Carlson lagi dan lagi2 pukulan mendarat di kepalanya.
Plak
"Woy,sakit tau,Ran!!!"ucap Carlson yang mulai sedikit mengeserkan badannya menjauh dari Arian.
"Kau sia**n,Istrimu itu seperti kucing liar,ganas sekali,Ana saja tidak pernah mencakarku seperti ini"ucap Arian dengan mengangkat kedua lengannya yang merah akibat cakaran Fania.
"Hahahahah..."tawa Carlson saat mendengar perkataan Arian.
"Sia**n"umpat Arian pada Carlson.
"Aku kira apaan,ternyata itu toh penyebabnya.itu masih luka kecil,Aku lebih parah tau,"ucap Carlson saat tawanya mulai berhenti.
"Ayo,kita ke ruangan Rawat Fania sebelum kau pulang"ucap Carlson kemudian berdiri dan berjalan ke ruangan rawat Fania di ikuti oleh Arian.
Carlson dan Arian memasuki ruangan rawat Fania dan melihat Chilson dan Sunny yang tersenyum di dekat tempat tidur bayi.
Carlson berjalan mendekati Fania yang tertidur di atas brangkarnya sedang Arian berjalan mendekati sofa dan kemudian duduk.
Carlson mengecup kening istrinya yang sedang memejamkan matanya,Fania merasakan seseorang mengecup keningnya membuatnya membuka matanya dan mendapati Carlson yang tersenyum padanya.
"Terima kasih,"ucap Carlson dan Fania hanya mengangguk.
"Carlson,Fania,apa kalian sudah menyiapkan nama untuk putra kecil kalian...??"ucap Chilson membuat Carlson dan Fania menatapnya.
Carlson dan Fania saling menatap satu sama lain saat mendengar perkataan Chilson.
Arian sedang duduk di sofa dengan terus mengetik sebuah pesan di ponselnya dan kemudian mendongakkan kepalanya dan mendapati semua orang sedang menatapnya.
Arian sedikit bingung mendapati Carlson,Fania,Chilson dan Sunny sedang menatapnya dengan senyum di wajah mereka.
"Aku serahkan pada Arian."ucap Carlson membuat Arian mengernyitkan alisnya bingung.
"Arian,nama apa yang bagus untuknya"ucap Sunny dengan mengendong putra kecil Fania dan Carlson.
"Aku tidak tau nama yang bagus,Bibi"ucap Arian yang hanya di balas senyuman oleh Sunny.
Arian pun menghembuskan nafasnya dan berkata.
"Bagaimana kalau....,Carlos.."ucap Arian yang memang tidak tau nama apa yang bagus.
Chilson dan Sunny terdiam kemudian tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah,Nama cucuku ini adalah...,Carlos Sia"ucap Chilson yang di angguki oleh Fania dan Carlson beserta Sunny.