BUKAN MENIKAHI CEO TAPI MENIKAH DENGAN SEORANG PELAYAN

BUKAN MENIKAHI CEO TAPI MENIKAH DENGAN SEORANG PELAYAN
REVAN DAN REVIN 2


__ADS_3

4 bulan kemudian


Tidak terasa Revan dan Revin telah berusia 6 bulan dan mereka sudah merangkak membuat Ana dan Arian kewalahan mengurus mereka.


"Kamu yakin, ngga apa-apa aku tinggalin kamu sama mereka berdua," ucap Arian sambil menunjuk kedua putranya yang tengah duduk di karpet bulu sambil memengang masing-masing mainan di kedua tangan mereka.


Ana tersenyum pada Arian dengan tangan yang masih bergerak memakaikan dasi di leher suaminya itu.


"Aku tidak sendiri, nanti Kak Fania, kak Carlson, kak Rafael, Sarah, bakal ke sini, sama Carlos dan juga Reon buat main sama Revan dan Revin," ucap Ana panjang lebar membuat Arian mengernyitkan alisnya mendengar perkataan Ana tentang Carlos dan Reon yang akan bermain dengan Revan dan Revin.


Arian jadi mengingat terakhir kali Carlos dan Reon bermain bersama dengan Revan dan Revin, dimana anak berusia 4 bulan itu habis pipinya di cabik-cabik oleh kedua bersaudara itu membuat Carlos dan Reon menangis keras.


Arian menghembuskan nafasnya kemudian mengecup puncuk kepala Ana dan tersenyum.


"Aku pergi dulu," ucap Arian dan Ana pun mengangguk.


Arian kemudian berjalan mendekati kedua putranya yang asyik duduk di atas tikar bulu sambil menggoyangkan mainan di tangan mereka.


"Daddy pergi dulu ya, jangan nakal," ucap Arian pada kedua putranya yang juga menatapnya.


Arian mengecup kening kedua putranya yang membuat mereka tertawa.


Arian pun keluar dari apartemen meninggalkan Ana bersama dengan Revan dan Revin.


"Sayang, kalian berdua tunggu di sini dulu ya, Mommy mau bikin susu buat kalian berdua," ucap Ana dan kemudian bediri dari duduknya dan masuk ke dapur.


Belum sampai 5 menit Ana di dapur, tiba-tiba dia mendengar suara tangisan putranya dan kemudian segera berlari keluar dan mendapati Revan yang tengah mencubit pipi adiknya.


Ana segera menghampiri kedua putranya dan kemudian mengendong Revin yang menangis dengan sangat keras akibat ulah Revan.


"Sudah sayang," ucap Ana menenangkan Revin yang perlahan-lahan berhenti menangis saat Ana memberikannya dot susu.


Revin berhenti menangis dan meminum susunya dengan lahap, sedang Revan masih asyik bermain.


Tiba-tiba pintu terbuka membuat Ana menoleh dan mendapati Sarah dan Fania yang masuk ke dalam di ikuti oleh Rafael yang tengah menggendong Reon dan Carlson yang mengendong Carlos.


"Halo Ana, halo Revan sama Revin," ucap Fania dengan mencubit kedua pipi Revan dengan gemas.


Sarah menghampiri Ana dan kemudian mengambil Revin dari gendongan Ana.


Ana menghembuskan nafasnya karna kini dirinya tidak sendiri lagi menjaga kedua putranya yang super duper aktif.


30 menit sudah mereka bersenda gurau, hingga tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu membuat Ana berdiri dari duduknya dan kemudian membuka pintu dan melihat orang yang datang yang ternyata adalah Fira.


"Fira, masuk," ucap Ana mempersilahkan Fira masuk ke dalam apartemennya.


Fira masuk ke dalam dan kemudian berjalan menuju sofa dengan tersenyum pada semuanya.


"Eh, Calon pengantin kok pergi sendiri sih, dia mana?" tanya Sarah pada Fira yang kini sudah duduk di sofa di hadapan semua orang.


"Kimso lagi urus sesuatu, em ..., Aku bisa minta tolong ngga kak Ana," ucap Fira membuat ketiga wanita itu menatapnya.

__ADS_1


"Kenapa, bilanga aja kali," ucap Sarah yang di angguki oleh Fania.


"Begini, aku ingin pergi fiting baju pernikahan tapi Kimso tidak bisa menemaniku karna sibuk, apa kak Ana, Sarah, dan kak Fania bisa menemaniku?" tanya Fira sedikit ragu karna takut merepotkan ketiga wanita itu.


"Bilang dong dari tadi, Ayo Ana kita pergi temanin Fira," ajak Sarah pada Ana yang di angguki oleh Fania.


"Tapi ..., Revan sama Revin gimana?" tanya Ana yang khawatir meninggalkan putra-putranya.


"Ngga perlu khawatir, 'kan ada Carlson sama Rafael, mereka akan baik-baik saja kok," ucap Sarah membuat kedua pria yang tengah mengendong bayi itu menjadi terkejut.


"Tapi ...," ucap Rafael yang terpotong karna sang istri sudah berbicara.


"Apa susahnya sih, 'kan ada kak Carlson," ucap Sarah membuat Carlson membelalakkan matanya.


"Masa kalian berdua ngga bisa urus empat anak sih, gimana mau nambah anak kalau ngga bisa urusin mereka," ucap Fania menimpali perkataan Sarah.


Kedua pria itu menghembuskan nafasnya pasrah, ke empat wanita itu pun keluar dari apartemen meninggalkan Carlson dan Rafael yang harus mengurus empat anak sekaligus.


Ana sudah membuat susu untuk Revan dan Revin sehingga Rafael dan Carlson hanya tinggal menjaga agar tidak merangkak ke dapur.


Carlson membaringkan Carlos di sofa di sampingnya karna tiba-tiba menangis begitu keras membuat Revan dan Revin yang tengah bermain sesekali saling memukul menoleh menatap Carlson dengan mengedipkan mata mereka.


Carlson memberikan botol susu yang sudah mereka buat tadi sebelum ke apartemen Arian, Carlson memengang botol susu yang sedang di minum oleh Carlos yang begitu lahap meminum susunya.


Rafael berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kamar Arian dan Ana untuk menidurkan Reon di tempat tidur bayi milik si kembar karna Reon yang mulai menguap tanda ingin tidur.


2 menit kemudian, Rafael kembali ke ruang tamu karna Reon telah tertidur. Saat Rafael mendudukkan tubuhnya di sofa, dia terkejut mendapati hanya satu orang bayi di karpet bulu yang bermain.


"Ada tuh di situ," ucap Carlson tampa menoleh.


"Ngga ada, Carl." ucap Rafael mulai mengedarkan pandangannya ke segala arah.


Carlson terdiam dan kemudian menoleh dan ternyata memang tinggal satu bocil yang tidak mereka tau apakah Revan atau Revin.


Carlson mengedarkan pandangannya dan membulatkan matanya saat mendapati yang mereka cari tengah merangkak memasuki dapur.


"El, tuh di sana!" ucap Carlson dengan menunjuk ke arah dapur karna memang dirinya tidak bisa berdiri karna sedang memengang botol susu yang tengah di minum oleh Carlos.


Rafael terkejut dan segera berlari menghampiri Revan ataukah Revin yang sedang merangkak masuk ke dapur.


"Eh, bocil, jangan pergi-pergi napa," ucap Rafael saat mengendong anak Arian yang dia tidak tau siapa, kakak ataukah adik.


Rafael berjalan mendekati tikar bulu dan tidak mendapati kembaran anak yang di gendongnya.


"Lah, mana lagi nih bocah," ucap Rafael mengedarkan pandangannya dan kemudian menatap Carlson yang menunjuk ke arah kamar di mana kembaran dari anak yang di gendongnya tengan merangkak mendekati pintu kamar.


Rafael menurunkan anak yang di gendongnya kemudian berlari mendekati putra Arian yang nakal minta ampun.


Rafael kemudian mengendong anak itu dan membawanya ke karpet bulu dan lagi-lagi satunya menghilang.


Kejadian itu terus terulang membuat Rafael kelelahan harus berlari ke sana kemari.

__ADS_1


Kini Rafael berjalan dengan lelah menghampiri salah satu bayi super aktif itu yang tengah merangkak ke arah pintu keluar, Rafael mengendong anak itu dan tiba-tiba terdengar suara di belakangnya seperti orang yang menabrak pintu.


Rafael menoleh ke belakang dengan menggendong salah satu bayi nakal yang membuatnya kelelahan dan mendapati Carlson yang mematung di tempatnya dengan mata yang melihat ke arah bawah meja di mana kembaran bayi yang di gendongnya ternyata kepalanya kejeduk ke kaki meja.


Rafael dan Carlson saling menatap satu sama lain dan sedetik kemudian ..., kembaran bayi yang di gendong Rafael menangis keras membuat bayi yang di gendongnya ikut menangis membuat Rafael reflesk berteriak membuat tangis kedua anak itu semakin keras.


"YA TUHAN, BUNUH SAJA AKUUUU," teriak Rafael yang sepertinya sudah tidak tahan dengan penderitaan yang dia alami saat ini.


****


Sementara itu, seseorang tengah berjalan mendekati lift untuk menuju ke lantai 5 apartemennya, orang itu tidak lain adalah Arian.


Arian segera pulang saat Ana menelfonnya dan memintanya untuk segera pulang.


Pintu Lift terbuka, Arian kini tiba di lantai lima, Saat Arian melangkahkan kakinya keluar dari lift, dia mendengar suara tangisan kedua putranya yang begitu keras membuatnya segera berlari dan membuka pintu.


Arian terkejut mendapati Rafael dan Carlson yang berusaha untuk membuat kedua putranya diam tapi malah semakin keras menangis.


Rafael menoleh ke arah pintu dan mendapati Arian yang berdiri menatap mereka dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Ariaann," ucap Rafael dengan wajah yang begitu lelah kusut dan berantakan.


Arian segera berjalan memasuki apartemennya dan mengendong salah satu putranya.


"Udah sayang, Revan jangan nangis lagi," ucap Arian pada putranya yang perlahan-lahan terdiam dari tangisnya.


Beberapa saat kemudian.


Kini Arian tengah mengendong Revin yang menangis keras dengan kening yang sedikit benjol akibat kejeduk di kaki meja tadi.


Arian menatap tajam pada kedua pria itu, dimana Rafael tengah mengendong Revan dan Carlson mengendong Reon di pangkuannya.


"Udah jangan nangis lagi, anak Daddy 'kan kuat," ucap Arian mencoba menenangkan putra kecilnya.


Revin mulai terdiam dan perlahan-lahan tertidur di gendongan sang ayah sedang Revam masih asyik bermain di pangkuan Rafael.


Arian meninggalkan Carlson dan Rafael untuk membawa Revin ke tempat tidur bayi di dalam kamarnya.


Arian meletakkan Revin di tempat tidur bayi milik Revan karna miliknya sudah ada Reon yang tertidur.


Arian keluar kamar dan menatap tajam pada kedua pria itu yang hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Lo itu udah mau punya anak lagi loh, El. masa ngga bisa jagain Revan sama Revin sih," ucap Arian setelah mengambil Revan dari gendongan Rafael dan kini duduk berhadapan dengan kedua pria itu.


Sarah kini sedang hamil 1 bulan lebih, itu berarti Rafael akan memiliki anak lagi, tapi mengurus Revan dan Revin aja udah kewalahan apalagi anaknya nanti.


Arian mengelengkan kepalanya di ikuti oleh Carlson yang juga mengelengkan kepalanya.


Rafael menghembuskan nafasnya kemudian berkata dalam hati.


' Sial banget dah nasib gue,' ucap Rafael dalam hati mengehembuskan nafasnya kasar.

__ADS_1


__ADS_2