
Arian menahan tawanya saat mendengar cerita Rafael tapi di sisi lain dia juga kasihan melihat sahabatnnya itu menjadi seperti sekarang,Sungguh nasib yang malang.
Rafael menghela nafas lelah,entah apa yang harus dia lakukan,Meski IQ Rafael tinggi,jika sudah di hadapkan dengan pilihan seperti ini dia akan menjadi bodoh.
Rafael mengacak rambutnya karna pusing apa yang harus dia lakukan.Rafael menatap Arian yang menutup mulutnya dengan tangannya sambil menatapnya datar.
"Gue harus gimana,Ran...?"tanya Rafael meminta Saran pada Arian.
"Lakukan apa yang menurutmu benar"ucap Arian tapi sama sekali tidak membantu Rafael.
"Gue ngga bisa,Ran.Kalau harus lakuin yang menurut gue benar."ucap Rafael semakin lesuh.
"Memangnya apa yang menurutmu benar..?"tanya Arian meski dia tau apa yang menurut Rafael benar adalah mengabulkan keinginan Maminya.
"Aku harus melakukan apa yang mami gue mau,tapi gue ngga bisa lupain Sarah,Ran."ucap Rafael semakin mengacak rambutnya.
Arian menghela nafasnya,sebenarnya dia ingin memberitahukan Rafael pasal informasi yang dia dapatkan tapi...,Dia juga ingin sedikit bermain dengan sahabatnya ini yang terkenal jahil pada dirinya dan Carlson.
Di sela2 keresahan Rafael,Tiba2 pintu terbuka dan memperlihatkan Carlson yang sudah rapi dengan setalan jasnya yang berwarna hitam.
Carlson duduk di samping Rafael dan menatap Rafael dari atas sampai bawah dengan penampilan yang begitu acak - acakan bahkan rambutnya saja sudah berantakan.
Carlson kemudian berbicara membuat penderitaan Rafael semakin bertambah.
"Kenapa Lo,Penampilan lo kusut amat dan ini juga rambut Lo,Abis di tarik ama ibu yang mau lahiran ya"ucap Carlson kemudian tertawa membuat Arian juga tertawa lepas.
"Hahahahahah"tawa Carlson dan Arian membuat penderitaan Rafael lengkap lah sudah.
"kamb**g Lo pada"umpat Rafael pada kedua sahabatnya itu.
"Oh iya,Ran.Lo mau ngga nemenin gue per....."ucap Carlson terpotong karna Arian susah bicara.
"Ngga bisa,gue sibuk"ucap Arian menghentikan tawanya.
Tiba2 pintu terbuka menampakan Kimso yang membawa berkas yang begitu banyak,bahkan hampir menutupi wajahnya.Saat melihat hal itu,Carlson mengerti dan diam seketika tidak ingin membujuk Arian lagi karna sahabatnya itu benar2 sibuk.
Kimso berjalan mendekati meja Arian sambil sesekali melihat Rafael yang penampilannya sudah seperti preman.Kimso meletakkan semua berkas itu kemudian berniat untuk pergi tapi di hentikan oleh Rafael.
"Kimso,Bawakan aku bir."ucap Rafael membuat ketiga orang itu membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Rafael.
"Oke,tunggu sebentar....,berapa yang harus ku bawa..?"tanya Kimso membuat Rafael menatapnya.
"Semua simpanan di H&G Group"ucap Rafael membuat Arian membulatkan matanya.
"Lo sadar,El.Lo ngga kemasukan kan..?,ngga deman,matanya masih sama tuh"ucap Carlson memeriksa suhu tubuh Rafael dan warna bola matanya yang masih berwarna kekuningan.
"Kamp**t Lo,emang gue kemasukan apaan"ucap Rafael menyingkirkan tangan Carlson dari dahinya.
"Siapa tau kemasukan setan pemabuk tuh"ucap Carlson kemudian tertawa lepas lagi bersama Arian.
"Hahahahahaha"tawa Carlson dan Arian pecah sedang Kimso menahan tawanya dengan mengigit bibir bawahnya.
__ADS_1
"Kamp**t lu pada mah,Kimso kenapa kau belum pergi..?"tanya Rafael pada Kimso setelah mengumpat kedua sahabatnya itu.
Saat Kimso ingin pergi,Carlson menghentikannya.
"Kimso,bawa yang kadar alkoholnya rendah,Dia orangnya ngga kuat minum"ucap Carlson memerintah.
Arian yang mendengar hal itu mengernyitkan Alisnya kemudian berbicara membuat Kimso lagi2 menghentikan langkahnya.
"Jangan Kimso,kalau mau ambil sendiri sana,ngapain Nyuruh Kimso"ucap Arian sewot.
"Mumpung Kimso ada Ran iya kan,Adik"ucap Carlson sambil tersenyum.
Kimso segera pergi untuk mengambil bir untuk Rafael meninggalkan ketiga orang itu.
"Lo benar2 ngga kemasukan,Rafael...?"Tanya Carlson lagi2 membicarakan soal tadi.
"Gue waras,Carl.ngga ada setan yang berani mampir kalau liat gue kayak gini,"ucap Rafael ngegas.
"Selow bro,Gue cuma nanya,soalnya dulu ada anak kecil minum bir baru setengah gelas udah pingsang dia"ucap Carlson menyindir Rafael.
Rafael menatap Carlson dengan tatapan Tajam kemudian berdiri,Carlson yang melihat Rafael berdiri ikut berdiri karna dia tau apa yang akan terjadi selanjutnya,karna setiap mereka mengungkit masa lalu saat Rafael meminum bir untuk pertama kali pasti ujung2nya akan terjadi hal seperti sekarang..
"Arian tolong gue,setannya udah marah tuh"ucap Carlson berlari ke belakang kursi yang di duduki oleh Arian.
"Sini lo kamp**t,"ucap Rafael berlari ke arah Arian Carlson.
Dengan Sigap Carlson berlari dan terjadilah lari - larian ala anak kecil di ruangan Arian itu.
Arian yang melihat hal itu,mengepalkan tangannya kesal,bagaimana pekerjaannya mau selesai kalau begini.
"Maaf tuan setan,saya ngga mau."ucap Carlson sambil berlari kabur dari Rafael.
Rafael yang mendengar hal itu,semakin kesal dan mempercepat larinya.Carlson yang melihat Rafael mempercepat larinya,membuat dia juga mempercepat larinya hingga Suara Arian membuat keduanya berhenti seketika.
"Kalian berdua,BERHENTI"teriak Arian layaknya seorang ayah yang sedang meneriaki anak2 nya.
Carlson dan Rafael yang mendengar hal itu,berhenti seketika dan kemudian bersuara yang membuat Arian semakin kesal.
"YES DADDY"ucap keduanya bersamaan.
Tidak hanya sampai di situ,Arian kembali berteriak layaknya seorang Ayah dan lagi2 kedua orang itu menjawabnya seperti seorang Anak.
"Duduk"ucap Arian lagi.
"BAIK DADDY"ucap Keduanya kemudian duduk di sofa dengan teratur.
Mereka tidak diam di atas sofa,mereka saling menyenggol satu sama lain dan itu membuat Arian lagi2 teriak.
"DIAM"teriak Arian menghentikan kedua orang itu kemudian kembali menyahut membuat Arian mematahkan pulpen yang di pengangnya.
"MAAF DADDY"teriak mereka bersamaan dan kemudian....
__ADS_1
"Kamp**t"umpat Arian membuat keduanya tertawa.
"Hahahahahaha"tawa Carlson dan Rafael bersamaan karna berhasil mempermainkan Arian dengan memanggilnya Daddy.
Carlson dan Rafael terdiam saat pintu ruangan Arian terbuka.
Tidak lama itu,Kimso datang dengan 2 botol bir dengan kadar alkohol rendah.Kimso berjalan mendekati sofa yang di duduki oleh kedua orang itu kemudian menaruh botol bir di atas meja,kemudian mengambil gelas yang berada di dalam kantor Arian.
Kimso kemudian menaruh 2 gelas yang di ambilnya dan Rafael segera mengambil gelas dari tangan Kimso dan kemudian membuka bir itu dan langsung menungkannya di gelas miliknya.
15 menit kemudian
"Nasib gue malang....huk....banget dah"ucap Rafael yang sudah mabuk padahal baru meminum 1 setengah gelas.
Tidak lama setelah itu,Rafael menjatuhkan kepalanya di atas meja dan kemudian tertidur.Carlson dan Arian menatap Rafael dengan pandangan yang sulit di artikan begitu pun dengan Kimso menatap Rafael dengan pandangan yang sulit di artikan.
"ini benar2 bir dengan kadar alkohol rendah kan,Kimso"tanya Carlson sambil menatap Kimso yang mengangguk pelan.
Mereka bertiga menepuk dahi mereka melihat Rafael yang mabuk hanya karna meminum 1 setengah gelas Bir dengan kadar alkohol rendah.
"Sudah tau tidak kuat minum malah mau minum,dasar bodoh"ucap Arian dan di angguki oleh Carlson.
"Baiklah,Aku akan mengantar Rafael ke apartemennya,Aku juga tidak ada kerjaan"ucap Carlson dan Kini di angguki oleh Arian.
Tidak lama setelah kepergian Carlson tiba2 ponsel Arian berbunyi,Arian kemudian mengangkat ponselnya lalu kemudian berbicara.
"Halo"ucap Arian saat sudah mengangkat ponselnya.
"Maaf pak,ini Saya Fira.Saya ingin bertanya soal rapat hari ini...."ucap Fira yang terpotong karna Arian sudah berbicara.
"Tunda,pindahkan menjadi besok"ucap Arian membuat Kimso menatap Kakak angkatnya itu.
"Baik,Pak."ucap Fira dan Arian pun mematikan panggilannya sepihak.
Arian kembali fokus pada berkas2 di hadapannya sedang Kimso kembali ke ruangannya.
Pukul 16.01 sore.
Akhirnya pekerjaan Arian pun selesai,Arian memakai jasnya dan bergegas untuk keluar dari H&G Group untuk ke parkiran.
Sesampainya Arian ke parkiran dan berniat untuk membuka pintu mobilnya,Tiba2 Arian mendengar suara yang Familiar sedang memanggilnya.
JENDRAL
-
-
-
HAPPY READING ALL
__ADS_1
SEMOGA SUKA
JANGAN LUPA LIKE