
Di rumah Rafael dan Sarah.
Hari ini Rafael memutuskan untuk tidak pergi ke kantor dengan alasan ingin berduaan dengan sang istri.
Reon dan Dion nampak bermain diruang tamu sedang Rafael duduk di sofa ruang tamu melihat kedua putra kecilnya yang bermain dengan aktifnya.
"Sayang, nanti aku sama Ana mau pergi ke
mall buat beli sesuatu," ucap Sarah seraya menaruh kopi Rafael di atas meja.
Rafael mengernyitkan alisnya lalu menatap istrinya yang berniat kembali masuk ke dapur.
"Lah, kok gitu, Yang. hari ini 'kan aku mau berduan sama kamu, masa pergi ke mall sih," ucap Rafael membuat Sarah menghentikan langkahnya kemudian menoleh pada suaminya itu.
"Cuma sebentar kok, nanti kalau pulang baru berduan," ucap Sarah dengan tersenyum pada suaminya itu lalu kembali melangkah masuk ke dapur.
Rafael hanya bisa menghembuskan nafasnya mendengar hal itu.
Pukul 9 pagi.
Bel rumah Rafael berbunyi dan dengan sigap Sarah membuka pintu dan tersenyum saat melihat Ana beserta Revan dan Revin yang berdiri memengang tangan Ana. sedang Reana sudah berada di kediaman keluarga Kim.
Sarah mempersilahkan Ana masuk kerumah.
"Halo kak Rafael," sapa Ana pada pria yang masih asyik duduk di sofa di ruang tamu.
Rafael tersenyum kemudian beralih melihat Revan dan Revin kecil yang menatapnya bingung.
"Tunggu sebentar ya, Na. aku mau ambil tas, terus kita pergi," ucap Sarah dan Ana pun mengangguk.
Tidak lama kemudian, Sarah pun keluar dari kamar dan kemudian mengangguk pada Ana untuk segera berangkat ke mall.
"Yang, tolong jagain anak-anak ya," ucap Sarah yang berhasil membuat Rafael terkejut.
"Revan, Revin, jangan nakal ya, dengar apa yang dibilang paman Rafael, jadi anak yang baik ya," ucap Ana pada kedua putranya.
Revan dan Revin mengangguk mengerti membuat Ana tersenyum.
"Kalau gitu, tolong ya, kak Rafael. kami pergi dulu," ucap Ana dengan senyum di wajahnya.
Ana dan Sarah pun pergi meninggalkan Rafael dengan 4 orang anak yang harus ia jaga.
Rafael menatap Revan, Revin, Reon dan Dion secara bergantian lalu kemudian memijit keningnya yang mendadak pusing.
"Ya tuhan, jika 2 anak saja aku bisa, ini kenapa harus ada empat sih," ucap Rafael memijit keningnya.
__ADS_1
Revan dan Revin mendekati Rafael kemudian naik ke sofa di ikuti oleh Reon dan Dion.
"Paman kenapa?" tanya Revin kecil pada Rafael.
"Tidak apa-apa, daddy kalian kemana?" tanya Rafael kemudian menatap anak 5 tahun di sebelahnya.
"Daddy sedang pergi bekerja, paman. apa paman lupa hari ini itu saatnya untuk bekerja," ucap Revan polos membuat Rafael melongo.
"Baiklah, kalian kembalilah bermain, ingat untuk tidak keluar dari ruang tamu ini, mengerti," ucap Rafael pada ke empat anak itu.
Reon dan Dion kembali bermain sedang Revan dan Revin masih asyik duduk di sofa bersama dengan Rafael.
"Kenapa kalian berdua tidak pergi bermain?" tanya Rafael pada kedua anak itu.
"Kami tidak ingin bermain, paman." ucap Revan singkat yang hanya di balas oh ria tanpa suara oleh Rafael.
Tiba-tiba Revin berbicara membuat Rafael tersedak air liurnya sendiri.
"Paman Rafael, Playboy itu apa?" ucap Revin polos membuat Rafael tersedak air liurnya sendiri.
"Uhuk ... uhuk ...," Rafael yang tersedak air liurnya kemudian menoleh pada anak di sebelahnya.
Revan hanya diam menyimak apa yang aka di katakan oleh Rafael.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu pada paman, Revin?" tanya Rafael dengan menunjuk dirinya sendiri.
'Arian sia**n, apa saja yang sudah kamu beritahu pada putramu,' ucap Rafael dalam hati serasa ingin berteriak pada Arian.
"Playboy itu adalah seseorang yang memiliki banyak sekali mantan," ucap Rafael mencoba menjelaskan.
"Mantan?" ucap Revin polos dengan memiringkan kepalanya tanda tidak mengerti.
"Seperti kita punya kekasih lebih dari satu, lalu ...," ucapan Rafael yang terhenti saat Revan tiba-tiba berbicara.
"Bukankah itu tidak baik, paman. kalau bisa jangan beritahu pada adikku, dia itu masih polos," ucap Revan layaknya pria dewasa padahal usianya masih 5 tahun.
Rafael mematung di tempatnya mendengar perkataan Revan yang seperti menasihatinya.
"Kenapa kalian harus sepintar ini di usia kalian, kenapa juga kalian berdua harus ikut sifat daddy kalian," ucap Rafael tidak percaya.
"Karna kami anak daddy kami, paman. bukan nama paman," ucap Revin polos yang di angguki oleh sang kakak.
Rafael membeku tidak mampu berkata-kata lagi.
'Ayah dan anak sama saja,' ucap Rafael dalam hati dengan wajah datar.
__ADS_1
Revan dan Revin pun mulai bermain dengan Reon dan Dion, sedang Rafael hanya duduk sambil memangku laptopnya.
Tiba-tiba bel rumahnya berbunyi, Rafael pun menaruh latopnya di atas meja kemudian berjalan mendekati pintu lalu membukanya dan terlihat, seorang kurir yang tersenyum padanya dengan paket di tangannya.
Rafael pun menghembuskan nafasnya kemudian menandatangani surat terima itu lalu menutup pintu dengan keras.
BRAK
Rafael yang menutu pintu dengan keras dan tiba-tiba terdengar suara di belakangnya seperti orang yang menabrak dinding.
Rafael terkejut saat melihat Dion yang terduduk di lantai dengan kening yang merah karna menabrak meja di ruang tamu karna terkejut mendengar suara pintu yang di tutup dengan keras.
Rafael segera berlari ke arah Dion lalu berusaha untuk menenangkan putra keduanya itu.
"Udah sayang, diam yah, Dion 'kan anak kuat," bujuk Rafael tapi Dion tetap tidak diam dari tangisnya.
Rafael menatap ketiga anak yang hanya menatapnya dengan tatapan datar tanpa ekspresi.
"Kalian bantuin dong, masa cuma liatin paman, Reon bantuin papi buat diemi adik kamu ini," ucap Rafael pada putranya tapi hanya diam di tempat.
"Paman, Daddy bilang, kalau seseorang melakukan kesalahan, maka mereka harus menyelesaikannya sendiri," ucap Revin yang di angguki oleh Revan dan Reon.
Rafael mematung di tempatnya, kemudian menghembuskan nafasnya.
Satu jam kemudian.
Dion sudah berhenti menangis dan kini kembali bermain dengan Reon, Revan dan Revin.
Tidak lama kemudian, Pintu terbuka, Ana dan Sarah pun masuk dengan tersenyum, Rafael yang melihat hal itu tersenyum lebar.
'Akhirnya aku bisa santay,' ucap Rafael dalam hati bahagia karna kedua wanita itu sudah kembali dari mall.
"Maaf ya, sayang, aku te ...," ucap Sarah yang terhenti ketika melihat kening Dion yang merah.
"Astaga, ini kenapa, kok kening kamu bisa gini sayang," ucap Sarah khawatir pada putra keduanya itu.
"Kenapa bisa gini?" tanya Sarah lagi dan keempat anak itu menunjuk ke arah Rafael membuat Rafael menelan salivanya dengan susah payah.
'Mati aku,' ucap Rafael dalam hati dengan menelan salivanya dengan susah payah.
"Em, Sarah aku pulang dulu ya, Ayo Revan, Revin kita pulang, sayang," ucap Ana kemudian pamit pada Sarah dan Rafael.
'Kakak ipar, jangan pergi,' ucap Rafael dalam hati tapi Ana sudah keluar dari rumah.
"Nanti malam tidur di kamar tamu," ucap Sarah titil tidak pake koma.
__ADS_1
Rafael terkejut kemudian menghembuskan nafasnya.
'Nasib ... nasib,' ucap Rafael dalam hati sesekali menghembuskan nafas panjang.