BUKAN MENIKAHI CEO TAPI MENIKAH DENGAN SEORANG PELAYAN

BUKAN MENIKAHI CEO TAPI MENIKAH DENGAN SEORANG PELAYAN
NYAMUK


__ADS_3

3 Tahun kemudian


2 anak laki-laki berumur 5 tahun dan 1 anak perempuan berumur 2 tahun lebih sedang bermain di dalam kamar yang bernuansa pink di dalam rumahnya hingga tiba-tiba terdengar suara yang membuat salah satu anak laki-laki itu menatap anak laki-laki yang wajahnya sangat mirip dengannya.


"Ada apa?" tanya anak laki-laki itu yang terus di tatap oleh saudara kembarnya.


"Kakak Revan kenapa?" tanya Anak perempuan itu pada kakaknya dengan suara yang begitu imut.


Ya mereka adalah Revan dan Revin beserta adik perempuan mereka yang bernama Reana Li.


Tanpa menjawab pertanyaan kedua adiknya, Revan berdiri dari duduknya dan mengintip keluar dari pintu dan melihat Daddynya yang tidak lain adalah Arian tengah mengacak rambutnya di depan pintu kamarnya yang tertutup.


Revin tiba-tiba menaruh kepalanya di atas kepala sang kakak dan ikut mengintip sedang Reana menatap kedua kakaknya dengan memiringkan kepalanya karna bingung.


"Sayang, aku minta maaf, jangan marah seperti ini, aku janji tidak akan melakukan hal yang tidak kau sukai," ucap Arian mencoba membujuk istri.


'Ini semua karna Rafael sia**n,' ucap Arian dalam hati semakin mengacak rambutnya.


Sedang Revan dan Revin masih dengan posisinya.


"Kakak ada apa?" tanya Reana yang juga penasaran karna tidak tau apa yang sedang di lakukan oleh kedua kakak laki-lakinya.


Revan memberi isyarat pada Revin untuk menemani Reana untuk kembali bermain rumah-rumahan di tempat mereka tadi.


Revin mengerti dan kemudian mengajak Reana untuk kembali bermain, karna mereka kini sedang berada di kamar Reana yang berada di tengah antara kamar Revan dan Revin di sebelah kiri dan kanan.


'Daddy pasti sedang dalam masalah,' ucap Revan dalam hati yang memang sangat dekat dengan Arian.


Revan kembali menutup pintu kamar Reana dan ikut bermain dengan kedua adiknya.


Arian jadi kesal ketika mengingat hal yang terjadi tadi.


Beberapa saat yang lalu.


Arian dan Ana sedang duduk di ruang tamu bersama dengan Rafael dan Sarah yang datang untuk mengunjungi sahabatnya itu, sementara kedua putra mereka sedang berada di kediaman Sang bermain dengan kakek dan nenek mereka.


Awalnya semuanya baik-baik saja hingga perkataan dari Rafael membuat Arian serasa ingin melemparkan meja ke wajah Rafael.


"Aku tidak menyangka kalau kau hanya akan membuat satu Arian, tidak seperti sebelumnya yang langsung dua," ucap Rafael menaik turunkan alisnya membuat Arian mengepalkan tangannya serasa ingin memukul kepala Rafael agar otaknya bisa kembali normal.

__ADS_1


Setelah Sarah dan Rafael pulang, Ana segera berlari menaiki tangga membuat Arian segera menyusul istrinya itu.


* * * *


Arian tidak henti-hentinya mengetuk pintu kamarnya agar Ana membukanya.


"Sayang, buka pintunya," ucap Arian dan tiba-tiba pintu terbuka sedikit membuat Arian tersenyum senang.


Arian masuk ke dalam kamar dan terkejut dengan apa yang di lihatnya.


"Sayang aku ...," ucap Arian yang terhenti karna terkejut melihat Ana yang berdiri di hadapannya membuatnya menelan salivanya dengan susah payah.


"Ayo kita buat lagi," ucap Ana membuat Arian terdiam di tempat, bukan karna perkataan Ana melainkan karna apa yang di kenakan oleh Ana yang membuatnya harus menelan salivanya dengan susah payah.


Coba banyangkan, bagaimana seorang suami tidak menelan salivanya dengan susah payah jika melihat istrinya memakai Lingerie.


Itulah yang di alami Arian sekarang, melihat Ana yang hanya memakai Lingerie membuat tenggorokannya serasa kering seketika.


Ana berjalan melewati Arian kemudian mengunci pintu dan menarik tangan Arian, kemudian mendorong Arian ke tempat tidur hingga tubuh Arian terbaring terlentang kemudian Ana menindih tubuh suaminya itu dengan senyum di wajahnya.


"Aku fikir kau marah padaku," ucap Arian pada Ana yang menindih tubuhnya sambil membuka kancing kemejanya.


"Kamu Loh yang minta," ucap Aria mengubah posisi dan kini dirinya lah yang menindih tubuh mungil istrinya.


Ana hanya tersenyum kemudian mengalungkan tangannya pada leher Arian membuat Arian tersenyum semakin lebar.


"Aku mulai," ucap Arian mendapat anggukan oleh Ana dan mereka pun melakukannya mencoba membuat anak kembar sekali lagi.


Sementara itu di kamar Reana, Revan dan Revin masih menemani sang adik bermain meski sebenarnya mereka tidak suka jika harus bermain rumah-rumahan, sungguh sangat membosankan bagi mereka berdua.


"Kakak, besok kita sudah masuk sekolah lagikan?" tanya Revin berbisik di telinga Revan agar Reana tidak mendengar apa yang di katakannya.


Revan melihat saudara kembarnya itu dan kemudian mengangguk membuat Revin menghembuskan nafasnya.


"Akhirnya, aku sudah bosan jika harus terus menemani Reana bermain rumah-rumahan seperti ini," bisik Revin lagi di telinga kakaknya itu.


Revan yang mendengar hal itu mengangguk, Revan juga tidak suka jika terus menerus bermain rumah-rumahan dengan adik perempuannya karna menurutnya itu sangat membosankan, tapi jika mereka berdua tidak menemani Reana bermain rumah-rumahan bisa-bisa adiknya itu akan bermain dengan laki-laki lain yang seumuran dengannya dan itu jelas tidak akan di sukai oleh Revan dan Revin karna mereka sangat posesif pada adik perempuannya itu.


Revan menghembuskan nafasnya membuat Revin menatap bingung saudara kembarnya itu.

__ADS_1


"Kakak baik-baik saja?" tanya Revin dengan menatap Revan.


"Aku baik-baik saja," ucap Revan singkat padat dan jelas.


Revin yang mendengar hal itu hanya menatap datar pada Revan.


'Dasar kakak irit bicara sekali,' ucap Revin dalam hati yang protes pada Revan.


"Kalau berbicara itu di keluarkan, jangan di dalam hati saja," ucap Revan membuat Revin tersentak dan kemudian tersenyum kikuk pada Revan.


Sedang Reana yang melihat tingkah laku kedua kakaknya itu hanya menatap mereka dengan mengedip-kedipkan matanya membuatnya tampak imut.


Pukul 7.30 malam.


Semenjak kelahiran Reana, Arian dan Ana memutuskan untuk tinggal di rumah di kawasan elit yang sudah di beli oleh Arian begitu pun dengan Rafael dan Carlson.


Saat ini keluarga kecil itu sedang makan malam, Ana duduk di samping Reana untuk menyuapi putri kecilnya, sedang Revan dan Revin duduk di samping Daddy mereka.


"Mommy ...," ucap Revin membuat Ana menoleh pada putra keduanya itu.


"Iya sayang," ucap Ana dengan tersenyum pada Revin.


"Mommy habis di gigit nyamuk ya," ucap Revin membuat Ana menautkan alisnya tanda tidak mengerti.


"Itu di leher mommy ada merah-merah kayal di gigit sama nyamuk," ucap Revin polos membuat Ana memengang lehernya dan tersenyum pada putra keduanya.


Sedang Arian yang mendengar hal itu berusaha untuk menahan tawanya.


"Iya sayang, nyamuk besar," ucap Ana membuat Revin menghentikan mulutnya yang mengunyah.


"Wah, apa mommy sudah melihatnya, aku juga ingin melihatnya mommy, nyamuk besar itu," ucap Revin polos sedang Revan ikut menyimak yang juga penasaran di mana mommynya melihat nyamuk besar karna yang di tahunya nyamuk hanya berukuran kecil bahkan sangat kecil.


Ana jadi bingung harus menjawab apa Sedang Revan dan Revin menunggu jawaban mommynya.


"Dia sudah mommy usir sayang dan mungkin ngga akan datang lagi dalam waktu dekat," ucap Ana membuat kedua putrany itu lesuh.


"Besok Daddy belikan es cream, mau?" ucap Arian seketika membuat kedua putranya senang.


"Yey, Daddy yang terbaik," ucap Revan dan Revin bersamaan dan memakan makan mereka dengan lahap melupakan hal yang tadi mereka bahas tentang nyamuk besar.

__ADS_1


__ADS_2