Bukan Perempuan Bayaran

Bukan Perempuan Bayaran
BPB


__ADS_3

Damian melajukan mobilnya membawa Nana menuju rumah orang tuanya setelah menghubungi Hansel dan Esther untuk membawa nyonya Vera ke rumah Fransiskus. Dia melirik Nana yang meringkuk ketakutan di dalam mobil sambil menatap keluar dengan wajah murung.


Penampilannya acak acakan, luka dan lebam di berbagai sisi tubuhnya, sungguh kasihan nasib gadis malang itu.


Damian sangat terluka saat melihat nana seperti itu, padahal dalam ingatannya Nana adalah gadis yang sangat ceria dan disayangi oleh ayah, ibu dan dimanja oleh kakaknya Hana. Tetapi mereka bertiga pergi dari kehiduapan Nana, hingga gadis malang itu diculik dan dijadikan budak oleh Lily, perempuan yang sudah kehilangan sisi kemanusiaannya.


“ Nana... Kamu ingat kakak kan? Ini Kak Damian,” ucapnya seraya menatap Nana sekilas lalu kembali fokus ke jalanan.


Nana hanya diam, dia tidak berani berbicara sebelum dia disuruh berbicara, aturan yang sudah terpatri di dalam pikiran gadis itu.


Damian menunggu jawaban, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Nana,” Nana jawab kakak,” ucapnya.


“ I.. ingat... Pacarnya kak Ha.. Hana... hiks hiks hiks... kakak Hanaaaa... Nana kangen kakak...” Tiba tiba gadis itu menangis sesenggukan.


Kehidupannya sangat menyakitkan, kehilangan semuanya di usianya yang sangat muda.


Damian menelan air matanya, dia menahan dirinya untuk tidak menangis setiap nama Hana disebutkan.


“ Nana lihat kakak!” ucapnya. Nana menurut dan menatap pria itu dengan tatapan takut.


“ kamu akan baik-baik saja, kakak janji, jangan takut, kakak akan menjagamu Na..” ucapnya pelan memberi harapan baru bagi Nana. Nana hanya diam tanpa merespon ucapan Damian. Tak beberapa lama akhirnya mereka tiba di kediaman Cornelius. Damian memarkirkan mobilnya di depan rumah dan turun membuka mobil untuk membawa Nana.


“ Ayo ikut kakak,”ajaknya sambil mengulurkan tangannya.


Nana tidak berani, dia menunduk dan bergetar ketakutan,mentalnya sangat kacau, sangat sukar memahami ketakutan gadis itu, entah seperti apa trauma yang dia dapatkan setelah disiksa 8 tahun lamanya oleh Lily tanpa sepengetahuan orang orang.


Damian paham, kalau akan sulit bagi Nana menerima orang baru, dia dengan pelan mendekati gadis itu dan membuat Nana nyaman dengan keberadaanya,” Nana, ayo keluar Na, kita ke rumah,” ucapnya.


Tetapi Nana menggelengkan kepalanya sambil menangis,” Nana tidak boleh ke rumah, gadis bougenville harus di tempat anjing, Gadis ini bukan manusia, harus jadi anjing, harus seperti anj..


“Nana!" Damian sedikit berteriak saat mendengar ucapan Nana yang begitu menyakitkan baginya. Entahlah, dia merasa sangat sedih saat Nana merendahkan dirinya sama seperti yang dilakukan Lily padanya.


Nana terdiam dan langsung keluar dari dalam mobil lalu duduk seperti anajing di depan Damian.

__ADS_1


Deghhh...


Retak sudah hati pria itu saat melihat Nana seperti ini, dia berjongkok di depan Nana, ingin dia marah, marah pada dunia yang menghancurkan gadis baik dan cerdas yang kini berubah jadi seorang gadis yang mengalami gangguan mental.


Dia mengepalkan tangannya, mengeraskan rahangnya sambil menahan rasa sakit di dalam hatinya.


“ Nana.. please jangan begini, Ini Kak Damian... kamu nggak boleh begini, kamu itu manusia bukan anjing!" Damian, jelas kalau dia sedang menahan dirinya untuk tidak menangis, pria ini sangat sensitif dengan segala sesuatau yang berhubungan dnegan Hana.


Damian menarik Nana dan memeluk gadis itu dengan lembut, membuat Nana merasa nyaman dan tidak takut dengan kehadirannya.


“ Nana..Kakak akan menjaga kamu, percaya pada kakak,” ucap Damian pelan, tanpa terasa air matanya malah jatuh .


Nana merasakan rasa hangat yang dia rindukan, tangannya perlahan lahan bergerak dan membalas pelukan Damian, “ Na... Nana takut.. hiks hiks hiks... to.. tolong Nana....” lirih gadis itu sambil sesenggukan dan akhirnya menumpahkan tangisannya dan memeluk pria itu dengan sangat erat.


Sekujur tubuhnya gemetaran, ini kali pertama dia dipeluk setelah sekian lama, ini kali pertama seseorang berhasil membuatnya merasa aman dari segala ancaman, ini kali pertama dia diperlakukan selayaknya manusia normal.


Damian menghela nafas, perjuangan Nana sangat berat, dia menepuk punggung gadis itu dengan lembut dan membiarkannya memeluk dirinya untuk beberapa saat sampai Nana benar-benar tenang.


Di pintu depan rumah, tampak dua manusia berbeda gender dengan paras menakjubkan, rambut mereka yang biru terang dipadukan dengan bagian depan yang berwarna hitam, mata mereka yang berwarna hitam dan biru percampuran darah kedua orangtuanya, sedang berdiri dan menatap Damian dari sana.


“ Kak AlbiMax, sepertinya Kak Alvaro akan sembuh, aku turut bahagia tetapi kasihan gadi situ, dia tampaknya sangat menderita,” bisik Clairene.


“ hmmm.. kau benar Rene, ayo kita bantu kak Alva, kasihan dia menderita selama ini,” ujar Albimax.


Damian membawa Nana menuju rumah, memapahnya dan merangkulnya dengan erat.


“ Mom, Dad.. Alvaro pulang!!” teriak pria itu.


Sontak langkah kaki yang begitu meriah terdengar, tampak pasangan tua Cornelius begitu bersemangat saat mendengar putra mereka menyebut nama Alvaro, nama yang sempat disembunyikan Damian sebab masa lalunya yang menyedihkan.


“ Anak Mommy pulang? Wahhhh.. sayang Mommy ka.... siapa dia?” Nyonya Cherry dan Tuan Grape terkejut kala melihat Damian membawa seoang gadis ke rumah.


“ Nak.... kamu gak hamilin anak orang kan?” celetuk Tuan Grape dengan wajah konyolnya menatap Damian dan Nana yang meringkuk dalam pelukan Damian.

__ADS_1


“ pFtthhh... Daddy, kalau kak Damian hamilin anak orang dia gak akan bawa ke rumah, Pasti Mom marah hahahhaa...” Albimax dan Clairene tertawa .


“ Tahu ini, dasar tua tua keladi, gak tahu lihat situasi ya? Pikiranmu itu itu terus , kok jadi mirip sama kak Philip? “ ejek Nyonya Cherry yang langsung menghampiri Nana.


Jelas dia tahu gadis itu mengalami kejadian buruk, hal yang sangat buruk bagi hidupnya. Cherry menatap putranya,” Mom akan jaga dia, apa urusan disana sudah selesai?” tanya Cherry lembut sambil mengusap kepala putra pertamanya.


“Mom...” Lirih Damian. Dia memeluk ibunya, berusaha menahan tangisan.


Bagi Cherry dan Grape, sebesar apa pun anak anak mereka bertumbuh, mereka tetaplah anak kecil mereka yang menggemaskan.


“Mommy tahu kamu kuat sayang, selesaikan semuanya dan kembali dengan selamat ke rumah, serahkan dia pada Mom, Daddy dan si kembar, kamu selesaikan masalah dengan perempuan itu, jangan sisakan dendam sedikitpun,” ucap Cherry sambil mengusap punggung putranya.


Puk...


Tangan Tuan Grape mendarat di bahu putranya,” Mom kamu benar nak, tegarkan hatimu dan hadapilah, jadilah pria sejati, jangan mengambil nyawanya, tetapi biarkan hukum yang melakukannya agar kamu tidak sama dengan dia, tanganmu harus bersih dari darah kematian anakku, karena kamu berbeda dengan mereka, lakukan dengan cara yang menyakitkan tanpa mengambil nyawanya,” ucap Grape.


Damian memeluk kedua orangtuanya, dia bersyukur punya orangtua yang sangat supportive seperti mereka,” Abang serahkan Nana pada kalian, mohon jaga dia Mom, Dad, aku akan segera kembali,” ucapnya yang dibalas anggukan kepala oleh mereka berdua.


Damian keluar dari rumah itu dan bergegas kembali menuju kediaman Fransiskus.


“ Kemari sayang, ikut Mommy, kamu pasti lapar,” Cherry memeluk Nana dengan hangat sama seperti saat dia memperlakukan Hana.


Mereka sudah tahu dalang pembunuhan Hana, dan menyerahkan semuanya pada Damian untuk mengakhiri dendam itu.


“Hai Hana, aku clairene dan ini kak Albimax, semoga kamu betah ya , akhirnya aku punya teman perempuan untuk curhat, senangnya..” seru Clairene sambil menggandeng tangan Nana dengan lembut.


“ Anakku... kamu akan aman dan baik baik saja, tenanglah, semua akan berakhir,” ucap tuan Fransiskus.


.


.


.

__ADS_1


like, vote dan komen 🤗


__ADS_2