Bukan Perempuan Bayaran

Bukan Perempuan Bayaran
BPB : Latihan


__ADS_3

“ Arkhhhh.. sialan....” Rara meringis kesakitan saat tubuhnya menghantam semak-semak di bawah bangunan itu.


“ Arkhhh sialan, seandainya aku banyak latihan dulu aku tidak akan kesakitan seperti ini,” batin Rara.


Dengan cepat wanita itu bangkit dari sana dan membersihkan tubuhnya dari daun-daun kering. Dia berjalan dan menatap ke atas, tangannya masih menggenggam ponsel dan kartu kecil yang persis sama dengan kartu yang dijatuhkan oleh Putri waktu di rumah sakit, dia masih menyimpannya.


Rara berjalan sambil melihat ke kanan dan kiri, tidak ada siapa pun disana, dengan cepat wanita itu berjalan dari sisi bangunan agar tidak terlihat dari atas,” ahhh sial, seharusnya aku menghapus panggilan terjawab tadi,” batin Rara berdecak kesal. Karena terlalu panik dia melupakan hal penting.


Rara mengusap lengannya, beruntung dia memakai kemeja lengan panjang dan celana kulot, luka di kaki dan kedua tangannya tidak terlihat.


Dengan cepat wanita itu memasuki rumah dan berjalan naik ke lantai dua menuju kamarnya. Di saat yang sama Marco dan Daniel berjalan berdampingan dengan tatapan mereka yang dingin dan tajam, tentu saja Rara merasa terintimidasi dengan hal ini. Rasanya sangat menakutkan dan mengerikan tetapi dia tidak boleh kalah.


Jangan sebut dia Clara Madison jika tidak bisa menangani orang seperti mereka.


Rara berjalan dengan tenang persis seperti yang mereka ucapkan menjadi hantu dan bergerak seolah tidak terlihat.


Rara berjalan lurus tepat di antara kedua pria itu. Tidak peduli jika mereka akan lewat dari depannya, Rara berjalan dengan tegap tanpa menyingkir jalan kedua pria itu.


“ Mau apa dia?” gumam Marco dengan tatapan kesalnya.


“ Biarkan saja ,” ucap Daniel.


Rara terus berjalan di sepanjang lorong, Marco dan Daniel menyerngitkan kening mereka saat Rara melewati mereka berdua begitu saja dari antar celah kedua pria itu.


“ Aku tidak akan kalah, “ bisik Rara pelan sambil berjalan dengan wajah terangkat ke atas.


Rara berjalan tetapi ekor matanya menangkap seseorang yang berdiri di lantai satu menatap mereka di atas. Tatapannya kosong tidak bisa diartikan, dia seolah sedang kesal dan tak suka melihat Rara.


“ Apa apaan tatapannya itu? “ batin Rara. Tetapi dia belum mau berburuk sangka, bisa saja orang itu melamun atau sedang kelelahan.

__ADS_1


Dengan cepat wanita itu berjalan menuju kamarnya, lalu menutup pintu .


“ ahrhhhhh akhirnya, sungguh melegakan melewati mereka berdua,” gumam Rara yang akhirnya bernafas lega .


Wanita itu duduk di dekat pintu, dia menarik nafas dalam-dalam agar dia tenang .


Tangannya masih gemetaran dan lecet karena tergores semak-semak diangkatnya ponsel dan kartu kecil itu.


“ Ini persis seperti yang ditinggalkan Putri hari itu, dari mana mereka mendapatkan ini?” gumam Rara. Dia membaca tulisan di kertas kecil itu,” Bar Berlin, Manager Maria? Lambang bunga Dahlia.. sudah lama tidak melihat lambang ini,” gumam Rara.


Dia menghela nafas, tubuhnya sakit, sepertinya dia memang harus melakukan latihan keras untuk mengembalikan kemampuannya yang telah lama tidur.


“ Baiklah ayo kita mulai latihan, tidak akan bisa kita temukan pelakunya jika tubuh ini lemah,” Rara bangkit berdiri dan mengganti pakaiannya. Menguncir rambutnya tinggi ke atas dan mengoleskan salep luka pada lengan dan kakinya.


Rara berjalan keluar dari dalam kamar itu. Dia mengintip ruang terapi putranya.


Rara menatap mereka dengan mata berkaca-kaca, perkembangan dan kesehatan Gege semakin membaik sebab di temani dengan dukungan penuh dari Rara. Setiap malam dan pagi hari dia memijit kaki putranya dan menyemangati terapi yang mereka lakukan. Dokter yang mendampingi Gege selalu diajak konsultasi oleh Rara untuk kebutuhan putranya sampai anak itu benar-benar sembuh.


Sesuai dugaan dokter yang merawat Gege sejak awal, bahwa kaki Gege akan kembali normal saat luka di hatinya sembuh. Rara teringat dengan penyakitnya yang aneh, beberapa waktu belakangan dia tidak mengalami hal yang sama ketika panik, hanya kepalanya saja yang sakit dan berdenyut tetapi suara dentuman keras di telinganya perlahan-lahan membaik.


Rara membiarkan anak anaknya berlatih. Elliot memang mendampingi adiknya dengan baik dan kedua anak itu sangat mandiri terutama ketika kondisi ayah mereka sedang down.


“Gege, kita harus jaga papa, Mama sedang berjuang untuk menemukan pelakunya, Gege harus bisa berjalan supaya menjadi kejutan bagi Papa saat Papa sadar nanti,” ujar anak itu sambil tersenyum.


“ Iya kak, Gege akan berjuang ugh... kaki Gege harus bisa berjalan, “ ucapnya dengan penuh keyakinan.


Dokter yang merawat Gege tersenyum melihat perkembangan anak itu, dia menangkap sosok Rara yang baru saja pergi,” Kedatangan wanita itu memang membawa banyak perubahan bagi tuan Gege, kuharap tuan Richard segera sadar, rumah ini mulai tidak terkendali,” batin dokter wanita itu.


Sementara itu, di luar rumah, di bawah mentari sore hari, Rara sedang berlari mengelilingi lahan luas rumah milik suaminya. Dia berlari untuk melatih pernafasan dan otot kakinya.

__ADS_1


Rara berlatih, semua dia lakukan untuk memperkuat fisiknya karena dia tahu lawan yang dia hadapi saat ini adalah salah satu kelompok dunia hitam terbesar .


Rara berlari, latihan angkat beban, Latihan kecepatan, Latihan menembak, latihan menusuk, semua dia lakukan setiap hari. Hanya satu yang ada dalam pikirannya saat ini, menemukan pelaku dan orang di balik semua kejadian beruntun yang dia dan suaminya alami.


Dia sudah punya dasar bela diri yang kuat, dan tidak pernah dia lupakan hanya saja kekuatannya hanya dipakai untuk memanjat tembok beberapa tahun terakhir sehingga butuh sedikit latihan.


Rara berlarih selama beberapa hari , terus menerus tanpa berhenti. Keringatnya bercucuran membasahi tubuhnya, tubuhnya semakin kuat dan mengingat rasa sakit yang pernah dia rasakan ketika bergabung dengan organisasi.


“Jika ingin bergabung dengan organisasi maka aku harus lebih kuat dan lebih cepat. Huffth kupikir kemampuan ku banyak berkurang ternyata hanya kurang latihan,” gumam Rara yang sedang mengangkat barbel dan melatih kekuatan tangannya.


Wanita itu tidak berhenti, setiap hari dia melakukan latihan, mengurus kedua putranya dan mengurus suaminya. Richard yang tidak sadarkan diri terpaksa harus memakai diapers, dan Rara yang mengganti setiap hari, membersihkan dan memastikan asupan obat suaminya terpenuhi dengan baik.


Tidak ada kata menyerah bagi wanita itu, tidak ada kata bersedih, setelah berlatih, di malam hari dia akan tinggal sejenak di kamar suaminya, diam dan menatap wajah Richard selama satu jam kalu pergi dari kamar itu.


Dia menggunakan semua koneksinya, bekerja sama dengan Hansel dan Eliezer serta Damian dalam mencari tahu siapa dalang kejadian itu. Rara tidak mengumbar pekerjaannya pada Marco dan Daniel, dia bekerja dalam diam dan merahasiakan semuanya dari kedua orang itu.


“ Marco.. dia pasti tahu sesuatu.. sepetinya sudah saatnya kau mengunjungi klub malam itu sekaligus mencari tahu apa yang terjadi pada Putri, “ batin Rara yang duduk di samping tempat tidur suaminya setelah dia membersihkan tubuh Richard.


“ Richard.... cepatlah sembuh.. jangan tidur terus, kau bilang kau mencintaiku tapi kenapa kau tidur? Apa kau tidak kasihan melihatku? Bangunlah.... “ gumam Rara.


Wanita itu menatap wajah suaminya dengan tatapan sendu.


Dia mendekat dan mendaratkan sebuah kecupan lembut di kening suaminya.


“ Aku pergi dulu, nanti aku kembali, ada yang ingin kucari tahu,” pamitnya setelah memperbaiki selimut suaminya.


Rara pergi dengan memakai pakaian kasual, kaos berwarna army senada dengan celana luriknya yang dipadukan dengan sepatu putih serta sebuah topi di kepalanya dengan masker menutup wajahnya.


Jam menunjukkan pukul 9 malam, wanita itu menaiki motor Damian yang dia minta untuk dibawakan ke rumah itu lalu melaju membelah jalanan kota tanpa sepengetahuan siapa pun.

__ADS_1


__ADS_2