Bukan Perempuan Bayaran

Bukan Perempuan Bayaran
BPB: Serangan


__ADS_3

Sungguh waktu adalah hal yang tak bisa ditahan. Baru saja bangun pagi tak terasa hari sudah siang saja. Rara merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal setelah bekerja setengah hari dan sejak tadi dia terus duduk di atas tangga yang sangat tinggi sambil memberikan ukiran detail di dinding rumah milik Damian yang sedang di renovasi.


Perempuan itu menatap jam tangan yang bertengger di tangan kanannya,” jam 1? Wahh cepat sekali pantas saja aku kelaparan...” gumam Rara sambil meregangkan tubuhnya.


“Rara istirahat makan siang, bukannya kau bilang kau mau pergi sebentar?” teriak kepala kru.


“ ahh benar, iya pak Andi , waduh untung diingatkan kalau nggak si mak lampir bakalan marah dan mengomel lagi...” ucap perempuan itu sambil turun dari tangga dengan cara meluncur dan dalam waktu singkat dia turun dari tangga yang sangat tinggi itu.


“ Ya ampun ra. kamu bukan ular.. kenapa turunnya begitu, kalau jatuh lagi berabe Raa...” omel Pak Andi sambil berkancah pinggang menatap anggotanya yang tak terlihat seperti perempuan itu.


“ Yang penting gak jatuh pak..” jawab Rara dengan gamblang sambil mengambil satu goreng pisang yang terletak di meja makanan,” saya pergi dulu bentar lagi balik ya pak..” ucap Rara sambil mengunyah pisang goreng itu , dia berlari dengan cepat keluar dari ruangan itu sebelum pak Andi menjawabnya.


Andi hanya geleng geleng dengan tingkah Rara, perempuan itu sudah seperti adik kecil bagi kelompok mereka, awalnya banyak yang meremehkan Rara, tapi pada akhirnya mereka malah di pimpin oleh perempuan cerewet yang jika bekerja harus super perfeksionis itu.


“ Dasar monyet tembok...” ucap pria itu.


Sementara itu Rara berlari keluar dari lingkungan rumah itu lalu menaiki sepeda motornya dan melaju dengan kencang dari daerah itu menuju jalan ke arah rumahnya.


“ haihhh ayo cepat.. janji ketemu jam 2, harus cepat, “ gumamnya sambil melaju dengan kencang menyalip kendaraan yang ada di depannya.


Rara mengemudi dengan cepat, melewati sekolahan yang dua hari lalu dia dan teman temannya urus untuk acara pentas seni. Melihat areal sekolah, Rara memperlambat motornya, sambil menatap anak anak menggemaskan yang pulang dari sekolah sambil dijemput oleh orangtua mereka, “ seharusnya aku sudah mengantar putraku ke sekolah dan menjemputnya pulang seperti ini, ahhh ... aku merindukannya..." gumam Rara sambil menangis di daam hati.


Tetapi dia teringat kalau dia akan segera melunasi hutangnya, dengan demikian dia akan dengan bebas mencari keberadaan putranya setelah tujuh tahun berlalu.


“ Semangat Ra... kamu bisa...” gumamnya sambil menepuk dadanya sendiri menguatkan hatinya agar tetap teguh demi misi mencari putranya.


Rumah Rara berada di sekitar area sekolahan itu, tak terlalu jauh dari lingkungan sekolah dimana dia bertemu dengan Gege. Dengan mengemudikan motornya pelan pelan dia melaju sambil menatap sekolah itu dengan senyuman indah di wajahnya yang dihiasi dengan lesung pipi yang indah.

__ADS_1


Di saat yang sama Gege sedang menunggu jemputannya di depan sekolah, kali ini ayahnya datang terlambat mungkin karena ada rapat. Gege menatap sekitar, dia tak bisa berjalan dengan bebas, tetapi matanya yang tajam melihat Rara sedang lewat dengan lambat sambil menatap sekolah itu.


“ tante Rara...” gumam anak itu sambil menggenggam boneka pemberian Rara.


Saat semua orang sedang sibuk lalu lalang dari sekolah itu, Gege melihat ke kanan dan kiri memastikan tak ada yang melihatnya. Dia menggerakkan kursi rodanya ke arah luar gerbang, dengan cepat anak itu keluar dari gerbang sekolah tanpa pengawasan para guru maupun satpam.


Gege melihat ke kanan dan kiri, dia dengan cepat berusaha mengejar Rara yang mengemudi dengan lambat, hendak bertemu dan melihat wajah cantik yang membuatnya tertarik sekali lagi.


Namun tak disangka, di saat yang sama, kursi roda Gege di tahan oleh seseorang yang membuat anak itu terkejut,” Siapa?” Gege menolah, dan betapa terkejutnya dia saat melihat seorang pria tak dikenal berdiri di belakangnya dan menahan kursi rodanya sambil tersenyum seolah ingin memakan anak itu.


“ lepaskan kursi roda saya om..”ucapnya dengan suara takut. Wajah orang itu sangat menakutkan, dia hanya menatap Gege sambil tersenyum. Gege sudah jauh dari sekolah dan malah tertangkap oleh pria asing itu.


“ hehehe.. kau bersekolah di tempat itu kau pasti anak orang kaya kan? Aku akan menggunakanmu untuk dapat banyak uang, jangan ribut ya nak.. ikut om diam diam...” ucap pria itu sambil tersenyum dan membekap mulut Gege dengan kain.


Gege menangis, dia hendak berteriak tetapi tak bisa, mulutnya di tutup dengan kain dan kursi roda itu di dorong menuju sebuah mobil sedan hitam yang terparkir tepat di depan Rara yang mengemudi dengan lambat.


“ hemphkkkkrkrkkkk....” Gege hanya bisa bergumam sabil meronta-ronta, karena Membawanya sambil berlari, Gege menggerakkan tubuhnya di atas kursi roda agar dia terjatuh dari sana.


“ hemeppprrkkkkk...” pekikan anak itu terdengar begitu kuat dan...


Brukkk...


Setelah berusaha keras menggerakkan tubuhnya, Gege terjatuh dari kursi roda yang membuat pria asing itu ikut terjungkal ke atas aspal sampai wajahnya lecet karena mencium aspal.


Gege terantuk ke atas jalan, dia menangis sesenggukan sambil menarik pengikat mulutnya,” tante Rara... tolong...” pekik Gege sambil menangis histeris. Di saat yang sama rekan pria asing itu keluar dari dalam mobil hendak mengambil Gege dari jalan tapi mereka kalah cepat, Rara mendengar teriakan Gege, cepat- cepat perempuan itu memutar balik motornya saat dia melihat Gege terjatuh di atas jalanan dengan para pria berbaju hitam dan bertopeng keluar dari mobil hitam di pinggir jalan ingin mengambil anak itu.


“ ya ampun George...” Rara dengan cepat memutar motornya dan..

__ADS_1


Brummmm....


Dia menabrak para pria yang hendak memukul Gege terlihat dari pentungan kayu yang hendak mereka ayunkan ke tubuh Gege.


Dengan tendangan supernya Rara menendang salah satu pria itu lalu dengan cepat menarik Gege dari atas jalan, tubuh Gege yang termasuk ringan dengan tenaga super Rara yang dipepet waktu bekerja sama dan akhirnya dalam sekali tarikan, wanita itu menarik Gege ke atas motor maticnya dan membawa Gege duduk di depan lalu memutar motornya lagi dan menabrak orang orang itu hingga mereka terjatuh di atas jalanan.


“ rasakan itu sialan.. f*ck you bangsat...” teriak Rara dengan cara paling ba bar sambil menaikkan jari tengahnya ke udara saking kesalnya dengan perbuatan mereka pada Gege.


Rara memang bisa bertarung tapi tidak untuk empat orang pria berbadan besar itu, yang ada dia akan jadi korban penculikan juga. Tanpa pikir panjang dia menarik Gege dan melarikan anak itu dari sana.


“ Arhhh sialan,....” Rara masih mendengar teriakan kesal dari orang orang itu. Dengan cepat dan Lihai Rara mengemudi di jalanan itu lalu bersembunyi di balik pohon sambil menatap ke arah jalan dengan ponselnya yang siap dengan kamera,” tahan.... tahan dan...


Ckerek... cekrekk...


Beberapa kali wanita itu mengambil gambar mobil penculik yang lewat itu,” ahhh dapat.. sialan,beraninya kalian...” geram Rara.


“ Tante... huwaa........” Gege menangis lalu memeluk Rara sambil menangis sesenggukan karena terlalu takut dengan kejadian tadi.


“ astaga nak.. aduhh.. pasti sakti ya sayang.. tante disini.. tenang lah tak apa.. hushhhh hushhhh...” Rara memeluk anak itu sambil mengusap usap punggung Gege agar dia tenang,” Kita ke klinik ya sayangya.. kamu terluka, “ ucap Rara. Tetapi dia sadar kalau dia tidak bawa uang sepeser pun.


“ aduh kita ke rumah tante dulu ya.. tante gak bawa uang.. sudah jangan takut , tante akan jaga kamu....


.


.


.

__ADS_1


Like, vote dan komen


__ADS_2