Bukan Perempuan Bayaran

Bukan Perempuan Bayaran
BPB : Monyet Hutan


__ADS_3

“ Yahuuuuuu... selamat pagi duniaaa... good morning evribadehhhhh how are you todayyyyy.. yahuuuuuuu........” Teriakan tarzan mania yang nyasar di perkotaan berhasil membangunkan seisi komplek perumahan elit lingkungan tempat tinggal Richard dan putra kecilnya.


“ Ya ampun anak ini kenapa pagi-pagi buta sudah berteriak seperti monyet lepas dari kurungan...” Max terbangun dari tidurnya dan menutup kepalanya dengan bantal karena mendengar suara teriakan monyet hutan yang baru lepas dari kandangnya.


“ Yahuuuu... Max.. bangun Maxx... Max bangunnn...” teriak Daniel sekuat mungkin sampai membuat Max benar sangat dan tak bisa melanjutkan tidurnya, padahal ini masih jam 5 pagi tapi Daniel sudah membuat keributan di sekeliling komplek itu.


Max menutup kedua telinganya, dia benar benar tidak bisa di buat tidur oleh Tarzan yang sedang menggantung di luar gedung apartemen itu,” akhhh sialan Daniel!! pulang kau... kenapa kau jadi monyet kampret... aku masih mau tidur!!" teriak Max dengan kesal dan marah sambil menendang udara dengan wajah masam karena tidurnya yang tanggung malah diganggu oleh monyet hutan yang berkeliaran di atap gedung apartemen mereka.


Tukk.. tuk.. tukkk


Jari Daniel mengetuk-ngetuk jendela kamar Max sambil tertawa cekikikan dia menggelantung dengan tali tambang yang biasa dia pakai untuk panjat tebing.


Manusia gila yang satu ini selalu membuat resah semua orang dengan tingkah anehnya, entah apa yang sedang dia lakukan disana, tapi seisi komplek dibuat mengamuk dengan kehadiran binatang liar ini.


“ Max bangun max kita manjat tebing ahahhaha.. yuuuhuuuuuuu... ini seru sekali tapi terlalu tinggi arrkhhhhh...” lagi lagi pria itu berteriak dan berayun kesana kemari, apa dia ini sungguh tidak sayang dengan nyawanya sendiri sampai berani bergelantungan di gedung apartemen yang tinggi dan menjulang ke atas itu?


Gedung apartemen yang dihuni Max berseberangan dengan rumah tunggal milik Richard, dia tinggal di apartemen lantai ke 10 sedangkan Daniel dan Damian tinggal di bagian paling puncak apartemen itu, di lantai ke 20 tapi dia malah bergantungan disana seperti monyet yang siap untuk menjemput ajalnya.


“ Max BANGUN.... BANGUN... BANGUN.. OHHH AYO BANGUN MAXX...” teriaknya lagi sambil memukul mukul jendela kamar Max.


Brukk...


“ arkkkkhh sialan kau Daniel... aku masih mau tidur.. “ Max mendekati jendela dan menatap tajam Daniel yang menggelantung dengan seragam koboy yang masih belum dia ganti sama sekali sejak pulang dari acara pentas seni, bibirnya bengkak dan memerah karena kebanyakan makan cabe rawit hasil perkelahian dengan Max semalam, wajahnya berbintik bintik merah karena digigit nyamuk sebab dia berada di luar semalaman hanya untuk mengukur ketinggian gedung apartemen itu.

__ADS_1


“ hehehe.. “ pria itu hanya cengengesan dari luar, dia memanjat ke atas setelah melihat Max bangun. Sementara itu sang designer itu menatap ke bawah gedung, para penghuni dibuat kesal dengan ulah Daniel yang manjat manjat ke atas gedung, bahkan penjaga komplek itu sampai mengumpulkan beberapa orang takut takut kalau Daniel sampai terjatuh ke bawah.


“ Astaga anak ini benar benar meresahkan, “ gumam Max sambil menggaruk kepalanya dengan brutal saking kesalnya dengan ulah Daniel.


Dia menghubungi Damian, tak bisa dia tenang sebelum Daniel turun dari atas, dia menatap lurus ke rumah Richard,” halo Dam.. kau dimana... manusia monyet lagi manjat di gedung lagi, tolong tarik si kampret itu, benar benar meresahkan, kenapa kau tak melihatnya? Kalian serumah tapi kau tak tahu dia dimana?” kesal Max.


Bam.. bamm.. bammmm


“ Astaga kutut kupret... ya ampun Damian... Daniel.. astaga kupikir kalian normal dasar monyet...” Max tersentak kaget saat dua manusia gila itu kini bergelantungan di apartemen mereka sambil melambai lambai ke arah Max dengan senyum sumringah, dikira salah satunya normal, ternyata Max salah besar, manusia yang jadi sahabatnya itu sama sama gila.


“ Ya Tuhan , dosa apa yang kulakukan sampai punya teman segila mereka, apa mereka tak sayang pada nyawanya sampai pagi pagi begini masih sempat sempatnya manjat gedung?” Max habis pikir, dia menatap kedua orang yang sedang berayun menikmati angin pagi yang jelas sangat dingin.


Max mendekati jendela kaca yang tebal itu tapi masih bisa ditembus oleh teriakan super dari Daniel si manusia tarzan berperut karet.


“ ya ampun tak ada yang normal, semuanya gila, mereka ini membuatku kesal arrhhkkkk aku mau tidur...”teriak Max yang langsung menutup tirai jendelanya dan menghamburkan dirinya ke atas tempat tidur, mematikan lampu, memasang penyadap suara, dan menutup kepalanya dengan bantal lalu mencoba untuk kembali terlelap.


“ Sialan,.... terserah kalian mau apa disana, yang penting aku tidur... akhhhh mengesalkan sekali...” gerutu max.


Sementara itu di luar gedung tampak Richard sedang mengikat tali itu ke sisi gedung sambil menatap ke atas, “ Hei kalian ambil dulu anak kucingnya kenapa malah gelantungan woi..” teriak Richard yang kesal dengan tingkah Daniel dan Damian yang malah berayun ke sana kemari di tali tambang itu.


Padahal tujuan pertama Damian dan richard adalah membantu Daniel untuk menyelamatkan tiga ekor anak kucing yang entah bagaimana bisa terjebak di atas bangunan tersebut tanpa sepengetahuan pemiliknya.


" Hahah.. ini menyenangkan Richard, ayo naik ke atas..”teriak Damian sambil tertawa terbahak bahak berayun ke kanan dan kiri.

__ADS_1


“ ya ampun tuan tuan jangan memanjat gedung seperti itu, kalian bisa jatuh..” penjaga apartemen sampai mengomeli mereka tetapi kedua orang itu terlalu nyaman di posisi mereka.


“ Damian cepatlah.. kalian benar benar memalukan..” kesal Richard. Tapi sia sia dia berteriak pada kedua orang itu, tak digubris sama sekai. Akhirnya Richard dengan inisiatif sendiri naik ke atas dan membawa anak kucing itu turun ke bawah.


“ haihh sial.. “ Richard menghela nafas kesal, niatnya olahraga pagi sebelum berangkat ke kantor tapi malah dibuat gila oleh dua orang yang sedang bergelantungan itu.


Dengan membawa anak kucing itu, Richard turun ke bawah,” Pak ini anak kucing bapak kasih nanti sama pemiliknya, sepertinya tidak di rumah lagi, ini sudah ketiga kalinya, benar benar menyebalkan,”ketus Richard. Setelah menyerahkan anak itu, dia berlari ke rumahnya.


Damian dan Daniel hanya tertawa menatap langit yang masih gelap sambil memandang lingkungan itu dan menghirup udara pagi yang segar.


“ Mereka ini benar benar orang gila yang tinggal di apartemen ini, tapi kalau gak ada perusuh gak seru juga sih.. aneh aneh saja..”gumam penjaga lingkungan komplek itu.


Sementara itu, Richard masuk ke dalam rumah, dia segera membersihkan dirinya untuk berangkat ke kantor setelah mengantar putranya ke sekolah.


Sementara itu di dalam kamarnya, Gege sudah bangun dan bersiap siap untuk pergi ke sekolah, aktivitas mereka sudah dimulai dengan kesibukan masing masing. Dengan polosnya Gege menaruh boneka kecil itu di atas meja sambil mengusapnya dan tersenyum,” semoga kita bisa bertemu lagi..” gumam anak itu.


Tanpa dia sadari, Richard menintipnya dari balik pintu, jelas Richard lihat senyum indah tergambar di wajah putranya,” sebenarnya perempuan seperti apa yang membuat putraku sampai tersenyum bahagia seperti ini? Selama ini dia sangat sulit dekat dengan wanita lain, apa yang terjadi? Apa dia di pelet? Ahh tak mungkin tapi...kalau iya bagaimana? Waduhh bisa bahaya...” batin Richard yang mulai mengarang berbagai kemungkinan yang sedang dialami putranya sampai anak menggemaskan itu terpikat dengan benda kecil itu.


.


.


.

__ADS_1


Like, vote dan komen


__ADS_2