
Richard masuk ke dalam kobaran api, dengan nekat pria itu berlari ke dalam rumah itu. Entah apa yang membuatnya kehilangan akalnya memasuki rumah yang sudah dilalap dengan rakus oleh si jago merah.
Kecil jadi kawan besar jadi lawan, kekutan api itu menghancurkan rumah yang ditinggali Rara selama ini.
POV RICHARD
Aku melangkahkan kakiku hanya untuk menemui risiko terbesar yang mungkin bisa menghadapkan ku kepada kematian. Dengan ringan aku berlari memasuki kobaran api yang membakar habis rumah kayu itu.
Ada hal yang aneh dalam hatiku kala aku mendengar wanita itu dalam bahaya, kala aku mengetahui bahwa dia terjebak dalam kesukaran.
Lucu memang, aku hanya sekali bermalam dengannya, tetapi wajahnya, suaranya dan karakternya setelah melihat bagaiman dia mengurus putraku berhasil menarik perhatianku.
Entah perasaan apa yang kurasakan saat ini, tetapi mataku dan hatiku tertuju padanya.
Aku masuk ke dalam kobaran api tanpa mempedulikan bahwa aku mungkin bisa mati!
Satu satunya yang ada di dalam pikiran ku adalah menyelamatkan istri, ya wanita yang sudah sah menjadi istriku, dan tanggung jawabku. Mungkin ini konyol, tetapi aku berharap hubungan kami lebih baik ke depannya, dan mematahkan kesombongan manusia tidak tau diri di luar sana.
POV END
Richard mencari dimana gerangan posisi Rara. Dia menatap ruangan yang penuh dengan asap dan kobaran api yang menghancurkan semuanya dengan lahap.
" Rara!!!" Teriak James, tetapi tidak ada yang me menyahut sama sekali.
" Uhuk... uhuk... Rara dimana kau!!!" pekik pria itu.
Dia mencari kesana kemari, sulit berjalan diantara bongkahan kayu yang panas dengan. bara api yang memerah .
Dia berjalan dengan cepat menuju kamar, satu satunya kamar di rumah itu.
Tangannya memegang engsel pintu, Ceshhhhh..... Panas dan membakar menyerang telapak tangannya saat dia menyentuh benda itu.
" Sialan!!" umpat Richard.
Dengan keberanian besar, dia mendobrak pintu kamar itu.
Brukk.... Brukkk....
Brakkkk.....
Tiga kali mendobrak, dia berhasil merobohkan pintu kayu itu. Kepulan asap yang sangat pekat keluar dari ruangan itu. Richard melangkahkan kakinya memasuki ruang itu dengan berusaha tetap fokus dan mencari keberadaan wanita itu.
" Rara!!" panggilnya lagi.
" To.. long... uhuk... uhuk.... uhuk..." Dari isi tempat tidur terdengar suara minta tolong oleh Rara.
__ADS_1
Pria itu berbalik dan melihat tangan Rara berusaha menggapainya.
" Ahhhkkk... ayo.... aku akan membantumu!!!" ucapnya dengan sigap langsung menggendong tubuh Rara dan berlari keluar dari dalam ruangan itu.
Richard memeluk erat tubuh Rara demikian dengan wanita itu. Dengan cepat sebelum atap rumah roboh, Richard berlari keluar menembus api sekalipun kakinya terkena bara api yang sangat panas, terjatuh tepat di atas paha kanannya.
" Akhhhr... sialan..... " Gumam pria itu .
Tak butuh waktu lama, Richard keluar dari dalam ruangan dengan membawa Rara.
" Richard, kau baik-baik saja!???" Max dan Marco terlihat panik, mereka langsung membantu Richard membopong Rara.
" Mana ambulancenya, akhh... uhuk... uhuk... kita ke rumah sakit!!!" ucap Richard.
Rara dimasukkan ke dalam mobil ambulance, sedang Richard duduk di dalam mobil yang sama dengan wanita itu sambil terus mendampingi Rara yang pingsan Karne kehabisan oksigen. Dia menghirup terlalu banyak asap dan membuatnya sesak nafas. Tangan dan kakinya terluka karena api yang membakar pakaiannya.
"Dokter tolong Pastikan istri saya selamat, jangan sampai ada bekas luka di tubuhnya, pastikan dia selamat dok!!!" Richard terlihat panik dan khawatir, dia sampai mendesak dokter yang langsung dipanggil untuk menangani Rara.
"Tenanglah tuan, kami kan melakukan yang terbaik!" ucap dokter perempuan itu.
Srakkkk....
Kaos Rara di robek karena sudah terbakar di beberapa sisi, betapa terkejutnya dia kala melihat tubuh Rara penuh dengan bekas luka, sebelumnya dia tidak terlalu memperhatikan, tetapi semangat jelas kalau tubuh wanita itu dipenuhi dengan bekas luka.
" Bekas lukanya banyak sekali..." ucap sang dokter yang juga terkejut.
" Selamatkan dia, kumohon..." ucap Richard yang dalam sejarahnya tidak pernah sampai memohon seperti itu pada seseorang.
Dokter tersebut mengangguk paham dan melakukan tugasnya dengan baik.
Beberapa saat kemudian mereka tiba di rumah sakit, Rara langsung dilarikan ke ruang gawat darurat sedang Richard juga langsung ditangani di ruangan lain.
Tangan dan kedua kakinya melepuh karena api. Tetapi pria itu tenang seolah tidak terjadi sesuatu pada dirinya.
Rara ditangani dengan baik oleh para dokter, sementara itu, Marco memasuki ruangan dimana tuannya sedang duduk setelah diobati oleh dokter.
" Tuan muda, ada yang mencurigakan dengan kebakaran di rumah nona Rara, kami menemukan tutup botol berbau bensin, bukan hanya satu, tetapi ada tiga di berbagai sisi, sepertinya ada yang mengincar nyawa nona Rara," jelas Marco dengan pelan.
Richard terbelalak kaget mendengar berita ini,siapa lagi yang mencoba menyerang Rara!? Farhan tidak akan mungkin berani mengusiknya lagi, lalu siapa yang menjadikan gadis itu sebagai target!??
" Siapa pemilik rumah itu?" tanya Richard.
" Nona Irene tuan, gadis itu... yang dulu...
" Hmmm aku tau, cari tahu apa yang terjadi, temukan siapa pelakunya dan selidiki tentang Irene, " jelas Richard dengan tegas dan datar.
__ADS_1
" Baik tuan muda!" jawab Marco dengan tegas.
Richard menatap kosong ke seisi ruangan itu, ternyata wanita yang sudah sah menjadi istrinya, diincar oleh banyak orang.
"Tidak bisa dibiarkan, hak ini akan merugikan ku dan Gege, aku tidak bisa diam saja dengan kejadian ini!!" Richard mengepalkan kedua tangannya.
Betapa malang nasib Rara, semua kejadian buruk datang secara bersamaan dan menjatuhkan wanita itu.
Tetapi tampaknya, senyuman di wajah cantik nan manis dengan lesung pipi itu tidak akan mudah pudar, pasalnya Rara sudah kembali sadar dan tersenyum dengan lembut pada perawat yang menjaganya.
" Terimakasih, aku sudah baikan," ucap Rara yang dibalas anggukan oleh perawat itu.
Tanpa sadar, Richard sudah berdiri di pintu sambil berpangku tangan menatap Rara dengan tatapan aneh .
"Wahhh kau ini manusia apa bukan!? sudah terluka tapi masih bisa kau tersenyum seperti itu, apa kau gila karena kebanyakan menghirup asap!??" ucap Richard.
Rara menoleh ke arah pria songong yang berjalan ke arahnya. Tubuh Richard juga dibalut dengan plester dan itu berhasil membuat Rara merasa bersalah .
"Tuan... terimakasih, tapi anda jadi terluka karena saya," ucap Rara.
Richard mengangguk," hmmm kau benar, aku terluka karenamu, jadi kau harus membayarnya rawat dengan baik!" celetuk Richard.
perawat yang ada di dalam ruangan itu pelan pelan keluar sambil terkikik geli melihat tingkah keduanya
"Eh bayar??? aku belum punya uang," ucap Rara dengan wajah cemberut.
"Rawat aku!" ucap Richard dengan wajah sombongnya menatap Rara.
"Tapi kan ada perawat, kenapa harus aku yang merawatmu?" tanya wanita itu.
"Akhh.... tanganku sakit, ini semua karena menyelamatkan ku, apa kau tidak mau tanggungjawab hah!?? ini sangat sakit!!!" tiba-tiba pria itu merengek seperti bocah, seandainya Damian, Max, Marco dan Daniel melihat ini, marak pasti akan syok dengan sikap Richard.
Rara bahkan sampai menganga saat mendengar pria itu merengek seperti anak kecil.
"Ba..baiklah, tapi jangan merengek seperti itu, kau sudah dewasa, apa kau tidak malu!?!" sindir Rara dengan tatapan meledek.
"Ekhhmmm... pokoknya ya begitu!" ucap Richard.
"Akhhh sialan, kenapa aku jadi bersikap manja di depan wanita itu, ya ampun... ada apa denganku!!!!"
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 🤗