
Tentu saja Marco, Daniel dan Damian dibuat bingung dengan ucapan Rara. Pasalnya mereka tidak membahas harta di kamar Rara tadi.
" Ada pengkhianat, dia mencuri dengar informasi dari kita, sepertinya akan berguna untuk menjebak balik orang-orang sialan itu!" bisik Rara.
Mereka bertiga saling menatap, Rara selalu saja satu langkah lebih cepat dibandingkan dengan mereka Darah mafia itu sepertinya telah melekat di tubuh Rara.
"Darimana kau tau ?" tanya Damian.
Rara menunjuk Pak Dono yang selalu siap sedia dalam keadaan apa pun menjaga dan memastikan semua aman bagi mereka.
" Ahh pak Dono, pria aneh yang selalu ada di mana-mana," celetuk Daniel.
"nanti kita bahas dia, sekarang kalian bertiga ikut aku!" Rara menarik tangan mereka menuju ruangan kerja lalu menutup pintu rapat-rapat.
Mereka kini berada dalam ruangan Rapat yang hanya bisa diakses oleh orang-orang yang dipercaya, bahkan penyusup itu pun tidak sadar kalau ada ruang rahasia tempat berdiskusi disana.
" Emm begini aku...
" Rara, Aku minta maaf," Marco berdiri tegap dan membungkuk meminta maaf pada Rara atas semua ucapan yang dia lontarkan pada Rara.
" A..aku juga, maaf telah salah paham padamu, ku pikir kau orang jahat, aku... aku hanya takut kehilangan Richard," ucap Daniel yang juga dengan malu-malu meminta maaf pad Rara.
Pukk... Pukkk...
" Arkhhh ...
" Sudahlah kakak kakak bawel, itu hak yang wajar karena Richard sangat penting bagi kalian, tapi jangan kelewat batas ya, aku juga punya kesabaran," ucapnya sambil mencengkram bahu kedua orang itu.
"eghmmm.. baiklah, akan kulakukan,'" jawab Marco menahan sakit di bahunya.
" Arrkhhh Rara bahuku bisa lepas, kau mau ganti rugi kalau ini rusak!? sakit tau!!!!" kesal Daniel merengek kesakitan di depan mereka.
" Iya mau ku patahkan biar sekaligus gak punya lengan saja!" ucap Rara sambil mengangkat tangannya hendak menggenggam bahu Daniel lagi.
" Arrkhhh.... nggak mau, jangan sentuh aku nenek sihir!!!" teriaknya kesal..
" Hahaha.... dasar bocah, " ejek Rara.
" Jadi apa yang mau kau bicarakan?" tanya Damian.
" Kak, aku akan tunjukkan pada Richard kalau Papanya adalah iblis bertanduk di balik sosoknya sebagai seorang ayah.
__ADS_1
" Bagaimana caranya? Richard sangat mempercayai tuan Fransiskus, dia tidak akan percaya semudah itu," ucap Daniel.
" Kita lakukan seperti ini.....
Rara menjelaskan rencananya pada mereka semua. Sebuah cara yang sangat berisiko tetapi akan mengakhiri semuanya diantara mereka. Supaya setidaknya mereka bisa menjalani hidup yang normal.
Rara telah mengaturnya dan memulai permainannya sejak dia masuk ke bar Berlin hari itu.
"Aku tidak setuju!!" Damian menolak usulan Rara dengan tegas, dia terlihat marah dengan ucapan Rara.
" Tapi kak ,ini satu satunya cara," bujuk Rara.
" Tidak, ini terlalu beresiko Rara, kau bisa terluka jika tidak berhati-hati!" balas Daniel .
" Maka dari itu aku akan berhati-hati, ini satu satunya cara yang paling cepat,, aku akan gila melihat si bodoh yang sedang berbaring di kamar itu malah dipermainkan oleh Papanya sendiri!!" kesal Rara sambil menggeretakkan giginya menatap mereka bertiga.
Ketiganya mengangguk setuju," Kau benar dia bodoh!" ucap mereka.
" Haiguhhh.... puffftthhhhh menyebalkan, bisa gila aku seperti ini akrrhrhrh....." Rara mengacak-acak rambutnya sendiri, kesal dan marah bercampur jadi satu.
" Sabar neng, orang sabar di sayang Tuhan, banyak rejeki, jangan marah melulu, maklumi saja si Richard, dia gak ketemu bapaknya tujuh tahun, disitu ketemu malah di jebak dan sekarang dapat berita begini, dia mana bisa terima," celetuk Damian sambil berbaring di atas sofa menaikkan kedua kakinya ke atas.
" Tapi caramu terlalu ekstrim, apa kau tidak takut ?" tanya Marco heran.
Marco paham, Kekejian tuan Fransiskus bahkan tidak seberapa dengan Yamamoto si pria berdarah dingin dan tidak segan memenggal kepala orang yang berkhianat padanya,.
"Tapi apa yang terjadi antara kakak dengan Yamamoto? kalian satu grup dulu? " tanya Rara heran.
" Bukan apa-apa, hanya masa lalu," jawab Marco singkat tak ingin mengungkit luka lama yang dia tidak ingin ingat lagi.
Rara paham, kehidupan dunia bawah memang sangat berat.
" Ya sudahlah, saatnya menarik perempuan itu dari penyamarannya, aku tidak sabar melihat wajah asli saudara tiri Richard," ujar Rara.
Rara beranjak menuju kamar suaminya. Tidak peduli Richard marah atau tidak dia akan terus mengganggu suaminya.
" Hei manusia robot sudah selesai marahnya!?" celetuk Rara sambil membawakan makan malam untuk suaminya.
Richard cuek, dia tidak menjawab, dia masih kesal dengan Rara.
" Ya elah macam bocil aja si bapak, ngambek boleh tapi...
__ADS_1
Rara duduk di kasur dan menarik kepala Richard untuk menatapnya," Lihat aku kalau aku bicara Richard, atau aku juga akan benar benar membuat keonaran!" ucapnya pelan.
" Lepaskan, aku masih marah!" kesal Richard.
" ohhh masih marah ya, sini makan dulu, buka mulutmu," Rara menyendok makanan ke mulut suaminya.
" Biar aku sendiri," kesalnya.
" Ck... menurut dan makan ini dasar bebal!" ejek Rara.
" Kamu yang bebal, kenapa mengatai Papa seperti itu Ra? emangnya apa yang kamu tahu tentang Papa!? " Richard akhirnya mengungkapkan kekesalannya.
"Hmm...gak tau apa-apa,"
" Nah itu, lalu kenapa kamu nge judge Papa begitu, aku gak suka!" tegas nya.
" hummm aku paham, tapi apa kamu tahu pasti bagaimana kehidupan anak preman ini? kenapa kamu nge judge kami yang hidup di lingkungan preman hmm?" Rara mencolek hidung suaminya.
Richard terdiam, dia juga sadar dengan kesalahannya," Ya... maaf..."
Rara tersenyum, ini yang dia suka dari sifat Richard, dia pria yang mudah diajak komunikasi ketika mereka berselisih.
" Sudahlah jangan pikirkan apa pun, sekarang kamu makan dan kita terapi, cepatlah sembuh, " ucap Rara," Dan aku akan menunjukkan bagaiman sebenarnya Papa mu itu," lanjutnya di dalam hati.
" Maaf ya, aku membentakmu tadi, aku terlalu marah, Papa bukan orang seperti itu Ra, dia orang yang sangat baik, kamu pasti akan paham saat bertemu langsung dengannya," ujar Richard sambil menggenggam tangan istrinya.
Rara mengangguk saja, dia tersenyum dan membalas genggaman tangan suaminya," Bagaimana perasaanmu nanti jika kamu tahu siapa sebenarnya Papa mu Richard, aku takut hatimu akan terluka, tetapi jika hidup dalam kebohongan dan keselamatan anak-anak juga terancam, aku tidak akan bisa membiarkannya terjadi Richard," batin Rara yang menahan air matanya sekuat mungkin.
" Aku tidak ingin melihatmu menderita tetapi aku tidak mau kamu ditipu oleh pria itu, belum jelas apa motifnya, tetapi sesuai ucapan Yamamoto, Papa kamu adalah dalang di balik semua ini, dan kenapa aku sangat percaya dengan Yamamoto, karena dia memang orang yang baik, tidak seperti yang orang pikirkan tentang dia," batin Rara.
" Ra... kenapa melamun? masih marah?" tanya Richard.
" iya, aku marah karena kamu pendek akal! hoisshhh dasar manusia robot bodoh, kamu rusak ya? ganti baterai dulu, install perangkat dulu, biar balik normal lagi!! " celetuk Rara sambil mencubit lengan suaminya.
"Ahhh Ra sakit tau....
" Biarin, biarin kamu kesakitan, dasar menyebalkan....."
.
.
__ADS_1
.
like, vote dan komen 🤗