Bukan Perempuan Bayaran

Bukan Perempuan Bayaran
BPB : Runcing bak Mata Pisau


__ADS_3

Bagai di serang penjajah, Rara harus menurut dengan semua perintah Richard dan itu tertuang dalam pasal-pasal pernikahan yang tidak dibaca oleh Rara sebelum menandatangani dokumen itu.


Dia sudah menduga bahwa Richard adalah orang yang selalu menunjukkan bahwa dirinya mendominasi. Tetapi ekspektasinya jauh, Richard lebih menyeramkan dari apa yang dia pikirkan.


Tak dia sangka, kalau manusia robot yang sudah jadi suaminya itu malah mencurigai Irene yang jelas adalah gadis baik menurut Rara.


" Apa yang kau lihat belum tentu apa yang sebenarnya, Kau mungkin melihatnya sebagai seorang penolong dan sahabat yang baik, tapi siapa yang tau hati serakah manusia? " Kata-kata itu bak ledakan bom di telinga Rara, sangat tajam dan tegas.


Padahal Rara dan Irene sudah berteman lama, tidak mungkin perempuan itu melukai Rara.


" Apa aku harus mencurigai sahabatku sendiri!? tapi atas alasan apa? dia yang selalu ada di dekatku, dan aku yakin dia bukan orang seperti yang kau pikirkan tuan," balas Rara dengan tegas.


Richard mengangkat bahunya," Aku tidak memintamu tidak percaya pada sahabatmu, suatu hal baik kalau kau yakin dan tau sifat orang yang ada di sekitar mu, tapi aku bukanlah dirimu, demi keamanan putraku, aku akan mencurigai semua orang yang ada di dekatmu," tukas Richard sambil duduk dan berpangku tangan di kursi di samping brankar Rar.


Tatapan mata yang tajam itu, lagi-lagi bagaikan sebuah pedang yang dihunus dan siap untuk menebas kepala wanita itu. Sangat menakutkan dan mengintimidasi.


"Bagaimana? bisa??" tanya Richard sambil menaikkan satu alisnya. Bertanya dengan nada dingin dan suaranya yang berat.


Glekkk.....


Rara menenggak salivanya," Ba..baiklah..." Jawabnya singkat.


Richard duduk dan membicarakan rencana selanjutnya dengan Rara. Tentu saja percakapan kedua manusia ini terdengar sangat dingin. Baik Rara maupun Richard tidak terlihat ada aroma ketertarikan satu sama lain.


Justru Rara merasa tidak nyaman dengan pria itu sedang Richard, entahlah~ siapa yang tau isi pikiran manusia robot itu.


Sementara itu, Irene terus mengintip mereka dari luar. Dia sama sekali tidak diperbolehkan masuk oleh pengawal yang berjaga di depan pintu kamar Rara.


Gadis itu beberapa terlihat menggigit bibir bawahnya, dia hanya mondar mandir disana bak setrika listrik. Padahal tubuhnya tinggi bak tiang listrik tapi pikirannya dangkal bak air sungai.


" Apa yang mereka bicarakan disana!? dan sejak kapan Rara dekat dengan Richard!? kenapa ku tidak tau sama sekali, kenapa mereka bisa sedekat itu!? padahal aku?? aku sudah mendekati Richard sejak sekolah dan kenapa dia malah dekat dengan Rara yang jelas tidak saling mengenal!??" batin Irene.


Lagi lagi tangannya menggaruk pergelangan tangan nya sampai lecet.


Jelas sekali perbedaan sifat Richard pada Irene dengan sikap Richard pada Rara. Jika Richard berbicara pada Irene jelas dia hanya menjawab dengan seadanya dan tak mau menatap gadis itu, tapi ketika berbicara dengan Rara, seluruh perhatian Richard tertuju pada wanita itu. Tak segan segan menyentuh dan menatap mata Rara dengan dalam.

__ADS_1


Jika orang lain berpikir itu biasa saja, maka semua orang yang ada di dekat Richard akan paham perbedaan interaksi Richard dengan perempuan lain jika dibandingkan pada Rara.


" Bisa minggir sedikit? kami mau masuk," Suara dingin seseorang berhasil membuat gadis itu terkejut. Dia menoleh dan mendapati wajah seram berambut gondrong bak ketua kelompok mafia dengan jenggot tipis dan kumis halus di rahangnya. Wajahnya memang tampan tapi tatapannya mematikan seperti tatapan ular berbisa.


Irene sampai menenggak kasar salivanya saat melihat wajah dingin dan menyeramkan itu. Tubuhnya tinggi dibalik dengan kemeja putih yang jelas menunjukkan otot tubuhnya yang kekar dan besar, alisnya tebal dipadukan bibir yang sedikit lebih tebal dan hidung mancung dan runcing bak mata pisau.


Tampan sekaligus menyeramkan disaat yang sama.


" Si..silahkan," jawab Irene dengan suara terkejut, dia berjalan mundur dan memberi jalan pada orang-orang yang baru tiba itu. Marco pria dengan tangan penuh luka jahitan itu berjalan dengan Max di belakangnya. Hanya menatap lurus ke depan tanpa menoleh pada Irene yang jelas syok melihat dua pria tampan dengan tubuh kekar dan tinggi bak Goliath si raksasa.


" Siapa mereka!? apa Rara punya utang lagi!?? kenapa ada rentenir disini!???" gumam Irene dengan wajah syok.


" Sadar nona, kami bukan rentenir, jaga ucapanmu!" bisik Max yang menunduk dan berbisik tepat di telinga Irene.


dug...dug... dug....


Bak mendapat bisikan setan, jantung Irene berdegup kencang kala mendengar suara Max yang dingin dan tajam menusuk. Tak pernah dia temukan pria dengan suara sedingin ini.


Marco dan Max masuk ke dalam ruangan itu meninggalkan Irene disana.


Irene berjalan meninggalkan ruangan perawatan Rara dengan wajah kesal karena tidak diperbolehkan masuk ke ruangan sahabat nya sendiri, berbagai pertanyaan tentu timbul di kepala dokter ahli bedah saraf itu. Tapi nyatanya dia tidak bisa masuk karena ruangan yang dijaga ketat.


" Rara diam diam punya koneksi sama orang orang aneh, " batin Irene.


Gadis itu berjalan sambil menendang angin. Wajahnya cemberut dan direktur dengan kesal. Berjalan sambil menunduk sampai tak sadar kalau dia mengganggu orang lain.


Brukkk....


Gadis itu malah menubruk seseorang yang berjalan ke arah ruangan Rara juga," Perhatikan matamu, jalan pakai kaki, mata dipakai melihat ke depan!" senggak Daniel dengan tatapan Badas ke arah Irene. Tatapan mata yang sangat berbeda dengan dirinya yang biasanya ceria dan gila.


Irene terkejut, suara itu bahkan lebih menyeramkan dari suara Max yang berbisik di telinganya tadi. Mimpi buruk apa yang dialami gadis itu sampai bertemu tiga pria misterius dan aneh.


Satu bak ketua mafia, kedua bak CEO misterius dan yang ketiga seperti seorang psikopat berdarah dingin.


Daniel berjalan dengan santai sambil memutar-mutar kunci di ujung jari telunjuknya seolah tidak terjadi apa-apa barusan.

__ADS_1


Irena hanya menganga menatap pria itu masuk ke dalam ruangan Rara. Benar benar di luar dugaan.


Sementara itu, Daniel membuka pintu ruangan kamar inap Rara dan berteriak " Hello everyone!!!" Seru Daniel sambil melambai-lambaikan kedua tangannya seraya tersenyum ceria sambil menatap teman-temannya yang mulai jengah dengan tingkah absurd manusia yang satu itu.


" mulai lagi, Nggak Damian nggak si curut ini, sama - sama mengesalkan!!" ketus Max sambil menyipitkan kedua matanya menatap Daniel.


Rara menatap orang-orang itu dengan tatapan terkejut, untuk apa mereka datang malam malam ke kamarnya, belum lagi hanya dia seorang perempuan disana.


" Halo nona cantik? senang bertemu denganmu!" ucap Daniel sambil mengambil tangan Rara dan...


Cup....


Dia mengecup punggung tangan wanita itu seolah sedang memberi salam ala pangeran dan putri kerajaan.


Plakkkk...


Hantaman dari telapak tangan Richard si robot membuat punggung Daniel berdenyut tak karuan. Suaranya sangat renyah dan rasanya sangat sakit.


" Arrkhhhhhhhh cicakkkkk sakit kampreetttt!!!!!" teriak Daniel sambil melompat lompat kesana kemari karena ulah Richard.


" Pfthh....hahhahaha... dasar Tarzan mania, makanya jangan sembarang mencium orang!!!" ucap Max yang malah menertawakan Daniel.


"Kenapa kau memukulku sialan!!!" Daniel berdiri menatap Richard dengan tatapan menantang.


Dengan tatapan datar di menoleh ke arah Daniel," Karena kau mencium tangan istriku bodoh!!" ucap Richard tanpa emosi sama sekali.


" A... apa!?????"


.


.


.


like, vote dan komen 🤗

__ADS_1


__ADS_2