Bukan Perempuan Bayaran

Bukan Perempuan Bayaran
BPB : Putih Bak Porselen


__ADS_3

Setelah menghabiskan satu jam di ruangan inap Rara, Richard dan teman-temannya beranjak keluar dari dalam kamar itu dan meninggalkan ruangan Rara yang tetap diawasi dengan penjagaan ketat.


Tak ada yang tau apa yang mereka bicarakan di ruangan itu, yang pasti sebuah rencana besar sedang mereka rancang untuk menjatuhkan keluarga Fransiskus yang berani bermain-main dengan keluarga Richard.


Mulai saat ini, Richard akan bertanggungjawab penuh atas apa yang terjadi pada Rara. Itu janjinya pada wanita itu selama dia menjadi ibu yang bertanggung jawab untuk putranya George.


" Apa kau yakin Chard? kau sudah penuh pertimbangan kan!? kau tidak putus asa mencari ibu kandung George sampai kau memilih sembarangan wanita jadi ibu sambung anak itu kan!?" tanya Max tak yakin dengan keputusan Richard.


" Sembarang? apa menurutmu aku seperti itu Max?" tanya Richard dengan tatapan dinginnya.


" Yahhh siapa tau, kau ini kan manusia aneh, tak bisa ditebak, tau-tau sudah menyiapkan semua ini bersama psikopat itu!" celetuk Daniel seraya melirik Marco yang hanya berbicara seadanya.


" Aku akan mengurus urusanku, aku tau apa yang sedang kulakukan Daniel, aku bukan anak-anak," jawab Richard sambil mempercepat langkahnya meninggalkan Max dan Daniel disana.


Kedua pria itu saling menatap dan mengangkat bahu mereka masing-masing. Richard memang sedingin itu.


Richard berjalan dengan santai, penampilannya tidak menunjukkan bahwa dia orang penting, dia berjalan seolah dia tidak punya apa-apa padahal perusahaannya adalah perusahaan terbesar di negeri ini.


Mereka berjalan di lobi rumah sakit, tiba-tiba suara berisik seorang perempuan membuat telinga Richard terganggu.


" Wah... wah... Wahhh.. apa kau bekerja sebagai pengawal sekarang setelah hidup jadi gelandangan?? tak kusangka aku pernah berkencan dengan pria gelandangan seperti dirimu, cuihhh.... untung saja aku menikahi Presdir Fransiskus Group!" ucap Giselle, mantan kekasih sekaligus istri kakak tiri pria itu.


Richard melihat wanita itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Jelas penampilan nya dipermak habis. Dia sedang menggandeng tangan putranya yang berusia sama dengan George anak Richard.


Wajah anak itu pucat bak porselen, tatapannya sendu dan wajahnya murung. Terlihat tidak sehat dan termasuk kurus untuk anak seusianya. Padahal pertumbuhan anak Richard sangat pesat, bocah itu sangat sehat dan tubuh tinggi.


" Lama tidak bertemu Richard, anak perempuan bayaran!" James merangkul pinggul istrinya dan melambaikan tangannya sambil menatap Richard dengan tatapan merendahkan.


Richard hanya diam, dia mengepal kedua tangannya dengan begitu keras, terdiam dan menatap mereka dengan tatapan tajam.


Max, Daniel dan Marco masih menunggu dan tidak ikut campur. Ketiga orang itu jelas tau siapa kedua manusia tak beradab di depan mereka.

__ADS_1


Tatapan mata Daniel mengatakan segalanya, bahwa dia tau apa saja yang dilakukan oleh kedua manusia itu.


" Presdir Fransiskus!? sejak kapan kau memegang jabatan Papa, dan kenapa kau memegang jabatan itu, ada hak apa kau !?" sindir Richard dengan tatapan sinis.


Padahal tujuh tahun lalu yang diserahkan pada James hanyalah salah satu anak perusahaan, tetapi sekarang pria itu menjadi pimpinan Fransiskus Grup yang berarti seluruh wewenang dari semua anak perusahaan mereka ada di tangan James.


" Hah... tentu saja, suamiku yang tampan dan cerdas ini, yang punya ahlak mulia tidak seperti manusia kotor seperti dirimu, akan segera diangkat menjadi Presdir, manusia rendahan seperti dirimu tidak akan pernah menginjak kekuasaan seperti yang dipegang oleh suamiku!!" ucap Giselle dengan nada sarkas dan penuh sindiran.


Di belakang, tiga manusia itu sudah terdiam sambil mengeraskan rahang masing-masing saat mendengar ejekan dari kedua orang itu.


" Sialan, haruskah kucincang mereka sekarang!?? aku benar benar ingin menyembelih kedua manusia ini, grrhhhh manusia manusia tidak tau diuntung, beraninya mengusik tuan muda ku!!!" batin Marco dengan tatapan berapi-api menatap mereka.


Jika bukan karena kode dari tangan Richard, dia sudah melabrak mulut berbisa kedua manusia itu.


Richard hanya menatap mereka dengan tatapan datar lalu beralih pada putra James dan Giselle yang terlihat tenang dan malah tersenyum menatap Richard dengan wajah pucatnya itu.


" Jangan tersenyum ke sembarang orang Ray, apalagi dengan manusia rendahan ini, kita tidak sama dengan manusia kelas bawah seperti dia!!!" bentak Giselle sambil mencengkram lengan putranya dengan kuat.


" Diamlah, atau kau ku kurung di kamar mandi lagi, dasar anak nakal!!" geram Giselle sambil menutup mulut anak itu.


Hal ini jadi sorotan di mata Richard dan teman-temannya, betapa terkejutnya mereka melihat cara Giselle memperlakukan darah dagingnya sendiri.


Jelas penampilan Giselle dan James sangat sehat dan bugar, tapi anak itu terlihat sakit-sakitan.


" Sebaiknya kita berangkat Richard, ada meeting jam 10 malam ini, aku tidak bis membuang waktuku dengan mendengar ocehan sampah masyarakat, kita pergi!"Suara Marco yang besar dan berat menghentikan pembicaraan mereka.


Richard tentu terkejut tapi Marco memainkan perannya dengan baik. Dia bertingkah seolah dia adalah atasan Richard dan sudah jadi rencana Richard sejak awal.


" Ba..baik tuan muda, silahkan sebelah sini!" ucap Richard sambil membungkuk hormat lalu memberi jalan pada Marco dan kedua temannya.


Marco Berjalan dengan langkah besar," Kalau sampai kudengar mulut kalian menghinanya lagi, aku tidak tau anak perusahaan kalian yang mana yang akan ku boikot, nantikan saja, dasar sampah tidak berguna!" Sekali memberi serangan, Marco langsung berbicara pada intinya dengan tatapan datar dan super dingin.

__ADS_1


James dan Giselle bahkan dibuat tak berkutik dengan ucapan mengintimidasi dari pria menyeramkan dengan banyak bekas luka itu.


" Hei kau manusia rendahan, dia siapa!??" James menahan tangan Richard dan menatapnya dengan tatapan tajam.


ptass....


Dengan kesal Richard menghempaskan tangan pria itu dan membalasnya dengan tatapan tak kalah menakutkan dari Marco," Presdir Abraham Group kalau kau tau bajingan, aku pasti akan mengambil apa yang jadi hakku, termasuk Papaku!!" ucap pria itu.


Richard dan yang lainnya beranjak dari sana meninggalkan James dan Gisela dengan mulut menganga sebab tak percaya dengan apa yang baru saja mereka hadapi. Namun sebelumnya dia menatap Ray dengan tatapan tidak biasa, wajah anak itu terlihat familiar tetapi sulit dikenal karena terlalu kurus," Anak ini, kenapa aku merasa ada sesuatu yang aneh," batin Richard sambil mengusap jantungnya yang berdebar kencang.


Richard benar benar berubah jadi pria misterius. Tetapi, di mata mereka dia masih saja manusia rendahan, anak dari perempuan bayaran sesuai ucapan kakek dan nenek dari pihak ayah Richard.


" Jangan dengarkan ucapannya sayang, dia hanya membual saja, sebaiknya kita cepat membawa anak sialan ini dan mengobatinya, jika tidak, kakek dan nenek serta si tua bangka itu akan mengomelimu lagi!" ketus Giselle.


" Salahmu juga yang memberinya susu basi, kau tau mereka sangat menyayangi anak ini, tapi kenapa kau berikan susu basi, kau ini seorang ibu Giselle, setidaknya perhatikanlah kesehatan putra kita!" tegas James dengan wajah kesal karen Giselle tak menunjukkan sikap yang baik sebagai seorang ibu.


" Cihh.... sudah ku bilang waktu itu, aku tidak menginginkan anak, tapi kau memaksaku mengandung bocah sialan tukang mengadu ini, merepotkan saja!!!" Gisele berjalan cepat dan menarik tangan Ray dengan paksa.


" Tu..tunggu Ma...kepala Ray..


" APA LAGI!!! DASAR ANAK SIALAN, KAU MEMBUAT KU KESULITAN SAJA!!!" bentak wanita itu, bahkan sampai membuat semua orang menatap ke arah mereka.


Ray terdiam dengan tubuh gemetaran, James merasa kesal dengan istrinya, sebelum jadi pusat perhatian dia menggendong Ray dan membawa anak itu dari sana," Ayo cepat, kau membuat semua orang memperhatikan kita, dasar ceroboh!!" kesal James.


" Grrrhhhh dasar anak sialan, anak pungut sialan, jika bukan karena keguguran, aku tidak akan mengambilmu, manusia sialan!!!!" batin Giselle sambil mengepalkan kedua tangannya.


.


.


.

__ADS_1


like, vote dan komen 🤗


__ADS_2