
Ray terdiam, dia berusaha bangkit dari kasurnya. Dengan tubuh lemah dan bantuan Richard dia duduk di atas brankar sambil menatap mereka bertiga. Terutama Rara yang menatap Ray dengan tatapan penuh kesedihan.
"Orangtua? Tapi kata mereka Ray dijual karena Ray membuat susah, Ray anak pembawa sial, kenapa kalian memungut Ray lagi? Bu..bukannya Ray...
" Siapa yang mengatakan itu!?" Rara tidak bisa menahan dirinya lagi. Akhirnya tangisannya pecah di depan mereka semua.
"Tidak ada yang membuang kamu nak, Mama... Ma..Mama kehilangan kamu, maafkan Mama tidak bisa menjaga kamu dengan baik, hiks hiks hiks.... Mama yang teledor sampai kamu diculik dan dijual oleh orang jahat itu, kamu... Hiks hiks hiks... Aarhhhh maafkan Mama... Mama yang salah...Mama memang tidak berguna, menjaga kamu saja Mama lalai, ibu seperti apa Mama ini, menjaga kalian berdua Mama tidak bisa hiks hiks hiks...maafkan Mama Ray, Gege..."
Rara menangis tersedu-sedu.
Sesak sekali rasanya dada Rara kala mendengar ucapan putranya yang begitu menyayat hati. Tetapi kata-kata itulah yang disampaikan Giselle padanya sehingga mentalnya rusak karena ulah mereka.
Ray turut menangis saat mendengar penjelasan Rara. Wanita itu menatap Ray dengan berlinang air mata seolah menyampaikan bahwa selama ini dia mencari Ray tetapi tidak ada yang bisa dilakukan wanita itu.
Dia tidak ingin membuat orang lain kesulitan, belum lagi dia melahirkan anak di luar nikah. Jika dia meminta tolong entah apa yang akan orang lain katakan tentang anak-anaknya. Rara tidak masalah dihina, tetapi jika sampai anak-anaknya juga turut dihina, lebih baik dia diam dan mencari dengan usahanya sendiri.
Ray duduk dan menatap mereka satu persatu. Buliran air mata mengalir di kedua pipi anak itu. Yang dia ketahui tentang dirinya adalah dia dibuang oleh orangtua kandungnya, dijual dan diadopsi oleh perempuan gila yang hanya ingin memanfaatkan dirinya untuk menutupi aib yang ditanggung wanita itu.
“ Mama yang salah, Mama tidak bisa menjaga kalian...
“ Rara, berhenti menyalahkan dirimu, kita tidak bisa mengendalikan apa yang akan terjadi pada kita, semua sudah di tentukan yang di atas, jangan sekalipun menyalahkan dirimu, yang harusnya disalahkan adalah mereka, orang-orang yang tidak bertanggungjawab memisahkan kita berempat,” ucap Richard.
“ Nak, maaf baru bisa menemukanmu sekarang, tetapi semua kini sudah kembali pada tempatnya, ini Papa, maaf kalau hari itu Papa tidak mengenali dirimu, ini Mama kandung kamu, dan dia adik kembarmu, kalian kembar tak seiras,” jelas Richard.
Air mata Ray tidak lagi terbendung, dua anak sungai mengalir dengan deras dari kedua pelupuk mata anak itu. Dia menangis sesenggukan dan menatap mereka semua.
“ hiks hiks hiks.... Ray... apa Ray berhak menerima semua ini? Kata mereka Ray hanya anak pembawa sial, apa kalian tidak akan tertimpa kesialan kalau merawat Ray?”
Rara menghamburkan pelukannya pada Ray, dia menangis sesenggukan sambil memeluk putra pertamanya,” tidak sayang, kamu pantas menerima semua ini setelah apa yang terjadi pada kamu, maafkan Mama, maafkan Mama yang nggak sanggup mencari keberadaan kamu selama ini,”
__ADS_1
“ Jadi Ray sekarang punya keluarga? Ray diterima?” dia masih belum berani memeluk Rara. Belum pernah sejarahnya dalam tujuh tahun dia hidup, dia dipeluk dengan begitu hangat seperti saat ini.
“ Iya nak, kamu punya keluarga, kamu punya Papa dan Mama juga adik kamu Gege,” ucap Richard sambil mengangkat tubuh Gege dan mendudukannya di samping Ray.
Mereka berpelukan sambil menangis sesenggukan. Pertemuan mengharukan yang tidak disangka akan terjadi. Semua berawal dari acara sekolah Gege yang mempertemukan anak itu dengan Rara hingga sekarang mereka berkumpul kembali.
Rara memeluk anak-anaknya sambil menangis, hatinya yang dulu dingin, kesepian dan hancur kini telah diganti menjadi hati yang lebih kuat, hati seorang Ibu yang harus berjuang melindungi anak-anaknya dan memberikan kasih sayang yang tulus menggantikan tahun tahun yang sudah mereka lewati tanpa kasih sayang seorang Ibu.
“ anak-anak Mama, terimakasih sudah bertahan sampai saat ini sayang, Mama bahagia bertemu kalian,” ucap Rara sambil mengecup kening kedua putranya bergantian.
Ray dan Gege tersenyum, tangan kecil mereka mengusap air mata Rara dengan lembut sambil menangis haru. Richard menatap keluarga kecilnya. Ini menjadi babak baru dalam kehidupannya yang lengkap.
Dia memeluk mereka, memberikan kecupan pada kedua putranya,” anak-anak Papa hebat, mari kita jalani hidup yang bahagia mulai saat ini nak, Papa berjanji akan memberikan kebahagiaan pada kalian,”ucap Richard.
Gege dan Ray mengangguk sambil tersenyum. Ray tidak pernah menyangka kalau setelah dia keluar dari rumah penuh siksaan bagai neraka itu, dia akan bertemu dengan keluarga kandungnya yang ternyata sangat menyayanginya.
Hati seorang anak begitu sensitif. Mereka dengan mudah bisa merasakan kasih sayang yang tulus dari orang baru yang mereka temui. Ray, jelas merasakan hatinya terpenuhi. Rasa haus dan laparnya bak dikenyangkan dan dipuaskan dengan pertemuan mengharukan ini.
Tangannya mengusap lembut pipi Rara sambil tersenyum,” aku tahu,mungkin ini terlambat, tetapi terimakasih sudah melahirkan mereka untukku dan bertahan sejauh ini Ra,” ucap Richard.
Richard tahu perjuangan Rara, melahirkan tanpa dampingan seorang suami atau keluarga, mengurus kehamilannya sambil bekerja tetapi dia melahirkan dua anak yang sangat berharga meski harus terpisah selama tujuh tahun lebih.
Rara menangis sambil mengulum bibirnya. Dia tidak tahu harus mengatakan apa saat ini, tetapi rasanya campur aduk. Antara sedih dengan waktu yang terbuang, senang karena pertemuan ini dan terharu dengan berkumpulnya keluarga kecil itu.
Cup....
Sebuah kecupan lembut mendarat di kening Rara. Tanpa ada keraguan, tanpa ada rasa segan, Richard mengecup kening Rara untuk pertama kalinya sebagai tanda hubungan mereka akan lebih dekat setelah ini.
“ Mari kita rawat mereka dengan tulus, kita limpahi mereka dengan kasih sayang Ra, aku akan berusaha membuat kalian bahagia setelah semua yang kita lalui,” ucap Richard.
__ADS_1
Rara mengangguk sambil menangis sesenggukan.
Sekali lagi mereka berempat berpelukan dengan hangat. Mereka sadar kalau ini bukan akhirnya, tetapi awal dari perjalanan mereka sebagai sebuah keluarga.
Di balik pintu masuk ruangan rawat inap, empat manusia super kepo sedang mengintip dengan kepala yang berjejer di pintu. Marco, Daniel, Max dan Damian mengintip mereka dari luar dengan mata berkaca-kaca saat melihat Richard dan Gege tersenyum dengan bahagia.
“ Ahhh sudah lama rasanya aku tidak melihat si cicak tidak tersenyum sehangat itu, dia kembali teman teman, si cicak akhirnya bisa bahagia,” ucap Daniel yang masih setia dengan cemilannya , sambil mengunyah sambil menangis.
“ kau benar, tapi kenapa kalian bertiga menimpaku seperti ini, kalian pikir tidak berat hah?” Marco menatap ketiga orang itu dengan tatapan masam, pasalnya mereka menimpa tubuh Marco.
“ tahan saja,” ucap mereka asyik menatap ke dalam, belum lagi Damian di posisi paling atas dengan semangat mengabadikan foto keluarga baru itu.
“ kalian berat.. arkkhhh awasss...” geram Marco dengan cepat menarik tubuhnya dari ketiga pria itu dan...
Gedubrakkkk...
“ Arrkrhhhhhh Marco!!”
Terjatuh dan saling bertuburkan satu sama lain dengan posisi Daniel paling bawah. Semua manisannya berhamburan ke lantai karena tiba tiba Marco keluar dari susunan para tuyul itu.
“ rasakan itu,” kesal Marco.
Di saat yang sama, Irene yang memakai pakaian pasien, baru saja keluar dari ruang konsultasi dengan psikiater, dia terkejut ketika melihat Marco di rumah sakit itu.
“ Bukannya dia presdir Abraham grup? Kenapa dia disini?” pikir Irene sambil menggaruk garuk pergelangan tangannya yang sudah lecet.
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen