Bukan Perempuan Bayaran

Bukan Perempuan Bayaran
BPB : Rakus


__ADS_3

Richard menarik tangan Rara menuju taman rumah sakit dengan sebuah kantongan plastik yang dia tenteng di tangan yang lain. Rara menatap tangan Richard yang menggenggamnya dengan erat tanpa ragu barang sedetik pun.


Rara terlihat lelah, dia menjaga Ray dan memastikan anak itu makan dengan baik. Terkadang karena pengaruh obat Ray muntah-muntah, demamnya naik turun dan merintih kesakitan karena luka luka itu.


Hal ini menyebabkan Rara kurang tidur dan kelelahan. Dia memberikan seluruh fokusnya pada Ray dan Gege sampai melupakan kalau dirinya itu manusia bukan robot.


“ Kita mau kemana?” tanya Rara bingung.


“ ikut saja, “


Pria itu membawa Rara duduk di bawah pohon besar yang ada di sudut taman rumah sakit, “ kau belum makan sejak pagi kan? Makanlah dulu,” ucap Richard.


Rara sedikit tersentuh, dia pikir Richard tidak memperhatikan dirinya yang memang belum makan sejak bangun pagi.


“terimakasih,” ucapnya.


Dengan lembut Richard membukakan kotak makanan itu dan menjejerkan beberapa hidangan yang dimasak pelayan di rumah untuk mereka,” aku juga belum makan,” ucap Richard.


Mereka berdua makan dalam diam di bawah pohon rindang itu. Rasanya Rara sangat lapar sampai tanpa sadar dia menghabiskan semua hidangan. Melihat itu Richard tersenyum dan mengisi mangkuk makan Rara dengan daging yang banyak,” makanlah, kau butuh tenaga,” ucap Richard memberikan miliknya pada Rara.


“ ehh ma.. maaf aku tidak sadar, aku sangat lapar..” ucap Rara tidak enak.


“ Makanlah, tidak apa.” Ucap Richard.


“ terimakasih,”


“ Ra sebaiknya kita bawa Ray berobat, kita butuh dampingan psikiater untuk anak itu, traumanya sangat besar, aku takut akan mempengaruhinya di masa depan nanti,” ucap Richard.


Rara menatap Richard sejenak,” aku setuju, aku akan mengumpulkan uang untuk itu, mulai besok aku akan bekerja bersama kak Damian lagi, setidaknya bisa membantu pengobatan Ray,” ucapnya dengan polos.


“ kau pikir aku kekurangan uang sampai kau harus bekerja mencari uang untuk mengobati Ray? Ayolah jangan menilaiku seperti itu Ra...” ucap Richard.


“ Ehh tapi sejak awal kan aku sudah bilang tidak akan memberatkanmu, aku harus bekerja untuk anak-anakku dan kebutuhanku,” ucap Rara.


Richard memutar malas kedua bola matanya, dikira hubungan mereka sudah lebih dekat, nyatanya Rara masih memasang batas diantara mereka seolah pernikahan mereka adalah pernikahan kontrak.


“ Dasar bodoh, terserah kau mau apa,” kesal Richard smabil beranjak dari sana.


Rara memiringkan kepalanya, dia bingung dengan maksud Richard,” pria ini kenapa lagi sih? Dasar aneh, kubilang akan bekerja dia malah marah, dasar bodoh,” ejek Rara.


“ummm ini enak,” gumam Rara sambil menghabiskan semua hidangan itu dengan lahap.


Richard berjalan dengan wajah kesal,” sial, bagaimana cara mendekati wanita ini, kenapa aku jadi pria bodoh saat di depannya, berpikir Richard, kau itu suaminya, kau harus mendominasi,” batin pria itu sampai tidak sadar kalau dia menubruk tubuh Damian yang sedang berkeliaran di sekitar rumah sakit mencari cari seseorang yang sejak tadi dia awasi.

__ADS_1


“ Hei kau jalan pakai mata, kenapa seperti orang bodoh...” kesal Damian yang belum melihat Richard.


“ Dam?”


“ Ehh si cicak, kau sedang memikirkan apa? Sampai tidak melihatku,” Damian memicingkan matanya menatap Richard.


“Kau yang sedang memikirkan apa sampai menabrakku,” kesal Richard.


Damian menekuk wajahnya,” sadar cicak, siapa yang menabrak siapa yang kau tuduh, mengesalkan sekali,” ketus Damian.


“ Ck... “ Richard menatap Damian sambil berpikir. Sejenak kedua pria itu berdiri disana,” Damian, bisa beri trik mendekati perempuan? Wanita itu sangat sulit dimengerti, “ kesal Richard sambil melirik Rara yang masih makan dengan lahap di bawah pohon.


Wajah Damian berubah jadi wajah menggoda sambil menaikturunkan alsinya dia menoel noel lengan Richard,” Kau mau mengajaknya main mainan dewasa ya...” goda Damian sambil mengedipkan sebelah matanya .


Bughhhh....


“ Sialan dasar otak mesum, salah besar aku menannyakan hal itu padamu,”


Tentu saja sebuah penyesalan besar menanyakan hal itu pada pria yang otaknya diisi dengan hal hal mesum setiap saat.


“ ahhahaha ayolah Richard, itu hal lumrah, semua orang dewasa apa lagi yang sudah pernah melakukannya pasti langsung ketagihan apalagi kau sudah membuahkan dua anak kau pasti penasar.... arkhhh hempkkkkkk... lphaskan... ciiicakkk...


“ Omes sialan, dasar kau ini, otakmu memang tidak jauh dari hal hal mesum ya, mengesalkan sekali, sana kau kampret!" Richard menutup mulut Damian dengan tangannya dan menendang bokong pria itu lalu pergi dari sana dan meninggalkan Damian yang kesakitan.


Damian menatap kepergian Richard, sedetik kemudian tersadar kalau dia barusan sedang mengikuti Irene yang terlihat mencurigakan.


Mengendap-endap mengikuti Rara dan Richard seperti pencuri .


“ Sialan, dimana pembuat onar itu,” kesal Damian.


Tidak menemukan Irene, dia melangkahkan kakinya mendekati Rara,” Wahh tidak bagi-bagi, aku kelaparan tahu,” ucap Damian yang langsung duduk dan menyambar sisa makanan Rara.


Mereka sudah sering berbagi makanan dan makan dari tempat yang sama apalagi saat ada kerja proyek yang membutuhkan tenaga besar.


" Kau rakus sekali Monyet tembok, kenapa tidak mengajakku makan,” ketus Damian.


“ Dasar Omes, kau yang berkeliaran seperti cicak di rumah sakit ini, makanlah aku juga terlalu kenyang,” ucap Rara .


Damian melahapnya dengan senang hati.


“ Apa kau melihat Irene disini? Dia tadi mengikutimu dan Richard,” ucap Damian.


“ Apa? Irene disini?” Rara yang belum tahu keberadaan Irene terkejut saat mendengar ucapan Damian.

__ADS_1


“ kau tidak tahu? Apa Richard tidak bilang apa apa?” tanya Damian dan dibalas gelengan kepala oleh Rara.


“ terserahlah, dia disini dan mengenakan pakaian pasien, tadi aku masih melihatnya mengikutimu dengan Richard,” ucap Damian yang fokus dengan makanannya.


“ Kenapa dia mengikuti kami? “


“ Apa kau tidak tahu hubungan Richard dan Irene?”


“ Tidak, apa mereka punya hubungan.... spesial?” tanya Rara sambil menaikkan sebelah alisnya tidak yakin.


“ Irene dan Richard dulu bersekolah di SMA yang sama, dengan Daniel juga. Rumornya dulu Irene adalah perempuan populer di sekolah, dia menyukai Richard sejak SMA dan bisa dikatakan dia terobsesi dengan suamimu, apa kau tidak tahu itu?”


“ Tidak, aku baru mendengar hal itu, tapi aku memang tahu kalau Irene punya seorang pria yang dia sukai, tidak kusangka kalau pria itu Richard,” ucap Rara.


“ Wahhh jadi kau tidak tahu banyak tenatng Richard padahal dia tahu semua tentangmu, apa kau tidak pernah bertanya,” tanya pria itu.


“ tidak, buat apa?” balas Rara dengan polosnya.


Damian tidak lagi heran dengan jawaban Rara. Dia memang sedingin itu pada pria bahkan suaminya sendiri.


“ Dasar bodoh!" ketus Damian sambil mengetuk kepala Rara.


“ apa isi kepalamu ini hanya memanjat tembok? Hanya dekor ruangan? Hanya anak anakmu? Apa kau tidak penasaran dengan Richard?” kesal Damian smambil mengetuk-ngetuk kepala Rara.


“ awhhh sakit kak, untuk apa aku tahu semua itu? Lagian kan hubungan kami hanya sebatas ini, lagipula aku sudah menemuan anak-anakku, itu sudah cukup tidak perlu yang lain,” ucap Rara.


“ ughhh kau ini sangat tidak peka ya, awas kau menyesal nanti Richard di rebut oleh perempuan lain,” kesal Damian.


“ Memangnya butuh apa lagi kak? Toh kami hanya...


Tiba-tiba ucapan Rara berhenti kala seseorang berlari sambil berteriak dan menusuk lengannya dengan pisau bedah.


Jleebbb.... craaakkkkkk....


“Beraninya kau menikahi Richard dasar perempuan murahan!!!”


.


.


.


Like, vote dan komen

__ADS_1


__ADS_2