
Di ruangan kamar Gege, Rara menatap anak itu sambil mengusap wajah Gege yang terlelap setelah makan malam di kamar karena Gege ingin menghabiskan waktu berdua dengan Rara.
Tangan wanita itu mengusap lembut Surai hitam sang putra. Lesung pipi yang persis seperti miliknya dan wajah tampan yang turun dari ayahnya.
Air mata Rara masih belum berhenti, dia tidak menyangka kalau ini memang terjadi pada dirinya, kalau Gege adalah putra yang dia cari selama ini.
"anakku sayang, maaf nak...." lirih Rara dengan penuh penyesalan, padahal kejadian itu sama sekali di luar kendalinya.
Di saat yang sama, Richard masuk dengan berpura-pura tidak tau apapun soal hubungan Rara dengan Gege. Seolah dia tidak tau kalau Rara adalah ibu kandung putranya.
" Apa dia sudah tidur?" tanya Richard dengan pelan, di tangannya ada minyak aromaterapi yang sering dia pakaikan untuk putranya sebelum tidur.
Rara terperanjat, dia bangkit dan menatap Richard yang baru masuk dengan tatapan kosong. Jika Gege putranya, maka pria yang malam itu merenggut kesuciannya dengan cara yang gila adalah Richard, orang yang berdiri di depannya saat ini.
" Tidak apa-apa, berbaringlah, dia akan terbangun nanti," ucap Richard pelan.
Pria itu duduk di ujung kasur lalu membuka selimut Gege. Menuangkan minyak pijat dan aromaterapi ke telapak tangannya lalu memijit kaki putranya dengan lembut. Hal yang selalu dia lakukan dengan rutin sebagai bentuk terapi untuk merangsang saraf kaki putranya.
Rara menatap pria itu, dia heran dengan Richard yang seolah tidak tau apa-apa," Apa dia tidak tau atau pura-pura tidak tahu!??" batin Rara.
" Apa yang kalian bicarakan tadi? kenapa kau menangis?" tanya Richard pelan.
Rara menenggak air matanya dan mengusap wajahnya yang sembab lalu duduk tegak sambil memperbaiki selimut putranya.
Rara menatap Richard," Apa kau tau dimana ibu kandung putramu?" tanya Rara pelan.
Pertanyaan Rara sukses membuat pria berbadan kekar itu berhenti memijat kaki Gege sejenak seolah dia sedang mengelola pertanyaan Rara," Kupikir dia akan langsung bilang, wanita ini sangat berhati-hati ternyata," batin Richard.
"Aku mencari Ibunya, perempuan yang kabur setelah membuang putraku di depan kantor tujuh tahun yang lalu!" jawab Richard dengan gamblang.
"Aku tidak mem..." Hampir Rara berteriak, sontak dia melirik Gege yang tiba bergerak Karena suara berisik.
Richard melanjut pijatannya, senyum setipis kain sutra tergambar di wajah tampannya tanpa disadari oleh Rara.
"Dari mana kau tau kalau dia dibuang? apa kau melihatnya membuang anak ini?" tanya Rara pelan, tetapi Richard masih bisa merasakan amarah dalam kalimat wanita itu, seolah ingin mengatakan bahwa dia tidak membuang putranya sendiri.
" Apa urusanmu? dia putraku, kenapa kau ikut repot memikirkan ibu yang membuangnya, ibunya tidak menginginkannya, jadi aku merawatnya dengan baik sampai sebesar ini, cukup jalankan saja peranmu dengan baik!" ucap Richard.
" Siapa bil....
__ADS_1
" Shuuuttttt....." Richard menaruh jarinya di depan bibir sambil menatap Rara dan melirik Gege.
Rara terdiam, dia sangat ingin tahu kebenaran tentang apa yang terjadi di masa lalu, tentang bagaimana putranya bisa bersama Richard .
" Nanti saja bahasnya, tunggu dia tenang dahulu," ucap Richard.
Rara mendengus, dia mengangguk setuju, Tidak ingin dirinya mengganggu tidur putra kecilnya yang sangat dia sayangi.
Beberapa menit mereka berdua menemani Gege dalam ruangan itu. Rara berpindah ke samping Richard dan menuangkan minyak itu ke tangannya,"Apa yang kau lakukan?" tanya Richard.
" Apa kau tidak bisa lihat?" bisik Rara dengan nada sarkas.
Richard terkejut dengan sifat Rara, benar kata Damian kalau sifat wanita itu bagaikan Guntur di siang bolong, tak tau kapan tenang dan kapan mengamuk.
Rara dan Richard memijit kaki putra mereka dalam diam sampai keduanya tersentak kaget saat mendengar gumaman anak itu.
" Pa... Jangan usir Mama... Gege sayang Mama.... Jangan usir Mama... Gege mau hidup bareng Papa dan Mama...." gumam anak itu itu.
Tangan Rara dan Richard berhenti sejenak, keduanya gemetar saat mendengar racauan tidur anak itu. Mungkin karena terlalu khawatir, Gege sampai terbawa mimpi.
" Siapa yang mau mengusir Mama kamu nak, Papa tidak akan melakukan itu," batin Richard.
Richard menghentikan pijatannya dan menutup kaki Gege dengan selimut.
Dia berdiri lalu beranjak mengecup kening putranya.
Tangannya yang kekar langsung menarik tangan Rara dari atas tempat tidur. Lampu tidur dinyalakan dan Gee ditinggal di kamar itu.
" Kita bicara!" ucap Richard sambil menarik tangan Rara setelah menutup pintu kamar putranya.
"Lepaskan aku, kenapa tidak bicara disini saja!?" tanya Rara.
"menurut saja!" ucap Richard dengan nada dingin yang berhasil membuat Rara terdiam.
Sementara itu di lantai tiga, tiga genderuwo dengan wajah bonyok sedang menatap Richard dengan tatapan penasaran. Mata mereka mengikuti langkah kedua orang itu dengan tatapan penasaran.Daniel bonyok karena berkelahi dengan Marco.
" Wow mereka mau malam pertama!!" celetuk Damian.
Pletak....
__ADS_1
" Otakmu itu gak bisa mikirin yang lain selain ranjang Dan!?" kesal Max.
" Gak main gak tenang hidupku bestiee..." celetuk Damien seraya mengedipkan sebelah matanya.
" sialan!!" umpat Max.
" Hahahha... bentar lagi kita akan makan makan !!" seru Daniel yang sedang mengunyah tahu sambal pedas yang dia bawa beserta wadahnya.
Max memutar malas kedua bola matanya dan menatap Daniel yang tida bisa lepas dari makanan.
" Dan kau, apa otakmu tidak bisa berhenti memikirkan makanan hah!? kau makan terus tapi tidak gemuk-gemuk, lari kemana makananmu !???" tanya Max.
" Ke perut, kalau gak makan gak hidup Tangan gila, kau juga tak bisa hidup kalau tidak mendesain kan?? " tanya Daniel dengan nada sinis sambil menyenggol lengan pria itu lalu pergi dari sana sambil melahap semua tahu pedasnya.
" Apa hanya aku yang normal!??" mata pria itu membulat sempurna.
Sementara itu, di sisi lain negeri itu. Irene baru saja keluar dari rumah sakit setelah mendapatkan hasil pemeriksaan medis yang dia lakukan.
Dia dinyatakan mengidap OCD ( Obsessive Compulsive Disorder) atau dengan kata lain Gangguan Obsesesif Kompulsif tingkat menengah berdasarkan gejala yang dia alami saat ini.
Mudah panik, sering memikirkan hal yang sama berulang-ulang, berganti pikiran berkali-kali dan memiliki motif berulang.
Irene menggaruk pergelangan tangannya dengan keras, sampai memerah dan lecet, salah satu ciri-ciri yang paling banyak dia tunjukkan.
" Hahahha... nggak mungkin!!!" ucap gadis itu yang sedang duduk di dalam mobilnya.
" Hahaha.... kenapa aku? kenapa harus aku!?? yang OCD itu Rara bukan aku, hahaha....." Teriak gadis itu dengan mata berkaca-kaca.
" Hiks hiks hiks...Raaa... tolong aku... aku tidak mau begini, aku takut!!!!!" gumamnya lagi yang tiba-tiba berperilaku aneh.
" Tidak, aku akan merebutnya darimu Ra, aku harus bahagia kan!? hah...kenapa... kenapa kalian bersama!!!!!!" geramnya lagi.
Masih menjadi rahasia besar alasan Irene mengidap penyakit ini, tetapi yang pasti, semuanya dimulai oleh trauma di masa lampau.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen.