Bukan Perempuan Bayaran

Bukan Perempuan Bayaran
BPB : Ray 3


__ADS_3

“ Foto apa?” tanya Rara sambil menoleh dan menatap ponsel Richard.


“ Lihatlah,” ucap Richard memberikan benda pipih itu kepada Rara.


Rara menatapnya, lalu tiba-tiba saja tangannya gemetaran kala melihat foto anak bayi itu, foto bayi yang jelas dia kenali jelas ingat dan terpatri dalam pikirannya.


Seketika tubuh Rara menegang, matanya mulai menganak sungai, dia menatap Richard denagn tubuh gemetaran,” i.. ini? Da.. darimana ka..kau dapatkan? Di.. dia kembaran Gege, kakaknya Gege...” lirih Rara sambil menangis menatap Richard.


Hela nafas berat terdengar dari bibir pria itu, dia memijit kepalanya, merutuki dirinya sendiri karena tidak langsung mencari tahu sejak dulu soal anak Giselle dan James padahal dia sudah tahu kalau Giselle itu wanita licik.


“ Sialan!" umpat Richard sambil memukul kemudi mobilnya.


“ Apa kau menemukan dia? Di.. dimana dia ... dimana dia sekarang? Anak ku yang malang?” tanya Rara.


Richard menatap wanita itu, dengan lembut dia menggenggam tangan Rara,” dia adalah Ray, anak yang kita lihat dalam peretasan CCTV tadi,” jelas Richard dengan suara lemah.


“ A.. apa? Ti.. tidak.. anakkku dipukuli oleh wanita wanita sialan itu? Beraninya mereka!!" pekik Rara histeris.


Hati ibu mana yang tidak sakit saat menyaksikan secara langsung bagaimana mereka memperlakukan putra yang telah hilang dari dirinya selama ini.


“ Ayo kita menjemputnya Richard, dia anakmu juga, ayo kita jemput dia hiks hiks.. aku tidak bisa membiarkan putraku seperti itu...” pekik Rara yang menangis histeris.


Richard juga terpukul, dia menarik Rara ke dalam pelukannya,” tenanglah, kita cari dia sekarang, Daniel sudah mengirimkan lokasinya padaku” jelas Richard.


“lokasinya? Maksudmu? Apa dia tidak di rumah itu lagi?” tanya Rara sambil mengusap air matanya dan menatap Richard.


Pria itu menggelengkan kepalanya,” tidak, dia dibuang, kita akan melaju kesana, aku akan meminta Pak Dono menjemput Gege dari sekolah nanti, kita mengejar putra kita dulu,” ucap Richard sambil menepuk bahu Rara.


“ Ayo cepat, aku tidak ingin terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi padanya, lihat saja, akan kubalas perbuatan mereka semua pada anak anakku, tak akan ku beri ampun, siapa pun itu!!” geram Rara smabil mengeraskan rahangnya.


Richard tahu hati Rara terluka dia tahu kalau saat ini Rara sedang dalam keadaan buruk, tetapi aura wanita itu benar benar menakutkan ketika dia marah, sangat berbeda dengan Rara yang dia lihat sebelumnya.

__ADS_1


“ Tenanglah, kita temukan putra kita dahulu,” ucap Richard sambil menggenggam tangan Rara dengan lembut dan meyakinkannya bahwa semua akan baik baik saja.


“ Apa boleh kupinjam ponsel mu?” tanya Rara.


“ Boleh, untuk apa? Pakailah,” ucap Richard.


“ Aku akan memberi sedikit pelajaran pada wanita sialan itu, aku tidak peduli entah dia berbada dua atau tidak, jika dia tidak punya hati memukuli putraku maka aku tidak punya hati untuk memandang janinnya itu, mata di ganti mata dan gigi diganti gigi...” ucap Rara dengan serius.


Kali ini, Richard sangat terkejut dengan aura Rara yang sangat berbeda, aura pembunuh yang siap mencabik cabik semua musuhnya.


“Tunggu dulu, apa yang mau kau lakukan? Kau tidak boleh melukai orang lain, itu... itu terlalu beresiko,” ucap Richard.


“ kenapa? Apa kau tidak tega karena dia mantan kekasihmu? Kau masih punya hati padanya sampai kau melupakan putramu hampir mati di tangan jal4ng sialan itu? Atau kau...


“ Hentikan Rara, darimana kau tahu semua itu!? dan satu lagi, aku tidak punya perasaan apa pun lagi pada wanita itu, dan jangan pernah bahas dia di depanku, atau kau benar benar mengajak perang denganku Clara Maddison!!" geram Richard.


Rara hanya terdiam, dia terbawa kekesalannya, dia sangat marah karena anaknya dilukai oleh wanita lain, belum lagi perempuan itu adalah mantan kekasih suaminya. Rara mengetahui hal itu dari penjelasan singkat Daniel di ruang kerja tadi saat mereka menatap Nyonya Siska dan Giselle melukai anak itu.


“ Aku tidak ingin kau terlibat masalah yang lebih besar, kita akan memulihkan anak anak kita, sampai mereka sehat dan pulih kembali jangan terlibat dengan kekerasan, aku tidak tahu jaringan dan koneksimu seperti apa di luar sana, tetapi kumohon, demi anak-anak jangan terlibat kekerasan yang akan merugikanmu,” ucap Richard dengan nada yang tenang.


Dia berusaha agar percapakan diantara mereka tetap berjalan dengan tenang dan baik karena mereka harus membesarkan anak-anak mereka.


Rara melirik pria itu, satu hal lagi yang Rara dapatkan ketika mempelajari sifat Richard, dia adalah orang yang mudah tenang dan tegas. Dia orang yang penuh perhitungan dan memiliki prioritas utama untuk di dahulukan, tidak bertindak gegabah demi mengurangi risiko yang mungkin akan terjadi.


“ fuhhhhh... maaf, aku salah,” ucap Rara pelan sambil meletakkan ponsel Richard.


“ aku ingin menghubungi beberapa gangster yang kukenal di luar sana untuk memberi sedikit pelajaran pada wanita sialan itu, tapi benar katamu, aku tidak boleh terlibat kekerasan sampai anak anakku pulih, mereka butuh perawatan intensif, maafkan aku gegabah, terimakasih sudah mengingatkanku Richard,” sesal wanita itu.


Richard melirik Rara, dia juga dapat pelajaran baru, ternyata Rara adalah wanita yang mudah dihadapi, dia adalah seorang perempuan dengan pikiran terbuka yang bisa dinasehati dan menurut demi kebaikan bersama.


Setidaknya, pasangan baru sekaligus orangtua ini belajar satu sama lain dengan bertahap demi keluarga mereka.

__ADS_1


“ Tidak masalah, itulah gunanya komunikasi, kita bisa tahu apa yang ada dalam pikiran masing-masing, maaf sudah membentakmu tadi,” balas Richard,


“ baiklah, tapi tolong percepat kendaraanmu, perasaanku tidak enak, aku takut terjadi sesuatu pada anakku,” ucap Rara .


“ Anakku juga Rara, dia anakku juga,” ucap Richard.


Dengan kecepatan tinggi tetapi masih memperhatikan keselamatan, Richard megikuti alur GPS dimana Giselle membuang putra tertua mereka.


Sama halnya dengan Marco, pria itu melaju dengan kencang menuju lokasi yang dimaksud. Jalan yang ditempuh Richard dan Rara lebih cepat dibanding dengan Marco.


Tetapi pria itu tetap melaju dan berharap tidak terjadi apa apa pada Ray.


Lokasinya yang jauh, jalan yang berliku liku, hutan lebat yang seram dan berbahaya membuat pikiran Richard dan Rara kalud, mereka berusaha agar tiba dengan cepat.


Akhirnya satu jam perjalanan itu terbalaskan, mereka tiba di lokasi yang dimaksud. Sambil menatap ke sisi jalan, Rara dan Richard melaju di sepanjang pinggir jalan hutan lebat yang seram itu.


Belum lagi angin kencang dan langit mendung membuat suasana semakin seram dan dingin.


“ sangat dingin disini,” gumam Rara.


Tiba-tiba matanya menangkap sekelompok pria aneh yang sedang menggotong sesuatu di tangan mereka. Mobil van Hitam terparkir di pinggir jalan, tidak jauh dari Rara dan Richard.


“ ya Tuhan, Richard itu anak kita!" teriak Rara menunjuk Ray yang pingsan tak sadarkan diri sedang diangkat oleh seorang pria dan hendak dibawa ke dalam mobil.


“ Richard cepat, sebelum mereka membawa dia!!" teriak Rara.


.


.


.

__ADS_1


Like vote dan komen


__ADS_2