
Damian seolah melihat sisi lain dari Richard yang sudah berteman dengannya hampir dua puluh tahun. Tidak pernah pria itu sampai semarah dan sekesal ini pada seorang wanita yang baru pertama kali dia temui.
Bahkan dari jarak, batas bahkan sentuhan pada Rara, dia yang pertama mendapatkan itu setelah sekian lama Richard menjauhkan diri seolah alergi dengan kaum Hawa.
Damian paham, ada sesuatu yang membuat sahabatnya menjadi sensitif, dan jelas saja nyawa anaknya dalam keadaan bahaya, tentu saja pemburu kulkas lima pintu itu mengamuk pada monyet tembok yang jadi tawanannya.
Richard menatap tajam netra hitam pekat ibu kandung putranya. Seolah mengatakan bahwa semua yang terjadi pada dirinya dan George adalah kesalahan Rara yang membuang George pada masa lalu.
" Lepaskan tanganku, aku bahkan tidak mengenalmu tapi kau melukaiku!!!" Ucap Rara yang mulai panik. Tangannya gemetaran, luka di wajahnya saja belum di bersihkan.
" Kau harus bertanggungjawab atas apa yang terjadi pada Gege, mulai besok kau akan jadi ibu asuhnya!!!" ucap Richard.
Tak ada angin apa, dia langsung menunjuk perempuan itu sebagai ibu asuh Gege. Tentu saja hal ini sangat mengejutkan bagi Damian, Max dan Rara yang mendengarnya.
Tapi Richard telah merancang semuanya untuk kembali pada tempatnya. Dia akan memberikan keinginan putranya untuk memiliki seorang ibu dan itu pasti akan dia wujudkan sekalipun harus memaksa wanita yang telah membuang Gege dulu.
" Aku tidak mau!!!" teriak Rara sambil menghempaskan tangan Richard.
Dia sangat marah. Richard memperlakukannya dengan sembarangan, pria itu melukainya bahkan merendahkan dirinya di depan Damian dan Max.
" Siapa kau berani mengatur hidupku, aku tidak akan melakukan itu!" ucap Rara dengan tegas.
Air wajah Richard berubah, dia berdiri tegap dan menyimpan tangannya ke dalam kantong celananya. Dia paham, menghadapi perempuan seperti Rara bukan hal yang sulit baginya.
"Aku akan memberi penawaran yang besar untukmu, jika kau mau menjadi ibu asuhnya maka aku akan menuruti keinginanmu, apa pun itu!" ucap Richard sambil menatap Rara dengan segala rencana yang sudah dia susun jika bertemu dengan ibu kandung putranya.
Rara terdiam, menjadi ibu asuh mungkin tidak sulit, tapi apa yang bisa ditawarkan oleh Richard untuknya??
" Apa yang bisa kau tawarkan padaku? " Tanya Rara.
Richard tersenyum, benar saja perkiraan nya, wanita di depannya itu adalah wanita yang butuh negosiasi dengan tawaran yang besar dan saling menguntungkan.
"Apa pun yang kau inginkan," ucap pria itu.
__ADS_1
" Aku akan menunggu jawabanmu besok, Pikirkan baik-baik, jika kau sudah menerimanya maka kau tidak akan bisa lepas dari peranmu, ku harap kau tidak menyesal," ucap Richard dengan wajah dinginnya yang misterius.
Tidak ada satu orang pun yang tau apa isi kepala pria itu, yang jelas, sekalinya jatuh dalam perangkap sang pemburu, maka selamanya tidak akan pernah lepas.
Damian bahkan sampai merinding melihat perubahan pada Richard yang sangat berbeda ketika dia bernegosiasi dengan orang lain. Seolah Richard sedang membuat keputusan terbesar di dalam hidupnya.
"Tante!!! Tante dimana!!!!" Teriakan Gege menghentikan pembicaraan mereka.
Feeling seorang ibu tidak pernah salah, Rara langsung berlari begitu mendengar teriakan Gege yang terdengar takut karena sendirian di dalam kamar itu.
" Iya, Tante disini!" jawabnya dengan cepat menarik gagang pintu kayu berwarna cokelat tua itu.
Richard menatap dan mengamati Rara, " Apa dia sedang berakting seolah dia tak mengingatku? apa dia tidak sadar kalau anak itu adalah putra yang dia buang!?? wanita ini perlu diberi pelajaran!!!" batin Richard.
Pukk....
Tangan Damian mendarat di bahu pria itu, " Ada apa denganmu? kenapa kau menatapnya seperti itu?" tanya Damian penasaran.
" Sudah berapa lama kau kenal dengannya?" tanya Richard.
"apa dia pernah cerita soal masa lalunya atau tentang kehidupannya??" tanya Richard.
" Pernah, dia seorang yatim piatu, ayahnya meninggal tujuh tahun yang lalu, ibunya telah pergi sejak usianya 5 tahun dan dia hidup sebatang kara sampai hari ini, tidak punya saudara, pekerja serabutan, punya utang besar pada bibinya, punya penyakit aneh, dan porsi makan seperti tukang bangunan, untuk dijadikan istri mungkin akan sangat cocok karena dia sayang pada anak anak, masalah cinta dia sepertinya bukan tipe yang mudah jatuh cinta, tapi akan loyal kalau jadi istri, bagaimana apa dia cocok sebagai kriteria ibu sambung Gege!??" jelas Damian panjang lebar sambil menatap Richard dengan tatapan penasaran.
Max yang sejak tadi hanya diam dan tak bicara terhenyak mendengar penjelasan panjang lebar dari Damian.
" Bagaimana kau tau semua itu!?? Wahhh apa kau menyukai perempuan itu?? jarang jarang manusia dangkal sepertimu sampai tahu detail kehidupan seseorang selain bagian tubuh yang membuatmu puas," celetuk Max yang asyik menatap karya tangan Rara di dalam ruangan itu.
" Kami berteman baik, dia sudah seperti adik bagiku," jelas Damian.
" Cih... mana ada laki laki dan perempuan bisa berteman tanpa ada embel embel saling suka, jangan jangan salah satu dari kalian ada yang cintanya bertepuk sebelah tangan," balas Max.
" Tidak akan kubiarkan!" tiba-tiba Richard menyela. Bahkan kedua temannya sampai terkejut dengan ucapan pria itu.
__ADS_1
" Kau kerasukan setan apa Chard!?? Ada apa denganmu hari ini!??" Damian memiringkan kepalanya dan menatap Richard penasaran.
Di saat yang sama, Rara keluar dari dalam kamar sambil menggendong Gege yang memeluknya dengan erat seolah tidak mau melepas wanita itu.
" Papa sudah datang sayang, kamu sudah boleh pulang," ucap Rara.
"Tapi...." Suara Gege terdengar lirih, dia menatap wanita itu dengan tatapan sendu, tetapi saat melihat tatapan tajam dari ayahnya yang berdiri di sebelah Damian menurunkan niat anak itu untuk tetap berada disana.
" Gege... Ini Papa sayang, maaf Papa terlambat menjemputmu tadi," Richard memeluk Gege yang masih ada dalam pangkuan Rara. Berani sekali pria itu melakukannya bahkan di depan kedua sahabatnya.
Rara merasa terkejut dan heran dengan sikap Richard yang aneh.
" Papa... ma..maaf.." Tiba tiba Gege menangis, sontak Richard melepas pelukannya dan menatap putranya.
Damian dan Max memperhatikan ketiga orang itu dengan wajah takjub," Dam... Aku melihat masa depan Richard disini, mereka... mereka akan jadi keluarga yang hebat!!!" celetuk Max yang sering dijuluki sebagai si peramal tampan dari Milan.
Pletakkk...
"Hentikan ramalan bodohmu itu, kau tidak melihat kalau kedua manusia ini saling bertolak belakang!?" ucap Damian," Si Kulkas lima pintu terlalu dingin dan si monyet tembok terlalu serampangan, apa menurutmu ada benang merah yang menyatukan mereka!? hah... tidak mungkin Max!!" lanjut pria itu.
Max menggelengkan kepalanya," Aku yakin mere akan bersatu, mungkin akan melewati lembah dan jurang yang curam, tapi mereka ditakdirkan untuk bersama, mungkin kita akan segera mendengar tangisan putri kecil dari pasangan ini!!!" balas Max sambil melipat kedua tangannya dan menatap mereka dengan senyuman manis.
" Kenapa temanku gila semua!?? "
Sementara mereka sibuk dengan ramalan, Gege menangis menatap sang Ayah dengan tatapan takut dan tubuh gemetaran.
" Ge..kenapa? kenapa kau ketakutan!?? apa manusia sombong ini sering memukulmu!??" ucap Rara seraya menatap tak suka pada Richard.
" Aku yang tau putraku, jangan membuat asumsi yang tidak tidak, dasar perempuan serampangan!!!" kesal Richard sambil mengambil alih Gege dari pangkuan Rara.
.
.
__ADS_1
.
like, vote dan komen 🤗