Bukan Perempuan Bayaran

Bukan Perempuan Bayaran
BPB : Kami Orangtuamu


__ADS_3

Cahaya matahari yang hangat membelai lembut wajah penuh memar anak tampan yang sedang berbaring. Rasa hangat Ray rasakan kala sinar itu menggelitik wajahnya.


Seolah ada benda berat yang menimpa tubuhnya, dia merasa ada sesuatu yang diletakkan di atas perutnya. Rasanya hangat dan belum pernah dia rasakan tidur yang senyenyak ini.


Selama ini, dia tidur di kamar mandi yang lembab, gelap dan bau. Terkadang tidur di bawah guyuran hujan, kelaparan dan kehausan. Hanya bisa berharap belas kasih para pelayan yang memberinya sedikit remah-remah roti tanpa sepengetahuan nenek sihir yang mengangkatnya menjadi anak.


Mata Ray terbuka. Dua belas jam penuh dia terlelap di dalam ruangan itu. Tubuhnya terasa lemas tetapi lebih baik daripada sebelumnya.


Netra hitam yang indah itu menatap ruan dengan pelan. Menerka neraka dimanakah dia berada sekarang. Apakah dia sudah mati dan berada di tempat lain, ataukah dia masih di dunia dimana dia tinggal dan tersiksa.


Kepalanya sedikit sakit, luka di pipinya dan matanya berdenyut membuat dia merintih sakit.


" Dimana Ray?" Batin anak itu sambil menatap sekeliling ruangan.


" Jam 6 pagi? Apa Ray sudah mati? Tapi kenapa tubuh Ray sakit dan berat?" Gumam anak itu.


Perlahan dia melihat sosok wanita yang sedang terlelap dalam posisi duduk di sampingnya. Wajah kelelahan dan sedih jelas Ray lihat disana. Genggaman tangan yang begitu erat dan hangat membuat Ray merasa sangat nyaman, tetapi apakah Ray boleh mendapatkan kenyamanan ini? Apakah dia layak?


Pertanyaan itu berputar-putar di kepala anak kecil yang kurang kasih sayang itu. Air matanya kembali mengalir saat mengingat penyiksaan yang dia dapat selama dia hidup sampai sebesar itu.


Tidak ada satu kata bahagia pun yang pernah dia rasakan. Yang ada hanya kelaparan dan kehausan akan kasih sayang yang tidak pernah dia dapatkan.


" Bangun Ray, kenapa mimpi aneh seperti ini??" Pikir anak itu.


Dia menatap seluruh ruangan. Matanya masih membengkak, luka luka itu masih berdenyut tetapi sudah lebih baik dibanding hari kemarin.


Kedua matanya menatap seorang pria dewasa yang sedang berbaring di atas sofa dengan seorang anak di atas tubuhnya.


Memeluk anak itu dengan erat dan penuh kehangatan sambil terlelap membuang penat.


"Ray juga mau dipeluk seperti itu..." Gumamnya lagi.


Hati masih begitu pagi. Suasananya juga hangat, apalagi kamar inap Ray berhadapan langsung dengan taman rumah sakit.


" Hoaaammm...... Sudah pagi....." Gege terbangun dari tidurnya, dia menguap dan menatap Richard yang memeluknya dengan erat.


" Papa pasti kelelahan menggendong Gege terus," gumam anak itu. Dia meluncur ke lantai yang jaraknya dekat dengan sofa. Lalu menyeret tubuhnya menuju kursi roda di sisi kanan sofa.


Ray terkejut melihat kondisi anak tampan berlesung pipi yang sangat mirip dengan pria dewasa itu.


" Kenapa menyeret kaki??" Suara Ray terdengar serak.

__ADS_1


Gege tersentak kaget, dia berbalik dan menatap Gege dengan tatapan terkejut. Mata kedua anak itu bertemu satu sama lain.


Sejenak mereka terdiam seolah sedang menyambungkan jaringan yang terputus dan... Sraakkkkk....


Ikatan batin mereka terkoneksi dengan baik. Gege naik ke atas kursi roda," karena kaki Gege tidak bisa berjalan," jawabnya sambil mengarahkan kursi rodanya mendekati Richard lalu memperbaiki selimut Papanya.


Ray menatap Gege dengan tatapan penasaran," Kamu anak laki-laki yang ada di dalam mimpimu,kamu siapa?" Tanya Ray penasaran.


Gege berbalik lalu tersenyum dengan sangat lembut. Apalagi lesung pipinya begitu indah membuat Ray terpana dengan paras saudara kandungnya.


"Adik kakak.." ucap anak itu sambil menggeser kursi rodanya mendekati brankar Ray.


Kedua anak itu saling menatap satu sama lain. Sungguh tenang dan damai dalam ruangan itu. Gege mendekat dan semakin dekat ke arah Ray.


"Bagaimana keadaan kakak?" Gege mengusap kening Ray dengan lembut.


Tentu saja Ray terperangah kala merasakan perlakuan anak itu. Sangat lembut dan hangat, dia merasa diterima di tempat ini.


"Ma..masih sakit," jawabnya gugup.


Gege tersenyum lembut. Belum pernah Ray temui orang lain yang tersenyum dengan lembut padanya seperti yang dilakukan oleh anak itu.


" Ka..kamu siapa? Kenapa muncul dalam mimpiku? Dan.. kenapa memanggilku kakak?"


Ketika Gege mendengar berita bahwa kakak kembarnya telah ditemukan, dia sangat bahagia dan langsung berteriak kegirangan.


Semangatnya membawa dia ke tempat itu bahkan sampai membuat semu orang terheran dengan anak itu.


"Adik Ray? Sejak kapan Ray punya adik? " Pikirnya.


"Gege bangunkan Mama dahulu ya kak, kasihan Mama, nggak bisa tidur nyenyak semalaman karena kakak bolak balik demamnya," ucap Gege.


Ray hanya terdiam, dia masih belum mengerti apa yang terjadi saat ini. Padahal jelas yang dia ingat semalam dia dibuang di pinggir jalanan hutan, tubuhnya remuk dan tidak berdaya.


Ray bahkan sudah berpikir kalau dia akan mati, tetapi ketika dia bangun, malah bertemu dengan orang asing yang baru kali ini dia lihat kecuali Richard yang jelas dia ingat bertemu di rumah sakit har itu.


"Mama, kakak sudah bangun," dengan lembut Gege menggoyang lengan ibunya.


" Ahh.. anak Mama, apa masih demam!? Ray masih demam? Mana dokter man...


"Mama tenanglah," potong Gege sambil menggenggam tangan ibunya.

__ADS_1


Rara terdiam, dia menarik nafas dalam-dalam. Jelas terlihat kalau dia sangat lelah. Bergantian memeriksa kondisi Ray semalaman yang panasnya turun naik.


"Kakak sudah bangun Ma," ucap Gege pelan.


Rara tampak diam, dia memutar tubuhnya lalu menatap ke arah lain sambil mengusap wajahnya. Menarik nafas dalam dan membuangnya untuk mengontrol emosinya.


Rasanya Rara ingin menangis sekarang. Semalaman dia mengkhawatirkan kondisi anaknya yang tidak stabil.


"Anak Mama sudah bangun," lirih Rara.


Rara mengecup kening Gege," selamat pagi sayang, bangunkan Papa ," ucap Rara yang dibalas anggukan kepala oleh Gege.


Dengan rasa takut Rara berbalik dan menatap Ray sambil memilih ujung pakaiannya. Takut jika Ray menolaknya, takut jika Ray berakhir membencinya.


"Ka..kamu sudah bangun nak?" Suara Rara jelas sedang menahan air mata. Ingin sekali rasanya dia memeluk Ray saat ini.


Ray menatap wajah itu dengan jelas sekarang. Wajah wanita yang ada di dalam mimpinya setiap malam. Wanita yang berusaha menyelamatkannya dari kumpulan para monster dan membawanya lari dari dunia yang jahat ini.


Ray terdiam, air matanya mengalir saat melihat wajah Rara, wajah yang diturunkan pada dirinya.


Rara hanya diam, tidak berani mendekati Ray. Apalagi saat melihat anak itu menangis, hatinya bagai koyak dicabik-cabik dan dihancurkan sampai tidak tersisa.


Di saat yang sama Richard bangun, dia melihat Ray dan Rara yang sama sama diam. Dia tau ketakutan dalam diri Rara karena dia pun merasakan hal yang sama.


" Ray...


Richard dan Gege mendekat ke brankar Ray, menatapnya dengan kehangatan yang tidak pernah Ray dapatkan.


" Nak...


"Ka..kalian siapa sebenarnya?" Tanya Ray dengan suara pelan, tetapi matanya masih menatap Rara yang menahan air matanya.


Rara menggigit bibir bawahnya, dengan lembut Richard menggenggam tangan Rara untuk menenangkan wanita itu.


"Kami, orangtua kandungmu nak, maaf.. maaf kami baru bisa menemukanmu," lirih Richard.


.


.


.

__ADS_1


Like, vote dan komen 🤗


__ADS_2