Bukan Perempuan Bayaran

Bukan Perempuan Bayaran
BPB : Bar


__ADS_3

“ Dia putriku.. Clara Madison, aku berjanji akan memberikannya pada mu sebagai ganti hutangku, aku akan membawanya ke hadapanmu...” suara memohon dari seorang wanita paruh baya yang tak terlihat seperti seroang wanita yang hampir kepala lima karena tubuhnya yang habis dipermak terdengar lirih di dalam ruangan klub Berlin.


Ruangan khusus, tidak seorang pun bisa masuk dengan sembarangan disana tetap masih bisa melihat dan mendengar apa yang mereka lakukan di dalam sana. Suara dentuman musik yang begitu keras terdengar berirama diikuti dengan tarian orang orang yang mulai mabuk dengan aluann suasana malam yang menyenangkan.


Semuanya mencari kesenangan di sini, melupakan masalah dan menari bersama seolah dunia ini akan berakhir besok.


Rambut blonde yang dibelah samping dengan kacamata hitam bertengger di hidung runcing bak mata pisau dan beberapa tindikan di ujung alis juga bibirnya. Duduk dengan santai dengan jubah ungu berbulu miliknya yang menjuntai sampai ke atas lantai. Duduk di atas singgasana seolah dia adalah seorang raja yang harus disembah.


Dengan sebotol bir hitam di tangan kirinya dan cerutu kayu di tangan kanannya menatap wanita itu sambil tersenyum sinis,” Tidak perlu repot repot aku sudah menemukan perempuan yang kau maksud, aku sudah punya cara membawanya ke hadapan bos besar, kau ... harus mencari gadis lain,” ucapnya sambil tersenyum sinis.


“ ta.. tapi tuan saya sudah membawa lima gadis apa itu belum cu..


Plakkkkk...


Satu tamparan keras mendarat di wajahnya. Pria itu sangat cepat, dalam sekali kedipan mata dia sudah berdiri di depan perempuan itu dan melayangkan satu tamparan keras di wajahnya bahkan sampai membuat sudut bibirnya berdarah.


“ Sialan, siapa suruh kau berhutang banyak padaku, jika dibungakan nilainya sudah berkali kali lipat, kau pikir gadis gadis joki itu cukup hah?” kesalnya.


“ sial, aku menampar seorang ibu tua, aku jadi terlihat memalukan bukan?” ucapnya tanpa segan menarik kepala wanita itu dengan tangannya sendiri dan menatapnya sambil tertawa cengengesan.


“ kau manager di club ini, jika kau tidak bisa membawa gadis gadis yang kubutuhkan maka jangan salahkan aku memasukkan mu ke ruangan hukuman , tubuhmu kan banyak di permak jadi setidaknya bawahanku akan puas denganmu,” ucapnya.


Wanita itu menenggak kasar salivanya. Dia memiliki banyak hutang karena tergiur dengan kemewahan dan harta. Dia bekerja sebagai manager club untuk mencari gadis gadis muda yang butuh uang dan ketenaran untuk dijadikan gadis joki di klub itu.


“ Ma..maaf tuan, akan saya lakukan dengan baik,” ucapnya sambil menahan rasa sakit di kepalanya.


Dari luar ruangan tampak sosok Rara yang bersandar di cermin pembatas ruangan sambil menenggak sebotol bir dengan tangannya sendiri, berdiri dan mencuri dengar pembicaraan mereka.


Dia memiliki akses masuk ke area VIP setelah mendapatkan kartu dari Damian yang memakai wajah palsunya, yang juga ada di klub itu bersama Hansel si pengacau.

__ADS_1


Rara melirik perempuan itu dari balik kacamatanya. Wajahnya digambar lukisan indah yang menutupi setengah wajahnya sehingga penampilannya benar benar berbeda dengan dirinya yang biasa.


Di kedua lengannya di lukis tato temporary yang bisa di hapus kapan saja. Tato memanjang di lengan bagian bawah dan tato berupa susunan huruf romawi di leher sebelah kirinya.


Dengan semua tato itu, dan penampilan badasnya membuat kehadirannya tidak dicurigai sama sekali oleh pengelola club malam itu.


Rara menatap wajah wanita itu, seketika wajahnya berubah dingin dan datar saat melihat sosok wanita yang dia kenal itu. Perempuan itu adalah ibu yang telah meninggalkannya saat usianya lima tahun, menceraikan ayahnya dan memilih kehidupan bebas.


“ Ahhh dia masih hidup rupanya, kupikir sudah dihabisi oleh pria selingkuhannya itu,” batin Rara sambil menenggak birnya.


Luka lama yang telah lama dibiarkan tertutup itu kini diungkit kembali saat mendengar pembicaraan mereka.


“ Apa kalian mencariku? Untuk apa? Mau dijadikan mainan?” gumam Rara.


Ibunya menikah di usia yang sangat muda, saat menikah usianya 17 tahun itu pun karena hamil di luar nikah karena pergaulan bebas dan dia yang merayu ayah Rara. Beruntung bertemu pria sebaik Papa Rara yang saat itu berbeda usia 5 tahun dengan ibu Rara.


Tetapi usia yang terlalu muda dan finansial yang tidak mendukung membuat ibu Rara memilih meninggalkan keluarganya lima tahun setelah Rara lahir.


Cintanya yang begitu tulus dikhianati oleh sang istri.


“ Beruntungnya aku tidak mengikuti sifat wanita ini, Papa terlalu bucin sampai buta dan mencintai wanita busuk ini sampai akhir hidupnya,” gumam Rara sambil melangkah keluar dari sana.


Dia mempelajari seisi club itu, bergabung dengan mereka dan ikut dengan pembicaraan mereka.


Sangat berbeda dan terlihat sulit diganggu membuat orang orang di sekitarnya merasa was was ketika melihat tatapannya yang tajam di balik kacamata itu.


Rara berjalan dnegan santai, dia menatap Damian dan Hansel di sudut sana. Hansel tampak sangat menikmati waktunya di club itu sedangkan Damian hanya menonton adik gilanya itu tanpa menyentuh wanita kali ini.


Biasanya Damian yang paling heboh urusan wanita dan seisi club itu sudah jadi langganannya tentu dengan penyamaran.

__ADS_1


“ Kak Damian saja satu langganan disini, tentu dia tahu dan sering tidur dengan gadis gadis joki itu, heh.. dasar kau terlalu banyak bermain wanita,” ejek Rara sambil menatap Damian dengan menurunkan kacamatanya.


Damian jelas melihat Rara dan tahu kalau dirinya sedang di ejek oleh perempuan itu. Bisa apa dia, sebenarnya ingin dia bersenang senang apalagi banyak wanita disana, tetapi fokusnya untuk saat ini adalah mengawasi Rara dan memastikan dia aman selama berada di klub itu.


Rara berjalan berkeliling, hal pertama yang dia lakukan adalah mencari tahu semua yang berhubungan dengan klub itu termasuk mencari orang yang terlibat dengan ledakan itu.


Wanita itu berjalan sambil mengamati semuanya. Tetapi sedetik kemudian dia terdiam di tempatnya saat melihat sosok gadis yang sangat dia kenal telah berubah menjadi gadis joki dengan pakaian tak senonoh kurang bahan yang sekali tarik saja sudah bisa lepas dari tubuhnya.


“ Pu.. putri...” ucapnya pelan. Dia terdiam membeku. Matanya menatap sosok sahabat baiknya yang berubah total setelah lama mereka tak bertemu dan tidak saling berkomunikasi satu dengan yang lain.


Dia mantap Putri dengan mata berkaca-kaca, gadis itu bukan Putri yang dia kenal. Putri tidak akan pernah mau berpenampilan seperti itu, tetapi jelas bahwa gadis itu adalah Putri, sahabatnya.


Dia berusaha tetap tenang, tidak membuat gerakan mencurigakan sedetik pun. Matanya terus mengikuti Putri yanng berkeliling diantara para pria sambil membawa minuman dan tersenyum . Bukan senyuman tulus tetapi senyum terpaksa yang dia gambarkan di wajahnya.


Rara mengikutinya dengan langkah normal,” Putri.. apa yang terjadi padamu, kenapa kau di tempat ini? dan pakaianmu kenapa seperti ini?” batin rara.


Dia mendekat dan melihat lebih jelas gadis itu,” Nona, beri aku es batu,” ucap Rara dengan suara pelan yang sengaja dia ubah agar Putri tidak mengenalinya.


Gadis itu berbalik sambil tersenyum. Betapa terkejutnya Rara saat melihat memar di pipi kiri gadis itu ,lehernya diisi dengan bercak biru seperti bekas gigitan.


Rara menahan dirinya, dia tidak boleh membongkar identitasnya karena pasti pemilik bar itu sudah tahu wajahnya.


Paha Putri juga memiliki bercak yang sama bahkan jari-jari gadis itu terluka,”Apa yang terjadi denganmu, kenapa tanda ini tidak ditutupi,” tanya Rara menirukan orang orang disana.


“ Ahh.. bukan masalah nona,” jawabnya sambil pergi dari sana setelah memberikan es pada rara.


Rara hanya berdiri dan terdiam menatap Putri sambil menenggak semua bir yang dia pegang. Entah sudah seberapa banyak bir yang dia minum yang pasti dia akan ambruk setelah ini.


Rara menatap club itu, dia melihat pria yang berbicara dengan manager tadi berdiri sambil tersenyum di lantai dua sambil memeluk seorang gadis lain dan menciumi lehernya dengan penuh hasrat,” aku pasti akan menghancurkan mu bajingan, “ batin Rara sambil menatap ke arah lantai dua.

__ADS_1


Pria itu berdiri tegap, dia melihat Rara yang menatapnya dengan tatapan tajam dari balik kacamata, dia memiringkan kepalanya dan memicingkan matanya melihat orang baru di klubnya ,” siapa itu?” tanyanya.


__ADS_2