
Brukkk....
Tubuh Richard gemetar dan wajahnya pucat saat menyaksikan apa yang baru saja ditunjukkan oleh Daniel dalam siaran langsung dimana dia mereka semua ucapan dan aksi tuan Fransiskus yang menodongkan pistol ke arah Rara yang diikat di kursi di tengah ruangan kumuh .
“ ti.. tidak mungkin Papa...” Air mata pria itu lolos begitu saja saat melihat rekaman Elliot dan Gege yang menangis di tengah kobaran api dan Rara yang terluka karena di pukuli di tengah ruangan itu diikuti dengan berbagai umpatan mengerikan yang keluar dari bibir tuan Fransiskus.
Richard yang keras kepala dibuat syok dan tak bisa berkata kata saat menyaksikan ayahnya memerintahkan orang untuk menyiksa Rara dan tertawa saat melihat istrinya disiksa.
“ Ini yang kami katakan padamu Richard, kau sudah melihatnya sendiri kan? Ayahmu bukan seperti yang ada dalam pikiranmu, sekarang bagaimana kita akan menyelamatkan Rara? Kau tidak mendengar ucapannya dan kini dia ditangkap,” ucap Daniel seolah dia baru menemukan posisi Rara dan baru saja meretas kamera di tempat itu.
Padahal logikanya siapa yang akan memasang kamera CCTv di lokasi tidak terpakai seperti itu.
Richard sesak, dia menatap teman temannya yang menatapnya dengan tatapan kecewa. Marco dan Daniel menambah runyam hati pria itu.
“ Temukan posisinya kau akan menyelamatkan Rara... dan anak anak..a rkrkhhh sialan bagaimana Papa bisa setega itu.. dia pasti bukan papaku bukan? Dia bukan Papa ku kenapa dia melakukan ini padaku..” pekik Richard yang kini hancur berkeping keping seperti tebakan istri dan teman temannya.
Dia sama sekali tidak bisa fokus berdiri, hatinya hancur dan tubuhnya lemah.
Tak beberapa lama pesan masuk dari tuan Fransiskus berbunyi di ponsel pria itu.
“ Richard pesan dari papamu,” ucap Daniel.
Richard menatap ponselnya,” Nak Papa menemukan anak anakmu tidak bernyawa dan istrimu diculik oleh Black Phanter, mereka telah meninggal datanglah ke rumah utama.. Papa sudah membawa jenazah mereka ke rumah...” isi pesan yang jelas hanya tipuan dari pria itu.
Richard mengeraskan rahangnya, dia tersadar kalau ayahnya memang benar benar jahat sampai setega itu menjebak Richard demi keinginan dan obsesinya yang gila.
“ Apa hati nurani Papa sudah mati? Dia.. dia tega melakukan ini padaku.. pada keluargaku? “ Air mata penyesalan mengalir deras dari kedua pelupuk mata pria itu.
Dia berjalan sambil mendengus, kemarahannya sudah berada pada puncaknya, marah karena orang tuanya tidak beres bahkan tega menghabisi anak-anak dan istrinya sendiri.
“ Darah memang lebih kental daripada air tetapi aku akan memutus hubungan itu.. Papa.. bukan papa yang ku kenal lagi.. teganya melukai anak anak dan istriku...” pekik Richard.
Dia mengemudikan motornya menuju lokasi yang dikirim Daniel padanya dan diikuti oleh Marco dan Daniel di belakang dengan mobil mereka.
“ Dia sangat marah apa ini tidak apa apa?” tanya Daniel.
“ Jika tidak begini dia tidak akan sadar kalau sedang dimanfaatkan oleh tuan Fransiskus,” ujar Marco.
Mereka semua melaju menuju lokasi itu, sedangkan Damian dan Max berangkat menuju lokasi rumah sakit yang dimaksud oleh Yamamoto untuk menyelamatkan seseorang yang dikurung disana selama bertahun tahun.
“ apa kau percaya pada si Yamamoto itu? Dia kan licik?” tanya Max.
“ Setidaknya Rara percaya padanya karena dia tidak akan melukai Rara,” jelas Damian sambil menginjak gas dan melaju dengan kecepatan penuh.
__ADS_1
Mereka tiba di rumah sakit jiwa dimana lokasi yang dimaksud Yamamoto berada dan berlari menuju kamar pasien sesuai nomor yang diberikan pria itu.
Bersamaan degan itu beberapa pria bayaran yang diminta datang ke sana juga telah tiba dan datang sebagai petugas rumah sakit yang hendak membawa perempuan berusia setengah abad di ruangan rumah sakit itu.
“ Mereka telah tiba, siapa yang ingin mereka bawa?” tanya Max penasaran.
“ Ibu kandung Richard,” ucap Damian sambil berlari menuju ruangan itu sebelum orang suruhan tuan Fransiskus tiba.
“a.. apa? Bu.. bukannya ibu kandung Richard?
“ Belum, beliau masih hidup tetapi di rawat di rumah sakit jiwa selam bertahun tahun dan di perlakukan seperti orang gila, “ jelas Damian.
Max terkejut bukan main saat mendengar penjelasan Damian, dia tidak menyangka kalau tuan Fransiskus akan mengambil tindakan segila ini untuk memenuhi obsesinya.
“ Ada apa sebenarnya dengan otak pria itu?”
Damian dan Max berlari sekencang mungkin menuju lorong lain sebelum orang orang itu tiba disana ,” Hansel kau dimana? Apa kalian sudah tiba?” Damian menghubungi adiknya.
“ tenang saja kak, kami sudah di depan hahahah... mari kita buat kekacauan hari ini ...” Suara teriakan yang luar biasa keras tiba-tiba terdengar di depan gedung rumah sakit jiwa itu.
“ Arrkhhhh... let’s play the music every body.... wohooooo...
“ Apa apaan itu? Damian...?” Max terbelalak mendengar suara dentuman musik yang sangat keras dari luar gedung.
Max tahu kalau semuanya kan berjalan lancar, pria itu tersenyum dan mengangguk sambil memakai topengnya.
Damian mengeluarkan pematik gas dari dalam kantongnya dan...
Klakkk..
Jessssttttt....
Gas berwarna merah menyala keluar dari benda itu dan memenuhi seisi lorong rumah sakit bukan hanya satu tetapi ada lima pematik gas yang dia keluarkan.
“ Permainannya di mulai,” ucapnya menyeringai .
“ toooolong ada gas tidak dikenal, ada gas beracun...” Max berteriak histeri yang sontak membuat semua orang berteriak panik dan keluar berhamburan dari ruangan di kamar-kamar rumah sakit itu.
Damian dan Max dengan cepat berlari ke ruangan ganti dan mencuri dua jubah dokter lalu memakai benda itu dan tidak lupa membawa kursi roda.
“ Kita harus cepat, Hansel dan timnya akan mengalihkan perhatian, ruangan itu diisi dengan lima penjaga, kita harus bertarung, ini akan merepotkan, jangan sampai tertangkap kamera CCTV,” ujar Damian yang dibalas anggukan kepala oleh Max.
Mereka berlari ke dalam diantar asap merah yang memenuhi semua ruangan membuat keadaan semakin kacau.
__ADS_1
Sementara itu di luar rumah sakit, Hansel berdiri di atas sebuah buldoser dengan kepala badut, rambut kerinting warna warni dan boxer kerlap kerlip kebanggaan pamannya Philip sewaktu muda.
Klaakkkkk... plop...
Suara karet kolor yang di tarik dan menubruk permukaan kulit Hansel terdengar begitu renyah di telinga semua orang yang di buat terheran heran dengan kelakuannya.
“ Wahahahhahah itu berbunyi, bunyinya renyah....” teriak Hansel yang berpura pura menjadi orang gila.
“ Hei anak sialan, turun kau, kau benar benar sudah gila, aku mencarimu kemana-mana kenapa kau datang kesini anak celeng?” teriakan melengking dari seorang wanita dengan rambut putih dan kacamata yang hampir terjatuh dari hidungnya membuat semua orang beralih pada wanita yang tak lain adalah Esther yang sedang menyamar menjadi ibu ibu gila.
“ Hei kalian dokter kan? Tolong bantu anakku...” Esther berlari dan menarik salah satu dari dokter yang dibayar oleh tuan Fransiskus untuk membunuh nyonya Vera.
“ Ehh saya tidak..
“ pakk dokter dan perawat kan.. tolong bantu anak ibu ini, anaknya sudah bertahun tahun gila, otaknya hanya sebesar kacang hijau dan bisanya Cuma bikin susah kalian kan dokter tolonglah mereka...
Para pasien dan beberapa orang lainnya menarik kelima orang suruhan itu ke tengah lapangan dan mengalihkan perhatian mereka.
“ wahahhahahahah... halo pak dokter...
Hansel melompat dari buldoser, “ Ya Tuhan ini anak benar benar gila, bagaimana bisa dia membawa buldoser ke rumah sakit? sekalinya sinting dia benar benar jadi orang sinting,” batin Esther.
“ hahahhahah... aku akan menghancurkan rumah sakit ini, kemari kau dokter bajingan...” teriak Hansel menarik dua petugas medis ke arah buldoser,” orang sinting sialan kau mau apa hah?” salah satu dokter itu mengangkat tangannya hendak memukul Hansel.
“ APA YANG DOKTER SIALAN INI LAKUKAN KENAPA KAU MAU MEMUKUL PUTRAKU SIALAN...” Esther mengamuk dan menendang mereka sampai terjerembab ke atas tanah dengan kepala mereka mencium aspal.
“ arrkhhh beraninya kalian... sialan...
Terjadi perkelahian menghebohkan di halaman rumah sakit, lebih gilanya lagi para pasien yang mengalami gangguan jiwa ikut bertengkar dan menghajar dokter-dokter suruhan itu.
Hansel dan Esther tertawa terbahak bahak melihat wajah kesal dan marah kelima dokter tersebut.
“ Sudah beres kak,” Hansel menatap ke arah samping rumah sakit dimana Damian dan Max membawa Nyonya Vera keluar dari rumah sakit itu,” dasar sinting,” balas Damian sambil menaikkan jempolnya.
“ Mweehehehhehehe... tentu saja,”
.
.
.
Like, vote dan komen
__ADS_1