Bukan Perempuan Bayaran

Bukan Perempuan Bayaran
BPB : Apa kau mencintaiku?


__ADS_3

Si tangan gila dari Milan terjun bebas ke lantai dua setelah kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh karena tidak memegang erat era tali yang dia pakai untuk berayun.


Srakkkkk....


Tubuhnya ditangkap oleh jaring besar berwarna hitam yang ditaruh di sepanjang lantai dua untuk menghindari kecelakaan parah.


" arrkhhhh pinggangku patah,sialan!!!" Teriak Max yang encok gara gara ulahnya sendiri.


Richard dan yang lainnya menatap datar ke arah pria yang kadang waras dan kadang gila itu.


" Daniel ada apa?" Tanya Richard dengan wajah masam menatap Tarzan yang sedang berayun itu.


" Ummm... Apa ya? Lupa hehehehe....


"CK... Dasar kau ini, menghabiskan waktuku saja!" Kesal Richard.


" Wahh kenapa waktumu habis bro? Kau mau melakukan 29 +++ ya sama istrimu, heheheh jangan cepat cepat, mau ku kasih tips biar tahan lama dan asetmu berdiri tegak, lawan mainnya pasti merasakan nikmat dunia yang membuat ketagihan, kalian akan melayang dan...


Bughhh....


"arrkhhh... A... Apa yang ka..kau lakukan se..setan sialan... Akhhhh.... El Nino kesayanganku, aset negara ku, kenikmatanku Ka...kau tendang!?? Ri..Richard itu... Arkrhhhh pecah, milikku pecah kampret!!!!!"


Wajah Damian berubah merah, pembuluh darahnya membengkak, dia terjatuh ke atas lantai dengan posisi tangan memegangi El Nino, nama benda pusaka dan pemain inti dalam upacara sakral kegiatan 29 ++++ yang selalu dibanggakannya.


Rasanya seperti ada gunung berapi yang sedang meletus, panas, sakit dan tegang. Bagian intinya seperti pecah dan membuatnya kehilangan tenaga dalam waktu sekejap.


Daniel, Max dan Pak Dono sontak menutup milik mereka sedangkan Marco tetap memasang wajah datar tetapi tangannya pelan pelan bergerak menutupi asetnya. Jika dipukul di titik itu rasanya pasti seperti baru saja menjalani sakratul maut.


"Dasar... Setan sialan!!!!!! Ku kebiri kau setelah ini Richard, beraninya kau menendang El Nino ku!!!!" Pekik Damian.


Richard tidak peduli, dia pergi dari sana setelah melakukan tugasnya, setidaknya untuk beberapa hari Damian tidak akan bermain wanita karena benda pusaka Sang kepala negara sedang dalam kondisi gawat darurat.


"Terima sendiri risikonya, dasar otak mesum!!!" Kesal Richard.


" Dan kau Daniel, segera kirim laporan!!!" tegasnya.


Dia meninggalkan mereka disana lalu masuk ke dalam kamarnya membawa obat-obatan Rara.


Dengan pelan dia membuka pintu kamar, takut jika dia mengganggu Rara jika perempuan itu sudah terlelap.


Rara yang sedang bergelut dengan kaosnya tidak sadar kalau Richard masuk ke dalam kamar. Dia hanya mengenakan bra dengan perutnya yang dililit perban, baru saja kaosnya bisa di keluarkan dari lengannya yang terluka.

__ADS_1


Saking sulitnya bergerak dia malah menarik narik kaos itu kesana kemari.


Tiba-tiba, kaos itu tertarik begitu saja seolah ada yang menariknya dan...


" Arkhhh... Sejak kapan kau disini!!!" Rara berteriak dan menutupi dadanya saat melihat Richard sudah berdiri di depannya sambil memegang kaosnya dan menatap dirinya yang hanya memakai bra.


"Tutup matamu Richard!!!" Pekik Rara dengan semburat merah memenuhi kedua pipinya, dia menarik selimut dan menutupi tubuhnya.


" Cihh... Apasih? Untuk apa kau tutupi, toh sudah pernah kulihat semuanya," celetuk Richard tanpa segan sambil terus menatap Rara.


Wanita itu berhasil dibuat salah tingkah karena tatapan Richard, pipinya bersemu merah," matamu Richard, lihat apa kau!!!' kesal Rara sambil menutupi dadanya .


Bukannya berpaling, Richard malah mengambil piyama itu lalu duduk di samping Rara dan membuka paper bag berisi plester dan teman-temannya.


"Pakai ini, buat apa malu Ra, kita sudah punya dua anak, kamu istriku ini kan wajar," celetuk Richard seraya mengedipkan sebelah matanya.


Sejak kapan manusia setengah robot tanpa ekspresi itu berubah jadi mesum seperti di Omes yang masih berkabung atas hampir putusnya urat El Nino kesayangan nya.


"Me..mesum, Ka...kau sama saja seperti Damian, ya Tuhan kenapa kau jadi suamiku!!!" Celetuk Rara yang sama sekali tidak menyangka kalau Richard juga bisa jadi mesum.


"Mesum? Heh memangnya aku bilang apa Ra? Aku hanya mengungkap fakta, bukan berkata hal mesum, atau kau yang berpikiran liar ya?" Celetuk Richard sambil menarik selimut itu sampai melorot dan memperlihatkan tubuh Rara.


Glekk...


" Richard!!!!! Tutup matamu!!"teriak Rara.


Richard terkejut, dia memalingkan wajahnya, malah jadi malu karena menatap dua benda mulus dibalut mangkuk kembar di depannya," sialan" pikir Richard.


" Tutupi mangkuk hitammu itu, kecil juga," ketus Richard.


Mata Rara membulat sempurna," dasar otak mesum, siapa suruh kau lihat-lihat!!" Kesal Rara yang berusaha memakai piyamanya, tapi lukanya sakit jika digerakkan.


"Sudah atau belum?" Tanya Richard.


" Belum, lenganku kebas, sangat sakit!" Ucap Rara yang terdengar seperti merintih.


Richard menarik nafas dalam-dalam dan menetralkan pikirannya yang mulai traveling dan hampir membayangkan sesuatu yang sering dilakukan Damian.


Dengan inisiatif dia berbalik lalu mengambil baju itu," biar kubantu," ucapnya dengan suara datar, padahal tubuh Rara malah membuatnya menjadi panas dingin, hanya Rara yang berhasil membangunkan benda pusaka yang sudah berhibernasi bertahun-tahun itu, gila bukan? Tentu saja gila, dia itu pria dewasa yang tau nikmat surga dunia!


Rara masih menutup dadanya," alihkan pandangan mu, kau menatap apa?" Kesal Rara.

__ADS_1


" CK... Jangan bawel, mau kupegang ini hah? Diamlah, aku berusaha untuk tenang dan bersabar, jangan menguji ku Rara!" Ketus Richard.


"Aku ini pria dewasa, dan kau tau maksudnya!" Kesal pria itu.


Setelah membantu Rara berpakaian, dia menyibakkan piyama itu ke atas dan lagi-lagi membuat Rara terkejut," Richard kau sembarangan sekali, dasar mesum!!" Kesal Rara.


"Mesum apanya Ra, toh nggak ada yang mau kulihat juga, diamlah biar plesternya ku ganti, kau bawel sekali persis seperti Gege!" Balasnya sembari membuka perban Rara dengan pelan.


Lembut dan berhati-hati, pria itu melepaskan perban itu dan menggantinya dengan yang baru. Rara merintih kesakitan, tetapi Richard meniup lukanya untuk membuat Rara seidkit tenang. Berganti dengan lengan, dia melaiukann dengan benar dan sangat rapi.


" Sudah selesai, " ucap Richard menutupi tubuh Rara dengan piyama longgar itu.


" Berbaringlah, lukanya mulai tertutup, jangan banyak bergerak," ucap Richard sambil menyelimuti Rara.


" Richard, bagaimana keadaan Irene? Apa dia dirawat dengan baik?" Tanya Rara.


Pria itu tidak habis pikir. bisa-bisanya Rara masih memikirkan perempuan gila yang jelas sudah melukainya," Ra dia itu ibarat pembunuh dan kau masih mengkhawatirkan dia? Pokoknya selama kau belum sembuh, dan dia belum normal kau tidak boleh menemuinya, aku melarangmu bertemu Irene!" Tegas Richard.


" Kenapa? Bukannya kalian satu sekolah dulu?" Tanya Rara.


" Justru karena itu Ra, aku tidak mau kau salah paham saat mendengar racauan gila Irene, seperti yang kau bilang dia punya penyakit jiwa, aku tidak bisa membiarkan mu mendengar ucapannya yang tidak masuk akal!' balas Richard.


" Kenapa? Dia kan sahabatku?"


" Justru karena itu, aku khawatir padamu Ra, aku tidak bisa membiarkan istriku terluka!" Ucap Richard.


" Istri? Apa kau menganggap ku seperti itu?"


" Tentu saja, maksudmu hubungan kita ini apa!? Tentu saja kau istriku, apa itu perlu di perjelas lagi!? Seorang suami akan melindungi istrinya apalagi dari hama seperti Giselle dan Irene!" Ucap Richard dengan tegas.


Richard dan Rara sama-sama terdiam, Rara terkejut mendengar jawaban menggebu-gebu dari Richard sedangkan Richard terdiam karena dia baru saja membongkar secuil dari perasaannya yang mulai bertumbuh.


" Apa kau mencintaiku?" Tanya Rara.


" ci...Cinta? Hah? Ti... Tidak, tidak ada cinta dalam kamusku!"


.


.


.

__ADS_1


Like, vote dan komen 🤗


__ADS_2